Di pagi buta tampak seorang gadis cantik yg mengepang rambut nya menjadi dua. Perlahan ia pun mengambil....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syamsul bahri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Revan/Devan
"lo kenapa liatin tuh cowok? Suka? Atau kenal?" tanya Mike pada adiknya.
"dia temen satu kelas gue." singkat Ziva yang terus memandang Revan yang kian menjauh.
"tapi kok dia kayak gak kenal sama lo?"
"ya wajarlah, penampilan gue aja beda banget. Gimana sih lo!!" lirih Ziva sambil membuang cone es krim yang sudah hancur di tangannya.
"kak kita pulang yuk!!" seru Ziva pada Mike.
"cepet banget??" tanya Mike.
"Ara lupa kalo Ara punya banyak PR." tandas Ziva yang mengingat ia mempunyai 2 tugas dan lagi ia harus menyalin tugas nya untuk Revan yang artinya ia mempunyai 4 tugas.
"ya udah kalo gitu kita pulang!!" Ujar Mike merangkul bahu Ziva dan langsung menuju parkiran.
Tanpa sengaja ia melihat seseorang yang membuat ia menghentikan langkahnya "Revan??"
Tampak di sana Revan sedang membantu seorang gadis kecil yang terjatuh.
"ternyata dia baik juga." lirih Ziva.
Sedangkan di sisi lain, Mike sedang berceloteh panjang lebar.
"Ra, lo tau Miranda kan, masa kemaren dia nangis nangis karna gie tolak."
"cengeng banget kan."
"lagian dia ada ada aja, masa dia nembak gie di depan kelas. Cinta sih boleh tapi masa nembak gue terang terangan gitu."
"Ra kok lo gak jawab??" tanya Mike yang menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ziva.
"astaga ternyata gue ngoceh sendirian! Pantes aja banyak yang ngelirik! Di sangka gila kali ya gue, eh tapi i Zivara mana...."
"itu dia..." Ujar Mike sambil berlari kecil ke arah Ziva.
"aaarrrrgghhhh sakit kak!!" ringis Ziva saat Mike menarik sebelah kupingnya.
"la ngapain di situ? Asal lo tau gue nahan malu gara gara ngomong sendirian." omel Mike pada adiknya.
"ya maaf."
Saat itu juga Mike melepaskan jewerannya dari telinga Ziva.
"sakit tau" rengek Ziva sambil mengusap telinganya yang memerah.
"buruan balik katanya lo punya PR!!" seru Mike.
Kemudian merekapun kembali melanjutkan langkah munuju area parkir.
"nih helm nya!!"
Mike langsung melajukan motornya menuju rumah. Tak lama mereka pun sampai.
"huhh capek gue... Harus ngerjain tugas double gini... Tapi ya mau gimana lagi hahhh." Ziva langsung mengerjakan tugas tugasnya.
Di tengah tengah mengerjakan tugas, banyak sekali notif dari anak anak Warior.
'Queen kapan nih gabung ama kita lagi, bosen tau gak ada lu?' Asqal
'Queen sore besok malem ada sirkuit, ikut gak??' Bastian
'Queen ke base donk, ya kali Warrior tanpa Queen.' Justin
Dan masih banyak lagi, Ziva hanya tersenyum melihat semua chat dari genk nya itu. Ya Ziva adalah salah satu anggota genk motor. Eiitts tenang genk motor nya gak neko neko kok, mereka taat aturan dan gak ugal ugalan. Dan sirkuit yang di maksud itu bukan balap liar tapi sirkuit legal dan bakal ada pengawasan dari pihak kepolisian.
Ziva adalah Queen di Warrior, salah satu genk motor tersohor kedua. Dan yang pertama yang pastinya The White Eagle ya guys.
Queen Zi
Oke oke ntar gue kabarin lo pada kalo gue mau ke markas. Btw masalah sirkuit gue bilang ama kak Mike dulu
√√
Ya ada Queen pasti ada King donk, dan King alias ketua Warrior adalah Mike.
Sedangkan di sisi lain,Revan sedang mengendarai motornya menuju sebuah taman.
Setelah sampai Revan segera melangkahkan kaki nya menuju sebuah pohon besar, ia segera menaiki rumah pohon di atas pohon itu. Dulunya ia sangat sering ke sini dan banyak sekali kenangan bersama kembarannya Devan.
"Dev, lo apa kabar disana? Lo pasti seneng kan di sana? Apa aja lo tinggal minta sama Tuhan."
"Setelah lo gak ada, papa slalu nekan gue."
"jujur dulu gue iri banget sama lo, lo bisa dapetin kasih sayang dari papa, bahkan papa slalu banding bandibgi gue sama elo, gue juga udah berusaha menjadi apa yang papa mau... Tapi... Mau gue berusaha ke mana pun, gue gak di anggep Dev. Sorry karna gue anggep jadi lo tu enak. Sampai akhirnya lo cerita kalo lo keberatan dengan obsesi papa yang pngen loat lo sempurna. Papa gak pernah sadar kalo papa udah nyakitin kita."
"hingga akhirnya gue putusin buat jadi diri gue sendiri. Jadi Revan yang sesungguhnya buka Devan yang slalu hidup tertekan, gue cuma pengen bahagia dengan cara gue sendiri. Kadang gue gak betah tinggal di rumah, gue ngerasa asing dan gue rasa gue ni bukan apa apa. Doain gue ya Dev, semoga gue bisa kuat buat ngejalanin ini semua." lirih Revan sambil memejamkan matanya.
Devano Baskara dan Revano Baskara adalah kembar identik yang memiliki kelebihan masing masing. Namun sayangnya Revan slalu di banding bandingkan dengan Devan oleh, Adrian. Dia slalu menganggap bahwa Devan adalah yang terbaik. Revan slalu berusaha untuk menjadi lebih baik namun tak pernah di anggap. Itu sebabnya Revan menjadi pribadi yang kejam dan tak berperasaan.
"Akhirnya selesai juga!!"seru Ziva meregangkan jari jarinya.
"udah malam rupanya."
Saat itu juga Ziva bergegas menyiapkan buku buku yang akan ia bawa ke sekolah besok termasuk buku Revan.
"Ara sayang ayo makan dulu!!" Seru Fania yang berada di balik pintu kamar Ziva.
"iya ma..." Ziva bergegas membuka pintu.
"kamu ngapain tadi??" tanya Fania.
"abis ngerjain PR ma."
"giaman hari pertama kamu di sekolah. Kamu baik baik aja kan?"
"baik kok ma, semua nya lancar." seru Ziva tersenyum.
"syukurlah kalo gitu, tapi kamu gak di bully kan?? Mama cuma sedikit khawatir." jelas Fania yang kini berada di meja makan.
"mama tenang aja semua nya baik kok." seru Ziva yang mendudukan diri di sebuah kursi di samping Mike.
Makan malam ini terasa hangat ketika dihiasi obrolan obrolan kecil dan candaan candaan yang mereka lontarkan.
Sedangkan di sisi lain Revan baru pulang dan bergegas menuju kamarnya. Setelah menghabiskan beberapa puluh menit di kamar mandi, ia pun keluar dengn wajah yang lebih segar.
Tok tok tok
Dengan segera ia membuka pintu kamarnya.
"maaf ganggu den, saya ingin memberitahu kalau Tuan dan Nyonya sudan menunggu den Revan untuk makan malam bersama."
"hem nanti Revan turun."
"baik den permisi." Bi ijah langsung berjalan ke arah dapur.
Setelah menyisir rambutnya ia bergegas turun ke bawah. Tampak sekali Adrian menatap Ravan tak suka. Makan malam tampak sunyi seperti biasa. Terkadang Erna melirik ke arah suami dan anakny aitu.
Perlahan Revan menyuapkan nasi ke mulutnya dengan perasaan hambar. Rasanya ia begitu malas kalau tmharus makan bersama satu meja dengan papanya. Namun karna permintaan mama nya ia mau makan bersama.
Walau berat hati ia harus menjaga perasaan mamanya. Bagaikan air dan minyak mereka tak pernah bersatu.
"papa udah selesai..." Adrian segera meninggalkan meja makan dan menuju kamarnya.
Erna menggenggam tangan putranya.
"maafin papa kamu ya, dia gak bermaksud gitu sama kamu.
Revan hanya tersenyum menatap mama nya. Jujur Revan masih sakit hati dengan papanya. Perkataan papanya tadi siang, yang menbanding bandingkan dia dengan Devan masih terngiang ngiang do telinga nya.
Ia hanya berusaha tetap tenang agar tidak melukai perasaan mama nya.
aduh aku kelamaan nabungnya 🗿
karena muter-muter trus di situ dari tadi tentang masa lalu Ziva