Disarankan untuk membaca "Pengantin Pengganti untuk Tuan Muda" dan "Remember Me, Baby" lebih dulu agar bisa memahami alur ceritanya. Terima kasih.
Raymond Dawson: "Jangan menangis lagi ... aku yang salah ... tolong maafkan aku. Kali ini, izinkan aku untuk mencintai dan menjagamu dengan benar."
Lorie: "Aku hanya ingin kehidupan yang biasa saja. Ingin mencintai pria yang sederhana, yang bisa membantuku mencuci piring dan mengurus anak."
Setelah melewati masalah yang rumit, akhirnya Raymond dan Lorie berkencan. Akankah hubungan itu mulus hingga ke jenjang pernikahan?
Lalu, bagaimana dengan Daniel Hill yang menginginkan cinta Dokter Ana? Apakah dia akan berhasil mematahkan teori cinta wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Saat Lorie tiba di ruang makan, triplets sudah duduk dengan rapi di tempat mereka masing-masing. Amber berada di sisi kanan ayahnya, Aaron di sisi kiri ayahnya, sedangkan Aslan berada di sebelah Amber. Ketiga bocah itu menikmati makanan mereka dengan tertib.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa Lorie.
Alex mendongak ketika menyadari kehadiran Lorie. Ia mengangguk dan memberi isyarat agar Lorie duduk dan makan bersama mereka.
“Makan yang banyak, jangan sungkan,” ucap Alex.
“Baik.”
Lorie memilih menu western yang tersedia di atas meja dan makan dengan tenang. Sudut matanya bisa menangkap gerakan Amber yang terlihat seperti tidak fokus sejak kedatangannya, tapi gadis itu juga tidak berani bertingkah karena masih ada ayahnya. Alex melarang anak-anaknya berbicara atau bercanda ketika sedang berada di meja makan. Oleh karena itu Amber hanya bisa mempercepat sarapannya dan bergegas menuju ruang bermain, berharap Lorie akan segera menyusulnya ke sana.
Sayangnya, begitu Lorie menyelesaikan makan paginya, Alex meminta Lorie untuk menemuinya di ruang kerja. Amber yang mengetahui hal itu dari seorang pelayan yang dimintanya untuk mengintai akhirnya hanya bisa cemberut dan pergi mengganggu kedua kakaknya.
Di ruang kerja, Lorie sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan oleh Alex. Ia duduk dengan tenang di kursi sofa dan menunggu Alex menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu. Akhirnya ketika pria itu selesai dan berjalan ke arahnya, Lorie berdeham dan memperbaiki posisi duduknya. Secara otomatis pundaknya menjadi tegak dan kedua tangannya mengepal sempurna.
Melihat hal itu membuat Alex mengulas senyum tipis. Ia duduk di sebelah Lorie dan berkata, “Tidak perlu formal seperti itu. Aku hanya ingin berbincang denganmu, bukannya memintamu untuk melakukan misi khusus.”
Pundak Lorie semakin tegang dan ia mengurai senyum yang sedikit terpaksa. Memang berada di dekat Alex Smith selalu memberinya ilusi bahwa ia akan mendapat misi penting dan berbahaya, padahal masa-masa seperti itu jelas sudah sangat lama berlalu.
Setelah menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, otot-otot tangan Lorie mengendur. Ia berdeham sekali lagi sebelum bersandar di sofa.
“Apa yang ingin Anda tanyakan, Tuan?” tanyanya dengan sopan.
“Daniel Hill. Apa alasannya ingin bekerja sama dengan kita di sini? Dan lagi, dia sama sekali belum memiliki rancangan dasar atau ide mengenai kerja sama apa yang ingin dilakukan.”
“Itu ... saya rasa ada hubungannya dengan Ana,” jawab Lorie sedikit ragu karena itu memang hanya tebakannya saja. Tidak ada bukti apa pun untuk membenarkan asumsinya itu.
“Ana?” tanya Alex. “Maksudmu Dokter Ana kita?”
“Ya. Itu dia ....”
Kening Alex berkerut. Sorot matanya yang dalam dan tajam sama sekali tidak terbaca. Lorie pun tidak berani menatapnya lama-lama, ia menunduk setelah menjawab pertanyaan tadi.
“Apa hubungannya dengan Ana?”
“Sepertinya Daniel menyukai Ana, dia menggunakan alasan ini agar bisa lebih lama berada di sini dan mendekatinya.”
Kerutan di kening Alex semakin dalam. Ia terdiam beberapa saat, mencoba mencerna informasi yang sama sekali tidak diduganya itu.
“Bukankah Daniel Hill tertarik kepadamu? Bulan lalu dia masih mengikutimu seperti seekor parasit,” ucap Alex setelah jeda yang cukup lama.
Lorie tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa. Ia juga memikirkan hal yang sama. Pria itu benar-benar seorang Don Juan sejati.
“Saya juga belum memastikannya, Tuan. Ini hanya dugaan sementara. Namun, jika Anda tidak menyukainya, saya akan mengatur agar dia segera kembali ke Dubai.”
Alex terdiam lagi. Jelas terlihat kalau ia sedang menimbang dan memikirkan sesuatu.
“Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakangnya. Tidak buruk, tapi ada begitu banyak wanita yang pernah bersamanya. Dia menyukaimu satu detik yang lalu, kemudian berubah haluan di detik berikutnya. Kamu yakin ingin membiarkan pria seperti itu untuk bersama Ana?”
Kali ini giliran Lorie yang terdiam mendengar penuturan Alex. Ia tahu pria itu tidak akan mau ikut campur jika urusan remeh seperti ini dialami oleh orang lain. Namun, karena ini berhubungan dengan dirinya dan Ana, maka Alex Smith turun tangan sendiri untuk mengatasinya. Sejujurnya, Lorie merasa sangat terharu.
“Saya mengerti, Tuan. Jangan khawatir, saya akan memastikan lebih dulu dugaan saya betul atau tidak. Kalau Daniel hanya ingin bermain-main dengan Ana, saya sendiri yang akan menghabisinya.”
“Hm. Kamu juga jaga dirimu baik-baik. Kalau sampai putra walikota itu melukaimu lagi, aku tidak akan segan.”
“Baik. Anda juga jaga kesehatan. Anak-anak membutuhkan kehadiran Anda.” Lorie tahu Alex semakin sering bergadang. Pelayan melaporkan kepadanya bahwa lampu ruang kerja pria itu kerap menyala hingga menjelang pagi.
Alex mengangguk sekilas dan melambaikan tangannya sambil berkata, “Pergilah. Sepertinya Amber sudah tidak sabar untuk bermain denganmu.”
Lorie tersenyum dan bangkit dari sofa. Ia memberi hormat kepada Alex sebelum keluar dan mencari Amber. Masih ada cukup waktu untuk bermain bersama gadis cilik itu.
***
ayolaaaaah..akhiri ini semua😭😭😭
dengan Keiko. ingat cerita tentang Kinara Lee
dari judul cerita yg sebelum-sebelumnya sama ...sangat menarik.
dah berapa tahun yaa...? aku cari di sebelah gak ada. sampai akhirnya kangen kembali ke sini langsung cari lagi judul ini. eh..ketemu.