Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 029: Pohon Milenium, Harga Sebuah Indra
Pintu luar bunker tidak dibuka untuk manusia.
Hari itu, pintu dibuka untuk sebatang pohon.
Sebelum keluar, Hendra menyiapkan semuanya seperti operasi militer kecil. Jaket termal tiga lapis. Pelindung wajah. Sarung tangan dalam dan luar. Sepatu bot kutub. Tali pengaman. Pistol di paha. Pisau di dada. Kapak kecil di punggung.
Untuk Blacky, ia memakai tas dada berinsulasi yang dulu dibeli sebagai perlengkapan aneh dari toko hewan luar negeri. Di dalamnya ada bantalan pemanas kecil bertenaga baterai, selimut wol, dan pelindung transparan yang menutup bagian depan.
Blacky menatap alat itu dengan curiga.
"Jangan protes," kata Hendra. "Kau yang mau ikut."
Blacky menggeram pelan, lalu memasukkan kaki depan ke dalam tas seolah sedang menanggung penghinaan besar.
Hendra tertawa pendek.
Setelah semua kunci bunker masuk mode lapis ganda, ia membuka pintu servis belakang.
Udara dingin langsung menampar ruang antara.
Termometer di dinding kecil menunjukkan -51°C.
Hendra menunggu dua menit di ruang transisi, memastikan tekanan udara stabil. Pintu dalam terkunci di belakangnya. Pintu luar baru terbuka setelah lampu hijau menyala.
Dunia putih menunggu di depan.
Suara kota, mesin, dan manusia hilang dari hutan itu.
Hanya angin, es, dan derit pohon yang terlalu tua untuk tunduk.
Hendra melangkah keluar.
Berkat Unsur Logam, dingin menggigit tubuhnya jauh lebih lambat daripada manusia biasa. Kulitnya tetap merasakan sakit, tetapi rasa itu seperti pisau tumpul yang ditekan dari jauh. Bukan sesuatu yang bisa menghentikannya.
Blacky, di dada Hendra, mengeluarkan satu gonggongan kecil yang langsung dipotong angin.
"Sebentar saja," kata Hendra.
Hutan belakang tidak jauh dari bunker, tetapi di dunia -50°C, dua ratus meter bisa menjadi perjalanan bodoh bagi orang yang tidak siap. Salju beku menutup lutut. Beberapa tempat keras seperti lantai kaca, beberapa tempat jeblos seperti perangkap.
Hendra berjalan mengikuti tali penanda yang sudah ia pasang sebelum hujan. Tiang-tiang kecil itu hampir tertutup es, tetapi ujung reflektifnya masih terlihat saat terkena lampu kepala.
Setiap sepuluh langkah, ia berhenti, memeriksa kamera portabel, lalu memindai termal.
Tidak ada titik panas manusia atau gerakan besar.
Hanya pohon.
Pohon-pohon yang dulu tampak biasa kini berdiri seperti tiang hitam di tengah kuburan putih. Cabangnya beku. Kulitnya retak. Tetapi beberapa batang tua masih menyimpan warna gelap yang dalam, seolah dingin hanya bisa menyentuh bagian luar.
Cincin di jari Hendra mulai hangat.
Ia berhenti.
Blacky juga berhenti bergerak.
Di depan mereka berdiri pohon terbesar di lereng itu. Batangnya perlu tiga orang dewasa untuk memeluk penuh. Akar-akar besarnya menembus tanah miring, sebagian muncul sebagai tonjolan kayu hitam yang membelah lapisan es. Es menggantung di cabang-cabangnya, tetapi di bawah kulit batang, Hendra merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan panas.
Bukan hidup seperti tubuh manusia.
Lebih tua dari itu.
Tenang.
Padat.
Seperti waktu yang disimpan dalam serat.
"Ini dia," gumam Hendra.
Ia melepas sarung tangan luar tangan kanan, menyisakan sarung tangan tipis yang sudah dipotong bagian ujung telunjuknya. Kulit jarinya menyentuh udara beku dan langsung nyeri.
Ia menempelkan cincin ke batang pohon.
Pada detik pertama, tidak terjadi apa-apa.
Pada detik kedua, ukiran tembaga di cincin menyala hijau sangat samar.
Pada detik ketiga, seluruh hutan masuk ke telinganya.
Hendra menegang.
Suara es retak di cabang terdengar seperti tulang patah di samping kepala.
Suara angin lewat celah kulit pohon menjadi desisan panjang.
Detak jantung Blacky di dalam tas dada tiba-tiba jelas, cepat, kecil, hidup.
Lalu rasa sakit datang.
Bukan di tangan.
Di telinga.
Seolah ada dua paku panas ditancapkan masuk dari kiri dan kanan, lalu diputar perlahan sampai menembus tengkorak.
Hendra menggertakkan gigi.
Cincin menghisap.
Batang pohon bergetar. Es di kulitnya jatuh satu per satu. Dari dalam kayu, aliran hijau gelap mengalir ke cincin seperti urat cahaya yang ditarik paksa. Pohon itu tidak menjerit, tetapi telinga Hendra menangkap suara lain: gesekan serat, retakan inti, air beku di dalam batang yang pecah menjadi garis-garis kecil.
