Dijebak oleh kakak tiri dengan seorang pemuda pada malam ulang tahun teman. Siapa sangka, orang yang satu kamar dengan dia ternyata seorang tuan muda yang paling berpengaruh di kota itu.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Ikuti terus kelanjutan kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Belum sempat Murni melangkah pergi dari ruang tamu tersebut, suara Bagas sudah menghentikan langkah kakinya. Bagas yang ternyata sudah ada di depan pintu dan mendengarkan apa yang mamanya ucapkan, langsung angkat bicara.
"Tidak perlu menghubungi aku lagi, Mama. Karena sekarang, aku sudah ada di sini untuk bicara sama mama."
"Bagas. Akhirnya kamu datang juga. Katakan pada mama, apakah yang Intan katakan itu benar atau tidak!"
"Yang Intan katakan itu benar, Ma. Dicky memang berniat akan menikah dengan seorang gadis yang ia pilih. Dia telah merusak gadis itu dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ini bukan soal kita punya kuasa atau tidak, mama. Tapi ini soal tangung jawab." Bagas langsung menjelaskan perkataannya karena takut dengan penolakan dari sang mama.
"Kenapa kamu harus menjelaskan panjang lebar padaku, Bagas? Bukankah aku hanya bertanya iya atau tidak. Kenapa kamu tidak menjawabnya dengan jawaban singkat saja."
"Maksud mama?" tanya Intan dan Bagas secara bersamaan.
"Ya aku hanya bertanya iya atau tidak. Kamu tidak perlu menjelaskan panjang lebar soal keputusan yang Dicky ambil. Karena aku yakin, apapun keputusan yang cucuku buat, itu adalah keputusan yang terbaik. Aku akan dukung dia," ucap oma Ratih sambil tersenyum.
Mendengar penuturan itu, Intan yang awalnya bahagia, karena berpikir mama mertuanya berada di pihak dia, sekarang ternganga tanpa bisa berucap satu patah katapun. Bahkan, detak jantungnya seakan berhenti akibat persetujuan itu.
"Ap--apa yang mama katakan barusan? Apa ... apa aku tidak salah dengar, Ma?" tanya Intan setelah bisa menguasai hatinya yang kaget bukan kepalang.
"Apa yang aku katakan? Apakah perkataan yang aku ucapkan barusan tidak jelas untukmu? Atau jangan-jangan, kuping mu sedang ada masalah, Intan."
"Mama tidak mungkin setuju dengan pernikahan Dicky dengan gadis yang berasal dari keluarga tidak jelas itu, kan? Mama sedang bercanda bukan?"
"Kamu berharap aku bercanda, Intan? Kamu berharap aku menentang keputusan cucu dan anakku lagi sekarang? Tidak! Itu tidak akan terjadi lagi. Aku tidak akan mengecewakan hati cucuku lagi sekarang."
"Tapi, Ma ... keluarga Prasetya itu punya nama besar. Apakah kalian sudah melupakan soal itu?"
"Tidak masalah dengan nama besar yang keluarga Prasetya miliki. Yang penting, kebahagiaan cucuku adalah hak nomor satu."
"Ya Tuhan ... keluarga ini sudah gila sekarang," ucap Intan sambil bangun dari duduknya. Lalu kemudian, ia meninggalkan ruang tamu tanpa pamit sama sekali pada mama mertuanya terlebih dahulu.
"Kamu yang gila. Bukan kami," ucap oma Ratih kesal.
"Sudah, Ma. Biarkan saja dia. Jangan hiraukan apa yang dia katakan," ucap Bagas masih dengan perasaan senang sekaligus lega.
"Ah ... benar apa yang kamu katakan. Tidak perlu memikirkan dia. Sekarang, ayo kita bahas soal keputusan cucuku."
Sementara itu, di rumah Merlin. Merlin yang baru sampai, segera memutuskan untuk langsung beranjak naik ke lantai atas agar bisa segera ke kamar. Kamar Merlin dan Jenny bersebelahan.
Ketika Merlin melewati kamar Jenny. Merlin bisa mendengarkan obrolan Jenny yang sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon. Merlin berhenti sejenak untuk mendengarkan pembicaraan itu. Karena dalam pembicaraan itu ia mendengar namanya di sebut-sebut oleh Jenny.
"Dasar bodoh! Ngelakuin itu aja kamu gak bisa, Sisil. Aku minta kamu masukin obat tidur ke dalam minuman Yoga, bukan Dicky."
Jenny sedang marah-marah dengan seseorang yang bernama Sisil. Sisil itu adalah teman akrab Jenny di sekolah.
'Sudah aku duga, kalau semua masalah ini Jenny yang ciptakan. Ya Tuhan ... apa salah aku padanya? Kenapa dia begitu memusuhi aku? Seharusnya aku yang marah karena dia datang ke dalam keluargaku. Lalu, mengambil papa, satu-satunya keluarga yang aku punya. Tapi mengapa ini malah kebalikannya?' Merlin bicara dalam hati sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
Dia masih mendengarkan obrolan Jenny dari depan pintu kamar sambil menahan rasa berkecamuk dalam hati. Perlahan, rasa sakit, kesal, geram itu kini memuncak menjadi amarah yang ia bendung.
"Ya, aku ingin Merlin pergi dari rumah ini untuk selamanya. Tapi sayangnya, jika bukan karena keteledoran kamu dalam menjalankan rencana, pasti semuanya akan berjalan lancar. Tidak akan gagal seperti ini. Merlin pasti sudah bersama dengan Yoga, bukan Dicky."
Brak! ....
Pintu kamar Jenny dibuka dengan keras oleh Merlin. Karena saat ini, amarah yang sudah ia kumpul, benar-benar tidak bisa ia tahan lagi. Sudah benar-benar siap untuk meledak. Bak gunung Merapi yang tak mampu lagi menahan lava yang ia kandung.
Seketika, Jenny terkaget dengan bunyi keras dari gebrakan pintu itu. Aktifitas ngobrol yang lebih mirip ngomel itupun terhenti seketika.
"Merlin! Apa-apaan sih kamu!"
"Jadi semua ini rencana kamu, Jenny?" tanya Merlin dengan wajah marah.
Jenny bukannya takut, tapi malah menarik senyum menyeringai dari sudut bibirnya.
Sambil berjalan mendekat, ia terus memberikan senyum ejekan untuk Merlin.
"Iya. Kenapa? Mau marah? Mau lapor pada papamu? Heh ... sayangnya tidak akan di percaya oleh papamu. Bahkan, mungkin juga tidak akan di dengarkan sama papamu yang sedikit ... bodoh itu."
"Dasar anak ******* kamu!"
Plak ... sebuah tamparan mendarat di pipi Merlin. Pipi putih itu terasa sangat panas sekarang. Merlin memegang pipi itu dengan satu tangannya. Lalu, ia berusaha menoleh ke arah samping, dari mana tamparan itu berasal.
Di sampingnya sekarang sedang berdiri Mita, sang mama tiri dengan tatapan kesal.
"Siapa yang kamu bilang anak *******, hah! Jaga mulut jelek mu itu. Jangan sampai aku robek mulutmu, supaya kamu tidak bisa bicara lagi. Paham!"
Merlin menatap tajam wajah mama tirinya. Rasa sakit bercampur marah, kini memenuhi hati Merlin sekarang.
"Ternyata, aku tidak salah. Kalian berdua memang benar-benar ******* sesat yang tahu diri." Merlin berucap dengan lantang tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Ucapan itu membuat Mita yang awalnya tenang, mejadi mendadak emosi tingkat tinggi. Ia marah dengan kata-kata yang Merlin ucapkan. Tangannya gemetaran, matanya melotot. Bak singa yang siap menerkam mangsa.
"Dasar anak kurang ajar yang tidak tahu sopan santun. Aku akan ajari kamu sekarang juga," ucap Mita dengan tangan yang sudah siap ingin memukul Merlin.
Namun, bunyi klakson mobil menghentikan niat Mita untuk membantai Merlin. Karena berbarengan dengan bunyi klakson tersebut, Jenny sedang berjalan menuju jendela untuk mengambil sesuatu agar bisa membantu mamanya memberikan pelajaran pada Merlin.
"Ma, jangan! Papa pulang. Kita tidak bisa menghukum anak tidak tahu diri ini dengan tangan kita sekarang." Teriak Jenny dengan cepat saat melihat mobil Bondan yang memberi klakson barusan.
nikah muda ny
dpt jodoh putri cengeng lagi 😁😁😁
siapa dia...
wlu pun kau serang nyonya,
tapi kau terlalu Egois, ingin ter lalu mengatur hidup nak mu
picik sekali pemikiran mu
toh yg buat kepurltusan dan bunuh diri kan adek mu sendiri.
tich dicky blom nogmong ke adk mu.
kenapa hrs dicky yg di salah kan atas kematian ny .
uang 20 M, gak ada apa2 ny buat mereka...
ah..awaq wong misqin iki 100 rebu sdh sangat berarti 😁😁😁
klu hdp Meelyn bakal sengsara
dasar emak sana anak sama aja.
sama2 gak tau diri
ini lg papa Merlyn kok bisa nuta y mata hati ny, pada anak kandung Sendiri
target ny salah sasaran ..😀😀😀
malah bunuh diri 😱