Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 9- Tanggung jawab
Ep. 9- Tanggung jawab
TIT... TIT... TIT........... BEEEEEEEEEEEEEEEEEEP!
Satu tatanan jeritan terakhir lolos dari dada Rendra sebelum tubuhnya mendadak tegang dan melengkung kecil di atas meja operasi.
Sejurus kemudian, pegangan tangan Rendra pada jemari Kirana terlepas seketika. Tangannya jatuh terkulai tak berdaya di atas sisi meja operasi yang kaku dan dingin.
Layar monitor detak jantung di samping mereka mendadak berubah menjadi sebuah garis lurus. Suara nada datar yang memanjang melengking tanpa henti, seolah jadi pengumuman bahwa nyawa Rendra telah melayang pergi selamanya.
"Waktu kematian dicatat pada pukul nol dua lewat empat belas menit malam," ucap dokter bedah dengan suara berat dan penuh rasa duka, sambil melangkah mendekat untuk menutup kelopak mata Rendra yang masih terbuka.
Sementara Kirana, ia mematung di tempatnya berdiri. Pandangannya terkunci pada sosok tubuh Rendra yang kini terbujur kaku tak bernyawa di hadapannya.
"Mas...?" bisik Kirana pelan, seolah berharap pria itu hanya sedang bercanda atau tertidur. "Mas Rendra...?"
Namun tidak ada jawaban. Dada Rendra tak lagi naik dan turun. Wajah suaminya yang pucat kini membeku dalam ekspresi keputusasaan dan penyesalan yang abadi.
Seketika itu juga, pertahanan batin Kirana hancur berkeping-keping hingga tak tersisa. Ia merosot dan jatuh berlutut di atas lantai ruang operasi yang dingin, lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis sejadi-jadinya.
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Sebuah tangisan yang meluapkan seluruh badai emosi yang bertabrakan di dalam dadanya.
Ia menangis karena Rendra, pria yang paling dicintainya, pria yang telah menemani perjalanan hidupnya selama bertahun-tahun, kini telah pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Ia juga menangis karena bayangan masa depan Keisya yang kini harus tumbuh tanpa sosok seorang ayah.
Namun di atas semua itu, Kirana menangis karena beban dari pesan terakhir Rendra. Sebuah pesan yang terasa bagai belenggu besi yang diikatkan pada lehernya: “Tolong rawat Aura seperti merawat Keisya.”
Bagaimana mungkin ia bisa merawat dan mencintai anak dari wanita yang telah menghancurkan pernikahan dan kebahagiaannya dengan ketulusan yang sama seperti ia mencintai darah dagingnya sendiri? Bagaimanakah ia harus memandang wajah Aura setiap hari tanpa teringat pada pengkhianatan Rendra yang begitu memedihkan?
Di dalam ruang operasi yang dingin dan kaku itu, di bawah pendar lampu neon yang suram, Kirana menangis dalam kesendirian.
Suara tangisnya memantul di dinding-dinding ruangan dengan membawa luka, kepedihan, dan takdir baru yang harus dipikulnya di atas puing-puing kehidupannya yang telah hancur.
"Mas Rendra... 😭😭😭😭"
________
____________
Di ruang pemulasaraan jenazah, bau kapur barus dan cairan antiseptik berbaur pekat.
Kirana berdiri membeku di depan meja administrasi. Matanya yang sembap dan memerah menatap lembar-lembar kertas pemulasaraan dan penyerahan jenazah.
Di hadapannya, seorang petugas rumah sakit menyodorkan pena dengan raut wajah yang penuh empati dan rasa iba.
"Ibu Kirana, selain berkas penanganan Bapak Rendra, ini adalah berkas untuk almarhumah Ibu Ayu," ucap petugas itu pelan, seolah takut melukai perasaan Kirana yang sudah hancur.
"Karena dari pihak kepolisian tidak menemukan kontak keluarga lain dan Ibu adalah satu-satunya pihak keluarga yang berada di sini, kami membutuhkan persetujuan Ibu untuk pemulasaraan dan serah terima jenazah Ibu Ayu," lanjut petugas tersebut.
Kirana menatap nama Ayu yang tertulis di atas lembar kertas putih itu. Noda tinta hitam itu seolah menamparnya kembali pada kenyataan yang pahit.
Wanita yang selama ini menjadi bayangan dalam rumah tangganya, wanita yang telah merebut separuh perhatian dan kasih sayang suaminya, kini terbujur kaku tak bernyawa hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Ayu... kamu telah pergi," batin Kirana. "Aku tidak mengenali siapa keluargamu, dari mana asalmu... tapi kamu adalah ibu dari anak yang kini ada di tanganku."
Dengan tangan yang bergetar hebat dan air mata yang terus menetes tanpa henti, Kirana meremas pena di jemarinya.
Ia lalu membubuhkan tanda tangan di atas kertas tersebut. Sebuah tanda tangan yang tak hanya membebaskan jasad Ayu dari rumah sakit, tetapi juga mengikat takdir Kirana dengan masa depan anak wanita itu.
