Untuk mengukuhkan kerja sama dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, Bara dan Elang menjodohkannya anak sulung mereka, Nathan dan Zea. Namun, pada kenyataannya, justru Zio-putra ketiga Baralah yang akhirnya menikahi Zea. Kok bisa?
"Gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.
"Aku nggak butuh tanggung jawab kamu, pergi!" usir Zea.
Zio berdecak, "terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab!"
Tangis Zea semakin pecah," semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"
"Bukannya lo emang udah benci sama gue?"
" Aku makin benci sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Baru juga Zea akan membuka pintu mobilnya, Claudya dan temanya datang menghampirinya.
"Nih! Undangan buat lo ke acara ulang tahun gue!" ucap Claudya sembari menyodorkan sebuah undangan kepada Zea.
"Buat aku?" tanya Zea heran, sepertinya mereka tak terlalu akrab, tapi dia diundang.
"Iyalah! lo kan satu kelas sama gue, semuanya gue undang tak terkecuali!" ucap Claudya.
Zea menerimanya, "Baiklah, aku usahakan datang, terima kasih undangannya," ucapnya.
"Hem," sahut Claudya singkat yang langsung berlalu menuju ke lapangan basket untuk melihat Zio bermain basket tentunya.
Tapi, sayang, saat Claudya datang, Zio justru sudah selesai dengan permainannya.
"Yaaah, kok udahan sih, yo?" Protes Claudya cemberut.
"Emang udah selesai, terus mau apa?" sahut Zio, cuek seperti biasa.
Claudya langsung mendekat dan menggandeng lengan Zio, "Kita jalan, yuk!" ajaknya.
"Gue keringetan, Di. Jangan gelendotan, ntar lo bau kena keringat Gue!" Zio menepis tangan Claudya. Namun gadis itu kekeuh tak mau lepas.
"Nggak apa-apa. Aku suka bau keringat kamu, kok!" ucap Claudya, "Kita jalan yuk?" lanjutnya mengulangi ajakannya tadi.
"Sorry, gue nggak bisa. Gue sibuk!" Zio memaksa tangan Claudya untuk lepas dan langsung pergi.
"Sayang, tunggu! emang sibuk apa, sih? Masa nggak ada waktu buat pacar sendiri?" tanya Claudya sok imut.
"Nggak usah sayang-sayangan, Di. Gue malah risih dengernya!"
Claudya cemberut, " Ya udah, tapi kita jalan ya?" bujuknya.
"Gue bilang nggak bisa. Lo jalan sendiri aja sama temen, lo! sorry gue buru-buru!" Zio langsung melenggang begitu saja meninggalkan Claudya.
Claudya menghentakkan kakinya. Laki-laki itu sama sekali tak berubah, tetap dingin dan cuek meski status mereka pacaran.
...........
Zea mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Bahkan, kini ia harus sedikit memperlambat laju mobilnya karena ada panggilan masuk dari Nathan, tunangannya.
"Iya, abang," suara lembut Zea membuat Nathan tersenyum. Gadis itu selalu menyapanya duluan setiap kali telepon.
"Lagi dimana, sayang?" tanya Nathan.
"Di jalan, mau pulang, bang. Abang lagi ngapain?" Zea balik bertanya. Rasanya ia sudah sangat rindu dengan pemilik suara di seberang telepon tersebut.
"Ya Kerja lah, sayang," jawab pria itu.
Zea tersenyum, "Tumben abang telepon jam segini?" tanyanya.
"Kenapa emang? nggak boleh ya?" sahut Nathan.
"Ya boleh dong. Masa gak boleh? ada apa, bang? pasti ada sesuatu yang penting kan?" Zea tahu, Nathan tidak akan menghubungi di saat jam kerja, jika tidak ada hal penting.
"Kamu memang paling tahu abang, dek. Begini, sebelumnya abang minta maaf sama kamu karena abang terpaksa mengundur jadwal kepulangan abang," kata Nathan.
Raut wajah Zea langsung berubah sendu, "Tapi, abang sudah janji kalau akan pulang dalam waktu dekat supaya kita bisa mempersiapkan pernikahan kita berdua bersama, kan?" ucapnya menagih janji pria tersebut.
"Iya sayang, tapi abang benar-benar minta maaf. Ada pekerjaan yang tidak bisa abang tinggal dalam waktu dekat. Nggak apa-apa, ya? Nanti kamu bisa minta bantuan bunda, Nala atau mommy. Zio juga kalau perlu abang suruh bantuin kamu. Jangan marah, ya?" ujar Nathan.
Zea mengembuskan napasnya," Ya udah nggak apa-apa," ucapnya kemudian.
" Nggak marah kan, sama abang?" tanya Nathan.
" Enggak, bang. Aku ngerti kok," Zea berusaha tetap tenang dan lembut.
"Gitu dong, itu baru calon istri abang. Emm, udah dulu ya sayang, abang masih harus ketemu client habis ini. Kamu jangan lupa makan, jaga kesehatan juga," pesan Nathan sebelum mengakhiri panggilannya.
"Hem, abang juga, miss you!" Zea mengangguk.
"Miss you too!"
Panggilan pun berakhir. Zea mendengus. Ia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya saat ini.
