"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Argadana dan Anggadana terluka
Bruk.
"Innalillahi, anak anak Sahara kenapa?" panik Sahara saat kedua anaknya terlempar bersama Ireng ke dalam gerbang rumah Bintang dengan awah hitam yang membuat kawasan itu menjadi gelap.
Ireng merengkuh tubuh Argadana dan Anggadana supaya tidak langsung bergesekan dengan tanah dan kedua anak Sahara yang sudah tak sadarkan diri itu tidak bertambah terluka.
"Aargghhh! awas kalian semua!" teriak Luca yang gagal mengejar Ireng, Argadana dan Anggadana.
Kedua anak itu terluka di bagian punggung mereka karena Luca terus melemparkan energinya ketika keduanya kabur dari rumah Radiah di bantu Ireng yang membawa mereka terbang di punggungnya.
"Sayapmu juga terluka Ireng, kenapa kamu bisa bersama mereka?" tanya Uyung kakak dari Ireng.
"Aku tidak apa apa, ini akan pulih, aku sedang melewati kawasan itu saat melihat dua kilatan cahaya terpental dari dalam rumah yang di pagari pagar gaib, itu ternyata dua anak Sahara dan mereka memanggilku jadi aku langsung turun, tapi saat membawa mereka aku ketahuan dan di ikuti sosok bayangan itu, dia terus menyerang kami dan yang aku pikirkan saat itu adalah hanya ingin membawa mereka segera ke tanah Bagaskara supaya aman" jawab Ireng yang juga memegang sebuah tongkat di tangannya setelah dia merubah dirinya menjadi sosok manusia.
"Ya Allah, nak, kalian bisa mendengar suara papa?" tanya Dimas khawatir begitupun Bintang, Sigit dan yang lain yang bisa melihat Argadana dan Anggadana.
Untungnya Roman sudah pergi ke perkebunan dan Dirga membawa Rani ke sekolah, tapi suasana gelap di sekitar rumah Bintang pastilah akan membuat Dirga merasakan adanya bahaya di rumahnya. Bengkel Dimas juga sedang tidak ada pelanggan karena mereka sengaja menutup bengkel itu sementara begitupun dengan warung kopi Sadam dan warung makan Gilang karena mereka akan makan siang bersama di depan bengkel Dimas.
"Uyung, obati luka Ireng" ucap Rukmini
"Ini, ini kayu jati dari hutan Sagara, katanya ganti bahan tongkat untuk tombak itu dengan kayu ini, supaya rambut Sahara bisa menempel sempurna" ucap Ireng
"Aku akan menyimpan ini" jawab Rukmini
"Ayo aku obati luka kamu di tempatku" ajak Uyung merangkul Ireng.
"Nak... hiks... Gandra!" panggil Sahara karena kedua anaknya sama sekali tidak bergerak dan hanya memejamkan mata mereka.
"Mereka pelindung perjodohan darah, harusnya mereka tidak mengurus hal lain di luar masalah Dimas dan Kania, mereka pasti terluka karena itu, segera bawa ke kerajaan Gandradana untuk di pulihkan" ucap Badaruddin.
"Aku akan membantu anak anakku, jangan menangis ratuku, aku akan menolong mereka" ucap Gandra yang sudah muncul dan segera menggendong anak anaknya di pundak.
"Sahara, dinginkan tubuh mereka" ucap Rukmini
"Baik nenek"
Sahara masih terisak, Dimas juga sudah memberikan darahnya untuk Argadana dan Anggadana karena darah Dimas dan Kania bisa kembali memulihkan tenaga kedua anak Sahara itu.
Tapi matanya terpaku pada sarung dan juga peci yang di peluk oleh Argadana, mereka tahu itu adalah barang milik Dirga dan Dimas merasa heran kenapa dua benda itu bisa ada di tangan kedua anak Sahara.
"Om Ireng, apa mereka memegang sarung dan peci ini ketika Om Ireng menemukan mereka?" tanya Dimas menatap Uyung yang sedang menyalurkan energinya pada Ireng.
