Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Ruangan itu begitu luas, remang-remang, dan diselimuti hawa dingin yang menusuk tulang.
Satu-satunya pencahayaan hanya berasal dari sinaran pucat cahaya bulan yang menembus kaca jendela besar, memantulkan bayangan liris di atas lantai.
Jam dinding digital di sudut kamar memendarkan angka merah yang statis pukul empat pagi.
Liana melenguh pelan. Kelopak matanya yang terasa seberat timah perlahan-lahan terbuka.
Hal pertama yang menyambut kesadarannya adalah pusing yang luar biasa hebat, seolah kepalanya baru saja dihantam benda tumpul, berpadu dengan tenggorokan yang teramat kering dan terbakar.
Ia mencoba menggeser tubuhnya untuk mencari posisi yang lebih nyaman.
Namun, gerakan kecil itu langsung tertahan. Liana merasakan sensasi asing yang menusuk di punggung tangannya—sebilah jarum dan selang infus menempel kokoh di sana.
Lebih mengerikan lagi, ada sebilah beban berat yang mengunci pergerakannya.
Sebuah lengan kekar berotot melingkar dengan begitu posesif dan erat di sekeliling pinggangnya, mendekap tubuhnya tanpa celah ke dada bidang di belakangnya.
Jantung Liana berdegup kencang, memompa adrenalin yang seketika mengusir sisa rasa kantuknya.
Dengan keberanian yang tersisa, ia menolehkan kepalanya perlahan ke samping.
Di sana, tepat di sebelahnya, terbaring wajah Dokter Kenzo yang sedang tertidur dengan amat tenang.
Gurat wajah tegas dan rahang kokoh pria itu tampak menawan di bawah temaram sinar bulan, begitu damai, sangat kontras dengan jiwa iblis yang bersemayam di dalamnya.
Kesadaran brutal seketika menghantam Liana bagai gada besi.
Ia tidak sedang bermimpi. Ia berada di kamar monster itu. Ia telah tertangkap.
Seketika, rasa sesak yang luar biasa membubung ke dada.
Air mata kepanikan dan kehancuran membayangi pelupuk matanya, nyaris pecah menjadi tangisan histeris.
Namun, insting bertahan hidup yang kuat buru-buru membungkam mulutnya sendiri.
Ia tahu, sekali saja ia bersuara atau membuat gerakan sembrono, singa lapar di sampingnya ini akan terbangun dan menelannya hidup-hidup. Ia harus pergi. Sekarang juga.
Dengan gerakan yang super lambat dan napas yang sengaja ditahan di dada, Liana mulai bergerak.
Jantungnya bertalu-talu ekstrem saat jemarinya dengan sangat hati-hati mengangkat lengan kekar Kenzo, memindahkannya mili demi mili dari pinggangnya agar tidak terusik.
Setiap kali Kenzo melenguh halus dalam tidurnya, Liana membeku, berpura-pura menjadi mayat.
Setelah berhasil lolos dari kungkungan lengan itu, Liana menggeser tubuhnya ke tepi ranjang.
Ia turun dengan kaki yang gemetar parah menahan lemas.
Menatap selang infus yang menahan langkahnya, Liana memejamkan mata erat-erat, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, lalu... sret!
Ia mencabut paksa jarum infus di punggung tangannya.
Rasa perih menjalar seketika, disusul tetesan darah segar yang mulai merembes, namun Liana mengabaikannya.
Ia berlutut sejenak, menyambar tas kanvas miliknya yang tergeletak di lantai, lalu bangkit berdiri.
Sambil memeluk tasnya erat-erat demi meredam getaran di tubuhnya, Liana melangkah berjinjit.
Setiap langkah di atas lantai dingin itu terasa seperti berjalan di atas hamparan paku.
Netranya tertuju lurus pada pintu kayu besar di depannya.
Liana mengulurkan tangannya yang bersimbah darah tipis, menyentuh gagang pintu dengan jantung yang berdebar ekstrem.
Ia memutarnya perlahan. Cklek. Untung yang tak terkira, pintu itu tidak terkunci dari dalam.
Celah keluar kini terbuka lebar di hadapannya, menjanjikan kebebasan di balik pekatnya sisa malam.
Liana berhasil menyelundup keluar, menutup pintu kayu besar itu dengan desisan yang sangat halus hingga hampir tak terdengar.
Ia kini berdiri di koridor lantai dua yang panjang, gelap, dan hanya mengandalkan temaram lampu dinding yang redup.
Hawa dingin lorong itu langsung menusuk kulitnya, namun rasa takut yang memacu adrenalin membuat Liana mengabaikannya.
Dengan langkah sepelan mungkin, ia merayap mendekati pembatas koridor balkoni lantai dua.
Liana sedikit mencondongkan tubuhnya, mengintip ke arah ruang tengah di lantai bawah.
Jantungnya seketika mencelos. Di bawah sana, di atas sofa kulit yang luas, tampak Bunga dan William—pria yang perutnya ia tendang dengan brutal beberapa jam lalu—sedang duduk terjaga.
Mereka sedang menonton televisi dengan volume yang sangat rendah, hampir seperti mode senyap, sementara mata mereka sesekali beredar tajam mengawasi sekitar. Mereka benar-benar sedang menjaga rumah ini seperti anjing pemburu.
Liana mundur selangkah, merapatkan punggungnya ke dinding koridor.
Ia meremas perutnya yang masih rata dengan tangan yang gemetar.
"Aku harus pergi, aku tidak boleh membiarkan anak ini hidup bersama monster," bisik Liana dalam hati penuh penekanan.
