NovelToon NovelToon
Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Status: tamat
Genre:CEO / Janda / Duda / Romantis / Kehidupan di Kantor / Office Romance / Tamat
Popularitas:598.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septira Wihartanti

Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Trauma

“Larutan asam pekat, polisi sedang mengusut kasus ini,” Pak Felix sambil berkacak pinggang berbicara padaku yang saat ini sedang diperiksa di dalam ambulance. Kondisi mentalku memang sudah tak karuan.

Di depan mataku, masih kuingat jelas si pelakor mengambil botol itu dari dalam tasnya, sampai sekarang aku tak sudi menyebut namanya walau pun aku tahu nama lengkapnya sampai ke binti-bintinya. Tidak mungkin Tommy tidak tahu kalau istri sirinya itu membawa-bawa benda sebesar itu di tasnya!

Tommy tidak melindungiku, sama sekali. Instingku lah yang melindungiku. Dengan kata lain, Tuhan menyelamatkan hidupku, masa depanku.

Kutatap mobil ambulance ini, dan kulihat ke arah kerumunan di depan sana. Mereka tampak bertanya-tanya apa yang terjadi. Si Pelakor masih berteriak-teriak padaku saat polisi mengamankannya. Padahal aku berharap kondisiku tidak menarik perhatian, malah kehebohan yang terjadi tingkat tinggi begini. Sampai ada polisi dan Ambulance segala.

Mereka kini ada di rumah sakit karena si pelakor mengalami luka bakar akibat kesalahannya sendiri. CCTV berbicara banyak dalam hal ini.

Apalagi CCTV kami termasuk yang fiturnya canggih, Pak Felix memang sengaja menempatkan kami di ruang meeting itu agar dapat menjagaku, katanya.

Aku di dalam ambulance dalam kondisi shock dan akhirnya setelah kejadian itu nafasku sempat tersengal-sengal. Pihak medis memberiku infus dan obat penenang. Kini rasanya pikiranku serasa melayang.

Bayangkan kalau cairan itu terlempar ke arahku...

Mereka merusak masa depanku. Saat aku mulai bangkit, mereka malah berencana mencelakaiku.

Bukankah seharusnya aku yang mendendam? Kenapa malah mereka merasa kalau aku yang salah?!

Aku memang dari awal salah karena sudah memanjakan mantan suamiku secara berlebihan. Kulakukan hal itu atas nama Cinta.

“Dasar orang-orang bodoh,” gerutu Pak Felix, “Kalau sudah begini sudah harus diperpanjang masalahnya. Ini percobaan pembunuhan loh!”

“Pak, saya sebenarnya sudah capek,”

“Tidak bisa, kamu tidak boleh capek. Kalau mereka dibebaskan mereka akan berbuat lebih jauh. Begitu sih pengalaman saya. Mereka harus tahu kalau kamu tidak bisa diganggu semudah itu. Justru kalau kamu berbaik hati, mereka akan merasa terhina. Kamu malah akan dituduh mau cari muka dengan sok-sok’an jadi malaikat. Saran saya sekalian saja jadi iblis agar mereka tahu sedang berhadapan dengan orang yang salah.”

Aku terkekeh mendengarnya. Entah kenapa saat dia berkata dengan menggebu-gebu seperti itu membuat hatiku terasa terhibur sedikit.

Sungguh, aku tidak enak dengan perhatian berlebihan yang diberikannya. Sampai saat ini aku hanya menganggap perhatiannya itu karena perasaan senasib kami.

“Perlu ditemani ke kantor polisi?” tanya Pak Felix.

“Tidak usah Pak, saya bisa sendiri,”

“Setidaknya saya antar ya? Nanti saya tunggu di luar,”

“Saya bisa pergi sendirian,”

“Dulu yang membantu kamu memenangkan gugatan siapa namanya? Pengacara yang mana? Kasih saya nomornya biar dia mendampingi kamu ke polisi,”

“Duh pak, saya tidak punya biaya untuk bayar dia,”

“Itu urusan saya,”

“Saya nggak bisa ganti uang bapak, yang kemarin saja sudah dibantu...”

“Uang saya banyak, kamu nggak perlu pikirkan hal itu,”

Aku menggigit bibirku dan menatapnya, “Kenapa bapak begitu baik terhadap saya?”

“Jangan salah sangka, bagi saya membantu kamu untuk mengatasi hal ini merupakan kepuasan tersendiri untuk saya. Seandainya kasus saya semudah kamu. Tapi memang ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan dengan uang, seperti... saat kita melawan orang yang lebih berkuasa, hehe,”

Jadi, dia menggunakan kasusku sebagai bentuk pelarian. Ia ingin menang melawan mantan istrinya, tapi tidak bisa. Dengan memenangkan gugatan atasku, ada kepuasan sendiri di hatinya untuk melawan pengkhianat.

Bukannya aku tak mengerti tindakannya.

Aku hanya merasa tidak enak karena tidak bisa membalas apa pun.

“Bagaimana ya Pak, saya turut berduka,”

“Tak apa, nggak usah ikutan kesal. Yang namanya bisnis harus tetap berjalan. Walaupun hubungan pernikahan rusak. Namanya profesionalisme.”