"Iya, Argadana terus memeluknya dengan erat bahkan meskipun mereka sudah terluka dua benda itu tidak lepas dari tangannya" jawab Ireng
"Dimas... apa mungkin mereka mengambil itu dari rumah Radini" bisik Bintang
"Iya, mereka mengambil itu dari rumah Radini karena mereka tadi ke sana" jawab Badaruddin
"Innalilahi, apa yang sebenarnya terjadi itu hanya keduanya yang tahu, dan itu artinya meskipun Dirga sudah menolaknya, Radini masih mencoba untuk menaklukan Dirga" gumam Bintang
"Tapi ada minyak pelet di sarung dan peci ini, sepertinya Radini punya rencana lain" ucap Badaruddin
"Ya, aku juga menciumnya, itu minyak pelet" ucap Rukmini
"Tapi apa rencana dia?" tanya Dimas khawatir
"Apa perlu kita meminta Dirga untuk tidak keluar rumah dulu?" tanya Bintang
"Tidak perlu, Dimas yakin Dirga bisa menjaga dirinya di luar rumah ini pa" jawab Dimas
"Tapi papa khawatir, Harsa saja masih linglung begitu setiap keluar rumah, pengaruh Radini itu masih menempel kalau di luar rumah makanya papa hanya memperbolehkan Herman dan Harsa bekerja di dalam area tanah ini, papa juga buat jalan khusus ke jalur belakang rumah supaya Herman tidak melewati luar tanah papa" ungkap Bintang
"Tapi Dirga berbeda pa, Dirga punya pegangan ilmu putih dari Abah yai Adrian" ungkap Dimas
"Benar Om, Dirga bahkan tidak mempan di Pelet Radini apalagi yang lain" ungkap Sigit
"Tapi bagaimana kalau pelet itu dia pasangkan pada perempuan lain?" tanya Badaruddin
"Maksud kamu?" tanya Rukmini
"Perempuan yang Dirga hormati dan Dirga kagumi, kalau Radini tahu ada perempuan yang di kagumi Dirga, dia akan membuat Dirga tergila gila pada perempuan itu dan setelah itu Radini akan membunuh si perempuan supaya Dirga patah hati dan bunuh diri, itu adalah pencapaian terhebat untuk iblis Luca kalau dia bisa melakukan itu" jawab Badaruddin
"Apa bisa kita melakukan pelet yang di tujukan pada orang lain tapi bukan untuk di pasangkan dengan kita?" tanya Dimas
"Bagi iblis tentu saja bisa, misalnya sarung ini dan peci ini, mereka pasti mengambil ini saat di jemur di luar, masih ada wangi Dirga di dalam sarung ini dan pecinya, mereka hanya tinggal membisikkan nama perempuan yang di pikirkan Dirga secara terus menerus dan secara tidak sadar, Dirga akan memikirkan perempuan itu, tanyakan pada Dirga apa akhir akhir ini dia selalu memimpikan perempuan dalam tidurnya" ungkap Badaruddin
"Aku akan tanyakan nanti saat dia pulang" jawab Bintang
••••••••••••••
Di sekolah Dirga.
"Nah anak anak, sekarang kita akan belajar hafalan ayat ayat pendek, siapa di antara kalian yang sudah hafal surat Al ikhlas?" tanya seorang guru perempuan di depan para anak anak yang sudah mulai belajar hari itu.
"Saya!" jawab lima orang tapi Rani tidak mengangkat tangannya.
"Saya hafal Bu guru tapi kalau bacanya sama sama" ucap anak Panji yang bernama Razka.
"Itu artinya Razka harus lebih sering belajar membaca ayat itu sendiri, di awasi mama atau papa di rumah, tapi karena di sini juga belum ada yang bisa, kita baca sama sama saja ya, di mulai dengan ta'awud dan basmalah dulu" ucap guru itu.
"Baik Bu..." jawab semuanya termasuk Rani yang melirik ke arah Dirga.
"Baca nak" bisik Dirga
Sahara ayo neng bales it si rudin