Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebangkitan penghancur lapisan
Langit Alam Dewa tidak pernah terlihat seperti itu sebelumnya.
Retakan besar membelah cakrawala.
Dari balik celah dimensi, muncul energi hitam yang membuat seluruh lapisan dunia bergetar.
Para dewa yang sebelumnya berdiri sebagai penguasa kini terlihat gelisah.
Mereka tahu sesuatu yang selama ini mereka takutkan akhirnya tiba.
Penghancur Lapisan telah bangkit.
Atlas berdiri di depan Istana Para Dewa yang Terlupakan dengan pedang warisannya di tangan.
Di sampingnya, Oliver memandangi langit yang terus berubah.
"Jadi selama ini..."
"semua perang yang terjadi hanya membuat musuh ini semakin kuat?"
Raka mengangguk pelan.
"Ya."
"Ketika para dewa saling berebut kekuasaan, keseimbangan dunia mulai runtuh."
Oliver menatap pasukan dewa yang kini berdiri bersama mereka.
"Dan sekarang mereka harus bekerja sama."
Algojo Langit menatap retakan besar di atas mereka.
"Musuh yang datang bukan makhluk biasa."
"Mereka tidak ingin menguasai dunia."
Atlas mengerutkan kening.
"Lalu apa tujuan mereka?"
Algojo menjawab dengan suara dingin.
"Menghapusnya."
MUNCULNYA PENGHANCUR LAPISAN
Dari retakan langit, sebuah bayangan besar perlahan muncul.
Tidak memiliki bentuk yang jelas.
Kadang terlihat seperti manusia.
Kadang seperti kabut gelap.
Kadang seperti sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh mata.
Namun semua orang merasakan hal yang sama.
Ketakutan.
Salah satu dewa tingkat tinggi mundur beberapa langkah.
"Itu tidak mungkin..."
"Makhluk itu seharusnya sudah disegel sejak zaman pertama."
Raka menatapnya.
"Segel itu melemah karena konflik para dewa."
Sang dewa terdiam.
Karena ia tahu ucapan itu benar.
KEKUATAN PEWARIS TERAKHIR
Atlas menggenggam pedangnya.
Warisan Penjaga Langit di dalam tubuhnya mulai bereaksi.
Namun kali ini berbeda.
Ia tidak merasakan amarah.
Tidak juga rasa takut.
Yang ia rasakan adalah tanggung jawab.
Suara para pewaris lama bergema dalam pikirannya.
"Jangan gunakan kekuatan untuk menjadi penguasa."
"Gunakan kekuatan untuk menjaga mereka yang tidak mampu melindungi diri."
Atlas membuka matanya.
"Aku mengerti."
Oliver berdiri di sampingnya.
Cahaya biru muncul dari tangannya.
Ia melihat ribuan kemungkinan masa depan.
Sebagian berakhir dengan kehancuran.
Sebagian lainnya berakhir dengan pengorbanan.
Namun ada satu kemungkinan kecil.
Satu jalan yang masih memiliki harapan.
Oliver tersenyum tipis.
"Ada satu cara."
Atlas menoleh.
"Apa?"
"Kita tidak bisa menang dengan kekuatan."
"Tapi kita bisa mengubah hasil akhirnya."
SERANGAN PERTAMA
Tiba-tiba langit runtuh.
Gelombang energi hitam turun menuju istana.
Pasukan dewa langsung membentuk pertahanan.
Ribuan senjata cahaya diarahkan ke langit.
Namun ketika serangan itu mengenai energi gelap...
semuanya lenyap.
Tidak hancur.
Tidak terpental.
Tapi seperti tidak pernah ada.
Semua terdiam.
Algojo menggenggam pedangnya.
"Dia bukan menghancurkan."
"Dia menghapus keberadaan."
Atlas menatap musuh di langit.
Untuk pertama kalinya...
bahkan para dewa terlihat tidak yakin.
Namun ia tidak mundur.
Karena di belakangnya ada dunia yang masih harus dilindungi.
Ada manusia yang tidak tahu apa pun tentang perang ini.
Dan ada janji terakhir dari ibunya.
Jangan menjadi senjata. Jadilah pelindung.
Atlas mengangkat pedangnya.
Oliver berdiri di sisinya.
Raka dan Algojo bersiap.
Lalu Atlas berkata:
"Kalau dunia ini harus bertahan..."
"...maka kita harus melawan sampai akhir."
Dan perang terbesar dalam sejarah Alam Dewa pun dimulai.
Langit Alam Dewa berubah menjadi medan perang.
Tidak ada lagi batas antara manusia, pewaris, dan dewa.
Semua berdiri menghadapi musuh yang sama.
Penghancur Lapisan.
Makhluk yang selama ribuan tahun hanya dianggap sebagai legenda kini benar-benar telah kembali.
Dan kedatangannya membawa satu tujuan.
Menghapus seluruh keberadaan.
SERANGAN PARA DEWA
Sang Penguasa Singgasana mengangkat tangannya.
"Semua pasukan!"
"Gunakan kekuatan penuh!"
Ribuan prajurit dewa bergerak bersamaan.
Cahaya memenuhi langit.
