NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:364.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Sandrila Patilima

"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"


Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.

Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.

Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.



Genre : Romantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Aku Menyerah

AKU MENYERAH

Hari berganti hari, tibalah di mana sang waktu membawaku pada keadaan yang tak ingin kulalui. Jika waktu bisa kuatur, aku akan men-setting-nya untuk melewati hari ini. Hari di mana aku mau tak mau harus berbagi ranjang dengan perempuan lain.

Memakai setelan jazz berwarna silver dengan sepatu pantofel berwarna hitam pekat, membuat mas Galih terlihat begitu menawan. Di sampingnya duduk seorang perempuan dengan gaun berwarna senada dengan mas Galih pakai, ia terlihat begitu anggun dan mempesona.

Sebisa mungkin kubendung bulir bening yang secara perlahan menggenangi pelupuk mata agar tak jatuh dan menganak sungai di pipi yang sudah kupoles sempurna dengan make up tipis.

Terasa tanganku digenggam keras oleh Fatih. Kulirik sejenak ia tampak nanar. Aku balas genggaman tangannya, tanda memberikan kekuatan untuk tetap bersabar.

Senyuman merekah terlukis dari bibir kedua pasangan pengantin yang sedang bersanding di atas altar pernikahan. Diiringi dengan senandung lagu yang dilantunkan oleh artis lokal yang membawa nuansa kebahagiaan di dalam ruangan.

Tamu-tamu undangan mulai menyalami kedua insan yang kini tengah berada di atas awan kebahagiaan.

Aku dan Fatih sama-sama menguatkan hati. Genggaman kami semakin erat saat aku putuskan untuk menemui Mas Galih dan Amira.

"Selamat yah mas, atas pernikahannya, semoga kau bahagia bersamanya," ucapku dengan senyum ikhlas dan ceria serta tak lupa menciumi punggung tangan suami yang kini bersanding dengan perempuan lain meski hati begitu teriris. Walau bagaimanapun ia masih berstatus sebagai suamiku, sehingga aku harus tetap bersikap baik padanya demi Ridho sang ilahi.

"Aku pulang duluan. Untuk menyiapkan segala sesuatunya di rumah, demi menyambut kedatangan kalian." Senyum bahagia aku lemparkan pada mereka dan berlalu pergi meninggalkan mereka.

Mas Galih tidak sedikitpun mengikuti kemana arahku berjalan. Ia terlihat begitu bahagia sambil memandang Amira, wanita yang tengah bersanding dengannya itu.

Benar-benar sudah tak ada lagi ruang cinta di hati mas Galih untukku. Semuanya telah terisi penuh oleh Amira yang saat ini juga telah sah menjadi istrinya.

💔💔💔

Satu jam perjalanan kami tempuh dari gedung pernikahan menuju rumah yang kami bangun bersama. Dari yang hanya berdinding bambu sampai menjadi hunian yang megah bak istana berukuran sedang. Berdua kami berjuang dari yang miskin materi hingga berlimpah-limpah materi.

Pahit getirnya hidup kami nikmati bersama. Jika dulu makan yang hanya bisa sepiring berdua sampai bisa berpiring-piring berdua. Tak ayal onak dan duri menancap di hati, sampai membuat pincang salah satunya, tapi yang satunya dengan sigap menggendong yang tengah pincang. Akan tetapi kini semuanya telah berubah, harta merubah segala keadaan.

Huufft....

💔💔💔

Perlahan aku berjalan menyusuri setiap sudut halaman rumah yang empat belas tahun ku tinggali. Sedih rasanya jika harus berpisah, tapi aku harus melanjutkan hidupku, bukan terpaku pada seseorang yang bahkan tak peduli lagi denganku.

"Fatih, bantu ummi yah," cecarku pada Fatih yang dibalas anggukan olehnya tanda mengerti apa yang harus ia lakukan.

Pintu terbuka dari dalam, di sana sudah ada mbok Darmi menunggukku dengan berurai air mata. Aku berlari dan menghamburkan diri dalam pelukannya. Kutumpahkan segala pedih yang terpendam dalam batin.

"Kuatkan aku mbok, kuatkan aku," sahutku pada wanita yang tengah terisak itu.

"Sabar nduk, semua akan ada hikmahnya jika neng mampu bersabar, istigfar neng, istighfar!" Mbok Darmi semakin tak dapat menahan isakan-nya. Dipeluknya tubuhku erat-erat.

Dua hari lalu, Mbok Darmi sengaja disuruh Mbak Brenda untuk sekedar membantu segala kebutuhanku di rumah. Karena saat itu aku harus benar-benar istirahat penuh untuk menjaga kesehatan kandunganku.

"Neng, ayuk masuk, kita persiapkan segalanya. Sudah jangan nangis lagi, serahkan segala keputusan takdir pada Gusti Allah!" Cercah Mbok Darmi sambil mengusap puncak kepalaku.

