PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Tak Pernah Ada
Kevin cabut dari restoran dengan muka yang bener-bener kusut. Sebelum beralih dari meja, cowok itu masih sempat ngasih tatapan tajam ke Primus tipikal tatapan orang kalah yang baru aja kehilangan muka di depan umum.
Tapi Primus sih santai aja, nggak terlalu ambil pusing. Orang macam Kevin tuh bukan ancaman berarti buat dia, setidaknya untuk sekarang. Yang jauh lebih menarik perhatiannya justru cewek yang masih duduk kaku di hadapannya.
Vanessa.
Sejak Kevin pergi, Vanessa mendadak jadi pendiam banget. Kedua tangannya saling meremas di atas meja, kepalanya agak menunduk. Kelihatan banget kalau dia lagi berkutat sama pikirannya sendiri, atau mungkin... lagi ngumpulin sisa-sisa keberaniannya.
"Primus," akhirnya Vanessa buka suara, memecah kesunyian di antara mereka.
"Hm?"
"Kamu... marah?" Vanessa pelan-pelan dongak, natap mata Primus dengan tatapan bersalah.
Primus nggak langsung jawab. Dia cuma natap balik cewek itu beberapa saat, lalu senyum tipis. "Menurutmu?"
Vanessa langsung mati kutu. Dia nggak tahu harus jawab apa, soalnya pembawaan Primus tuh kelewat tenang dan susah banget ditebak. Kalau posisi mereka dibalik, Vanessa yakin dia udah bakal ngamuk besar. Tapi cowok di depannya ini malah kelihatan lelah, dan entah kenapa, itu justru bikin rasa bersalah di dada Vanessa makin menyiksa.
"Aku..." Vanessa ngegigit bibir bawahnya. "Aku minta maaf."
Primus nyandar santai di kursinya. "Minta maaf soal Kevin?"
Vanessa mengangguk pelan. "Aku beneran nggak tahu kalau dia bakal nekat datang ke sini."
"Kamu yakin?"
Pertanyaan pendek dari Primus itu sukses bikin Vanessa membeku. Padahal Primus nggak pakai nada tinggi, nggak nuduh, apalagi nekan. Tapi entah kenapa, justru ketenangan itu yang bikin Vanessa ngerasa mustahil buat bohong lagi.
Setelah sempat terdiam beberapa detik, Vanessa akhirnya mendesah pasrah. "Aku... aku tahu dia mungkin bakal datang."
Primus nggak kelihatan kaget sama sekali. Ekspresinya flat, seolah semua ini emang udah masuk dalam kalkulasinya. "Perintah dari ayahmu?"
Vanessa langsung mendongak, matanya melebar karena kaget. "Kok... kamu bisa tahu?"
Primus terkekeh pelan, tipe kekehan hambar. "Karena dari dulu kamu emang nggak pernah pinter bohong, Vanessa."
Sindiran halus itu bikin Vanessa balik menunduk lagi. Kali ini, sudut matanya mulai kelihatan memerah, nahan tangis. "Aku nggak punya pilihan, Primus."
Suasana di sekitar meja mereka kembali sunyi. Di luar jendela besar restoran, lampu-lampu Kota Aurelia mulai menyala satu per satu, bikin pemandangan malam kelihatan cantik banget. Tapi buat Vanessa, malam ini rasanya kelewat pekat dan menyesakkan.
"Keluargaku lagi ada masalah finansial yang serius," cerita Vanessa perlahan, suaranya agak bergetar. "Masalah yang cukup gede."
Primus tetap diam, milih buat jadi pendengar yang baik tanpa berniat motong obrolan.
"Dua tahun belakangan, Laurent Holdings kehilangan banyak proyek kakap. Dan sekarang..." Vanessa menarik napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya. "Kami butuh banget suntikan dana dan sokongan dari keluarga Hartwell."
Primus mulai paham ke mana arah semua drama ini. "Jadi, kamu dijodohkan sama Kevin?"
Vanessa senyum pahit, ada kilat perih di matanya. "Bukan dijodohkan. Lebih tepatnya, aku ditukar."
Kalimat itu bikin alis Primus agak mengernyit.
Vanessa tertawa kecil, tapi kedengaran miris banget di telinga. "Ayah dari dulu selalu bilang kalau nama besar keluarga tuh jauh lebih penting daripada sekadar perasaan individu. Dan kali ini, giliran aku yang harus jadi tumbalnya."
