Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: DITEGUR DI DEPAN KELAS
"Kirana, gimana kabar kelompok tugasnya?" tanya Tesa begitu mereka duduk berdampingan di kantin, mangkuk mi ayam mengepul di depan masing masing.
"Belum ngapa ngapain," jawab Kirana sambil mengaduk mi-nya pelan. "Baru dapet pembagian tugas kemarin sore, belum sempat kumpul sama anggota lain."
"Terus kamu udah kontak Pak Alden belum? Dia kan pembimbing kelompok kalian."
Kirana meletakkan sendoknya, menatap Tesa dengan raut agak panik. "Belum. Emang harus kontak dia duluan?"
"Ya iyalah," Tesa terkekeh, "biasanya dosen pembimbing harus di-update soal progress. Apalagi ini Pak Alden, kalau kelompokmu telat lapor, bisa bisa kena semprot lagi."
"Duh, gila ya, baru juga dapet tugas udah bikin stres," keluh Kirana, menghela napas panjang. "Kenapa sih harus dia yang jadi pembimbing kelompokku."
"Justru itu untungnya," Tesa mencolek lengan
Kirana, menyeringai jahil. "Kamu jadi punya alasan buat sering sering ketemu dia."
"Ih, apaan sih," Kirana mendorong bahu Tesa, wajahnya mulai terasa hangat. "Bukan gitu maksudnya."
"Terserah deh," Tesa tertawa kecil, lalu kembali fokus pada mi ayamnya.
Keesokan harinya, kelas Pengantar Manajemen Strategis dimulai seperti biasa. Kirana datang lebih awal kali ini, duduk di barisan tengah bersama Tesa, buku catatan sudah tersiap rapi di atas meja.
Alden masuk kelas tepat waktu, membawa map berisi kertas kertas yang langsung dia letakkan di meja. "Sebelum masuk materi hari ini, saya mau tanya dulu. Kelompok tiga, siapa yang mau update progress tugas kalian?"
Kelas hening sejenak. Kirana melirik anggota kelompoknya yang lain, berharap ada yang mengangkat tangan lebih dulu. Tapi semua orang justru menoleh ke arahnya.
"Kirana, kamu aja," bisik salah satu anggota kelompok, seorang cowok bernama Bagas, sambil menyenggol lengannya pelan.
"Hah? Kenapa harus aku?" bisik Kirana balik, panik.
"Abisan kamu yang paling deket duduknya," jawab Bagas asal, nyengir tanpa dosa.
Kirana menghela napas, lalu perlahan mengangkat tangan. "Saya, Pak."
Alden menatapnya, alis sedikit terangkat.
"Silakan."
"Anu, Pak," Kirana mulai gugup, "kelompok kami belum sempat kumpul, soalnya jadwal masing masing beda beda. Tapi rencananya minggu ini kami mau atur waktu buat diskusi."
"Belum kumpul sama sekali?" Alden bertanya, nadanya mulai terdengar tidak sabar.
"Belum, Pak," jawab Kirana jujur, meski suaranya mengecil di akhir kalimat.
"Tugas ini saya kasih tiga hari yang lalu. Deadline dua minggu. Dan kalian belum kumpul sama sekali?" Alden melipat tangan di dada, matanya menyapu seluruh anggota kelompok tiga satu per satu.
Tidak ada yang berani menjawab. Kirana meremas ujung buku catatannya di bawah meja, jantungnya berdebar bukan karena hal manis kali ini, melainkan karena tegang.
"Kirana," panggil Alden lagi, "sebagai orang yang tadi angkat tangan, saya anggap kamu koordinatornya. Kenapa belum ada yang inisiatif ngatur jadwal diskusi?"
"Saya... saya kira ada yang lain yang mau jadi koordinator, Pak," jawab Kirana, mencoba menjelaskan meski suaranya makin kecil.
"Kalau semua orang mikirnya kayak gitu, kapan tugasnya selesai?" Alden melangkah mendekat ke arah barisan tengah, membuat seisi kelas semakin hening. "Saya nggak butuh alasan. Saya butuh hasil kerja."