"Iyah Mbok," jawabku dengan mengikuti Mbok Darmi masuk ke dalam rumah.

Kami mulai melakukan aktivitas untuk menyambut kedatangan mas Galih dan istri barunya. Dari merias kamar pengantin yang dulunya itu adalah kamarku dan mas Galih, mengatur pakaian Amira di lemari yang dulunya ada pakaianku di situ, dll.

Sementara di dapur Mbok Darmi sedang menyibukkan diri memasak makanan yang khusus dipersiapkan untuk pengantin baru yang sedang berbunga-bunga.

💔💔💔

Lima belas menit berlalu, terasa semuanya sudah sempurna. Makanan yang sudah teratur rapi di meja yang kami buat khusus untuk dua orang saja dengan bunga mawar merah yang bermekaran indah sebagai penghiasnya. Kamar pengantin yang ditaburi banyak bunga mawar di atas tempat tidur dengan alas warna putih cerah.

Sempurna sudah!

Aku tersenyum kecil, bukan karena bahagia tapi karena kurasa air mata telah kering untuk mengekspresikan kesedihanku. Waktunya aku pergi, meninggalkan segala kenangan indah di rumah ini. Di depan Fatih sudah siap dengan koper besar yang berisi segala sesuatu miliknya dan adik-adiknya.

"Ayuk neng, kita pergi," kata Mbok Darmi sambil menggiring koper merah maroon milikku.

"Iyah mbok," jawabku sambil menggenggam tangan Fatih dan berlenggang pergi meninggalkan istanah yang menjadi saksi perjalanan cintaku dan mas Galih.

💔💔💔

Kini aku telah berada di depan pagar rumah mewah milik Mbak Brenda. Di pelataran rumah terlihat berdiri Mbak Brenda bersama dokter Hafizh adiknya yang sedang bermain-main bersama Syafiq yang menggelayut manja dalam pelukannya sementara di bawah Syamil hendak merengek minta dipeluk olehnya.

Aku berjalan lunglai dengan tatapan kosong. Dengan langkah tertatih aku langkahkan kaki yang kurasa tak bertulang lagi.

Pikiranku melayang jauh pada mas Galih. Sungguh aku masih mencintai lelaki yang sudah empat belas tahun bersamaku itu. Tapi cinta bukan segalanya, aku juga berhak bahagia demi kelangsungan hidup anak-anakku.

Kurasa dunia mulai berputar, pandanganku mulai kabur, aku terhenti sejenak dan berjalan gontai. Dokter Hafizh dan Mbak Brenda segera berlari kearahku yang sedang ditahan Fatih agar tak jatuh. Dan byaaaar, semua menghitam tanpa cahaya.

Samar-samar aku bisa mendengar suara-suara khawatir dari orang-orang di sampingku, tapi aku benar-benar tak berdaya, badanku lemas. Kurasa tubuhku mulai terangkat, seperti digendong oleh seseorang.

"Ya Allah neng, kok bisa begini neng." Suara tangis dari seseorang yang kutahu itu adalah Mbok Darmi.

"Dek, bangun sayang, sadar sayang jangan lemah, masih ada kami keluargamu yang menyayangimu." Terdengar suara mbak Brenda dengan isakan tangis.

"Ummi, jangan tinggalin Fatih ummi." Menyusul suara tangis anak sulungku Fatih.

Gendongan ini terasa hangat kurasa, entah siapa yang sedang menggendongku, aku berusaha membuka mataku, sedikit samar-samar terlihat pria tampan dengan guratan wajah khawatir melihat tepat kearahku sebelum semuanya benar-benar hening.

💔💔💔

Rasa dingin di badan mulai hilang berganti hangat. Dari yang tadinya hening kini mulai ramai dengan bunyi-bunyi pohon yang saling bergesekan karena tiaupan angin. Mata masih tertutup tapi telinga mulai berfungsi lagi. Tubuh yang tadinya terasa lemah, kini bisa sedikit bergerak.

Mataku terbuka pelan, dengan posisi tidur miring ke kiri pandanganku tertuju pada seorang pria yang sedang melantunkan pelan ayat suci Alquran dari muhsaf kecil berwarna Dongker di tangannya dan di sebelahnya anakku Fatih juga melakukan hal yang sama.

"Fatih." Panggilku sedikit pelan karena tenaga yang masih agak lemas.

Keduanya spontan mengarahkan pandangannya kepadaku.

"Ummi," sahut Fatih dan bergegas lari kearahku.

"Alhamdulillah, kau sudah sadar Mbak," cercah Dr. Hafizh seraya berteriak memanggil Mbak Brenda dan Mbok Darmi.

"Saya periksa dulu kondisinya yah mbak, maaf. Bismillah." Dengan tangan sedikit bergetar, dokter Hafizh mulai memeriksa pergelangan tanganku.

"Bagaimana kondisi Rianti, Than?" Sahut Mbak Brenda yang berangsur masuk ke dalam kamar.

