Luna Heart namanya, cantik, sexy dan cerdas. Dibesarkan oleh keluarga kaya semenjak dia ditemukan di depan pintu rumahnya. Semenjak orang tua angkatnya meninggal dia mulai ditindas, diusir, bahkan dibunuh. Tuhan maha besar, dia ditemukan masih bernafas oleh seorang ibu. Kebaikan ibu ini dia tebus dengan cara menjual dirinya ke kota.....
Hallo reader, ini karya baruku. support ya, dalam bentuk, like, comment, gift, vote....trimakasih love you all ♥️♥️♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUAN YUDHA
Aku menyimpan pakaian robek di kamarku, ini adalah bukti jika suatu hari tuan Yudha mengelak dari tuduhan pelecehan aku sudah ada bukti. Suatu hari aku berencana akan membuka kebusukannya dan membuatnya mendekam dibalik jeruji besi.
Aku sedang enak-enak mengkhayal di kamar telingaku mendengar sayup-sayup lagu dope dari John Legend. Aku yakin mereka sedang berdansa atau ntahlah... itu bukan urusanku, aku muak mengingatnya. Sekarang ini aku tidak berani melakukan tindakan gegabah karena jiwaku masih menjadi target pembunuhan dari saudara papaku.
Suara musik tiba-tiba berhenti dan berganti dengan suara ke dombrang dan gelas pecah. Dadaku berdebar, jangan-jangan mereka berantem. Aku turun dari tempat tidur dan membuka pintu, berjingkak menuju ke depan, kepo juga.
"Aku tidak bisa melakukan, bukan aku tidak mau, tapi ......" Yudha tidak melanjutkan, suaranya terdengar tercekat. Ntah kenapa dia tidak bisa melakukan tugasnya dengan istrinya. Apakah karena dia tahu istrinya selingkuh? oh..oh..aku cuma pendengar.
"Tidak apa-apa aku juga lagi mengantuk." sahut nyonya Hanun tersenyum dibuat-buat. Dia tidak perduli suaminya jantan atau tidak yang jelas malam ini dia lelah gara-gara tenaganya di porsir oleh pacarnya.
Ohh...ternyata begitu, aku mundur dan balik ke kamar di belakang. Malam semakin larut, aku mulai mengantuk, akupun tertidur.
Pagi ini bibi sudah berada di sebelahku, aku kaget melihatnya. Rambutnya di potong pendek, dia memakai baju baru. Bibi kelihatan bersih, karena rambutnya di semir.
"Kenapa kamu tidak mengunci pintu?"
"Lupa, kapan bibi datang?" tanyaku, turun dari tempat tidur.
"Bibi membeli daster untuk kamu. Cepatlah mandi nanti di pakai."
"Siap bi....."
"Nanti cari bibi di dapur." kata bibi keluar dari kamarku.
Rambutku sudah memanjang, kalau aku potong rata mungkin bisa seleher. Badanku yang banyak bekas luka mulai mulus dan mengelupas. Aku harus menutupi ini semua, supaya tuan tidak tergoda denganku.
Daster merah yang diberikan oleh bibi segera aku pakai dan aku segera melepas kembali. Jika ini aku pakai tuan pasti akan tergoda, karena bajunya diatas lutut dan aku kelihatan sangat cantik memakainya. Aku akan pakai saat tidur.
"Kenapa kamu tidak memakai daster yang bibi kasi?" tanya bibi ketika aku sampai di dapur.
"Maaf bi, ada alasannya. Aku ingin bercerita dengan bibi ketika bibi tidak ada di rumah."
"Ceritalah, bibi akan mendengarkannya."
"Bibi...." aku urung bercerita ketika tuan Yudha tiba-tiba masuk ke dapur. Aku cepat memakai masker mulut dan keluar dari dapur, mata elangnya menatapku tajam. Dadaku berdebar tidak karuan, aku takut dia menarikku. Aku mengambil sapu lidi dan meyapu di halaman.
"Pagi tuan, apakah tuan ingin sesuatu?" bibi cepat menghampiri pria itu. Aku masih mendengar suara bibi bertanya kepada tuan Yudha.
Aku mulai menyapu berusaha tidak peduli dengan sekelilingku. Air mata mengalir saat ingatanku menyentuh titik tabu dimana pemerkosaan itu terjadi. Tidak bisa aku pungkiri bahwa kesedihan ini akan menyeret ketabahanku untuk melangkah maju. Saat ini aku merasa berdosa, bagaimanapun kejadian awal aku tetap merasa bersalah masih berada disini, seolah aku menunggu dijamah untuk kedua kalinya.
"Kenapa kau menangis?" suara itu membuat tubuhku sontak bergetar, laki-laki itu sudah berada di depanku, memandang tajam ke wajahku.
Lidahku kelu, aku menunduk menghapus air mataku, tidak nenyangka aku menjadi secengeng ini. Aku benci dengan keadaanku saat ini. Kemana kepribadianku yang tegar.
"Aku memintamu bekerja di rumah sana, rumah itu perlu di bersihkan." kata tuan Yudha datar.
"Aku tidak mau, suruh saja bibi atau orang lain. Aku sudah di beli nyonya dan harus bekerja disini." akhirnya aku bisa menjawab walaupun suaraku bergetar.
"Aku menginginkan kamu."
"Jangan harap!!" tungkasku tegas.
"Oke, lihat saja nanti." katanya menyeringai lalu beranjak pergi. Aku melanjutkan menyapu keliling halaman.