Kirana menunduk, wajahnya terasa panas. Dia bisa merasakan tatapan seisi kelas tertuju padanya, dan itu membuat rasa malu semakin menjadi jadi.
"Besok sore, jam empat, kalian semua kumpul di ruang diskusi lantai dua," lanjut Alden, suaranya tegas tanpa ruang untuk dibantah. "Saya akan cek progress kalian langsung. Kalau masih nol, nilai kelompok ini otomatis saya potong."
"Baik, Pak," jawab beberapa anggota kelompok serempak, suara mereka terdengar pelan dan penuh rasa bersalah.
Alden kembali ke depan kelas, melanjutkan materi seolah interupsi tadi tidak pernah terjadi. Tapi Kirana masih terdiam, menahan malu yang menjalar sampai ke ujung telinga.
Tesa menyenggol lengannya pelan, berbisik,
"Kamu nggak apa apa?"
"Malu banget," bisik Kirana balik, menutup wajah dengan kedua tangan sebentar.
"Kenapa sih tadi aku angkat tangan duluan."
"Ya abisan Bagas nyuruh," Tesa menahan tawa. "Tapi tenang, besok kan udah ada rencana kumpul. Kamu tinggal atur aja."
"Gampang ngomong sih," Kirana mendengus pelan, meski dalam hati dia mulai memikirkan bagaimana caranya mengorganisir kelompok yang sepertinya tidak ada yang punya inisiatif sama sekali.
Sepulang kelas, Kirana mengumpulkan anggota kelompoknya di kantin untuk membahas rencana besok. Ada Bagas, lalu dua cewek bernama Nadia dan Ferra, serta satu cowok pendiam bernama Yusuf yang sejak tadi hanya menunduk memainkan ponselnya.
"Oke, jadi besok jam empat kita harus udah punya progress," Kirana membuka pembicaraan, mencoba terdengar tegas meski dalam hati masih deg degan. "Kalian udah baca materi belum?"
"Aku udah baca sekilas," jawab Nadia.
"Aku belum sih, kemarin sibuk," Bagas nyengir tanpa rasa bersalah.
"Bagas, serius deh," Kirana menghela napas,
"kita cuma punya waktu sampe besok sore. Kalau kamu belum baca, kapan bakal ngerti materinya?"
"Iya iya, nanti malem aku baca," Bagas mengangkat kedua tangan, tanda menyerah.
"Sori, Kir, td malem ketiduran abis maen game."
"Ya udah, gimana kalau kita bagi tugas aja," usul Ferra. "Kirana sama Nadia yang cari data perusahaan, aku sama Bagas yang bikin kerangka analisis SWOT-nya, Yusuf bagian nyusun slide."
"Setuju," jawab Kirana cepat, lega ada yang mengusulkan pembagian tugas yang jelas.
"Yusuf, kamu oke kan bagian slide?"
Yusuf mengangguk singkat tanpa mendongak dari ponselnya. "Oke."
"Terus kita kumpul lagi malem ini via grup chat, biar bisa cek progress masing masing sebelum besok ketemu Pak Alden," lanjut Kirana.
"Wah, kamu udah kayak koordinator beneran ya," celetuk Bagas sambil terkekeh.
"Ya abis tadi udah kena semprot di depan kelas, masa aku diem aja," jawab Kirana setengah bercanda setengah kesal.
"Pokoknya besok kita harus keliatan udah ada progress, jangan sampe nol lagi kayak tadi."
"Siap, Bos," Bagas memberi hormat main main, membuat yang lain tertawa kecil.
Malam itu, Kirana sibuk membalas pesan di grup chat kelompok, memastikan semua anggota mengerjakan bagian masing masing. Sesekali dia melirik jam, menghitung berapa lama lagi sampai deadline yang dijanjikan Alden.
"Nad, data perusahaannya udah dapet belum?" ketik Kirana di grup.
