NovelToon NovelToon
Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.

Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.

Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.

"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.

Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebelum Badai datang

Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.

Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.

Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar.

Dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.

"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.

Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. Capek banget tahu, kemarin harus nahan kantuk pas ujian akhir. Gue butuh menghirup udara Eropa biar stresnya ilang."

Ghea baru saja mau menyesap minumannya saat matanya menangkap sosok yang sangat dia benci baru saja masuk ke area VIP.

Arkan.

Cowok itu berjalan dengan gaya santai yang angkuh. Kancing kemeja hitam mahalnya dibuka dua di bagian atas, memperlihatkan kalung perak berdesain simpel tapi seharga satu motor matic baru. Di belakangnya, beberapa cowok populer mengekor seperti anak buah yang siap sedia.

"Yaelah, kenapa ada tiang listrik berjalan sih di sini? Ngerusak pemandangan aja," gumam Ghea sinis, cukup keras untuk didengar oleh teman-temannya.

Entah bagaimana, Arkan seperti memiliki radar khusus untuk suara Ghea. Langkah kakinya berbelok, langsung menuju ke arah sofa Ghea. Dia berhenti tepat di depan Ghea, melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap tas-tas belanjaan di samping Ghea dengan senyum meremehkan.

"Gaya lo selangit, tapi seleranya masih kuno ya," ejek Arkan tanpa basa-basi. "Tas kayak gitu di Paris udah jadi diskonan, Ghe. Gak level buat dipamerin di sini."

Ghea langsung berdiri dari sofanya, melotot tajam. "Heh, Arkan! Mulut lo tuh ya, minta disetrika banget! Ini edisi terbatas, cuma ada sepuluh di Solaria. Tapi ya maklum sih, mata lo kan emang gak bisa bedain mana barang kelas atas sama barang pasar loak."

"Barang kelas atas?" Arkan terkekeh sinis. Dia mengeluarkan kunci mobil sport hitamnya dari saku celana dan memainkannya di jari telunjuk. "Gue baru aja dapet kunci ini dari bokap gue sore ini sebagai hadiah kelulusan. Kalau lo cuma bisa beli tas plastik mahal itu, mending minggir deh."

"Lo nantangin gue?!" Ghea mengepalkan tangannya. Emosinya langsung tersulut.

Pertengkaran mereka langsung menjadi pusat perhatian seisi ruangan VIP. Orang-orang di sekitar mereka sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Sejak kelas sepuluh SMA, Ghea dan Arkan adalah musuh bebuyutan yang tidak pernah bisa berada di satu ruangan tanpa membuat keributan. Padahal, ayah mereka, Baskara dan Surya, adalah rekan bisnis sekaligus sahabat karib yang sering makan malam bersama.

"Gue gak nantangin. Gue cuma ngomongin fakta," sahut Arkan lempeng, lalu berbalik untuk pergi menuju mejanya sendiri.

Namun, Ghea yang sudah kepalang emosi tidak mau kalah begitu saja. Ghea mengambil gelas jus jeruknya, berniat menyiramkannya ke punggung kemeja hitam Arkan untuk memberi pelajaran pada cowok menyebalkan itu.

Tapi sialnya, lantai kelab yang licin membuat sepatu hak tinggi Ghea goyah.

"Aah!" jerit Ghea.

Tubuhnya limbung ke depan. Jus jeruk di tangannya meluncur bebas, tapi bukan ke kemeja Arkan, melainkan langsung menyiram jaket kulit putih milik Arkan yang sedang disampirkan di sofa, serta merusak dekorasi kue kelulusan raksasa di dekat mereka hingga hancur berantakan.

Suara benturan keras dan jeritan Ghea membuat seisi ruangan mendadak hening.

Arkan berbalik dan melebarkan matanya saat melihat kekacauan yang terjadi. "Ghea! Lo gila ya?! Itu jaket limited edition gue!"

"Gue... gue gak sengaja!" bela Ghea, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal karena sekarang semua orang menatap ke arahnya.

"Gak sengaja kepala lo! Lo emang pembawa sial!" bentak Arkan, emosinya mulai ikut tersulut.

Malam itu, pesta kelulusan yang harusnya menyenangkan berubah menjadi ajang baku hantam adu mulut paling berisik yang pernah ada di The Velvet Lounge. Mereka berdua saling teriak, saling melempar barang-barang kecil di meja, sampai akhirnya pihak keamanan kelab terpaksa memisahkan mereka.

Yang tidak mereka ketahui adalah, malam itu juga, manajer kelab langsung menelepon orang tua mereka masing-masing untuk melaporkan kerusakan fasilitas kelab yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah.

Di tempat lain, di sebuah ruang kerja mewah, Baskara (ayah Ghea) dan Surya (ayah Arkan) sedang duduk bersama sambil mengurut pelipis mereka yang pening setelah menerima laporan tersebut.

"Anak-anak kita ini... bener-bener gak ada kapoknya," desah Surya frustrasi.

Baskara menggebrak meja dengan pelan tapi tegas. "Cukup, Sur. Kali ini kita gak boleh tinggal diam. Mereka harus dikasih pelajaran yang gak akan pernah mereka lupain seumur hidup."

Surya menatap sahabatnya itu, lalu perlahan sebuah senyuman penuh rencana muncul di wajahnya. "Gue punya ide bagus. Sangat bagus."

Dan dari sinilah, rencana "pembuangan" dua anak manja itu dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!