Setiap suara masuk terlalu jelas.
Terlalu dekat.
Terlalu banyak.
Ia mendengar salju bergerak di bawah sepatu botnya.
Ia mendengar kabel kecil pemanas di tas Blacky berdenyut.
Ia mendengar pompa bunker jauh di bawah tanah menyala satu kali.
Ia bahkan mendengar tetes air di pipa dalam bunker jatuh ke tangki, ratusan meter di belakang dinding baja dan tanah.
Kekuatan baru tidak datang seperti hadiah.
Ia datang seperti hukuman yang dipaksa menjadi senjata.
Hendra menahan napas.
"Terus," bisiknya pada dirinya sendiri.
Kulit batang di bawah tangannya berubah abu-abu. Cabang-cabang atas bergetar, lalu beberapa patah dan jatuh ke salju dengan bunyi yang membuat kepalanya seperti dihantam palu.
Blacky menggonggong panik.
Suara itu meledak di telinga Hendra.
Ia hampir menarik tangan.
Hampir.
Tetapi bayangan kehidupan lalu muncul di kepalanya. Tangan kosong di salju. Orang-orang yang punya senjata lebih banyak. Makhluk yang kelak bisa mencium panas manusia dari jauh. Musuh yang tidak akan mati hanya karena pintu bunker tertutup.
Jika ia berhenti pada Logam, ia hanya menjadi orang kuat yang bersembunyi.
Ia tidak lahir kembali untuk bersembunyi selamanya.
Hendra menekan cincin lebih kuat ke batang.
Rasa sakit naik sampai matanya basah.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Pohon tua itu akhirnya kehilangan warna terakhirnya. Batangnya masih berdiri, tetapi hidup di dalamnya sudah kosong. Kulitnya pecah dari bawah ke atas, meninggalkan garis panjang seperti bekas luka kering.
Cincin berhenti menyala.
Hendra menarik tangan dan langsung jatuh satu lutut ke salju.
Dunia tidak kembali normal.
Justru sebaliknya.
Ia mendengar semuanya.
Angin di atas lereng.
Es bergeser di pagar belakang.
Getaran kecil dari genset cadangan yang belum menyala tetapi rangkanya merespons mesin lain.
Napas Blacky.
Darahnya sendiri mengalir di telinga.
Jarak seolah kehilangan sebagian rahasianya.
Hendra menutup kedua telinga dengan tangan, tetapi suara tidak hilang. Ia sudah masuk lebih dalam daripada daun telinga.
Blacky menggeliat di tas dada, menekan hidung ke dada Hendra.
Kehangatan kecil itu membuat Hendra kembali fokus.
Ia memaksa diri berdiri. Kakinya stabil. Tubuhnya tidak terluka. Rasa sakit paling tajam mulai turun, berubah menjadi denyut berat di belakang kepala.
Ia melihat pohon mati di depannya.
Satu pohon milenium.
Satu indra terbuka.
Belum cukup.
Cincin di jarinya hanya terasa hangat sebagian, seperti pintu yang baru terbuka selebar telapak tangan. Di dalam kesadarannya, tidak ada panel angka, tetapi Hendra tahu dari kepadatan aliran tadi: Kayu baru mulai.
Pendengaran super adalah hadiah pertama.
Harga pertamanya adalah rasa sakit yang nyaris membuatnya menggigit lidah.
Hendra menoleh ke dalam hutan.
Sekarang ia bisa mendengar pohon-pohon tua lain.
Itu bukan suara bicara ataupun bisikan ajaib.
Hanya aliran kecil di bawah kulit kayu, retakan es di akar, dan umur panjang yang masih tersimpan rapat.
Ada lebih dari satu.
Jauh lebih dari satu.
Blacky mengeluarkan suara rendah, kali ini seperti memperingatkan agar mereka pulang.
Hendra setuju.
Ia belum bodoh sampai ingin menyerap pohon kedua saat telinganya masih berdarah rasa sakit. Ia mengikat tanda merah pada batang mati itu, mengambil sampel kecil kulit kayu yang sudah kosong, lalu mundur mengikuti tali penanda.
Perjalanan pulang terasa sepuluh kali lebih ramai.
Setiap langkahnya berisik.
Setiap gesekan jaket menusuk.
Setiap napas Blacky menjadi pukulan kecil di kepala.
Ketika pintu servis bunker akhirnya menutup di belakang mereka, Hendra bersandar pada dinding ruang transisi dan tertawa tanpa suara.
Di layar kecil, suhu luar tetap -51°C.
Di dadanya, Blacky hidup dan hangat.
Di telinganya, bunker yang dulu hening kini bernyanyi dengan mesin, pipa, listrik, dan detak.
Hendra memejamkan mata.
Ia menemukan jalan naik level berikutnya.
Masalahnya sederhana.
Ia butuh lebih banyak pohon, dan setiap pohon akan menagih rasa sakitnya sendiri.