"Udah, ntar aku share," balas Nadia cepat.
"Bagas, gimana kerangka SWOT-nya?"
"Lagi dikerjain, tenang aja," balas Bagas, disusul emoji jempol.
Kirana menghela napas lega, meski masih ada rasa cemas mengendap di dadanya. Bayangan wajah Alden yang tegas saat menegurnya tadi di kelas terus terngiang, membuatnya semakin bertekad supaya besok tidak mengecewakan lagi.
"Kenapa sih tadi aku sampe segitu takutnya," gumamnya sendiri sambil menatap layar ponsel. "Padahal biasanya kalau ditegur orang lain, aku nggak segini panik."
Dia menggeleng, mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai muncul lagi. Tapi entah kenapa, semakin dia mencoba tidak memikirkan Alden, semakin sering wajah tegas dosen itu muncul di kepalanya.
Keesokan sorenya, kelompok tiga berkumpul di ruang diskusi lantai dua, membawa laptop dan beberapa lembar catatan yang sudah mereka susun semalaman. Kirana duduk paling depan, jantungnya berdebar menunggu kedatangan Alden.
Tepat pukul empat, pintu ruang diskusi terbuka. Alden masuk dengan map di tangan, wajahnya seperti biasa datar dan sulit ditebak.
"Sudah siap?" tanyanya singkat, duduk di kursi yang tersedia di ujung meja.
"Sudah, Pak," jawab Kirana, suaranya lebih mantap dari kemarin. "Kami udah bagi tugas. Saya sama Nadia cari data perusahaan, Bagas sama Ferra bikin kerangka SWOT, Yusuf nyusun slide."
Alden mengangguk pelan, membuka laptop yang disodorkan Bagas, mengecek isi kerangka SWOT yang sudah dibuat. Matanya bergerak cepat membaca setiap poin.
"Analisisnya masih terlalu umum," katanya setelah beberapa saat, menunjuk salah satu poin di layar. "Kamu bilang kekuatan perusahaan ini di 'kualitas produk baik'. Baik itu gimana? Bandingkan sama kompetitor, kasih data konkret."
"Oh, iya, Pak, nanti kami perbaiki," jawab Ferra cepat, mencatat masukan itu di buku catatannya.
"Kirana," panggil Alden lagi, "data perusahaan yang kamu kumpulkan udah cukup lengkap. Tapi coba tambahin laporan keuangan tiga tahun terakhir, biar analisisnya lebih kuat."
"Baik, Pak, nanti saya cari lagi," jawab Kirana, mencatat cepat di bukunya.
"Progress hari ini lumayan," kata Alden akhirnya, menutup laptop dan mengembalikannya ke Bagas. "Lanjutkan sampai minggu depan. Saya harap nggak ada lagi yang datang tanpa persiapan kayak kemarin."
"Siap, Pak," jawab seluruh anggota kelompok serempak, nada suara mereka jauh lebih lega dibanding kemarin.
Sebelum keluar ruangan, Alden sempat melirik ke arah Kirana sekilas. "Kerja bagus hari ini."
Kirana terdiam, tidak menyangka akan mendengar pujian sesingkat itu dari dosen yang biasanya lebih banyak menyindir daripada memuji. "Terima kasih, Pak,"
jawabnya, mencoba menahan senyum yang tiba tiba muncul di bibirnya.
Begitu Alden keluar ruangan, Tesa yang kebetulan lewat dan mengintip dari jendela ruang diskusi langsung menghampiri Kirana dengan wajah penasaran.
"Eh, tadi aku denger Pak Alden muji kamu?" tanya Tesa, matanya berbinar jahil.
"Muji progress kelompok kali, bukan aku doang," Kirana buru buru meluruskan, meski pipinya mulai terasa hangat.
"Terserah deh, yang penting kamu keliatan seneng banget tuh," goda Tesa, membuat Kirana mendorong bahunya main main sambil tertawa kecil, mencoba menutupi debar aneh yang kembali muncul di dadanya.