Dong Fang, seorang anak muda yang penuh penyesalan, memulai perjalanannya dengan tujuan yang buruk: membalaskan dendam. Didalam perjalanannya membalaskan dendam, dirinya belajar mengenai banyak hal, termasuk kebijaksanaan. Tanpa dia sadari, perjalanannya untuk bertambah kuat, menuntunnya kejalan Keabadian.
Namun, di tengah perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, Dong Fang menyadari bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang mengalahkan musuh-musuhnya di medan perang, melainkan juga tentang mengalahkan diri sendiri dan menemukan kedamaian dalam hati.
Dalam novel ini, Dong Fang belajar tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kesabaran, dan tentang pentingnya menghargai semua makhluk hidup, bahkan musuh-musuhnya sekalipun.
Melalui perjalanan Dong Fang, novel ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang panjang dan penuh warna, dengan tantangan dan kegagalan yang tak terhindarkan. Namun, dengan tekad yang kuat, kesabaran, dan kerja keras, kita dapat menghadapi semua rintangan dan mencapai tujuan kita.
Perjalanan Pendekar Pedang Abadi juga mengajarkan kita tentang keindahan dan kekuatan alam semesta, dan betapa kita harus merenung dan belajar dari alam ini. Dong Fang menyadari bahwa setiap benda hidup di dunia ini memiliki perannya masing-masing, dan keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam.
Dalam keseluruhan novel, kita melihat bahwa keberanian, tekad, kebijaksanaan, dan kesabaran adalah kunci untuk mencapai keabadian sejati. Perjalanan Pendekar Pedang Abadi mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang tak terbatas, dan meskipun kita mungkin tak pernah mencapai tujuan kita, prosesnya lah yang memberikan arti sejati dalam hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taufik Ichsan Aditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 5 - Kitab Pedang Langit
Malam itu, Dong Fang terbangun dari tidurnya dan mendapati perutnya mengalami gejolak yang hebat, wajahnya ikut memerah dengan panas tubuh yang meningkat drastis, dia yakin ini adalah efek dari racun yang dia konsumsi.
Dong Fang tak menyangka akan merasakan efek seburuk ini, sebab di hari-hari sebelumnya, dirinya hanya merasakan mual kecil dan sakit perut yang biasa saja.
Waktu di malam itu terasa berjalan lambat, Dong Fang hanya bisa menahan rasa sakit di perutnya dan juga rasa pusing dan mual di tubuhnya. Keringat dingin mengucur deras di tubuhnya, hingga hampir dua jam berlalu, kini nafas Dong Fang memburu.
Gas berbau tak sedap keluar dari lubang belakang Dong Fang. Gas-gas itu terus keluar dalam waktu hampir satu menit, bersamaan dengan itu, rasa sakit diperutnya berkurang begitu juga rasa mual dan pusingnya.
Dong Fang menghela nafas lega, tak peduli bau tak sedap disekitarnya.
Karena kejadian itu, Dong Fang kini kesulitan tertidur dan bingung harus melakukan apa. Hingga dirinya mengingat ada ruang belajar yang menyimpan banyak buku, 'Membaca buku bukan ide yang buruk.' pikirnya.
Dong Fang mengambil lentera yang terletak di meja yang berada disebelah kanan tempat tidurnya. Kemudian berjalan kearah ruang belajar.
Saat memasuki ruangan itu, Dong Fang terpana dengan buku-buku yang berada ditempat itu. Jika dijumlahkan, mungkin ada ribuan buku yang ada diruang belajar itu. Melihat buku-buku itu, membuat hatinya merasa senang karena dirinya bisa menjalankan hobinya, yaitu membaca buku. Meskipun tak terlihat ekspresi apapun di wajahnya.
"Aku rasa butuh waktu beberapa tahun untukku membaca semua koleksi buku disini." gumamnya sambil mendekatkan lentera pada buku-buku yang tersimpan di rak buku, dan membaca satu per satu judul buku yang ada disana.
'Kisah Cinta yang Hilang... Aku tidak menyangka menemukan buku ini didalam rumah seorang pendekar aliran hitam' batinnya sambil melihat-lihat judul buku yang lain.
'Sejarah Ilmu Racun Terbaik Dunia, Kalajengking Raksasa - Hewan dengan Racun Terkuat, Tuntunan Shalat, She Ling - Legenda Ilmu Racun.' Dong Fang membaca tiap-tiap judul buku yang ada dirak buku itu, hingga dirinya melihat buku yang membuatnya menggeleng kepala.
'Apakah Tuhan benar-benar Ada?' Begitulah judul buku yang ditemukan Dong Fang, dirinya benar-benar tak habis pikir jika seorang pendekar aliran hitam akan memiliki buku yang bersangkutan dengan tuhan seperti yang dilihatnya.
Dong Fang kemudian tertarik dengan salah satu buku yang terlihat agak usang, dengan judul 'Jurus Langkah Seribu'.
Dirinya membawa buku itu ke bangku belajar yang ada di ruangan itu. Dia meletakkan lentera di mejanya dan mulai membaca buku itu dengan bantuan pencahayaan lentera.
Dirinya hanya bisa menghela nafas kecewa setelah beberapa menit membaca buku itu, ternyata isi buku itu adalah teknik kabur dari seseorang, jika memiliki hutang, dan juga teknik menghindari orang-orang yang ingin meminjam uang.
Dong Fang menyimpan kembali buku itu, dan mencari buku yang lain, hingga dia menemukan sebuah buku dengan judul, 'Kitab Pedang Langit'. Dirinya kemudian mengambil buku itu dan mulai membacanya.
Dahinya mengerut, isi dari buku itu menggunakan gaya bahasa yang sulit dimengerti. Dengan isi yang sepenuhnya tulisan, berbeda dengan buku-buku teknik lain yang selalu menyediakan gambar gerakan demi gerakan.
Dirinya dengan perlahan membaca kata demi kata dari buku itu, hingga akhirnya mengerti, jika buku ini merupakan buku yang mengajarkan sebuah ilmu pedang yang mengharuskan pembacanya memiliki pemahaman yang cukup mendalam mengenai pedang. Namun dirinya tak mengerti, mengapa dia bisa mengerti isi dari buku itu.
Dong Fang bisa mendemonstrasikan didalam kepalanya setiap gerakan-gerakan yang diajarkan didalam buku ini, didalam buku ini juga tertulis beberapa nasihat yang membuat Dong Fang sedikit takjub.
'Dalam berpedang, sekali hatimu bimbang... Pedangmu akan menjadi tidak utuh... Dan kau akan mati.' begitu lah salah satu nasihat yang Dong Fang baca dari buku ini.
Waktu terus berjalan, hingga akhirnya Dong Fang berhasil mendemonstrasikan dalam kepalanya sebuah jurus dalam buku itu yang bernama 'Pedang Empat Musim'. Dong Fang merasa jika jurus itu adalah jurus yang hebat, dirinya tak sabar untuk mencobanya di hari esok.
Setelah hampir dua jam mencoba memahami sebuah jurus didalam buku itu, dan menguasai salah satu jurus, membuat mata Dong Fang terasa berat. Dia menguap, 'Kurasa malam ini sudah cukup. Aku akan membutuhkan energi yang banyak untuk esok hari.' batinya, kemudian dia pergi kembali kekamarnya untuk tidur.