Proses pemulasaraan berlangsung dalam suasana yang penuh dengan kepedihan. Jasad Rendra dan Ayu dimandikan, dikafani, dan dimasukkan ke dalam keranda yang terpisah.
Sementara itu, di sudut ruang tunggu, Aura yang terlelap dalam balutan kain selimut tebal perlahan mulai bergerak. Anak kecil berusia dua tahun itu lalu terbangun dengan mata bulatnya yang masih memerah.
Ia mengucek matanya yang sembap, lalu menatap sekeliling ruangan asing bertembok serba putih itu dengan raut wajah yang bingung.
"Ibu...?" cicit Aura dengan suara serak khas anak kecil yang baru bangun tidur.
Ia memiringkan kepalanya, lalu matanya menangkap sosok Kirana yang berdiri di dekat pintu.
Meskipun Kirana bukan ibunya, kepolosan jiwa anak itu membuatnya merasa butuh perlindungan. Aura merangkak perlahan di atas kursi busa, lalu mengulurkan kedua tangan mungilnya ke arah Kirana.
"Ibu ana? Aula mau Ibu..." panggilnya dengan bibir yang melengkung ke bawah.
Langkah Kirana pun terhenti. Hatinya teriris mendengar panggilan itu. Rasa perih atas pengkhianatan Rendra dan rasa iba saling berbenturan di dalam hatinya. Namun, melihat betapa rapuh dan terasingnya bocah polos tersebut, naluri keibuannya menang.
Kirana mendekati Aura, merendahkan tubuhnya, lalu merengkuh tubuh kecil yang gemetar itu ke dalam pelukannya.
Kirana mendekap Aura dengan erat, hingga bisa merasakan detak jantung mungil anak itu yang tidak tau bahwa dunia tempatnya bersandar telah runtuh dalam semalam.
"Ssshh... Sabar ya..." Bisik Kirana.
Aura menyandarkan kepalanya di bahu Kirana, lalu meremas kain baju Kirana dengan jari-jari kecilnya yang hangat. Anak itu merasa aman dalam dekapan wanita yang sebenarnya paling berhak membencinya.
Hingga...
Menjelang pukul lima pagi, langit malam yang pekat perlahan berganti menjadi warna kelabu kebiruan. Dua mobil ambulans bergerak perlahan membelah keheningan jalanan kota yang masih sepi dan melaju menuju kediaman Kirana dan Rendra.
Di dalam rumah duka, suasana telah berubah total. Mbok Darmi telah merapikan ruang tamu atas petunjuk Kirana melalui telepon tadi dini hari.
Beberapa tetangga terdekat, ketua RT, serta pengurus masjid setempat sudah berkumpul di halaman rumah.
Karpet-karpet digelar, kain batik panjang dibentangkan, dan aroma bunga melati yang segar bercampur pilu mulai memenuhi udara.
Wiuu... wiuu... wiuuu...
Suara sirine ambulans yang dipadamkan saat memasuki komplek perumahan menandai tibanya rombongan jenazah. Mbok Darmi berlari ke depan pintu dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca.
Pintu mobil ambulans dibuka. Petugas dibantu oleh para tetangga menggotong dua keranda jenazah secara bergantian masuk ke dalam rumah. Tangis haru dan bisik-bisik prihatin pun langsung pecah di antara para tetangga yang hadir.
"Ya Allah... Pak Rendra..."
"Kasihan sekali Bu Kirana... bagaimana bisa kejadiannya tragis seperti ini?"
Lalu, Kirana turun dari mobil ambulans kedua sambil menggendong Aura yang tertidur lelap karena kelelahan.
Langkah kaki Kirana terasa sangat berat, seolah-olah ia menyeret seluruh beban dunia di atas pundaknya. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan melengkung hitam karena tidak tidur semalaman.
Mbok Darmi langsung menghampiri Kirana, lalu memeluk majikannya itu dengan isak tangis yang pecah. "Hiks hiks... Ibu... yang sabar ya, Bu... Ya Allah, Ibu..."
"Mbok..." bisik Kirana lirih. "Mas Rendra... sudah tidak ada, Mbok..."
"Iya, Bu... Mbok tau... Mbok tau..." usap Mbok Darmi pada punggung Kirana.
Namun, pandangan mata Mbok Darmi kemudian tertuju pada balita yang tertidur lelap di dalam pangkuan Kirana, yang seketika membuat wajahnya mengernyit bingung. "Bu... ini... anak siapa?"
Kirana menatap wajah Aura yang tenang dalam tidurnya. Kemudian matanya beralih menatap dua keranda yang kini disemayamkan sejajar di tengah ruang tamu rumahnya, rumah yang dulunya penuh dengan tawa dan kehangatan keluarga kecil mereka.
"Ini Aura, Mbok... Anak yang harus aku jaga sekarang."
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