"Alhamdulillah semuanya sudah baik-baik Mbak."

"Oh puji Tuhan, baguslah kau sudah sehat dek, Mbak khawatir kamu kenapa-kenapa. Jangan stres lagi dek, nggak kasihan kamu sama dede kembar yang ada di perut? Sudah lupain aja sih Galih tak berperasaan itu dek. Kamu masih muda, masih cantik, masih pantas dapat yang lebih dari Galih!" Jawab Mbak Brenda sembari duduk di sampingku.

Aku terpaku membisu mendengar kata-kata Mbak Brenda. Sejenak berpikir tentang keputusan yang kuambil. Entah benar atau salah, aku tak tau. Yang ku tau, perceraian itu halal tapi sangat dibenci Allah. Namun aku juga teringat kata-kata seorang ustadz, jika lebih banyak mudharatnya maka lebih baik tinggalkan.

"Sudahlah Rianti, pikirkan keadaan fisikologis anak-anakmu jika terus berada dalam lingkungan seperti itu. Apalagi Galih sudah tak peduli pada kalian, buktinya sampai sekarang ia tidak ada mencari kabar tentangmu dan anak-anak," sambung mbak Brenda.

"Iyah Mbak, aku mengerti, tapi tak mudah menghapus rasa cinta yang sudah tumbuh besar di dalam hati ini." Aku mendesah, semata mengeluarkan beban di dalam dada.

"Memang tak mudah Rianti, tapi jika kau berusaha hapus segala kenangan tentangnya, maka kau pasti bisa melupakannya." Kali ini dokter Hafizh menimpali.

Mataku sempat beradu pandang dengan dokter Hafizh. Sepertinya ada sesuatu di mata dokter Hafizh ketika memberikan nasihat padaku. Tatapan kekecewaan yang seperti pernah ia alami.

"Benar kata Jonathan, kau pasti bisa melupakannya. Pelan-pelan saja Rianti," sambung Mbak Brenda.

"Jonathan?" Tanyaku dengan keheranan.

"Iyah, jadi dulu sebelum saya mualaf, nama saya Jonathan Prasetya, tapi setelah mualaf saya menggantinya menjadi Muhammad Hafizh Prasetya," jawab dokter Hafizh.

"Iyah Rianti, namun Mbak sudah terbiasa dengan memanggilnya Jonathan, jadi Mbak panggil dia begitu terus, walau kadang dia bilang namanya Hafizh, tapi kujawab kamu tetap Jonathanku." Mbak Brenda terkekeh. Aku pun tersenyum melihat tingkah kedua kakak beradik itu.

"Ayuk, makan siang dulu, Mbok sudah masak enak, dan sudah mbok siapin di meja makan," celah Mbok Darmi di tengah-tengah percakapan kami.

"Iyah Mbok." Semua orang yang berada di kamar menyahuti Mbok Darmi.

Sebelum keluar menuju meja makan, aku mengambil gawaiku untuk sekedar mengirim sebuah pesan pada mas Galih. Pesan perpisahan untuknya, dan memintanya untuk segera mengurus perceraian setelah bayi ini lahir.

Benar kata dokter Hafizh, jika aku berusaha melupakannya maka kedepannya aku pasti bisa hidup tanpa Mas Galih. Aku perlu bahagia agar anak-anak hidup dan tumbuh dengan kebahagiaan, meski tanpa Abi mereka lagi.

Bersambung...

1
Maritza Hanan
asik gerah juga akunya🙊🙊
Nuraini Nuraini
ayo lanjut ko lama
Senja🌻
semangat ❤️ ditunggu feedback nya kk ♥️
Senja🌻
semangat ❤️
Ishiba Aoi
semangat thor!
Khai Rudin
gila parah banget aku nangis dan meleleh terus air mataku
Ishiba Aoi
semangat thor! next
Ishiba Aoi
semangat thor!
vi
knp ga ada lanjutannya ???
Baca Aja
kenapa thor ngga lanjut?
Baca Aja
ini pindah atau bagaimana ?
Baca Aja
seprrtinya kira harus kasih vote rame rame biar lanjut
Baca Aja
smg semua sehat ya thor ..bisa lanjut ceritanya... suka nih ma novel beda dari y lain. sarat makna..
Baca Aja
seneng ni novel banyak hikmah.. ingin belajar mrnulis tlg di bimbing ya
Baca Aja
puaa bisa, nampar galih....
Endang Purwati
wweeuuhhh.....26 M itu tas harganya...
Endang Purwati
sungguh...rahasia Alloh memang tidak ada yg pernah bisa menebak...

dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...

karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....

banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...

keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...

lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
Endang Purwati
dan terima kasih author...sudah menghibur kami para readers dengn cerita indah ini...

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
A͙y͙u͙💖DA
kok g d lanjut kan kk
Endang Purwati
gak mau komentar...lagi osi saya sama suami Rianti...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!