NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 OLIVIA TAN

Dirinya sendiri?

Ia belum sempat memikirkan itu dengan sungguh-sungguh.

Sejak sistem muncul, yang ia pikirkan adalah Naya, ibu, rumah, rumor, utang, berkas, kesehatan, dan semua hal yang harus segera dibereskan. Ia belum sempat bertanya apakah dirinya siap menjadi pusat dari semua perubahan ini.

Sistem akhirnya berbicara, lebih pelan dari biasanya.

[Status keamanan Tuan Rumah: terkendali.]

[Status mental: belum stabil.]

[Rekomendasi: jangan memikul seluruh perubahan sendirian.]

Arkan menatap layar ponselnya.

Untuk sekali ini, sistem tidak mengejek.

Ia mengangkat wajah dan menatap Naya.

“Abang akan aman,” katanya, lebih seperti janji daripada fakta. “Tapi Abang harus belajar cepat.”

Bu Sari mengusap wajahnya pelan. “Ibu tidak mengerti dunia seperti ini, Kan.”

“Arkan juga belum.”

Naya menatapnya kaget.

Arkan tersenyum kecil, pahit. “Makanya jangan pikir Abang sudah tahu semua. Abang juga baru belajar hari ini.”

Kalimat itu entah kenapa membuat suasana sedikit melunak.

Mungkin karena akhirnya Arkan tidak terdengar seperti orang yang menyimpan rahasia besar sendirian. Ia terdengar seperti anak laki-laki yang masih takut, tetapi mencoba berdiri.

Bu Sari menarik napas panjang. “Kalau begitu, kita pelan-pelan.”

Arkan mengangguk.

“Pelan-pelan,” ulangnya.

Ponselnya kembali bergetar.

Pesan resmi dari bank masuk.

Lalu satu pesan lain muncul dari sistem, berwarna emas.

[Olivia Tan telah menerima aktivasi pendampingan.]

[Estimasi kontak: 3 menit.]

Arkan menatap pesan itu.

Belum sempat ia memprosesnya, ponsel menerima panggilan kedua.

Nomor berbeda.

Di bawahnya, keterangan sistem muncul.

[Olivia Tan.]

[Konsultan hukum dan manajemen aset.]

[Prioritas: sangat tinggi.]

Naya melihat wajah Arkan berubah lagi.

“Sekarang siapa?”

Arkan menatap layar ponselnya, lalu menarik napas.

“Orang yang mungkin bisa bantu kita menjelaskan semuanya dengan lebih aman.”

Bu Sari dan Naya saling menatap.

Arkan menerima panggilan itu.

Suara perempuan lain terdengar dari seberang. Berbeda dengan Nadira yang formal dan hati-hati, suara ini terdengar tenang, tajam, dan sangat terkontrol.

“Selamat sore, Pak Arkan Pradipta. Saya Olivia Tan.”

Arkan menegakkan punggung tanpa sadar.

“Saya Arkan.”

“Saya sudah menerima penunjukan sebagai pendamping legal dan administrasi sementara untuk Bapak. Sebelum kita bicara panjang, izinkan saya menyampaikan satu hal terlebih dahulu.”

Arkan diam.

Olivia melanjutkan dengan nada yang sangat tenang.

“Mulai malam ini, Bapak sebaiknya tidak menandatangani apa pun, tidak meminjamkan uang kepada siapa pun, tidak membeli aset atas nama pribadi tanpa struktur, dan tidak memberi penjelasan finansial kepada keluarga besar, tetangga, atau pihak sekolah.”

Arkan melirik Bu Sari dan Naya.

Sistem berbicara di kepala Arkan.

[Subjek Olivia Tan: kompeten.]

[Rekomendasi: dengarkan.]

Olivia melanjutkan.

“Karena uang besar tidak hanya mengubah hidup seseorang, Pak Arkan.”

Jeda singkat.

“Uang besar juga memanggil orang-orang yang ingin mengambil bagian darinya.”

Arkan menggenggam ponselnya lebih erat.

Di luar rumah, suara gang masih ramai seperti biasa.

Namun bagi Arkan, dunia terasa mulai bergeser.

“Lalu apa yang harus saya lakukan?” tanyanya.

Olivia menjawab tanpa ragu.

“Pertama, kita lindungi keluarga Bapak. Kedua, kita buat cerita legal yang masuk akal. Ketiga, besok pagi saya akan menemui Bapak sebelum pihak bank mendekat terlalu jauh.”

Arkan menatap rumah kecilnya.

Ibunya.

Naya.

Pintu yang baru saja ia kunci.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa uang yang baru datang itu tidak hanya membawa kesempatan.

Tapi juga perang yang sangat sunyi.

“Baik,” ucap Arkan pelan. “Besok pagi.”

“Baik, Pak Arkan. Dan satu lagi.”

“Apa?”

Suara Olivia tetap tenang, tetapi kata-katanya membuat Arkan terdiam.

“Mulai sekarang, jangan lagi menganggap diri Bapak orang biasa. Orang biasa tidak akan dikejar bank, keluarga, tetangga, dan aset dalam hari yang sama.”

Panggilan itu masih berlangsung.

Namun di kepala Arkan, sistem menambahkan dengan nada datar.

[Benar.]

[Dan orang biasa juga tidak seharusnya duduk di kursi yang berpotensi patah.]

Arkan menutup mata.

Sistem benar-benar tidak mengenal waktu.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!