Untuk pertama kalinya sepanjang malam itu, Primus melihat sisi lain dari seorang Vanessa Laurent yang nggak pernah dia tahu sebelumnya. Bukan sosok cewek bangsawan yang elegan, bukan juga tunangan sempurna yang selalu pasang senyum manis. Di depannya sekarang hanyalah seorang manusia biasa yang lagi kejebak dan hidupnya disetir habis-habisan sama ambisi keluarga.
Sama persis kayak dirinya.
"Jadi," kata Primus pelan, nyaris berbisik. "Udah sejak kapan?"
Vanessa sempat terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menjawab lirih, "Tiga bulan."
Tiga bulan.
"Artinya, waktu kita masih sering jalan bareng, waktu kamu masih rajin nanya kabarku... kamu udah mulai 'dijual' sama ayahmu sendiri?" batin Primus. Ada rasa kecewa yang mendadak nyengat hatinya. Tapi bukan karena Vanessa milih cowok lain, melainkan karena dia ngerasa nggak pernah dianggap cukup penting sampai-sampai kebenaran sekrusial ini harus disembunyiin darinya.
"Kamu sebetulnya bisa bilang langsung ke aku, Vanessa," ucap Primus, suaranya terdengar flat tapi dalem.
Vanessa merem, air matanya akhirnya jatuh juga. "Aku tahu. Tapi aku nggak berani."
"Kenapa?"
Karena aku takut. Kalimat itu sebenernya udah di ujung lidah Vanessa, tapi dia tahan kuat-kuat. Dia takut kehilangan status sosialnya, takut ngecewain ekspektasi ayahnya, dan yang paling utama... dia takut melihat raut kecewa di wajah Primus. Tapi sialnya, ketakutan-ketakutan itu justru bikin situasi malam ini berakhir jauh lebih berantakan.
"Aku emang pengecut," kata Vanessa lirih.
Primus nggak membantah, tapi dia juga nggak ngeiyain. Jauh di lubuk hatinya, dia paham betul kalau hidup di lingkaran keluarga konglomerat tuh nggak pernah sesederhana hitam di atas putih. Kadang orang terpaksa ngambil keputusan yang paling buruk, cuma karena mereka ngerasa sudut pandang mereka udah ditutup sama keadaan.
Sayangnya, di dunia nyata, setiap pilihan bodoh tetep punya konsekuensi yang harus dibayar tunai.
Nggak lama setelah itu, makan malam hambar mereka akhirnya selesai. Primus berdiri duluan dari kursinya, yang kemudian disusul oleh Vanessa. Untuk beberapa saat, mereka berdua cuma berdiri kaku saling tatap.
Sampai akhirnya, Vanessa memberanikan diri buat nanya satu hal yang mengganjal di dadanya. "Setelah malam ini... kita masih bisa temenan, kan?"
Pertanyaan yang kedengarannya simpel, tapi jawabannya berat banget. Primus menatap lekat-lekat wajah cewek yang dulunya sempat masuk dalam rencana masa depannya—setidaknya menurut draf kesepakatan orang tua mereka.
Cowok itu lalu mengulas senyum tipis, senyuman kasual yang terasa berjarak. "Untuk sekarang, aku nggak tahu, Vanessa."
Itu jawaban paling jujur yang bisa Primus kasih. Tanpa embel-embel kebohongan, tanpa ada nada emosi. Tapi justru jawaban abu-abu itulah yang bikin dada Vanessa rasanya kayak dihantam batu gede. Dia sadar, ada sesuatu yang udah telanjur retak malam ini, dan nggak semua hal di dunia ini bisa dilem kembali kayak semula.
Primus berbalik, lalu melangkah pergi ninggalin area restoran dengan santai. Sementara Vanessa cuma bisa berdiri mematung di tempatnya, natap punggung cowok itu yang perlahan mulai menjauh dan hilang di balik pintu.
Entah kenapa, untuk pertama kali dalam hidupnya, Vanessa ngerasa baru aja kehilangan sesuatu yang berharga banget. Sesuatu yang kemungkinan besar nggak akan pernah bisa dia dapetin lagi seumur hidup.
Sementara itu di luar restoran, sebuah mobil SUV hitam dengan kaca super gelap udah terparkir manis di pinggir jalan yang agak temaram. Di dalam mobil, seorang pria paruh baya tampak menyunggingkan senyum licik begitu melihat siluet Primus keluar sendirian dari lobi gedung.
"Jadi, dramanya akhirnya dimulai," gumam pria itu pelan.
Bersambung...