Adhisti merupakan komplotan copet yang melakukan hal itu karena suatu alasan. Sedangkan Alsaki merupakan seorang yang terkenal. Pria ini benar-benar jenuh dengan keriuhan kehidupan yang selalu ramai akan fans yang memburunya. Hingga suatu saat, Al yang menyelinap ke ruang housekeeping tak sengaja bertemu dengan Adhisti, seorang housekeeping wanita di sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.
Al meminta tolong kepada Adhisti untuk diam dan tak memberitahu kepada orang-orang jika ia bersembunyi disana. Pria itu bahkan membuntuti Adhisti hingga kerumahnya yang reot.
Siapa sangka, benih-benih cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, saat keduanya sering di pertemukan dalam keadaan Adhisti yang tengah beroperasi mencopet.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Eng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Insecure
...🌻🌻🌻...
Dalam kamar dengan cahaya terang lampu berwatt tinggi, Dhisti yang tidur menelungkup bagai Dewi perairan itu, terlihat menggulir ponselnya dan sedikit memicingkan matanya manakala melihat sebuah foto di akun media sosialnya, yang sangat familiar dan berhasil menarik perhatiannya.
Ia buru-buru men-zoom foto itu lalu memperhatikan wajah seorang wanita yang tersenyum bersama Aris, juga beberapa rekan-rekan sepekerjaan mereka.
Sekilas terlihat wajar, namun membuatnya aneh adalah, posisi mereka yang terbilang sangat dekat.
Wanita itu berambut pirang, wajahnya nampak ayu dengan alis yang di sulam, eye shadow yang tidak berlebihan, bulu mata yang di extension, kemudian lipstik yang begitu cantik.
Membuat sejumput rasa kesal menelusup ke dalam relung hatinya.
Kini, ia bangun lalu menatap dirinya pada pantulan cermin yang berada di kamarnya. Seolah ingin langsung membandingkan dirinya, dengan wanita yang ada di foto itu.
Bukannya puas, ia justru menatap muram sesosok yang kuyu tanpa make up, dengan rambut yang tak beraturan. Kulit wajah yang tak pernah ia perhatikan, serta oufit yang enggak banget.
Membuatnya semakin insecure untuk beberapa saat.
" CK, apa hebatnya wanita itu? Apa dia bisa memasak?" Gumamnya mencari celah pembelaan serta kelebihan yang bisa ia lakukan. Namun, pada akhirnya ia risua.
" CK, apa Aris tidak mengingat saat sakit dulu siapa yang merawat? Apa semua pria begitu? Laki-laki juga mengatakan dadaku kecil, brengsek!"
Ia mengumpat sembari membenamkan wajahnya kedalam bantal. Andai saja dinding itu dapat berbicara, mereka pasti akan tertawa demi melihat tingkah konyol Dhisti.
Entahlah, ia menyayangi Aris, Aris adalah cinta pertamanya, namun belakangan ini saat pria itu sudah tidak menjadi pengangguran, ia justru semakin sering di bandingkan dengan wanita lain.
Bahkan, ia dulu sering memberi Aris uang dari hasilnya mencopet, karena kasihan dengan pria itu.
Meninggalkan wanita yang insecure gara-gara seorang pria, di sebuah rumah besar milik keluarga terpandang terlihat sebuah perdebatan kecil yang terjadi antara kakak beradik.
Ya, Al akhirnya memutuskan pulang saja sebab ia merasa adiknya tak akan bisa memaksanya lagi karena waktu yang sudah malam.
Dan itu benar adanya. Yes!
" Kakak darimana aja sih, aku udah ke apartemen, udah ke rumah teman-teman kakak, tapi kakak gak ada. Kakak sengaja ya?"
Al sudah siap akan hal ini, prediksinya akan cecaran adiknya manakala ia tiba nanti tidak pernah meleset.
" Sengaja gimana sih Pur, aku tadi tersesat!" Jawab Al sungguh meyakinkan.
" Buktinya nomer kakak gak bisa di hubungi, aku tanya Mama juga nggak tahu!" Sungut Puri kesal.
" Masa sih, aku aja masih bisa di hubungi sama Dante. Buktinya aku sekarang ada disini, karena Dante yang menjemput ku!"
Membuat Dante melirik Al menggunakan ekor matanya.
" Anda benar-benar penipu ulung bos!"
" Kakak tau nggak sih, kasian Darren tau kak, kakak ini kan udah jadi manusia bonafit sekarang. Satu produk yang kakak bawa cuma modal diem doang , tanpa pakai ngomong pun, pasti bakal jadi naik kelas!"
Puri masih mengekori kakaknya ke dapur rumah besar itu. Terus saja mencecar kakaknya dengan omongan seputar periklanan.
" Sekarang udah lewat kan?" Tanya Al sesaat setelah membuka lemari es setinggi dirinya itu.
" Ya iya, gara-gara kakak tersesat tadi semua hilang begitu aja!" Balas Puri memanyunkan bibirnya.
Al tersenyum melihat adiknya yang kini marah-marah. Setidaknya, ada gunanya juga ia memaksa Dhisti untuk ikut kerumahnya, ia bisa menghindari kemauan adiknya.
" Kalau ada lagi temenmu yang begitu tolak aja Pur, kakak jadi risih diluaran sana karena banyak yang nguber- nguber!"
Al berucap dengan nada pelan dan sedikit serius, ia kini mendudukkan dirinya lalu mengangsurkan sebotol air untuk Dante yang masih sigap berdiri.
" Bagus dong, semakin banyak yang nguber, semakin terkenal lah orang itu!" Tukas Puri masih bertahan dengan argumennya.
" No way!"
" Ih kakak!"
Al mengusap lembut puncak kepala adiknya yang belingsatan karena kesal, lalu berjalan menuju ke arah kamarnya sebab seharian tidur di sofa Dhisti membuat punggungnya sakit.
" Dan, pulanglah. Kau sudah bekerja keras hari ini!" Seru Al seraya berjalan ngeloyor menuju kamarnya.
Pria prosedural, dingin, dan selalu siaga itu seketika membungkukkan badannya usai mendengar perintah sang baginda.
Kini, Puri yang memberengut menatap Dante yang datar yang masih setia berada di sana.
" Apa kak Al benar-benar tersesat? Dimana kau menemukannya?" Tanya Puri dengan tatapan penuh selidik.
Membuat mata Dante seketika membulat.
novel ini yg sengaja belakangan dibaca.
Paragraf akhir yg bikin mata ku basah. Cm sm km aku pernah ngomong ttg sesuatu yg gak sanggup aku tulis sndr.
Gpp, ini sudah mewakili. Terima kasih ya mom.