Ratusan tombak energi, panah cahaya, dan mantra kuno meluncur menuju Penghancur Lapisan.
Namun...
semuanya berhenti sebelum menyentuh tubuh makhluk itu.
Kemudian perlahan menghilang.
Seolah serangan itu tidak pernah ada.
Suasana menjadi hening.
Para dewa mulai menyadari sesuatu.
Musuh ini bukan sekadar kuat.
Musuh ini berada di luar aturan dunia.
ATLAS MEMBUKA KEKUATAN BARU
Atlas melangkah maju.
Raka langsung menoleh.
"Atlas, tunggu!"
Namun Atlas tetap berjalan.
"Aku harus mencoba."
"Tapi kau belum sepenuhnya memahami warisan itu," kata Raka.
Atlas menatap pedangnya.
"Aku tidak perlu memahami semuanya sekarang."
"Aku hanya perlu tahu apa yang harus kulakukan."
Pedang warisan mulai bersinar.
Cahaya merah keemasan menyelimuti tubuhnya.
Untuk pertama kalinya, darah Penjaga Langit merespons bukan karena ancaman...
melainkan karena tekad.
Sebuah bayangan muncul di belakang Atlas.
Sosok pendekar kuno dari garis keturunannya.
"Pewaris terakhir..."
"Apakah kau siap membawa beban kami?"
Atlas menjawab dalam hati.
"Aku tidak membawa beban kalian."
"Aku membawa harapan mereka yang masih hidup."
Bayangan itu terdiam.
Lalu tersenyum.
"Jawaban yang benar."
PENJAGA LANGIT BANGKIT
Cahaya merah keemasan meledak dari tubuh Atlas.
Seluruh medan perang bergetar.
Para dewa menatapnya dengan terkejut.
Bahkan Sang Penguasa Singgasana tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Dia..."
"Dia mencapai bentuk asli warisan."
Algojo menatap Atlas.
"Seperti ibunya."
OLIVER DAN MASA DEPAN
Di sisi lain, Oliver memejamkan mata.
Ia tidak melihat musuh.
Ia melihat waktu.
Ribuan kemungkinan muncul di pikirannya.
Dalam satu kemungkinan, Atlas jatuh.
Dalam kemungkinan lain, Alam Dewa hancur.
Dalam banyak jalan...
mereka gagal.
Namun ada satu masa depan yang berbeda.
Sebuah jalan kecil.
Sebuah pilihan.
Oliver membuka matanya.
"Aku sudah melihatnya."
Atlas menoleh.
"Apa?"
"Kemenangan."
Oliver tersenyum kecil.
"Tapi bukan dengan cara yang kita pikirkan."
KEKUATAN PENJAGA WAKTU
Oliver mengangkat tangannya.
Cahaya biru menyebar ke seluruh medan perang.
Waktu di sekitar mereka mulai berubah.
Bukan berhenti.
Bukan berjalan mundur.
Tapi tersusun kembali.
Para prajurit yang terluka mendapatkan kesempatan untuk bergerak kembali.
Serangan yang gagal diarahkan ulang.
Kesalahan kecil diperbaiki.
Namun setiap penggunaan kekuatan membuat tubuh Oliver semakin lemah.
Raka menyadarinya.
"Oliver!"
"Kau memaksa aliran waktu!"
Oliver tetap fokus.
"Kalau aku bisa memberi mereka satu kesempatan..."
"...itu sudah cukup."
PENGHANCUR LAPISAN BEREAKSI
Untuk pertama kalinya...
Penghancur Lapisan bergerak.
Makhluk itu mengangkat tangannya.
Energi hitam berkumpul.
Seluruh Alam Dewa bergetar.
Suara tanpa emosi terdengar:
"Pewaris ditemukan."
"Prioritas penghapusan ditingkatkan."
Atlas menatap makhluk itu.
"Dia mengenal kita."
Algojo menggenggam pedangnya.
"Bukan."
"Dia takut pada kalian."
Semua terdiam.
Makhluk yang mampu menghapus dunia...
takut pada dua pewaris terakhir?
RAHASIA DARAH PEWARIS
Penghancur Lapisan menatap Atlas dan Oliver.
Lalu suara itu kembali terdengar.
"Darah kalian adalah alasan kami gagal ribuan tahun lalu."
Oliver terkejut.
"Alasan?"
Raka menatap mereka.
"Ada sesuatu yang belum ibu kalian ceritakan."
Atlas mengepalkan tangan.
"Apa?"
Algojo melihat ke arah langit yang retak.
"Leluhur kalian bukan hanya penjaga."
"Mereka adalah orang yang pernah hampir menghancurkan Penghancur Lapisan."
Pertempuran berhenti sesaat.
Karena semua menyadari...
kekuatan Atlas dan Oliver bukan sekadar warisan perlindungan.
Ada sejarah yang jauh lebih besar.
Dan mungkin...
ada alasan mengapa dunia begitu takut pada darah mereka.
Suasana medan perang berubah.
Tidak ada lagi suara benturan senjata.
Tidak ada lagi pasukan yang bergerak.
Semua mata tertuju pada Atlas dan Oliver.
