Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Selain terkenal dengan wisatanya, kota Bandung juga dikenal dengan ragam kulinernya. Di sepanjang perjalanannya menuju kediaman suaminya, Bening melihat deretan rumah makan yang dulu sering ia kunjungi.
Bening yang sedari tadi pagi belum makan apapun, merasakan perutnya keroncongan. Ia meminta sang supir menepi sebentar untuk membeli makanan, namun supir itu menolak dengan alasan Surya memerintahkannya untuk langsung membawa Bening pulang.
Sepertinya orang-orang yang bekerja dengan Surya, sangat takut dengan pria galak itu. Bening tak ingin berdebat dengan sang supir, ia memilih melihat kembali pesan yang dikirim Sukma untuk mengalihkan rasa laparnya, namun Bening justru mendapatkan kegelisahan yang besar karena tak bisa membalas pesan adiknya, dan ia belum bisa pulang ke Surabaya dalam waktu dekat ini.
Bening menaruh kembali handphonenya di tas tangannya, ia bersandar sembari memejamkan mata rapat-rapat untuk mengusir bayangan masa depan yang sepertinya sangat suram.
Saat mobil melintasi perkebunan teh, Bening melongok ke kaca jendela mobil. Nampak terlihat awan berubah menjadi mendung, padahal sebelumnya cuaca sangat cerah. Apakah ini pertanda jika rumah tangganya... bening semakin ngeri.
Kemudian mobil melambat ketika melewati gerbang besi yang begitu tinggi, hingga Bening sendiri tak dapat melihat ujungnya. Begitu melewati gerbang, ia melihat sebuah taman yang indah. Bening tersikap saat melihat kediaman Surya, rumah itu sangat besar, dan hampir mirip dengan kediaman almarhum ayah tirinya di Surabaya.
Hanya saja kediaman ayah tirinya terlihat terang, sementara kediaman Surya terlihat gelap dan misterius, persis seperti pemiliknya. Dingin, gelap, dan sangat tidak ramah. Bening tak bisa membayangkan menghabiskan seumur hidupnya dengan pria seperti itu.
Mobil berhenti di depan teras, Toto bergegas keluar mobil dan membukakan pintu untuk Bening. Toto mengulurkan tangannya membantu Bening keluar, sembari melangkah keluar, Bening memperhatikan para staf berbaris rapih menyambut kedatangannya.
Toto langsung mengenalkan Bening pada semua staf yang bekerja di kediaman Surya yang jumlahnya ada sekitar lima belas orang. Bening tersenyum ramah pada mereka semua, ia yakin semua staf sudah mengetahui siapa dirinya.
"Saya akan mengantar Nyonya ke kamar," Toto mempersilahkan Bening jalan terlebih dahulu di depannya, sementara staf lainnya membawakan koper milik Bening.
Bening berjalan melintasi ruang tamu yang begitu megah, lantainya dari marmer, pilar-pilar penyanggah bergaya Yunani. Tapi tidak ada foto di dinding, tak ada bunga-bunga segar di sudut ruangan yang jika ada pasti akan menambah keindahan ruangan ini.
Sebelum ke kamarnya, Bening meminta Toto untuk mengajaknya berkeliling agar ia tak tersesat di rumah suminya sendiri. Mereka menyusuri koridor demi koridor, Toto menunjukan ruang santai, ruang keluarga, ruang makan, aula pesta, dan deretan kamar tamu yang Bening sendiri tak sanggup untuk menghitung berapa jumlahnya.
Tapi sayangnya di rumah yang begitu megah itu tak ada satu pun lukisan atau foto keluarganya, tak ada tanda-tanda kehidupan nenek moyang Surya. Bening tak mau menduga jika suaminya keluar dari sebuah batu. "Aku perhatikan di rumah ini tidak ada foto atau lukisan," akhirnya Bening bertanya pada Toto.
"Tidak ada Nyonya. Tuan Surya menginginkan bingkai dengan motif, ukuran dan warna yang sama, jika tidak maka lebih baik tidak usah di pajang."
"Apa?" Bening heran dengan alasan yang lontarkan Toto.
"Tuan Surya menyukai keseragaman," jawab Toto.
'Apa maksudnya Surya menyukai keseragaman? Memang dia pria aneh dan tidak memiliki jiwa seni,' batin Bening sembari melihat sekeliling ruang bersantai yang ukurannya lebih kecil dari yang sebelumnya ia masuki.
"Bisakah saya menunjukan kamar Anda, sekarang?"
"Silahkan," sahut Bening.
Bening senang mendapati kamarnya menghadap selatan dan barat, sehingga matahari bisa masuk untuk mengusir kesuraman rumah ini. Kamarnya di tata dengan rapih, warna crem cenderung merah muda mendominasi warna kamarnya, serasi dengan permadani tebal yang ada di lantai.
"Apa ada yang lain, yang Anda butuhkan?" tanya Toto.
"Ya," sahut Bening, sembari menekankan tangannya ke perut. "Aku lumayan lapar, apa ada yang bisa aku makan?"
Wajah Toto terlihat tidak nyaman dengan permintaan Bening. "Maaf Nyonya, makan malam akan di sajikan tepat pukul delapan malam."
Bening melihat jam di dinding kamarnya, masih menunjukan pukul empat sore. "Maksudmu tidak ada yang bisa aku makan sebelum pukul delapan?"
Toto menelan ludah, wajahnya memerah. "Tuan Surya sudah menetukan jam makan di rumah ini. Sarapan akan di sajikan pukul delapan pagi, makan siang jam dua belas siang, dan makan malam jam delapan malam. Peraturan itu sudah ada sejak saya bekerja di sini dua puluh tahun yang lalu."
'Peraturan macam apa itu?' di coffee shopnya Bening bisa makan kapanpun yang ia mau, bahkan di rumah ayah tirinya di Surabaya pun tak ada aturan mengenai makan. Bening menatap Toto lekat-lekat. "Apa hari ini tidak ada pengecualian? Ini hari pernikahanku."
"Aku akan menghubungi Tuan Surya dan menanyakannya. Kalau Tuan setuju juru masak akan segera menyiapkannya."
Kalau harus meminta persetujuan pria galak itu, Bening lebih memilih mati kelaparan. "Tidak perlu," ucap Bening. "Kau pergi saja, aku mau mandi." Bening langsung menutup pintu kamarnya.
Mandi akan meringankan perutnya yang keroncongan, kemudian ia bisa menghitung setiap menit menuju pukul delapan malam, jam yang sudah di tentukan untuk bisa menikmati makanan. Setelah itu, well... Bening tak ingin membayangkan kejadian di coffee shopnya akan terulang lagi.
...****************...
Sementara itu Surya baru kembali ke kediamannya pukul enam sore, ia langsung masuk ke kamar tidurnya yang berada di ujung koridor lantai satu. Panjang kamar itu 32 langkah dan lebarnya 22 langkah. Surya senang berlama-lama berada di kamar itu karena sangat tenang dan membuatnya rileks.
Tapi sekarang kamar itu berubah menjadi tidak tenang sebab sangat dekat dengan kamar istrinya. Terlebih saat ia masuk ke kediamannya tadi, Surya mendapat kabar dari Toto jika Bening sedang mandi. Surya membayangkan tubuh telanjang Bening masuk ke air yang beruap, pay*daranya napak di atas permukaan air.
Namun semakin keras Surya mengusir bayangan itu dari benaknya, bayangan itu justru semakin kuat. Ia kembali membayangkan air di sekitar tubuh istrinya bergoyang, membelainya seperti yang ingin sekali Surya lakukan.
Surya membayangkan istrinya mengangkat kakinya yang ramping dan panjang dari air serta mengusapkan tangan ke kaki itu, lalu ke pay*daranya, memudian menyandarkan kepalanya di bak mandi dan meluncurkan tangannya lebih bawah....
Mendadak Surya tersentak dari lamunannya, ia beranjak menuju jendela dan bersandar di sana sembari menarik napasnya dalam-dalam. Ia harus mengendalikan diri dan mengusir pikiran-pikiran kotornya.
Surya berbalik, keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Ia menghabiskan waktu, membenamkan pikiran kotornya dalam tumpukan pekerjaan. Ia mengevaluasi hasil meetingnya tadi pagi, membaca surat-surat tagihan, memeriksa pembukuan, dan membalas email-email penting dari client dan pegawainya.
Hingga tepat pukul 20.00 malam, Toto menghampirinya di ruang kerja untuk mengabarkan jika makan malam sudah siap.
'Aku akan makan malam bersama, Nyonya Magenta?' untuk pertama kalinya Surya menyungginggkan senyuman di wajahnya.
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka