Terima kasih mantan sudah melahirkan jodoh ku.
Geli-geli sedap, rasa asam, asin, pahit jadi satu.
Apa jadinya jika kamu jatuh hati pada mantan kekasih Mama mu?
"Ingat Vano kau sudah pernah merebut miliki, dan kali ini aku bukan merebut milik mu. Tetapi aku meminta anak mu, wanita yang aku cintai sebagai pendamping hidup ku!" Papar Firman.
Zie terperangah ketika mendengar kenyataan besar.
"Firman mantan kekasih Bunda?"
Bertahan sulit, di tinggalkan pun sakit, kenapa harus mencintai mantan kekasih wanita yang melahirkan nya?
Dan bahkan hubungan nya sudah sampai di atas ranjang.
"Tinggalkan dia Zie!" Titah sang Ayah.
"Anak mu sedang mengandung anak ku!" Tandas Firman.
Degh!
Akankah Zie dan Firman bersatu dalam ikatan pernikahan dan mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
Lantas bagaimana dengan janji yang pernah Ziva ucapkan saat berpisah dari Firman beberapa tahun lalu?
Akankah Firman menangih janji itu.
Catatan : Yang anti 21+ tolong minggir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Zie masih saja diam, Firman di hadapannya jauh berbeda dengan Firman saat di kampus.
Mata Zie langsung beralih pada nama yang tertulis di meja.
Firman Priawan
Direktur utama Sejahtera Group
"Tidak salah lagi," gumam Zie.
"Pak, di kartu nama tertulis nama Pak Rian dan di sini nama Pak Firman?"
Alma juga tidak kalah bingung, hingga memutuskan untuk bertanya. Bahkan secara langsung.
Tidak ada yang menjawab, Rian juga hanya diam menatap mahasiswa di hadapannya.
"Tugas kalian sekarang, pergi ke pantry dan buatkan masing-masing secangkir kopi!" titah Rian.
Mulut Zie seketika terngangga, "Buat kopi?" tanya Zie berharap tidak salah mendengar, "Apa tidak salah? Mana ada materi membuat kopi."
Firman masih diam, mengapa mahasiswa nya itu sangat suka sekali membangkang dan menjawab dengan lantang setiap kali di berikan tugas.
"Apa? Kopi!" pekik Alma.
Zie langsung menyenggol Alma, "Lambat banget sih!" geram Zie.
"Hehehe....." Alma menggaruk kepalanya.
"Cepat, setelah itu kalian akan menjalani tugas kedua!" ujar Rian.
Zie dan Alma bingung, mengapa Firman hanya diam, bahkan pria itu terlihat hanya datar dengan wajah dinginnya.
"Tugas kedua apa Pak?" tanya Alma.
"Cepat sekarang ke pantry, setelah itu kalian akan tahu!"
Dengan sedikit malas Zie dan Alma langsung menuju pantry, untuk membuat kopi.
"Tugas macam apa ini?!" Gumam Zie sambil keluar dari ruangan Firman untuk mencari pantry.
***
"Apa kau yakin? Mereka itu masih anak-anak?" tanya Rian.
"Mereka sangat menjengkelkan, terutama Zie!"
Rian mengangkat kedua bahunya, seolah menyerahkan semua keputusan pada Firman.
"Selamat pagi," pintu kembali terbuka, seorang wanita datang langsung berjalan ke arah Firman.
Dengan cepat Firman berdiri dan menjauh dari Vika, wanita yang selama ini selalu ingin dekat dengan dirinya.
Tidak berselang lama pintu kembali terbuka, seorang wanita yang datang bersama dengan Vika menyusul masuk.
"Firman kamu apa-apaan sih?"
Aurora Priawan, wanita yang sudah tua adalah wanita yang sudah membesarkan Firman semenjak Ayahnya memutuskan menikah lagi. Sedangkan Ibunya pergi meninggalkan dirinya di usia 7 Tahun.
"Oma?"
Firman menunjukkan wajah memohon, Vika bukan wanita yang di inginkan. Jika memang Firman mau tentu sudah sejak dulu menikahi Vika.
"Oma tidak mengerti dengan mu, usia mu sudah sangat-"
Aurora Priawan memijat dahi dan tidak ingin menyebutkan usia cucu kesayangan nya saat ini.
"Kau sudah jadi perjaka tua!" tambah Aurora semakin geram.
Firman menarik napas dan berusaha tidak perduli akan apa yang dikatakan oleh Aurora.
"Atau?" Aurora menatap Firman, kemudian menatap Rian dengan saling bergantian.
Firman dapat menebak apa yang kini di pikirkan oleh Aurora, tuduhan tidak normal sudah sering kali lepas dari bibir Aurora.
"Apa selera mu bukan wanita?" Tanya Aurora penuh intimidasi.
"Oma," Rian langsung menggeleng, "Rian masih normal, tolong.......Jangan berpikir aneh," Rian merasa mual walaupun hanya sebuah omong kosong belaka.
"Oma tidak per-"
Pintu kembali terbuka
Beberapa pasangan mata beralih menatap Zie dan Alma yang kembali memasuki ruang Direktur utama dengan membawa masing-masing secangkir kopi.
