Menjadi duda di usia muda membuat hati sang CEO menjadi dingin, apalagi trauma masa lalu mengenai rumah tangga membuatnya menutup diri untuk yang namanya Cinta.
Simak kelanjutan kisahnya, tapi disarankan sebelum membaca ini agar terlebih dahulu membaca karya Lepaskan Aku, agar bisa semakin faham jalan ceritanya, karena karya ini adalah lanjutan dari kisah penuh lika liku rumah tangga dari cerita tersebut.
Jadi, tunggu apalagi. Yuk cap cus, baca dan nikmati kisah nano nano yang ada di cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💘 Nayla Ais 💘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menabrak pemilik mata indah
Abi mengendarai mobilnya menuju ke kota besar, Ia menepikan mobilnya di depan rumah Abah yang kebetulan sekali Abah sedang berada di depan rumah.
Tit tit. ! Bunyi klakson mobil.
Abi dengan cepat turun dan mencium tangan Abah dari Luna itu.
" Eh Nak Abi, mau kemana ini pake cium tangan segala. " Abah merasa kurang nyaman tangannya di cium oleh anak orang terpandang di desa mereka.
" Ini Bah, Abi mau ke Jakarta. Mau lanjutkan kerjaan disana. " Jawab Abi dengan tersenyum ramah.
Setelah mengobrol akhirnya Abi berpamitan kembali guna melanjutkan perjalanannya. Sepanjang jalan Ia membayangkan akan bertemu dengan gadis pujaan hatinya, Ia sudah merangkai banyak kata yang akan Ia ucapkan nanti.
" Hai Lun, apa kabar mu. Kamu semakin cantik saja. Ah terlalu menyeramkan rasanya, Luna pasti akan merasa ilfeel padaku. Hm..... Apa ya, kalau nggak begini. Hai Lun, ketemu lagi. Ah Lun, aku ingin mengatakan perasaan ku padamu selama ini. Aku sangat mencintaimu Luna, maukah kamu menjadi bagian dari hidup ku. "
Entah sudah berapa banyak kata kata yang Ia rangkai namun masih saja kurang untuknya.
" Ya Allah, apa sebegini rumitnya mengutarakan cinta. " Gumam Abi frustasi.
Ia terus mengemudi mobilnya yang tidak terasa sudah memasuki wilayah Ibukota setelah menempuh tujuh jam perjalanan tanpa istrahat sama sekali.
" Ah cari makan dulu sebelum ke rumah. " Gumam Abi seraya memarkirkan mobilnya.
Ia melangkah memasuki resto dan memilih tempat yang tenang untuknya, Ia langsung menyantap hidangan yang Ia pesan sesaat setelah pelayan pergi dari hadapannya.
Setelah selesai Ia segera melunasi tagihannya dan meninggalkan tempat itu, baru saja keluar ponselnya berdering dan ternyata sang Ibu yang menghubunginya.
" Assalamu'alaikum Ma. "
" Alhamdulillah Abi sudah tiba di Jakarta Ma, ini baru selesai makan. "
" Iya Ma, Abi akan langsung ke rumah. Sudah ya Ma, nanti Abi nelpon lagi kalau sudah sampai rumah ya. "
Karena menelpon sambil jalan tanpa sadar Ia menabrak seseorang yang juga baru saja menutup mobilnya.
" Aww. " Ringisnya pelan.
Abi menatap seseorang yang Ia tabrak, mata indahnya seolah mehipnotis dirinya, hingga membuatnya tidak segera minta maaf.
" Ish ada apa sih dengannya, nabrak bukannya minta maaf malah bengong, kesurupan baru tau rasa. " Gumamnya seraya meninggalkan Abi yang kesadarannya belum kembali.
Abi yang mulai meraih kesadarannya segera meminta maaf, namun mahluk cantik yang Ia tabrak sudah tidak ada di hadapannya, Ia mengedarkan pandangannya kesana kemari namun tidak menemukan gadis bermata indah menurutnya.
" Ya Allah, kemana perginya dia, mana Aku belum minta maaf lagi. Ah sudahlah, semoga nanti bisa ketemu lagi dan minta maaf. " Gumam Abi seraya berlalu pergi meninggalkan area parkiran melesat menuju ke kediaman lama mereka.
...****************...
Seperti biasa pagi pagi di kediaman Nayla, wanita itu sudah menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah. Di bantu beberapa asisten rumah tangga, Nayla tidak ingin lepas tangan untuk urusan apa yang harus di konsumsi anak dan suaminya.
" Mama..... !. " Panggil Ara yang sudah rapi.