Karena kata-kata Algojo Langit baru saja mengubah segalanya.
Leluhur mereka bukan hanya penjaga.
Mereka adalah orang yang pernah menghentikan Penghancur Lapisan.
KISAH DARAH PERTAMA
Atlas menatap Algojo.
"Jelaskan."
"Apa yang sebenarnya terjadi ribuan tahun lalu?"
Algojo terdiam.
Seolah mengingat sesuatu yang sangat lama.
"Leluhur kalian adalah dua pendekar pertama yang menemukan keberadaan Penghancur Lapisan."
"Mereka mengetahui bahwa makhluk itu bukan berasal dari dunia mana pun."
"Itu adalah sesuatu yang berada di luar aturan penciptaan."
Oliver mengerutkan kening.
"Lalu bagaimana mereka mengalahkannya?"
Algojo menatap pedang Atlas dan kalung Oliver.
"Mereka tidak mengalahkannya."
"Mereka mengorbankan sebagian dari kekuatan mereka untuk menyegelnya."
PENGORBANAN PARA PEWARIS
Sebuah bayangan muncul di udara.
Memperlihatkan masa lalu.
Dua pendekar berdiri di hadapan kegelapan yang memenuhi langit.
Satu membawa pedang cahaya.
Satu membawa jam kuno yang mengendalikan waktu.
Mereka bertarung bersama.
Namun pada akhirnya...
mereka tahu tidak bisa menang.
Maka mereka memilih jalan terakhir.
Mereka membagi kekuatan mereka menjadi dua garis keturunan.
Penjaga Langit.
Dan Penjaga Waktu.
Agar suatu hari nanti...
jika Penghancur Lapisan kembali...
akan ada pewaris yang mampu menghentikannya.
PILIHAN SANG PEWARIS
Atlas menatap tangannya.
Selama ini ia mengira kekuatannya adalah kutukan.
Tapi sekarang ia mengerti.
Kekuatan itu bukan diberikan untuk membuatnya menjadi dewa.
Kekuatan itu diberikan karena seseorang percaya padanya.
Oliver melihat masa depan yang masih terbuka.
"Ada sesuatu yang belum kita lakukan."
Atlas menoleh.
"Apa?"
Oliver melihat Penghancur Lapisan.
"Kita tidak boleh hanya menyegelnya lagi."
"Kalau kita mengulang sejarah..."
"suatu hari nanti dia akan kembali."
MELAWAN TAKDIR LAMA
Raka terkejut.
"Oliver..."
"Kau ingin menghancurkan segelnya?"
Oliver mengangguk.
"Kita sudah terlalu lama mewarisi perang orang-orang sebelumnya."
"Kali ini..."
"...kita harus mengakhirinya."
Atlas tersenyum kecil.
"Itu terdengar seperti sesuatu yang akan ibu setujui."
SERANGAN TERAKHIR PENGHANCUR LAPISAN
Penghancur Lapisan akhirnya bergerak sepenuhnya.
Langit berubah gelap.
Gelombang energi hitam turun seperti badai.
Para dewa membentuk pertahanan terakhir.
Namun kali ini...
mereka tidak berdiri sebagai penguasa.
Mereka berdiri sebagai pelindung.
Sang Penguasa Singgasana menatap Atlas.
"Kalian benar."
"Kami terlalu lama menjaga kekuasaan."
Atlas mengangguk.
"Maka sekarang bantu kami menjaga dunia."
DUA WARISAN MENJADI SATU
Atlas dan Oliver berdiri berdampingan.
Cahaya merah dan biru mulai menyatu.
Bukan bertabrakan.
Tapi saling melengkapi.
Penjaga Langit.
Dan Penjaga Waktu.
Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun...
dua warisan kuno bersatu kembali.
Pedang Atlas memancarkan cahaya merah keemasan.
Kekuatan Oliver membungkusnya dengan aliran waktu biru.
Sebuah kekuatan baru lahir.
KESEIMBANGAN PEWARIS.
AKHIR PERTEMPURAN PERTAMA
Atlas melangkah maju.
Oliver mengatur aliran waktu.
Dan bersama-sama...
mereka menyerang.
Bukan untuk menghancurkan.
Bukan untuk membalas dendam.
Tapi untuk menghentikan siklus perang.
Cahaya merah dan biru menembus kegelapan.
Seluruh Alam Dewa bergetar.
Penghancur Lapisan mundur untuk pertama kalinya.
Suara tanpa emosi itu terdengar:
"Tidak mungkin..."
"Darah itu masih bertahan..."
AKHIR BAB 10
Namun sebelum menghilang, Penghancur Lapisan meninggalkan satu pesan.
"Pewaris..."
"Kalian hanya menghentikan tubuhku."
"Bukan sumberku."
Retakan langit masih belum tertutup.
Ancaman sebenarnya masih ada.
Atlas menatap langit.
Oliver berdiri di sampingnya.
Mereka menang hari ini.
Tapi perang mereka baru saja dimulai.
Karena di balik Penghancur Lapisan...
ada sesuatu yang jauh lebih tua.
Sesuatu yang bahkan para dewa takut menyebut namanya.