Zie sempat mendengar, ada wanita menyebutkan jika Firman tidak normal. Seketika itu juga Zie merasa geli melihat Firman.
"Kamu Zie kan?" Tanya Vika.
"Iya Bu," Zie mengangguk.
Siapa yang tidak mengenal Vika, seorang dosen di universitas Indonesia bersama dengan Firman dan juga Rian.
"Lalu sedang apa di sini?"
"Kami magang Bu," jawab Zie.
Vika mengangguk.
"Firman, Oma masih harus berbicara dengan mu. Tapi nanti saat di rumah."
Raut wajah Aurora sangat serius, kali ini ia tidak ingin lagi di hindari oleh Firman. Sudah cukup Aurora mengerti pada Firman yang tidak ingin menikah, sampai menemukan wanita yang di anggap pantas untuk di cintai nya.
Selepas Aurora dan Vika pergi, tatapan Firman dan Rian berfokus pada dua mahasiswa magang dengan kopi di tangannya.
"Sedang apa kalian di sana?"
"Tenang Bos," Rian tahu Firman tengah menahan amarah, mungkin saja Zie dan Alma akan menjadi sasarannya.
Firman menatap Rian yang berdiri di sampingnya, matanya setajam elang seakan ingin mencabik-cabik asistennya saat ini juga.
Rian terpaksa menghilangkan senyumnya, karena Firman sedang tidak bisa di ajak berdamai.
"Letakkan!"
Rian menunjuk meja
Zie dan Alma langsung meletakkan nya
Firman menatap cangkir kopi satu persatu, tidak ada yang beres. Mata elang Firman beralih menatap si peracik kopi aneh.
"Ini apa?"
"Lho?" Zie menatap Firman dengan sinis, "Bapak enggak lihat ini apa?" Tanya nya kembali.
Alma mangguk-mangguk membenarkan apa yang di katakan sepupunya, sedangkan orang-orang di luar sana berpikir jika keduanya hanyalah sebatas sahabat tanpa ada ikatan tali persaudaraan.
"Kau!"
Firman tidak mengerti, mengapa Zie sangat menjengkelkan.
"Sudah-sudah," Rian berusaha menengahi, mempertahankan untuk membuat suasana tetap tenang.
Firman dengan terpaksa menahan amarah dan berusaha mengendalikan diri.
"Zie, kalau kita bermasalah. Kebebasan kita akan hilang," bisik Alma.
Zie memutar leher, menatap Alma yang menatap nya dengan wajah memohon. Tetapi, Zie juga membenarkan apa yang di katakan oleh Alma.
"Maaf Pak," tutur Zie dengan terpaksa, karena takut kebebasan yang di berikan kedua orang tuanya malah tinggal mimpi karena ia membuat masalah.
"Dia sudah minta maaf Bos," Rian tersenyum dan merasa lebih tenang, melihat ada yang mengalah.
Firman masih ingin meremas wajah Zie, tetapi kata maaf cukup membuat emosi sedikit meredam.
"Mungkin rasanya enak," ujar Rian menatap cangkir kopi.
Firman kembali menatap nya, dengan perasaan ragu tangannya bergerak memegang dan mengatakan nya pada mulut.
Menyeruput dengan perlahan namun, Firman langsung berdiri dan menyembuhkan ke depan.
"Aaaaaaa!!!!" Teriak Zie.
Tiga pasang mata beralih menatap Zie, dengan baju terkena kopi.
"Aku tidak mengerti lagi," Rian ingin sekali memanjat dinding entah mengapa Zie dan Firman terus saja membuat suasana menjadi tegang.
"Pak?!" Zie menatap Firman dengan berapi-api, seketika itu Zie merangkak naik ke atas meja dan menarik kerah jas Firman.
Firman tersentak, pertama kalinya seorang wanita berani menarik kerah jasnya. Tetapi ada hal yang menarik di mata Firman, dua gunung kembar yang setengah terlihat saat Zie condong pada nya.
Firman menggeleng tetap berusaha menguasai diri, walaupun merasa Zie di usia yang cukup muda tapi sudah memiliki daya pikat yang luar biasa.
"Zie," Alma langsung berjalan cepat, memegang lengan Zie dan menarik nya agar turun dari atas meja.
"Untuk hari ini, sebaiknya kalian pulang saja. Besok kembali lagi," kata Rian demi menghindari adanya ketegangan.
"Zie, demi kebebasan," bisik Alma untuk yang kesekian kalinya, berharap Zie mau di ajak kerja sama.
Zie mengangguk, kemudian keduanya keluar dari ruangan Firman.
***
Jangan lupa like dan Vote ya Kakak.
cerita nya seru banget
tp koq gag ada kelanjutannnya ya???
tolong la thor lanjut lagi cerita nya
pleeaseee 🙏🙏🙏
aq memohon ya thor....
penasaran banget soalnya
gmn zie selanjutnya dan gmn alma juga 😭😭😭😭
dan mana aran dan arman
kangen lanjutanya thor