Jadi karena dia terus menerus memaksa, aku bersedia didampingi pengacara saat ke kantor polisi.

**

Esok Harinya,

Kejadian kemarin ternyata sangat mempengaruhi kondisi mentalku.

Banyak spekulasi yang terjadi. Tapi aku tidak ingin berbicara secara gamblang ke orang lain mengenai masalah pribadiku.

Aku baru pulang pukul 1 dini hari. Setelah itu aku sulit tidur, terus menerus dihantui perasaan was-was. Aku bolak-balik memeriksa kunci pintu, memeriksa semua ventilasi.

Rasanya aku seperti diamati pengintai.

Aku takut akan ada melemparkan larutan asam lagi padaku. Aku bahkan menguji semua air di kosanku dengan sendok untuk melihat apakah ada reaksi korosif.

Beberapa temanku mengerubungiku, menanyakan mengenai kejadian kemarin. Kujawab seperlunya saja. Di depan mereka memang menunjukkan dukungan kepadaku. Tapi aku kan tidak tahu bagaimana sikap mereka di belakang sana.

Setahuku, aku juga memiliki banyak haters.

Karena aku pernah tak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat iseng naik ke kantor menggunakan tangga darurat. Mereka sedang membicarakanku. Hal itu bahkan terjadi saat aku masih menikah dengan Tommy.

Aku dibilang simpanan Pak Dimas lah, aku dibilang ada main sama pejabat lah. Karena prospek yang kuajukan memang selalu bagus dan kebanyakan disetujui oleh manajemen. Mereka tidak tahu kalau aku sudah bekerja menjadi Teller Bank di usiaku yang ke 18 tahun. Aku bekerja sembari kuliah malam.  Dan saat itu aku belum mengenal Tommy.

Saat berada di posisi terbawah hierarki kerja itu, aku bertemu dengan banyak nasabah yang menyetorkan uang ke konterku. Dari mulai jadi nasabah, akhirnya jadi teman, aku berusaha ramah terhadap siapa pun karena kupikir nasib manusia berada di tangan Tuhan. Kebanyakan kurir yang mengantarkan cek, atau messenger yang ke bank disuruh-suruh Bossnya, atau pedagang pasar yang panas-panas rela nyetor uang tunai ke Bank, lambat laun mereka jadi kaya raya.

Aku sering iseng mengucapkan selamat ulang tahun melalui pesan singkat memakai nomor pribadiku sendiri. Mereka senang karena aku ingat tanggal lahir mereka. Karena aku sendiri juga senang kalau yang mengucapkan ulang tahun padaku adalah manusia, bukan sistem.  Aku tidak menawarkan produk. Aku hanya sekedar mencari teman mengobrol. Dari situ jaringanku terjalin.

Tapi yang seperti ini kan teman-temanku tidak tahu.

Bagaimana prosesku merangkak ke atas ini yang mereka tidak tahu.

Dengan seenaknya mereka memfitnahku. Mereka tampaknya senang kalau aku kesusahan.

Waktu mendengar hal itu, aku masih menikah dengan Tommy. Aku menceritakan hal itu kepadanya. Dan dia membesarkan hatiku. Dia bilang : “Tak perlu dibalas, toh aku tahu kamu yang sebenarnya. Teman kantor bukan teman sejati, karena persaingan selalu terjadi setiap hari.”

Seringkali, ucapan Tommy masuk akal di otakku.

Kalau saja ia bukanlah manusia yang manipulatif.

“Jadi kemarin itu mantan laki lo dan simpenannya, Cuy? Haduh Haduuuuh kok tega ya! Itu air keras loh!!”

Teman-temanku mengerubungiku.

1
Heni Umami
👍👍👍👍
Bakul Lingerie
kangen Geng Putus/Kiss/
Bakul Lingerie
Ga papa,, ribut aja di kantor.. dlu CEO kamu juga sering bikin heboh kantor . penggemarnya banyak yg dtg bikin rusuh🤣🤣🤣🤣
Bakul Lingerie
aku kesini lagi..
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
Dede Maesaroh
ikut nangis😭
Maya Ratnasari
ayat 250
sukensri hardiati
ngulang baca ah....
Risma Wati
bagus ceritanya..to the point,ga banyak drama.,sukaaaa
Reni Novitasary
so sweet
Nining Chili
😁😁😁
Ena Ariani
kerenn
Febi Chan😍
aq baca lagi di bulan Mei 2025
sesuka itu aq pada karyamu thor
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wkwk bu cin mikir apaan sih 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
buset dah mokondo pedofil pula
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
njirr beda ye perlakuan cowok mateng ama abg tanpa babinu langsung hap
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
sekali" merakyat pak
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
dunia kerja keras say, diatas difitnah dibawah di injek, yang tau kerja keras kita cuma diri sendiri
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
goblok tom, si Rani juga gendeng banget dikibulin mau aja gusti 🤦🏼‍♀️
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lah malah main ancem"an belom tau kebenarannya kek gitu
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wow gini cara mainnya kek, pak artha ye di lepas semua dulu kalau kelilit tinggal di ambil lagi 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!