Yunan dilahirkan dari seorang wanita miskin. Ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Namun, keadaan yang serba kekurangan tak mampu membuatnya bahagia. Diusianya yang sudah menginjak dewasa, Yunan merantau ke kota. Ia bekerja sebagai asisten dari gadis cantik yang bernama Casandra.
Siang malam ia selalu mendampingi wanita itu hingga kesalah pahaman terjadi. Mereka dinikahkan karena dianggap melakukan asusila. Casandra pun terpaksa menerima pernikahan itu. Meski tidak ada cinta ia tak bisa menghindar.
Yunan tinggal di rumah mertuanya karena mereka tak memiliki tempat tinggal. Ia diperlakukan layaknya seorang pelayan. Pun istrinya yang tak mencintainya juga ikut menyudutkan dan menyalahkan kehadirannya. Meski begitu, Yunan tak ambil pusing karena ia sangat mencintai Casandra.
Hingga suatu saat, seseorang datang dan mengatakan bahwa Yunan adalah putra dari keluarga ternama di belahan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah untuk ibu
Hampir setengah perjalanan, tidak ada pembicaraan sepatah katapun. Yunan yang biasanya cerewet dan melayangkan berbagai pertanyaan serta pitutur itu tampak membisu dan fokus dengan setirnya. Tentu, menimbulkan pertanyaan di benak Cassandra.
Terasa aneh saja melihat suaminya menjadi pendiam seperti saat ini. Dalam hati ingin mengawali pembicaraan, namun bingung mau mulai dari mana, hingga akhirnya ia ikut terdiam dan mulai mengecek beberapa pesan masuk. Mungkin itu bisa mengurangi kebosanan.
Mungkin dia lagi mikirin kado untuk kak Lutfi.
''Kita ke mana dulu?'' tanya Keanu singkat dan padat, itu pun dengan nada datar bak batu bata.
''Terserah kamu, katanya mau beli kado untuk kak Lutfi,'' jawab Cassandra pelan.
''Gak punya uang?'' imbuhnya memastikan. ''Mau aku transfer?''
Bukan mengejek, namun ia juga tak mau Yunan membeli kado sembarangan. Pasti akan menjadi bahan olokan dua saudaranya.
''Gak usah, aku masih punya kok.''
Meski tabungannya harus berkurang lumayan banyak, namun itu tak mengeluh. Semua juga demi kebutuhan istri dan juga ibunya. Bukankah semua harta suami adalah milik istri dan harus menyisihkan juga untuk ibunya. Sedangkan uang istri milik istri sendiri, maka dari itu Yunan tak pernah mau menerima bantuan dari Cassandra.
Yunan memarkirkan mobilnya di depan toko jam tangan. Sikapnya masih sama, kaku. Saat turun pun pria itu tak membukakan pintu untuk Cassandra, hingga wanita itu membukanya sendiri.
Mereka masuk dan menghampiri pelayan toko, menanyakan jam tangan yang bagus dan mahal, tentunya.
Jika Cassandra sibuk memilih warna jam tangan yang akan dibeli, Yunan sibuk membalas pesan dari Ilham, salah satu sahabatnya sejak SMA. Sesekali tersenyum kecil melihat curhatan pria tersebut.
''Lebay,'' oloknya yang didengar oleh sang istri.
''Apanya yang lebay?'' tanya Cassandra menyelidik. Matanya menatap ke arah layar ponsel Yunan yang masih menyala.
''Oh enggak, ini teman aku bilang, katanya pengen punya istri seperti kamu,'' jawab Yunan jujur.
Cassandra hanya menyunggingkan senyum. Jelas, ia tak begitu menanggapi. Toh bukan hanya teman dari suaminya yang mengatakan seperti itu. Meskipun sudah menikah, masih banyak yang melamarnya juga. Seolah mereka menganggap pernikahan itu hanya settingan belaka.
''Yang ini saja.'' Cassandra menjatuhkan pilihan pada jam tangan berwarna hitam. Ia menggeser jam itu dan menunjukkannya pada Yunan.
''Oke, langsung dibungkus,'' ucap Yunan santai. Ia mengeluarkan salah satu ATM dan memberikan pada pelayan. Sedikitpun tak mempermasalahkan harganya yang terbilang fantastis untuk ukuran dirinya yang sederhana.
Sekalian mentransfer uang bulanan untuk Cassandra. Memang bukan dengan jumlah yang besar, akan tetapi ia memberikannya sesuai tanggal, sehari pun tak pernah terlambat.
Merasa ada notif, Cassandra membuka ponsel dan memeriksanya. Tak lama menoleh ke arah Yunan yang tampak tersenyum kecil.
''Maaf belum bisa memberi lebih. Bulan ini banyak pengeluaran,'' ucap Yunan merasa bersalah.
''Ini kartu Anda, Tuan,'' ucap pelayan menghentikan Cassandra yang hampir berbicara. Mereka mengambil barang pembeliannya dan langsung keluar dari tempat itu. Yunan kembali melajukan mobilnya menuju toko online yang lokasinya tidak jauh dari tempat tadi. Hanya butuh waktu lima menit mereka sudah tiba di tempat tujuan.
''Tunggu sebentar ya, gak lama kok,'' pinta Yunan yang kemudian turun seorang diri.
Cassandra duduk di mobil sembari melihat kotak jam tangan yang sudah terbungkus rapi.
''Jam ini sangat mahal, tapi Yunan bisa membelinya. Dapat uang dari mana dia?'' Bertanya-tanya pada diri sendiri. Membolak-balikkan kotak jam yang terbilang dengan harga fantastis.
Selama ini ia memang tak pernah begitu peduli dengan apa yang dilakukan suaminya, pun pekerjaannya yang menurutnya tak begitu penting. Namun semakin kesini, ia semakin curiga dengan pria tersebut.
Hampir saja turun, nampak Yunan Yudah keluar dari toko. Pria itu menenteng paper bag di tangannya. Sudah dipastikan itu adalah ponsel yang sengaja dibeli untuk ibunya.
Yunan masuk dan meletakkan barang bawaannya di samping temoat duduk. Kemudian menyalakan mesin tanpa berbicara. Hanya menanyakan tempat yang akan mereka kunjungi selanjutnya.
''Ke rumah ibumu dulu.''
''Ibu kita. Orang tua suami adalah orang tua istri juga, jadi tidak ada kata ibumu ibuku, dia adalah ibu kita,'' sahut Yunan menegaskan.
Cassandra tak membantah, ia memang sering mendengar itu, hanya saja… enggan mengakuinya. Terlebih mereka jarang sekali bertemu. Hanya sekali, itupun tak banyak berbicara karena banyak tamu yang hadir.
Mobil berhenti di depan rumah sederhana. Rumah di mana Yunan dibesarkan tanpa seorang ayah. Hanya ada ibu tercinta yang memberikannya cinta. Namun, ia tak merasa kekurangan kasih sayang. Sudah cukup satu orang tua, dan ia tak ingin tahu siapa sosok ayahnya yang katanya…orang ternama, bahkan melarang bu Layin menceritakannya.
''Mau ikut turun?'' tanya Yunan menggoda. Sudah pasti ia tahu jawabannya.
''Jangan lama-lama,'' pinta Cassandra ketus.
Yunan berjalan lenggang menuju rumahnya. Tanpa ragu, pria itu pun masuk ke dalam menemui ibunya yang hari ini tak pergi ke pasar karena menunggu Yunan yang akan datang membawa ponsel baru.
''Yunan, sejak kapan kamu duduk di situ?'' pekik Bu Layin dari belakang. Ia tak menyadari datangnya pria tersebut.
''Baru saja, Bu. Ini aku bawa handphone untuk Ibu.'' Menunjukkan ponsel yang siap pakai di depan bu Layin.
''Ibu gak mau merepotkan kamu, Yunan. Lagipula ibu bisa beli yang bekas, itu terlalu bagus untuk ibu.'' Bu Layin duduk di samping sang putra. Memberikan ponsel barunya yang lebih canggih, dan mahal tentunya.
Cassandra yang menunggu di mobil hanya bisa menatap ke arah pintu rumah sang mertua, berharap suaminya itu cepat keluar.
''Lama banget sih?''
Disaat bosan menunggu, ada wanita cantik berjalan ke arah mobilnya. Dilihat dari penampilannya yang serba putih sepertinya wanita itu dari tenaga medis.
Apa mungkin dia yang semalam bicara dengan Yunan.
Bergegas melepas seatbelt lalu turun. Sengaja berpapasan dengan wanita yang diyakini ada hubungan spesial dengan suami dan ibunya tersebut.
''Permisi,'' sapa wanita itu ramah dan tersenyum.
Cassandra tak menjawab, ia hanya melihat penampilannya dari atas hingga bawah. Sangat tertutup dan sopan, jauh beda dengannya yang mempertontonkan lekuk tubuh.
''Istrinya mas Yunan ya? Kenalkan nama saya Citra.'' Mengulurkan tangannya ke arah Cassandra yang sangat angkuh dan dingin.
Lagi-lagi tidak ada balasan, terpaksa Citra menarik dan menggenggam tangannya lagi. Namun, tetap memasang wajah ramah.
Tak lama mereka bertemu, Yunan keluar dari rumahnya. Sejenak berhenti melihat sang istri yang tampak berdiri di bawah terik yang mulai menyengat lalu mendekati keduanya. Pun ibunya yang mengikuti dari belakang.
''Bu Bidan sudah datang. Maaf, tadi saya gak balas pesan kamu, lagi nyetir,'' ucap Yunan lirih.
Bu Layin mendekati Cassandra dan mengusap tangannya. Kedua bola matanya mengembun melihat menantinya untuk yang kedua kali.
''Lama amat sih, ngapain saja? Aku sudah gak betah.'' Menepis tangan Bu Layin.
Melihat itu, Yunan tak terima. Ia langsung menatap tajam Cassandra yang sudah keterlaluan.
''Jaga sikap kamu!'' bentaknya membuat Cassandra terkejut.