Air mata ketakutan berbaur dengan tekad yang bulat. Ia tidak akan membiarkan darah daging dari iblis itu tumbuh dalam sangkar emas yang mengerikan ini.
Liana mulai melangkah mundur, mencoba mencari tangga darurat atau jalan memutar yang tersembunyi dari pandangan dua orang di bawah.
Namun, sisa demam tinggi dan efek pencabutan infus secara paksa mulai menagih pasokan tenaganya.
Kepalanya mendadak berputar hebat. Pandangan matanya mengabur, dipenuhi titik-titik hitam yang berputar.
Langkah kaki Liana yang limbung menjadi tidak stabil. Dan di sinilah kesalahan fatal itu terjadi.
Dalam kegelapan dan pandangan yang buram, ujung kakinya tidak sengaja menyenggol sebuah pot bunga hias dari keramik tebal yang bertengger di dekat pembatas koridor.
Pranggg!!!
Suara pecahan keramik yang hancur berkeping-keping itu menggema dengan sangat brutal, memecah keheningan subuh yang sunyi di dalam mansion megah tersebut.
Di lantai bawah, bagaikan ditarik oleh pelatuk senjata, Bunga dan William langsung melompat dari sofa dengan sigap.
Insting bertarung mereka sebagai petinggi geng motor langsung aktif seketika.
Bunga dengan cepat mendongak ke arah balkon lantai dua, dan netranya langsung menangkap siluet tubuh Liana yang terpaku ketakutan di dekat pecahan pot.
Menyadari situasi darurat yang teramat sangat, Bunga langsung berteriak histeris dengan suara melengking yang mengguncang seisi rumah.
"BOS!!! DIA KABUR!!!"
Liana panik total. Rasa pusing yang sempat mendera kepalanya mendadak hilang, tergantikan oleh gelombang adrenalin yang menuntutnya untuk terus bergerak.
Ia berlari sekuat tenaga menuruni anak tangga, menerobos masuk ke koridor lantai dasar demi mencari jalan keluar.
Namun, arsitektur markas pribadi Kenzo ternyata sangat rumit dan luas, menyerupai labirin modern dengan banyak lorong yang membingungkan.
Dengan napas memburu dan tangan yang bersimbah darah, Liana mencoba memutar beberapa gagang pintu yang ditemuinya sepanjang lorong.
Sial, semuanya terkunci rapat secara digital atau berujung pada tembok pengaman tanpa celah.
Di belakangnya, derap langkah kaki sergap Bunga dan William terdengar semakin mendekat, menggema brutal di lantai marmer, mempersempit jarak mereka.
Melihat secercah cahaya redup dari arah depan, Liana berbelok di koridor terakhir yang menuju langsung ke pintu keluar utama mansion.
Harapannya sempat melambung tinggi. Gerbang kebebasan sudah ada di depan mata.
Namun, langkah kakinya mendadak terkunci seketika.
Seluruh tubuh Liana membeku, dan jantungnya serasa berhenti berdetak.
Di ujung lorong yang temaram, bersandar pada pilar kokoh, berdiri sesosok pria tinggi tegap yang mengenakan kaus hitam ketat tanpa alas kaki.
Pria itu menatapnya lurus dengan senyum dingin yang mematikan.
Kenzo sudah berdiri di sana, menunggunya dengan santai seolah sudah memprediksi jalur pelariannya.
Kenzo melangkah maju dengan tenang dan perlahan, menikmati pancaran ketakutan yang begitu kentara di wajah pucat Liana.
"Kamu mau ke mana, sayang? Subuh-subuh begini sangat dingin di luar," ucap Kenzo dengan suara baritonnya yang santai namun berwibawa, sangat kontras dengan situasi mencekam saat itu.
Liana yang terdesak segera berbalik untuk berlari kembali ke arah lorong sebelumnya, berniat menerobos Bunga dan William.
Tetapi Kenzo bergerak secepat kilat. Sebelum Liana sempat melangkah, pria itu sudah memangkas jarak.
Dengan satu gerakan taktis yang teramat terlatih, Kenzo memiting kedua tangan Liana ke belakang punggungnya, menarik dan mengunci tubuh mungil itu erat-erat ke dada bidangnya yang keras.
"Lepas!! Lepaskan aku!!" jerit Liana meronta liar.
Tepat saat itu, Bunga datang dengan napas terengah-engah dan langsung bergerak cepat merebut tas kanvas dari cengkeraman tangan Liana yang memutih.
"Dapat, Bos," ketus Bunga.
Mengabaikan rontaan yang kian histeris dan makian yang terus keluar dari bibir wanitanya, Kenzo dengan mudah membalikkan tubuh Liana dalam satu sentakan.
Tanpa memedulikan sisa tenaganya, ia langsung memanggul wanita itu di atas bahu kekarnya yang lebar, layaknya membawa barang jarahan berharga.
Liana yang posisinya kini terbalik terus memukul-mukul punggung tegap Kenzo dengan kepalan tangannya yang gemetar.
Ia berteriak histeris, meluapkan seluruh kemarahan dan traumanya.
"Lepaskan aku, Dokter gangster!! Biadab!! Lepaskan aku!!"
Suara lengkingan Liana menggema memenuhi seisi koridor rumah yang sunyi.
Sementara itu, Kenzo hanya terus berjalan santai menaiki tangga kembali menuju kamar utama di lantai atas.
Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kekesalan.
Pria itu justru mendekatkan bibirnya ke telinga Liana yang berada di bahunya, lalu berbisik dengan nada rendah yang dipenuhi kepuasan gelap, "Pekikanmu hanya membuatku semakin lapar, Liana."
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak