persahabatan segitiga antara Tobia, seorang laki-laki tampan cekatan dan penyayang yang sudah bekerja sebagai perawat dengan Mada, seorang gadis periang yg masih kuliah semester 5, mereka tumbuh bersahabat sejak Mada pindah rumah saat usianya 9 tahun. Akankah persahabatan ini berubah menjadi rasa lain atau akankah persahabatan ini menjadi aneh karena kehadiran dokter Harun diantara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan terakhir adalah kunci
"Dr.Pin medicine."
Papan nama berwarna hijau muda yang terpasang apik di sebuah taman kecil di halaman bangunan besar. Itu adalah nama rumah sakit tempat Tobia bekerja sebagai perawat. 6 tahun yang lalu,sejak ia lulus dari kuliah s1 keperawatannya, Tobia diterima bekerja di rumah sakit itu setelah melalui beberapa test. Meskipun ada kerabatnya yang sudah bekerja disana, Tobia tidak mau memanfaatkan kekuatan orang dalam agar bisa lolos seleksi. Ia memilih melalui jalur umum, agar dia bisa membuktikan kemampuannya. setelah bekerja sekitar 1 tahun, Tobia melanjutkan pendidikan profesinya selama 1 tahun, untuk memantapkan gelar keperawatannya.
"Anak ibu sangat tampan memakai baju apapun. Pakai toga begini kamu jadi makin gagah." puji bu Vriana saat menemani putra sulungnya wisuda 4 tahun yang lalu.
"Anak ibu berarti anak Ayah juga dong.." pak Brady, ayah Tobia menimpali.
"Bapak dan Ibu ini norak." kata Lais cemburu.
"Kamu juga anak Ayah yang imut." kata pak Brady sambil mencubit halus pipi anak bungsunya yang memang cubby.
"Kamu masih menunggu Mada? Coba telpon dia daripada celingak celinguk gitu." si Ibu faham betul dengan perangai anaknya.
"Kita masuk ajalah,Bu. Nggak penting juga dia ada atau enggak." kata Tobia dengan senyum yang ia paksakan.
Mereka memasuki aula untuk menemani Tobia wisuda. Sambil sesekali menoleh ke belakang, Tobia menuntun keluarganya mencari tempat duduk.
Sampai saat tiba nama Tobia Karunggan dipanggil, orang yang dia tunggu- tunggu tidak muncul juga. Kecewa di satu sisi, namun bahagia di sisi lainnya. Ia mengesampingkan kekecewaannya, menarik nafas panjang, lalu memperlihatkan wajah puas dan senang di depan keluarganya.
"Kalau sudah begini, berarti gaji kakak nanti juga akan naik Yah?" kata Lais saat mereka makan bersama di sebuah restoran mewah untuk merayakan wisudanya Tobia.
"Kenapa tiba-tiba membicarakan soal gaji kakakmu?" tanya bu Vriana.
"Kalau gaji kakak naik, otomatis uang sakuku dari kakak juga akan naik dong." jawab Lais dengan mimik polosnya.
"Uang saku dari Ayah masih kurang? Jadi selama ini kamu suka minta uang ke kakakmu?"
"Aku nggak minta, tapi kakak yang maksa ngasih Yah..."
"Kamu ini..." kompak bu Vriana dan pak Brady hendak berseru.
"Sudah-sudah... Nggak apa-apa. Ayah dan ibu tenang saja. Bukankah wajar kalau kakak yang sudah bekerja, memberikaan uang saku untuk si adik?" Tobia menengahi.
"Kalau tahu begitu, Ayah akan mengurangi jatah uang saku dari ayah. Biar tabungan kita bisa nambah." jawab pak Brady melucu.
"Bener... Kalau tahu begitu, ibu bisa nambah daftar arisan ibu." Bu Vriana ikut melawak.
"Lah...!???!!" Tobia dan Lais gantian yang kompak bereaksi...
Mereka menikmati makanan di restoran itu dengan tawa dan canda yang renyah....
......................
Sementara itu kita ke Mada yang tidak kunjung datang ke acara wisudanya Tobia.
Hari itu sekolah Mada sedang mengadakan acara pensi. Ia bersama beberapa temannya harus mengisi acara di jam pagi. Itulah sebabnya Mada tidak bisa berangkat bareng ke acara wisudanya Tobia. Mada berniat menyusul setelah perform nya di sekolah selesai.
Acara wisuda Tobia dimulai jam 10 siang. Jadi meskipun agak terlambat, Mada pikir akan bisa menyusul naik bis dari sekolahnya.
Tepat jam 09.30, Mada selesai perform. Setelah berganti pakaian, Mada meminta ijin pada guru dan teman-temannya untuk meninggalkan sekolah dengan alasan menghadiri wisuda kakaknya.
Dalam perjalanan menuju tempat wisuda Tobia, telpon Mada berdering. Ternyata Kakeknya.
"Halo Kek? Aku lagi di dalam bis, mau ke wisudanya Mas Tobia. Ada apa?"
"Kamu turun aja dimana, biar Kakek jemput. Kita ke rumah sakit. kakek baru dapat kabar kalau Bapak dan ibu kecelakaan." kata Kakek dengan nada sedikit sendu.
"Hah?! Kakek sekarang dimana? Aku turun di perempatan kedua habis sekolahan." jawab Mada tak bisa menahan tangis.
"Yang kuat. Semoga tidak terjadi hal yang serius." Kakek mencoba menghibur Mada.
Dengan pikiran kacau, sambil menahan isak tangis,Mada beranjak dari kursi penumpang berjalan menuju pintu bis, dan meminta pak sopir menurunkannya di perempatan depan.
Beberapa penumpang lain tampak peduli dengan Mada dan bertanya.
"Ada apa dik, kok sedih?" tanya seorang ibu-ibu penumpang bis.
"Kata Kakek, orang tua saya kecelakaan." tangis Mada meledak saat ditanya si ibu.
"Ya ampun... Yang sabar ya... Semoga tidak terjadi apa-apa." penumpang lain mencoba menghibur.
"Sudah kecelakaan Om... Kok nggak terjadi apa-apa sih.... Pasti luka-luka." jawaban nyeleneh Mada sambil nangis.
Mendengar jawaban nyeleneh Mada yang masuk akal membuat para penumpang dilema. Mau ketawa takut dosa, nggak ketawa kok ya nyeleneh juga.
"Kamu yang kuat ya. Semoga tidak terjadi hal yang serius." pak Sopir segera menghibur lagi.
Mada turun di pojok perempatan. Kakek sudah menunggunya disana.
"Nenek dimana?" tanya Mada masih sambil nangis.
"Nenek sudah ke sana diantar tetangga." jawab sang Kakek.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat dengan TKP, tidak sepatah kalimat keluar dari mulut mereka. Hanya tangis Mada yang tidak berhenti. Ia teringat tadi pagi. Saat berpamitan ke sekolah. Mereka kira-kira butuh waktu sekitar 1 setengah jam untuk sampai di rumah sakit yang diinfokan.
Biasanya Mada berangkat sekolah diantar Tobia sekalian mengantar Lais yang sekolahnya searah juga dengan sekolah Mada.
Namun karena hari ini Tobia harus mempersiapkan acara wisudanya, Bapak dan Ibunya Mada menyempatkan mengantar sebelum mereka pergi liburan.
Pak Uxas bekerja sebagai staf disebuah perusahaan periklanan. Setiap tahun, perusahaannya akan memberikan bonus gratis liburan keluarga bagi karyawannya yang berprestasi. Sebenarnya ini bukan kali pertama pak Uxas mendapatkan bonus liburan. Beberapa tahun sebelumnya pak Uxas pernah mendapatkannya juga.
Sedangkan Kakek dan Nenek Mada datang ke sana untuk menjaga Mada selama orang tuanya pergi liburan.
Percakapan terjadi saat di depan sekolah...
"Hati-hati ya disekolah. Baik-baik jadi murid. Belajar yang bener. Selama Bapak dan Ibu nggak ada, nurut sama nasehat Kakek dan Nenek." kata ibunya sambil membantu Mada memakai tas sekolah dipunggung Mada.
"Jangan suka kurang ajar sama Tobia. Yang sopan sama orang tua Tobia. Mereka itu tetangga kita yang baik. kasih contoh yang baik buat Lais. " Bapaknya Mada menambahkan saat menyerahkan beberapa lembar uang saku untuk Mada.
"Bapak sama Ibu apaan sih... Kayak mau pergi lama aja." jawab Mada manja.
"Kamu beneran nggak mau ikut Bapak liburan sama Ibu? Mumpung gratis dari kantornya Bapak." kata pak Uxas pada putrinya.
"Hari ini aku perform Pak... Lagian masa aku ijin sekolah seminggu buat ikut liburan. Katanya suruh rajin...."
"Oh iya bener... Ya udah, nanti kalau pas liburan sekolah, kita liburan bersama. Kamu bebas boleh pilih kemana." pak Uxas menghibur putrinya.
"Yeeeeay....!!! Nanti aku pikirin deh." Mada kegirangan.
"Maaf ya nggak bisa lihat kamu perform." kata Bu Harini sambil mengecup kening putrinya.
"Nggak apa-apa bu, nanti siang keburu nyusul ke acara wisudanya Mas Tobia."
"Hati-hati nanti naik bisnya. Nggak usah buru-buru. Yang penting selamat." nasehat pak Uxas saat putrinya cium tangan meminta pamit.
"Siap Pak!!! Selamat menikmati liburan.. Bapak dan Ibuku tersayang...." kata Mada sambil memeluk kedua orang tuanya.
Mada berjalan memasuki area sekolahan sambil sesekali menoleh dan melambaikan tangan pada kedua orang tuanya yang masih setia melihat Mada sampai akhirnya Mada masuk gedung sekolahan.
Mada disambut teman-temannya yang sudah selesai berdandan untuk perform dance dan nyanyi grup.
"Hai...!!! so sweet banget sih pamitan sama orang tuamu?" sapa salah satu temannya.
"Iya... Tumben banget Bapak sama Ibumu yang nganter, dimana Kakak gantengmu itu?" tanya yang lain.
"Oh, hari ini Mas Tobia wisuda. Jadi dia sibuk siap-siap deh... Makanya nanti habis perform, aku langsung cabut mau dateng ke wisudanya." jawab Mada sambil membuka tas nya dan mengeluarkan perlengkapan untuk performnya.
"Waaah.. Kakakmu pasti makin keren pas pakai toga. Jadi pengen ikut...." seru yang lain.
Teman-teman Mada sepertinya mengira Tobia adalah kakak kandung Mada. Mereka benar-benar tidak tahu kalau Tobia dan Mada hamya bertetangga ,tidak memiliki hubungan darah. Mada juga tidak pernah mengatakan fakta yang sebenarnya. Ia benar-benar merasa aman dan nyaman saat orang-orang mengira Tobia adalah kakaknya.
"Ya udah...yok... Kita bantu kamu berdandan. Kita perform jam 8. Sebelumnya kita bisa latihan dulu di kelas."
Mada dan teman-temannya sibuk mempersiapkan perform mereka. Di saat yang sama keluarga Tobia juga mempersiapkan diri dan berdandan untuk acara wisuda Tobia. Mada maupun Tobia tidak sempat saling mengabari karena sibuk dengan urusan masing-masing.
Saat Mada sibuk dengan performnya, Tobia sibuk dengan wisudanya, Kakek dan Nenek mengantar orang tua Mada ke bandara.
Tepat jam 08.30 pagi itu, pesawat yang ditumpangi orang tua Mada take off. Kakek dan Nenek pun pulang ke rumah Mada untuk beristirahat karena pagi tadi sekitar jam 6, Kakek dan Nenek Mada juga baru sampai.
Namun baru sekitar satu jam kemudian, Kakek dan Nenek mendapat kabar kalau pesawat yang ditumpangi orang tua Mada mengalami kendala teknis dan harus Landing darurat, namun karena suatu hal, Landing tidak berjalan dengan baik.
Hampir setengah badan pesawat hancur. Sialnya disanalah tempat orang tua Mada mendapatkan kursi.
Dengan penuh harap Mada, Kakek dan Neneknya menunggu hasil dari pihak yang berwajib. Para korban baik yg selamat, luka-luka ataupun yang meninggal dunia sedang di bawa dalam perjalanan dari TKP ke rumah sakit terdekat. Seluruh keluarga korban satu per satu pun berdatangan ke rumah sakit tersebut....
..................
Kita kembali ke Keluarga Tobia yang masih berbincang di restoran.
"Rasanya aneh ya... Biasanya kalau kita merayakan sesuatu, keluarga pak Uxas bisa ambil bagian dan memeriahkan suasana." celetuk Bu Vriana.
"Sudahlah bu... Kita hormati privasi mereka. Kebetulan saja kali ini mereka juga harus merayakan hal baik ditempat yang berbeda."
"Mbak Mada kan janji mau nyusul, tapi nggak nongol-nongol. Nggak ada kabar sampai sekarang." Lais menyadari adanya kekosongan.
"Mada kan sedang ada acara juga di sekolahnya. Mungkin dia nggak bisa ijin mbolos." pak Brady mencoba menenangkan keluarganya.
"Kalau ada apa-apa biasanya Mbak Mada kasih kabar."
"Cobalah lihat hapemu Tob, siapa tahu Mada ngabarin kamu. Perasaan Ibu beneran nggak enak ini." bu Vriana seakan merasakan firasat kurang baik.
Tobia mengambil hape yang sedari tadi ia simpan di ranselnya. Karena takut berisik dan mengganggu acara wisuda, dering hape ia senyapkan. Jadi tidak menyadari ada banyak pesan masuk.
"Cuma ada pesan-pesan ucapan selamat dari teman-teman kerjaku kok, Bu." kata Tobia seraya memeriksa Hp nya. "Eh, ada pesan suara dari Tante Harini."
"Selamat atas pencapaian wisudanya ya Nak Tobia.... Kami turut bangga dengan apa yang kamu raih. Om dan Tante minta maaf tidak bisa hadir menyaksikan moment membanggakan ini." Suara bu Harini terdengar penuh dengan kasih sayang.
"Kami sudah di bandara, sebentar lagi mau masuk pesawat. Selama kami tidak ada, titip Mada ya... Om dan Tante percaya kamu bisa menjaganya sampai akhir. Hanya Nak Tobia yang selalu bisa Mada andalkan." imbuh pak Uxas.
"Benar... Sekali lagi Selamat untukmu. Doakan kami selalu ya, agar sampai ke tempat tujuan dengan baik. Sampaikan salam dan maaf sekali lagi untuk Ayah, Ibu, dan Lais ya..." kata Bu Harini lagi.
"Titip Kakek dan Nenek juga." kata pak Uxas
"Kami percayakan Mada padamu. Sudah ya... Sepertinya kami harus segera menuju ke pesawat. Bye... Bye..." Bu Harini mengakhiri pesan suara.
Keluarga Tobia mendengarkan pesan- pesan itu dengan seksama.
"Ternyata semua orang tua sama saja ya Kak... Ninggalin anaknya sebentar saja kayak bakal ninggalin selamanya." Lais berkomentar.
"Hush... Jangan ngomong kayak gitu. Itu karena semua orang tua sangat menyayangi anaknya. Mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka." Sanggah pak Brady.
"Berita Kilas...... Selamat siang pemirsa, pesawat Odan Air y yang seharusnya terbang menuju pulau Pilly mengalami gangguan teknis sehingga harus mendarat darurat. Namun pesawat tidak bisa mendarat dengan sempurna. Pesawat komersial itu yang membawa 120 penumpang. Sebagian besar badan pesawat hancur. 34 korban meninggal dunia,45 mengalami luka berat di sebagian besar tubuh dan sisanya hanya mengalami luka ringan. Seluruh korban sedang dievakuasi ke rumah sakit dan fasilitas kesehatan terdekat. Belum diketahui penyebab salah teknis pesawat. Kepolisian dan pihak maskapai penerbangan masih menyelidiki hal tersebut."
Kilas berita yang tersiar secara langsung di televisi di restoran itu, sontak membuat keluarga Tobia hanya saling tatap dengan wajah kaget disertai khawatir. Tanpa mengatakan apapun Pak Brady bangkit menuju kasir. Diikuti Tobia bangkit menuju mobil Ayahnya. Lais dan bu Vriana pun bergegas menyusul sambil membawa barang-barang mereka.
Bahkan dalam perjalanan pun mereka tidak banyak bicara. Tobia memacu mobil ayahnya dengan sedikit ngebut. Bu Vriana yang biasanya protes jika putra atau suaminya mengendarai dengan mengebut, kala itu terdiam penuh harap.
Sedangkan Lais mencari informasi rumah sakit mana saja yang menjadi tempat evakuasi korban. Karena korban tidak hanya dibawa di satu rumah sakit, Lais diam-diam memberanikan diri berkirim pesan ke Kakeknya Mada.
"Mbak Mada dan Kakek Nenek di rumah sakit Merida Kak." kata Lais kemudian.
Sekitar satu jam lebih mereka menempuh perjalanan. Ketika sampai dirumah sakit, Tobia langsung meraih tubuh Mada lemas bersimpuh seraya menangis hebat di depan jasad kedua orang tuanya yang terbujur penuh luka disekujur tubuh.
.................
Kita kembali ke kedai soto Babat. Tobia melahap makanannya dengan cepat sambil sesekali memperhatikan Dokter Harun dan Dokter Stela.
"Lihat itu... Bener kan kataku... Dokter Harun dan Dokter Stela itu pacaran. Lihat mereka sedekat itu." kata seseorang yang duduk dikursi tepat belakang Tobia.
"Wajar kalau mereka dekat. Kabarnya mereka memang berteman dekat sejak kuliah." kata yang lain.
"Ngomong aja kamu masih ngarepin dia. Kamu nggak ikhlas kan kalau mereka pacaran." kata yang tadi.
"Serah deh kamu mau ngomong apa. Aku juga nggak peduli lagi kok."
"Waaaaaah laki-laki itu kukira orang baik. Ternyata sama saja mata keranjang. Awas saja kalau sampai membuat Mada menangis." pikir Tobia dalam hati.
Pesan terakhir orang tua Mada selalu diingat baik oleh Tobia. Semarah apapun Tobia pada Mada, Tobia tidak akan pernah membiarkan Mada disakiti oleh siapapun. Tobia akan selalu sigap menjadi benteng bagi Mada dan siap melakukan apa saja untuk membuat Mada kembali ceria.
Rasa marah dan kecewa yang tadinya memenuhi batin Tobia, menghilang begitu saja tersapu bersama 2 mangkok soto babat dan segelas es teh.
Tobia segera beranjak dan sengaja melewati dokter Harun. Saat sampai di hadapan dokter Harun, Tobia memandang lekat ke dokter Harun dan memberikan isyarat dua dua jari yang berarti Tobia mengawasi setiap gerakan dokter Harun. Lalu tanpa sepatah kata pun Tobia berlalu begitu saja menuju rumah sakit, karena sebentar lagi jadwalnya berjaga.
Entah apa yang Tobia pikirkan. Dia tak hentinya bersenandung sambil jalan sedikit berjingkrak menandakan kebahagiaannya.
"Mas Tobia bahagia banget. Cinta nya nggak lagi bertepuk sebelah tangan?" seru si penjaga cafetaria saat melihat Tobia melintas. Dan hanya dibalas dengan senyuman lebar Tobia....
..
...****************...
to be continue.....
ah tapi lucu
Makasih bang yosh,kereen novelnya
habis ini otw baca yang lainnya... apalagi yang burn out tuh,bikin penasaran 😄😄
maauu dong Tobia buat aku aja😂😂