Setelah bertunangan tiga tahun yang lalu, Nathan sama sekali tak pernah kembali untuk sekedar melepas rindu denngannya. Padahal bagi seorang Nathan, tidaklah sulit kalau harus sering pulang pergi ke London. Tapi, memang seolah pria itu menghindari pertemuan dengannya. Ia juga tak diijinkan untuk pergi menemuinya dengan alasan biar rindu semakin menumpuk. Konyol memang, tapi Zea menurut saja. Selama tiga tahun ini, mereka hanya berkomunikasi melalui ponsel.
Memang, Nathan sering menemaninya melalui video call jika malam sampai Zea tertidur dengan sendirinya. Tapi, itu tidaklah cukup bagi Zea. Ia juga ingin melepas rindu dengan bertemu langsung.
Terkadang, pria itu akan menghilang bagai di telan bumi selama beberapa hari tanpa kabar apalagi menemaninya melalui video call. Mengirim pesan saja tidak. Nanti tiba-tiba saja muncul dengan tiba-tiba mengirim pesan atau telepon.
Zea hanya bisa mencoba mengerti dengan kesibukan tunangannya tersebut. Mungkin itulah alasan Zio lebih memilih bebas tanpa beban seperti sekarang.
Dari semua pemaklumannya atas kesibukan calon suaminya tersebut hingga tak memiliki waktu untuknya, apakah Zea juga harus memaklumi juga jika pria itu tak bisa meluangkan waktu untuk urusan pernikahan mereka.
Rasanya sedih, ingin marah dan kecewa Zea rasakan saat ini. Tapi, dia bisa apa. Memang seperti itulah pria yang ia cintai itu. Terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Zea tahu tanggung jawab Nathan terhadap perusahaannya begitu besar. Tapi, apakah kali ini juga harus lepas tangan soal persiapan pernikahan mereka.
Jika biasanya Zea bisa menerima, kali ini rasanya ia tetap kecewa dan ingin menangis.
Zea menghentikan mobilnya. Rasa sesak di dadanya yang sudah menumpuk ingin sekali terdesak kekuar dalam bentuk air mata. Zea menelungkupkan wajahnya di atas stir mobilnya, "Aku ingin terus mengerti seperti sebelumnya. Tapi, kali ini rasanya tetap kecewa, bang," lirihnya.
Dari kejauhan, Motor Zio melintas. Pria itu berhenti dan mengamati sekilas mobil yang sangat ia kenali siapa pemiliknya itu berhenti di pinggir jalan.
Setelah menunggu beberapa saat, mobil itu tak juga bergerak. Zio mulai khawatir. Pasalnya itu tempat cukup sepi, tak ada toko, cafe, salon ataupun lainnya. Hanya jalanan sepi dengan pepohonan rindang di sisi kiri kanan dan tak jauh dari sana ada jembatan. Zio melihat ke sekitar, ia tak melihat batang hidung pemilik mobil yang tak lain adalah Zea.
Zio pun langsung tancap gas mendekati mobil Zea. Ia turun dari motornya lalu melepas helm fullface yang melindungi kepalanya.
Zio lalu mengintip dari kaca mobil Zea, ternyata wanita itu ada di dalam. Ia mengetuk kaca mobil Zea karena gadis itu masih menelungkupkan wajahnya di atas kemudi mobilnya. Zio pikir Zea kecelakaan atau apa. Ia terus mengetuk kaca mobil gadis tersebut. Ia bahkan tak segan-segan memukulkan helm di tangannya ke kaca mobil Zea karena gadis itu tetap diam di dalam.
Namun, sebelum Zio melakukannya, Zea sudah mengangkat kepalanya. Melihat Zio hampir menghantam kaca mobilnya dengan helm, Zea langsung menurunkan kaca mobil miliknya.
Zea hanya membuka kaca, sama sekali tak membuka suara. Ia masih berusaha mengatur napasnya karena baru saja menangis.
"Lo kenapa?" tanya Zayn yang melihat mata Zea merah dan masih ada sisa air mata di pipi gadis itu.
Zea menggeleng, "Nggakpapa," jawabnya.
Tentu saja Zio tak percaya, "Turun!" ucapnya.
Zea bergeming, "Turun, Ze! Apa perlu gue buka paksa mobil lo?" paksa Zio.
Zea pun turun. Zio mendengus, gadis itu benar-benar habis menangis, bahkan rambutnya pada nempel di pipinya yang masih basah, "Lo kenapa? Pasti karena abang gue, kan?" tebak Zio. Ia mengusap pipi Zea. Yang mana membuat Zea langsung melengos dan mengusap pipinya sendiri.
...----------------...
hampir tiap hari nyari2 notif barangkali nyempil /Sleep//Sleep//Sleep/
ternyata hari ini kesampaian juga
makasih kak author
sehat" selalu 😘
🌸🏵️🌼 tetap semangat 💪
Zio cinta Zea tapi Zea tunangan dgn Nathan, kakaknya Zio. Karena suatu hal, Zio tidur dengan Zea akhirnya mereka menikah.
alhamdulillah semoga terus lanjut ya kka smpai tamat...
di tunggu up beriktnyaa