"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Turbulensi dan Rahasia
"Kamu pikir menyatukan meja kerja akan membuatku menyerah dan mengemis privasi padamu?" Keysa membalas tatapan tajam Arga tanpa berkedip sedikit pun. Ia menarik kursi barunya yang kini berdampingan langsung dengan kursi suaminya, lalu duduk dengan gerakan luwes. "Silakan. Nikmati saja pemandangan caraku bekerja, Arga. Asal kamu tidak berani mengganggu jadwal padatku."
Arga tersenyum miring. Ia menyukai tantangan ini. "Kita lihat saja siapa yang akan bosan duluan, Keysa."
Waktu bergulir sangat cepat. Empat minggu penuh berlalu semenjak insiden sabotase ruang arsip itu terjadi. Proses pemulihan Arga berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan medis. Luka luar di kepalanya sudah mengering sempurna. Perban tebal berbau obat sudah dilepas sepenuhnya, menyisakan bekas luka tipis yang tertutup tatanan rambut rapinya yang selalu klimis. Selama satu bulan penuh itu, mereka bekerja berdampingan tanpa sekat, berdebat setiap hari soal kebijakan kantor, namun anehnya kerja sama mereka semakin solid tidak terkalahkan.
Di ruang kerja CEO, Dokter Haris mengemasi alat periksanya ke dalam tas medis kulit. "Kondisi fisik Bapak Arga sudah kembali prima seratus persen. Tekanan di dalam tengkorak juga sudah stabil. Jika Bapak memang harus menghadiri rapat bisnis ke Surabaya siang ini, penerbangan jarak pendek menggunakan jet pribadi sangat aman dilakukan. Asal jangan terlalu banyak beban pikiran berat."
"Dengar itu, Nyonya Arga?" Arga menoleh ke arah Keysa yang sedang menyusun dokumen di meja sebelahnya. "Aku sudah punya izin medis resmi. Siapkan berkas perjanjian Grup Mutiara Abadi sekarang juga. Kita berangkat ke bandara."
"Kamu yakin tidak mau aku saja yang mewakilimu terbang ke Surabaya?" Keysa mencoba membujuk untuk kesekian kalinya. Jari tangannya tanpa sadar meremas ujung map plastik berwarna biru. "Ini hanya proses penandatanganan akhir. Tim legal kita bisa mengurus sisanya di lapangan. Kamu baru saja pulih total. Duduk di kursi kantor jauh lebih aman daripada mengudara."
"Aku CEO perusahaan raksasa ini. Tanda tanganku harus dilakukan langsung di depan pemilik Grup Mutiara Abadi untuk menunjukkan itikad baik," tolak Arga tegas. Laki-laki itu memakai jas hitamnya dengan gerakan cepat dan rapi. "Atau kamu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dariku, Keysa? Kenapa kamu terlihat sangat enggan pergi ke luar kota hari ini? Bukankah kamu yang paling gencar mengurus proyek ini?"
"Tentu saja tidak ada rahasia," balas Keysa cepat, langsung memasang topeng wajah datarnya dengan rapat. "Aku hanya mengutamakan efisiensi. Membawa CEO yang baru sembuh hanya membuang anggaran operasional."
"Alasan tidak masuk akal. Bawa tasmu. Kita pergi," putus Arga tidak mau dibantah.
Satu jam kemudian, mobil sedan mewah mereka memasuki area landasan pacu pribadi di Bandara Halim. Jet korporat berlambang Alvandra Group sudah siap menunggu dengan mesin menderu pelan menyapu aspal.
Keysa melangkah naik ke anak tangga pesawat dengan punggung tegak lurus. Ia memilih kursi kulit tunggal di dekat jendela, memasang sabuk pengaman erat-erat melingkari pinggangnya, dan langsung membuka layar tabletnya. Arga duduk di kursi seberang meja lipat, memperhatikan tingkah istrinya dengan saksama.
Pramugari pribadi menyajikan dua gelas air mineral sebelum pesawat mulai bergerak maju perlahan.
"Kita akan menempuh waktu terbang sekitar satu jam sepuluh menit," lapor Keysa datar, matanya terpaku kaku pada layar tablet. Ia menolak melihat ke luar jendela kaca sama sekali saat roda pesawat mulai terangkat meninggalkan landasan pacu.
Pesawat mengudara menembus awan tebal di langit ibu kota. Lima belas menit pertama berjalan sangat lancar. Arga sibuk membaca draf akuisisi, sementara Keysa terus mengetik sesuatu di tabletnya dengan gerakan jari yang terlihat terlalu kaku dan dipaksakan.
Tiba-tiba, lampu peringatan sabuk pengaman menyala merah terang di langit-langit kabin. Suara kapten pilot terdengar dari pelantang suara.
"Tolong kencangkan sabuk pengaman kalian. Kita akan melewati area cuaca buruk di atas Laut Jawa. Akan ada sedikit guncangan hebat di depan."
