Vanya Mentari, gadis yang memulai peruntungan bekerja di ibu kota menjadi kupu-kupu malam, terpaksa harus terlibat pernikahan kontrak dengan pria yang terkenal sangat dingin.
Pernikahan yang membawa penderitaan pada Vanya di setiap harinya. Bukan hanya luka fisik, melainkan luka batin. Tiap hari, perkataan yang terlontar dari mulut pria yang menikahinya begitu sangat pedis, dan tanjam hingga mampu menusuk rongga jantung dan membuat luka yang teramat mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKM 6
Menu sarapan sudah tersedia rapi di atas meja, dan tentu membuat Bian tanpa banyak bertanya langsung menyantap nasi goreng dan juga ayam saos sambal manis.
Lezat. Kata yang tidak bisa terucapkan namun hanya bisa di buktikan dengan begitu lahapnya Bian memakan makanannya. Lalu Bian teringat, jika pagi ini ia sama sekali belum menemukan wanita yang sudah ia nikahi.
"Dasar!" Gumamnya, sambil tersenyum tipis.
Tentu di pikiran Bian, saat ini jika pasti Vanya masih menikmati tidur dengan sembarang pria di luar sana.
"Menjijikan!" Ucapnya, membayangkan tubuh Vanya yang sudah seperti sampah, yang di kerumuni oleh lalat.
•••••
Neysia membereskan baju suaminya, dan betapa kagetnya Neysia saat mencium baju Glen dan ada bauh parfum yang berbeda.
"Tidak! Tidak mungkin. Ini hanya perasaanku saja." Gumam Neysia.
"Sayang." Panggil Glen setelah keluar dari kamar mandi. "Dimana bajuku? Semuanya sudah siap? Lah kenapa hanya diam?"
"Glen, bisa jelaskan ini?" Tanya Neysia sambil memberikan baju pada Glen.
"Ada apa sayang? Kenapa dengan bajuku?" Tanya Glen..
"Tidak apa. Aku hanya merasa ada yang sedikit berbeda dengan bau parfummu."
Glen berjalan menghampiri Neysia. Lalu memeluk tubuh Neysia. "Aku mencintaimu. Jadi itulah sebabnya aku mengajakmu menikah. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Percayalah, aku tidak akan menduakanmu." Kata Glen menenangkan Neysia.
Neysia hanya bisa tersenyum sambil membuang jauh-jauh keraguan yang sempat terlintas tadi.
••••••
Rossa datang berkunjung ke apartemen milik Bian, dan betapa kegetnya Rossa saat melihat sang menantu yang saat ini masih tidur di kamar tamu. Dan itu artinya, Bian dan Vanya tidak tidur bersama. Rossa duduk di tepi tempat tidur, lalu mengusap rambut Vanya dengan lembut.
"Nak, bangun." Kata Rossa, dengan lembut. Sentuhan yang membuat Vanya mengingat sang ibu.
"Ibu, lima menit lagi yah" balas Vanya sambil memejamkan matanya. Rossa tersenyum, ia merasa bahagia melihat sang menantu yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
"Baiklah, ibu tunggu di luar."
"Ibu." Vanya menarik lengan Rossa, dan memeluknya dengan sangat erat. "Ibu aku rindu." Gumam Vanya dengan mata yang masih terpejam.
"Ibu? Apa dia masih memiliki ibu? Tapi bukankah Zam mengatakan jika dia hidup sebatang kara di kota ini?" Batin Rossa, namun sesaat kemudian perlahan Rossa melerai pelukan Vanya.
Rossa melihat ke arah dapur. Dan melihat menu sarapan pagi. Tidak salah, Bian memiliki seorang istri yang pandai memasak.
Satu jam berlalu, Vanya kini telah bangun dan tidak menyadari jika Rossa saat ini sedang duduk di sofa. Dengan santainya Vanya membuka kulkas.
"Sudah bangun?" Tanya Rossa, yang sontak membuat Vanya kaget.
"Ibu.."
"Bersiaplah ibu akan membawamu jalan." Kata Rossa.
•••••
Kini Zam hanya diam memandang sang tuan yang sejak tadi juga diam, sambil terus memperhatikan ponselnya..
"Tuan, hari ini kita ada kunjungan karyawan ke mall pusat."
"Baiklah."
Kini Zam dan juga Bian menuju mall untuk melihat secara langsung perkembangan mall yang ia buat dua tahun silam. Dan mall inilah yang menjadi saksi tempat Bian menyatakan cintanya kepada Neysia.