"Ya Tuhan berikanlah aku kesabaran dan lepaskanlah aku dari manusia yang menzalimi aku"
Selesai menyapu di halaman aku kembali ke dapur mencari bibi.
"Bi, apa lagi yang bisa dibantu?"
"Siapin sarapan untuk tuan dan nyonya, mereka mau sarapan ."
"Ya bi....."
Aku menyiapkan makanan untuk tuan Yudha dan nyonya. Pekerjaan ini terasa berat karena aku harus memandang mereka serta membuang rasa muak.
"Bibi, aku mencuci saja ya." kataku pelan.
"Lebih baik kamu menyapu, ngepel di kamar tuan dan ruang tamu. Kamu angkat seprei dan langsung cuci."
"Tapi, aku maunya bekerja tanpa melihat mereka." kataku sekenanya.
"Hahaha...kamu aneh, jangan bicara begitu nanti nyonya tersinggung. Bibi yakin kamu tidak senang melihat nyonya sering membawa laki-laki kesini. Bibi juga begitu, kita adalah pembantu tidak berhak berkata apapun."
"Aku tidak betah bekerja disini, aku ingin sekali pulang. Apakah nyonya mau melepaskanku."
"Jangan coba-coba pergi dari sini, kau sudah dibeli." suara nyonya terdengar nyaring dan membuat aku terhenyak. Nyonya datang sendiri sambil berkacak pinggang.
"Aku akan mengembalikan uang nyonya, yang penting aku bisa keluar dari sini." kataku lugas.
"Hahaha...kau seenaknya bicara, mana mungkin kau bisa mengembalikan uangku. Aku membelimu terlalu mahal."
"Nyonya membeliku dua juta aku akan bayar tiga juta." kataku sengit.
"Dua puluh miliarpun aku tidak sudi melepas dirimu, aku ingin kau terus berada disini."
"Apa maksud nyonya, saya punya hak untuk bebas, tidak ada bukti yang mengikat saya."
"Aku punya kwitansi tanda bukti ibumu menjual dirimu, jadi kau jangan mimpi untuk bisa lepas dariku."
"Luna bersabarlah, jangan berpikir untuk berhenti kerja, apalagi kamu tidak punya pengalaman kerja." bibi ikut nimbrung. Aku terdiam dan yakin bahwa nyonya tidak ingin melepasku.
"Jangan banyak tingkah, baru bekerja sudah mau berhenti. Mau bekerja dimana kau, kerja disini saja belum becus." kata nyonya lagi lalu duduk di kursi makan.
"Tuan tidak sarapan nyonya?" tanya bibi.
"Dia buru-buru ke kantor, aku juga mau ke boutique. Nanti bibi bersihin kamar bawah saja. Tidak usah masak untuk malam hari, tuan dinner dengan koleganya dan aku juga ada jamuan makan malam."
"Baik nyonya, nanti Luna membersihkan kamar dan saya akan ke super market untuk memenuhi kulkas, tuan sudah memberi uang dan catatan."
Mendengar tuan pergi ke kantor aku tidak khawatir lagi. Selesai di dapur bibi pamit ke super market, nyonya berangkat kerja aku sendiri menuju kamar utama. Seperti biasa aku akan mengganti sprai, membersihkan kamar mandi baru nyapu ngepel.
Sedikitpun aku tidak kagum dengan kemewahan kamar mandi yang terbuat dari Onix, di rumahku juga sama dan di hotel lebih mewah. Selera mereka bagus, ntah apa pekerjaan mereka. Aku sudah selesai bersih-bersih, tinggal menaruh pengharum di toilet.
"Luna......" suara itu membuat aku kaget dan membalikan badan, tuan sudah berada di ambang pintu. Posisiku sekarang berada di toilet.
"Jangan bikin ulah, aku akan teriak!!"
"Berteriaklah yang keras tidak ada yang mendengar, kamar ini sudah dikasi peredam suara."
"Kenapa sih kamu suka sekali melihat orang menderita, apa kamu sakit jiwa."
"Aku gila, kau tahu aku sangat mencintai istriku dan ingin mempunyai keturunan darinya, tapi ketika perselingkuhan itu terjadi aku jijik mendekatinya apalagi mau berhubungan badan dengannya." kata Yudha menatap kaki Luna yang mulus.
"Itu masalahmu jangan mengkaitkan masalah pribadimu dengan diriku. Izinkan aku keluar dari sini, aku bosan disini. Aku bukan barang yang seenaknya kamu permainkan. Aku benci manusia sepertimu."
"Oke, naik ke mobil, aku akan kembalikan kamu ke orang tuamu." kata Yudha dengan suara tinggi.
"Minggir!! aku akan mengambil bajuku." kata Luna menyenggol Yudha dengan keras.
Tidak perlu menunggu bicara dua kali, Luna sudah berjalan ke kamarnya. Yudha ikut keluar. Tidak berapa lama Luna datang membawa bungkusan kecil yang berisi beberapa baju Luna.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dan menuju ke sebuah boutique yang ternama.
"Turunlah, aku akan membelikanmu baju sebagai trimakasihku padamu."
"Tidak usah, antar aku pulang." teriakku.
"Beli baju atau tidak pulang!!" ancam Yudha.
Tapi mobil Yudha tetap berhenti di depan boutique, dia memaksa ku untuk turun. Apa boleh buat aku terpaksa turun.
*****
semangat
makasih
sukses