Baru saja pengumuman singkat itu selesai, badan pesawat jet langsung anjlok turun secara mendadak.
Guncangan pertama terasa sangat keras. Gelas air mineral di atas meja lipat bergeser kasar hingga airnya tumpah membasahi pinggiran meja kayu polesan.
Tablet di tangan Keysa terlepas jatuh ke lantai berkarpet. Napas perempuan itu tercekat hebat di tenggorokan. Wajah datarnya yang selalu sedingin es tiba-tiba hancur berantakan tanpa sisa. Warna kulitnya memucat pias seketika. Kedua tangannya mencengkeram erat sandaran lengan kursi hingga buku-buku jarinya memutih kaku.
Pesawat kembali berguncang jauh lebih brutal, terombang-ambing menembus awan badai hitam yang pekat. Suara gemuruh angin menghantam dinding logam terdengar sangat mengerikan.
"Keysa?" Arga menatap istrinya dengan raut kaget. Laki-laki itu langsung membuang dokumennya ke kursi kosong di sebelahnya.
Keysa tidak menjawab panggilan suaminya. Mata perempuan itu membelalak ngeri menatap kosong ke depan ruang kabin. Dadanya naik turun dengan ritme sangat cepat. Ia bernapas putus-putus, seolah pasokan oksigen di dalam kabin mewah itu tiba-tiba tersedot habis. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Seluruh tubuh Keysa gemetar tak terkendali.
Guncangan ketiga menghantam badan jet hingga miring tajam ke arah kiri.
Keysa memekik tertahan. Pertahanan mentalnya runtuh total. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang merapat. Tangannya mencengkeram kuat rambutnya sendiri, berusaha menutup telinga dari suara deru mesin pesawat yang terdengar seperti raungan monster buas di telinganya.
Melihat kondisi istrinya yang nyaris pingsan karena serangan panik parah, insting dasar Arga langsung mengambil alih. Laki-laki itu menekan tombol pelepas sabuk pengamannya sendiri tanpa ragu sedikitpun.
Arga melompat menyeberangi lorong sempit kabin pesawat, mengabaikan larangan keras bergerak saat kondisi turbulensi. Ia menjatuhkan diri berlutut tepat di depan kursi Keysa.
"Keysa! Lihat aku!" Arga memegang kedua bahu istrinya yang bergetar hebat.
Keysa menggeleng keras, napasnya semakin memburu liar memecah kesunyian. "Tidak... tidak mau... kita akan jatuh... biarkan aku turun dari sini..." igau Keysa tidak jelas, logikanya sudah mati dibekap fobia terbang parah.
Pesawat kembali anjlok ke bawah.
Arga langsung menarik tubuh Keysa dari posisinya yang meringkuk. Laki-laki itu memeluk erat tubuh ramping istrinya, menarik dada Keysa agar bersandar penuh pada dada bidangnya. Tangan kanan Arga menekan kuat kepala Keysa ke ceruk lehernya, sementara tangan kirinya menutupi kedua mata Keysa rapat-rapat, menghalangi pandangan perempuan itu dari kilatan petir di luar jendela kaca.
"Tutup matamu, Keysa. Aku ada di sini. Kita sangat aman," bisik Arga tepat di telinga istrinya. Suaranya mengudara sangat berat, dalam, dan penuh otoritas yang membius.
Arga menahan keseimbangan tubuh mereka berdua setiap kali pesawat berguncang kasar. Ia membiarkan kemejanya diremas kuat-kuat oleh jari-jari Keysa yang ketakutan. Laki-laki itu terus membisikkan kalimat penenang, mengelus punggung Keysa dengan gerakan konstan untuk memecah serangan panik yang menyiksa mental istrinya.
Sepuluh menit yang terasa bagai disiksa di neraka akhirnya berlalu. Guncangan perlahan mereda. Mesin pesawat kembali menderu halus. Cahaya terang matahari kembali menembus masuk lewat jendela kaca kabin, menandakan mereka sudah keluar dari area pusat badai.
Napas Keysa perlahan mulai teratur kembali, meski tubuhnya masih bersandar lemas mencari perlindungan di pelukan suaminya. Perempuan tangguh itu baru menyadari betapa kacau dirinya barusan. Ia sangat benci terlihat tidak berdaya. Keysa mendorong pelan dada Arga, mencoba melepaskan diri dan kembali membangun tembok es andalannya.
Namun Arga menahan pinggang Keysa kuat-kuat, menolak mundur satu inci pun. Laki-laki itu masih berlutut di depannya, menatap wajah pucat Keysa dengan sorot mata yang menusuk.
Saat turbulensi benar-benar mereda, Arga menuntut dengan suara berat. "Kita pasti sering tugas luar. Kenapa kau tidak bilang kau punya fobia ini?"
Keysa membalas tatapan suaminya. Topeng datarnya belum terpasang sempurna. Ia menjawab dengan pandangan kosong. "Karena kau yang dulu sangat membenci orang lemah."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..