Sesampainya di mall. Kini Bian, melangkahkan kakinya, di susul oleh Zam. Namun tiba-tiba langkah kaki Bian terhenti kala melihat seseorang di hadapannya yang juga berhenti melangkah.
"Bian." Ucap Neysia. Dan sontak membuat Zam langsung memiringkan kepalanya melihat sang pemilik suara.
"Nona Neysia." Sapa Zam dan langsung berdiri tepat di samping Bian. "Tuan, silahkan." Zam mempersilahkan Bian untuk jalan, namun baru satu kali melangkah, Neysia langsung meraih tangan Bian, sehingga membuat Bian kembali menghentikan langkahnya.
"Zam, ada yang perlu aku bicarakan. Bisa beri kami waktu berdua?" Tanya Neysia, dan Zam pun melihat wajah Bian, meminta persetujuan.
"Baiklah nona."
Kini Neysia dan Bian sudah berada di salah satu cafe yang berada di dalam mall.
"Selamat atas pernikahanmu." Ucap Neysia dengan tulus, dan Bian hanya tersenyum. "Oh yah, di mana istrimu? Kenapa dia tidak ikut?"
"Apa aku harus membawanya juga ikut bekerja?"
Neysia tersenyum, pria yang di hadapannya dahulu yang selalu berbicara dengan lembut kini sudah tidak lagi.
"Maaf." Kata Neysia.
Hening sesaat....
Rossa terdiam saat melihat dari jauh, jika saat ini Bian sang anak sedang duduk bersama mantan kekasihnya.
"Vanya, kita kesana." Ajak Rossa karena tidak ingin jika Vanya melihat suaminya berduaan dengan wanita. Namun, mata Vanya yang begitu jeli langsung melihat Bian.
"Bu, bukankah itu Bian? Aku ingin ke sana." Vanya lalu melangkah tapi Rossa menahan tangannya.
"Jangan! Bian sedang sibuk bekerja. Perempuan itu rekan bisnisnya Bian. Mereka pasti sedang mengadakan rapat berdua." Bohong Rossa yang tidak ingin rumah tangga putranya yang baru seumuran jagung langsung rusak karena perempuan dari masa lalu.
"Baiklah bu." Vanya hanya bisa menurut apa kata ibu mertuanya. Mereka berdua pun kini kembali shopping.
Vanya selalu menolak pemberian dari Rossa. Tapi Rossa selalu beralasan, jika Vanya tidak menerima itu artinya Vanya tidak mau menanggap dirinya sebagai ibu.
"Bu, aku ke toilet dulu." Pamit Vanya.
Tapi bukannya ke toilet, Vanya justru pergi ke tempat dimana dirinya melihat Bian dengan seorang wanita. Dan terlihat dengan sangat jelas, saat ini Bian sedang mengganggam kedua tangan wanita itu.
"Wanita itu pasti kekasihnya." Gumam Vanya.
"Apa yang anda lihat nona." Tegur Zam yang juga berdiri tepat di belakang Vanya.
"Zam! Kau mengagetkan ku saja. Kau sudah kaya jailangkung, datang tanpa permisi."
Hahahahahha.. Zam tertawa terbahak, lucu juga istri dari tuannya itu. Padahal yang Zam tahu, Vanya adalah gadis malam yang liar, yang jarang sekali bercanda. Namun nyatanya berbeda.
"Jangan tanyakan pada tuanmu jika aku melihatnya."
"Apa bayaran ku untuk tutup mulut." Zam menatap tubuh Vanya, ingin menggoda wanita yang di sebut kupu-kupu malam itu.
Lalu Vanya menaikkan dua jarinya, dan hampir saja mencolok mata Zam. "Sekali lagi menatapku seperti itu. Maka aku tidak akan segan-segan membuatmu buta."
Zam menelan salivanya secara kasar. Tidak Bian, tidak istrinya, keduanya hampir memiliki kesamaan dalam hal mengancam.
"Awas saja, jika sampai Bian tahu aku melihatnya, maka nyawamu jadi taruhannya." Ancam Vanya lalu menginjak sepatu Zam dengan kasar.
"Auhhh." Ringis Zam, menahan rasa sakit.
saking banyaknya dosis obat lerangsang sampe lupa gawang yg udah loss doll atau masih tersegel rapi😅
Apa Bian jg gak liat bekas darah d sprei🤔
mereka sekarang saling mencintai lho Tor ....
beruntung sekali nasibmu Zam...
bertaubat lah ZAM...😂
apa sudah menyadari klo dia satu²nya pria yang tidur sama Vanya...??
lihat aja...