" Sayang, sini duduk, sarapan dulu. " Panggil Nayla.
Ara menghampiri Ibunya dan menarik kursi untuk duduk.
" Papa mana Ma, kok belum nampak. Apa belum turun, tumben biasanya Papa duluan yang hadir di meja makan. " Tanya Ara sambil menyendokkan aneka sayur ke dalam piringnya.
Ara sangat menyukai semua jenis sayur, Ia bahkan rela tidak menyantap nasi kalau di kulkas ada sayuran.
" Papa keluar kota sayang, kemarin ada pekerjaan mendadak. "
Ara langsung cemberut, lagi lagi Papanya tidak pamit padanya.
" Kok Papa nggak pamit dulu sih, nelpon atau setidaknya kirim pesan. " Protes Ara.
Nayla tersenyum, suaminya memang kemarin berangkat terburu-buru karena ada masalah di kantor cabang yang berada di surabaya. Tapi setahu Nayla Ia sudah meminta suaminya itu untuk menghubungi Putrinya karena Ia tahu Putrinya pasti akan melakukan Protes padanya.
" Masa sih Nak, coba cek lagi ponselnya. Setahu Mama sih kemarin Papa sudah telpon Ara, sebenarnya Papa pulang kerumah hanya mau ngambil berkas sekalian pamit pada Ara, tapi pas Papa sampai rumah Ara baru keluar jadi nggak ketemu. "
Ara mengeluarkan ponselnya dan memeriksanya, keningnya berkerut ketika melihat ponselnya mati.
" Loh kok mati sih, Astaghfirullah Ara lupa charger Ma. "
Nayla hanya menggeleng geleng pelan, Ia sudah tau watak anak bungsunya itu.
" Sudah sekarang sarapan dulu, HP nya bisa di ces pakai powerbank kan. "
Ara mengangguk dan mulai sarapan sementara Nayla mengambilkan benda yang di maksud untuk Putrinya.
Ara berangkat ke kampus setelah selesai sarapan, Ia di antarkan Nayla seperti biasa ke depan pintu.
" Ara berangkat dulu ya Ma, Assalamu'alaikum. " Ara pamit seraya mencium punggung tangan Nayla.
" Hati hati di jalan sayang, ingat jangan ngebut. Kalau ada apa apa langsung telpon Mama atau Mas Alwi ya. " Pesan Nayla karena jujur Ia masih belum terlalu yakin pada Putrinya.
Ara mengangguk dan mulai melesat meninggalkan pekarangan rumahnya. Tidak perlu lama untuk sampai ke kampus yang di tuju, Ia langsung mencari parkiran.
" Wah cowok tajir. " Ucap salah seorang gadis yang melihat mobil mewah Ara, mungkin karena warnanya yang biru jadi identik dengan cowok.
" Pasti ganteng lah. " Timpal yang lain.
" Aish, awas kalian. Yang begini mah, cocoknya sama gue. " Ucap Clara tiba-tiba dari belakang.
Ketiga cewek cewek itu mulai mendekat dan tebar pesona namun alangkah terkejutnya setelah melihat siapa yang turun dari mobil mewah itu.
" Ara......... ! " Seru kedua gadis tadi bersamaan, sementara salah satunya langsung menjauh setelah tau siapa pemilik mobil mewah itu.
" Naura, nggak jelas banget sih. Tapi kenapa sih harus dia, kenapa dia tidak pindah saja kesekolah lain atau nggak mati saja sekalian. " Gumam Clara sambil menghentak hentakkan kakinya.
Ara turun dan tersenyum menyambut kedua temannya, kemudian ekor matanya menatap Clara yang pergi menjauh.
" Ada apa dengannya. " Tanya Ara pada kedua sahabatnya yang tergabung dalam satu genk.
" Entahlah Ara, kami juga kurang tau. Tadi saja dia dorong dorong pingin nungguin kamu turun, tapi pas kamu sudah turun dia malah pergi dengan wajah seperti tidak suka. " Jawab Atika.
" Mungkin dia kecewa kali Ra, dia pikir kamu tadi cowok kan mayan buat di jadikan mangsa berikutnya. Sayangnya yang keluar malah cewek jadi begitu deh. " Timpal Sintia.
Ketiganya tertawa bersama
" Sudah sudah, yuk kita masuk. Sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai, nggak akan ada yang mau kan kena hukuman dosen killer itu kan. "
Kedua temannya hanya mengangkat bahu dan merinding disco, tak terbayangkan kalau sampai berurusan dengan si dosen killer. Bukan hanya killer tapi juga buaya darat dan maniak perempuan.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu