Dira, Luna dan Nisa adalah tiga gadis yang bersahabat, mereka berteman sejak SMA.
Dira adalah seorang gadis yang bar-bar sering berantem dengan teman kampusnya. Tetapi dia gadis yang cukup mandiri walaupun terbilang dari keluarga yang berada.
Luna sejak kecil adalah anak yang paling memprihatinkan, dia tinggal bersama ibunya di rumah yang sangat sederhana, bahkan untuk mencukupi kebutuhannya ibunya harus berjualan makanan. Luna gadis yang pintar bisa masuk kampus terbaik di kota itu dengan bantuan beasiswa.
Nisa adalah gadis yang ceroboh, tukang makan, kalau bicara asal benar.
Buat Nisa yang penting ada makanan semua beres.
Arkan dan Elang siapa ya mereka????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Lima hari kemudian ibu Luna sudah mulai membaik dan di perbolehkan untuk pulang ke rumah.
Luna merasa senang karena sudah bisa beraktivitas kembali seperti biasanya, hari ini dia akan mulai masuk kuliah lagi.
"Ibu, Luna pamit berangkat dulu ya? ibu jangan capek-capek dulu, biar Luna yang bereskan nanti!" ucap Luna pada ibunya.
"Iya... kamu hati-hati ya?" kata ibunya sembari tersenyum ke arah Luna.
Luna berangkat kuliah dengan penuh semangat hari ini, meskipun dia berangkat sendiri dan hanya berjalan kaki. Jarak yang dia tempuh lumayan jauh juga, kadang Nisa juga menghampiri Luna terlebih dahulu dan memberi tumpangan.
Saat di jalan ada sebuah mobil yang berhenti di depan Luna, ternyata orang itu pak Arkan. Dia turun dari mobil dan menghampiri Luna yang sedang berjalan kaki.
"Luna kamu sendirian? mana Dira dan Nisa?" tanya pak Arkan.
"Mungkin mereka sudah sampai di kampus atau malah belum berangkat pak," jawab Luna.
"Ayo bareng saya Luna!" ajak pak Arkan sambil membuka pintu mobil buat Luna.
"Tidak pak, terimakasih... ini sudah hampir dekat, biar saya jalan saja," tolak Luna dia tidak mau merepotkan pak Arkan.
"Saya tidak menerima penolakan, ayo silahkan masuk!" kata pak Arkan, terus memaksa Luna.
Luna terpaksa masuk ke dalam mobil pak Arkan, saat perjalanan menuju kampus di dalam mobil itu tidak ada percakapan sama sekali.
"Pak... terimakasih ya atas tumpangannya!" kata Luna sembari keluar dari dalam mobil.
Pak Arkan hanya tersenyum ke arah Luna, lalu memarkirkan mobilnya di tempat seperti biasa.
Sisil yang baru datang melihat Luna turun dari mobil pak Arkan, dia merasa sangat kesal.
"Harus di beri pelajaran juga itu anak, beraninya dia mendekati pak Arkan," batin Sisil, tangannya menggenggam membentuk sebuah kepalan.
Dia berencana menunggu Luna masuk kampus dan ingin memberi peringatan pada Luna.
"Luna, kenapa kamu dekati pak Arkan?" tanya Sisil.
"Maksud kamu apa!" jawab Luna, dia merasa bingung dengan ucapan Sisil.
"Gak usah sok polos kamu! sama aja kayak Dira, dasar gak tau malu!" ucap Sisil, dengan nada membentak yang membuat Luna semakin bingung.
"Sisil di suruh ke ruangan pak Arkan," kata Nisa yang baru saja dari kantin tanpa sengaja melihat Sisil membentak Luna.
Sisil akhirnya pergi meninggalkan mereka menuju ruangan pak Arkan.
"Kenapa Sisil di panggil pak Arkan ya?" tanya Luna pada Nisa.
"Gak ada yang panggil kok, biar dia pergi aja hehe... ucap Nisa sambil nyengir.
"Ayo,kita masuk!" ajak Luna sembari menggandeng tangan Nisa.
📒📒📒
RUANGAN PAK ARKAN
Sisil mengetuk pintu ruangan pak Arkan, yang kebetulan beliau baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Ada apa Sisil?" tanya pak Arkan sambil merapikan mejanya.
"Lho... bukannya bapak tadi menyuruh Sisil ke sini!" jawab Sisil.
"Kamu mau saya hukum, membersihkan toilet lagi!" ucap pak Arkan, melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Tidak pak! ada yang mau saya tanyakan, boleh kan, pak?" tanya Sisil lagi.
"Silahkan! apa yang ingin kamu tanya?" ucap Pak Arkan.
"Tolong pak, jelaskan kenapa bapak tadi berangkat bareng Luna?" tanya Sisil tanpa ada rasa malu.
"Itu urusan pribadi saya, jangan bahas di kampus!" jawab pak Arkan, dia langsung keluar meninggalkan Sisil yang masih duduk di ruangannya.
"Pak, tunggu!" kata Sisil, menahan pak Arkan untuk berhenti.
"Apa lagi Sisil?" ucap pak Arkan dengan malas.
"Aku belum selesai bicara pak! tolong dengarkan Sisil dulu!" kata Sisil.
"Nanti kita bicarakan di luar kampus!" ucap pak Arkan sambil melangkah meninggalkan Sisil yang masih mematung.
###
Dira, Luna, Nisa dan Elang saat ini sedang makan siang di kantin kampus.
Nisa memesan bakso, nasi goreng dan dua gelas jus jeruk sedangkan Dira dan Luna memesan mie goreng, beda lagi dengan Elang yang hanya memesan es coklat.
"Kakak ganteng pesan apa?" tanya Nisa pada Elang.
"Es coklat, Nisa," ucap Elang dengan tersenyum.
"Makanannya apa, kakak ganteng?" tanya Nisa lagi.
"Aku gak makan, tadi sudah sarapan," jelas Elang.
"Nisa, lebih baik habisin dulu makanan kamu!" ucap Dira dengan kesal.
"Bakso ku sudah habis Dira... ini nunggu nasi goreng!" ucap Nisa sambil mengambil camilan yang ada di meja.
"Dira, kamu yang bayar ya!" ucap Elang, menggoda Dira.
"Hore... makan gratis! Dira, aku boleh nambah ya?" tanya Nisa, dengan sangat senang.
"Boleh, nanti Elang yang bayar!" kata Dira, sambil melirik ke arah Elang.
Nisa beneran nambah bakso satu mangkok dan beberapa camilan, sementara Luna hanya diam dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nisa.
"Luna, nambah dong mumpung gratis," ucap Nisa, dengan entengnya.
"Aku sudah kenyang, ini minuman ku juga masih!" kata Luna sambil menunjukkan minuman miliknya.
"Kalian habiskan dulu ya? aku pamit ke toilet bentar!" pamit Elang pada semuanya.
"Jangan kabur kamu!" sahut Dira sembari melemparkan gulungan tisu ke arah Elang.
Elang hanya tersenyum ke arah Dira, lalu dia pergi dari kantin itu.
Sudah hampir satu jam Elang belum juga kembali ke kantin, mereka bertiga masih setia menunggu Elang.
"Kakak ganteng lama sekali ya!" kata Nisa, sedikit khawatir kalau makanan yang sudah dia makan tidak jadi gratis.
"Bayar sendiri dong ini," sahut Luna, sambil melirik Nisa.
"Kan ada Dira, kamu kan yang bayar Dira?" tanya Nisa, sedikit melas.
"Kok aku!" ucap Dira, menatap Nisa jengah.
"Dira, kamu tidak masuk kerja lagi?" tanya Luna.
"Tidak Luna, papah ku ada di rumah," jawab Dira.
Mereka bertiga masih setia menunggu Elang yang tak kunjung datang, hingga membuat Nisa lapar lagi dan memesan makanan kembali.
Dira akhirnya yang membayar makanan mereka, lalu mengajak kedua temannya itu untuk ke toko buku terdekat.
Di dalam toko itu ada perpustakaan kecil untuk membaca buku gratis, mereka pun membaca sebentar.
Waktu sore telah tiba akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
###
Dira baru sampai di rumahnya, dia masuk kamar lalu membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Elang datang ke rumah Dira, dia berniat untuk mengembalikan uang yang sudah di gunakan untuk membayar makanan di kantin tadi.
Saat dia berada di toilet tiba-tiba Arkan datang menemuinya, untuk membicarakan masalah keluarga. Terpaksa Elang langsung ikut Arkan untuk pulang ke rumah.
Mamah Meri membangunkan Dira, yang ternyata sudah tertidur untuk menemui Elang.
Dira akhirnya terpaksa menemui Elang di ruang tamu, sebenarnya dia masih kesal dengan Elang, karena terlalu lama menunggu.
"Ada apa El?" tanya Dira dengan ketus.
"Aku hanya mau minta maaf, soal di kantin tadi!"kamu mau kan maafin aku, Dira?" kata Elang.
"Iya... Dira maafin asal jangan di ulang lagi!" ucap Dira.
Elang sangat senang karena Dira telah memaafkan nya, lalu berpamitan untuk pulang.
baik benar jadi teman❣️❣️❣️❣️
masih z suka menyalahkan orang lain 🙄🙄🙄🙄