NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Perkara Pegangan

Saat Nara tiba di warung, Sagara tengah berbincang intens dengan sang ibu di balik etalase. Tidak hanya itu, pria itu juga sigap membantu ibunya melayani pembeli yang datang silih berganti.

Mata Nara memicing, menatap curiga pada pria berandal yang kini mengikat rambut gondrongnya dengan karet pembungkus nasi. Apa yang tengah mereka bicarakan?

"Nara, sini ..." panggil Ratna tak kala melihat kedatangan anak gadisnya.

Nara semakin curiga saja, tetapi tak urung ia tetap menghampiri wanita yang telah melahirkannya itu. "Iya, Bu. Ada apa?" tanyanya ketika sampai di hadapan sang ibu.

"Ini, Nak Sagara cerita sama Ibu alasannya datang ke desa kita." Nara menaikkan salah satu alis, mendengar kalimat pembuka ibunya. "Dia mau bertemu dengan Pak Bagja, meminta tolong kamu untuk mengantarkannya. Nomor Pak Bagja masih belum bisa dihubungi sama Nak Saga. Jadi, lebih baik ke rumahnya saja langsung," lanjut Ratna yang membuat mata anak gadisnya seketika melebar.

"Kenapa harus aku?" tanyanya dengan kebiasaan menunjuk pada diri sendiri. "Kenapa tidak meminta tolong pada yang lain? Dani, misalnya," ceplos gadis itu tak kala matanya menangkap kedatangan Dani dan yang lainnya.

"Ih, kamu ini! Mana bisa meminta tolong pada Dani, diakan masuk kerja hari ini. Lagi pula, kamu 'kan selalu luang. Dan Nak Saga juga bilang lebih nyaman pergi dengan seseorang yang sudah cukup ia kenal," jelas Ratna memberi pengertian pada anaknya itu.

"Idih, mana ada kenal, Bu? Ketemu aja baru kemarin sore," bantahnya.

Ratna menggeleng, sekaligus tersenyum simpul. Mengundang decak pertanyaan dari anaknya, "Loh, kok Ibu malah senyum?"

"Sadar atau tidak sadar, semenjak Nak Saga datang. Kamu tampak lebih ekspresif, dari pas mu datang, wajah kamu datarrrr terus. Ibu mau tanya karena khawatir, tapi takut bikin kamu ndak nyaman," ujar Ratna membuat anaknya itu sontak terdiam, berdiri membeku. Ia baru menyadari akan tingkah lakunya yang secara tidak langsung membuat ibunya khawatir.

"Maaf, Bu. Nara ndak bermaksud bikin Ibu khawatir." Nara menundukkan kepala. "Tapi Ibu salah paham, dia itu bukan bikin Nara ekspresif. Tapi yang ada malah bikin emosi, lihat mukanya aja Nara udah geram!" gumam gadis itu tertahan.

Sagara tampak melongo, lalu tertawa kemudian. "Awas, jangan terlalu benci. Nanti jadi benar-benar cinta, loh," lugasnya, menaik-turunkan alisnya.

Nara mendelik. "Idih, kamu aja kali!" ketusnya.

Ratna ikut tertawa, "Sama bakwannya, jadi 35 ribu, ya," katanya, kembali fokus pada pelanggannya.

"Saya belum tahu jalan di sini. Jadi minta tolong, ya, temani saya. Sekalian ke rumah Pak RT untuk melapor kedatangan saya." Pinta Sagara secara langsung pada Nara, setelah meminta ijin pada ibunya untuk membawa anak gadisnya.

"Memangnya Ibu ndak papa kalau sendirian di warung?" tanya Nara pada ibunya sebelum menjawab pertanyaan pria itu.

"Iya, ndak papa. Kamu temani dulu, Nak Saga."

"Makasih, Bu. Nanti pulangnya biar Saga yang bantu cuci piringnya," ujar pria itu dengan sungguh-sungguh.

"Benar, ya?!" tanya Nara dengan jari menuding. Sagara segera mengangguk mantap, ia bukan orang yang tidak tahu terima kasih. "Oke, ku tagih janjimu nanti," pungkas gadis itu.

"Naaraaa," Ratna berkacak pinggang. "Tidak, Nak Saga. Tidak perlu, apa yang dikatakan Nara tidak usah kamu dengar. Dia hanya bercanda."

"Tapi saya serius, Bu," ujar pria itu dengan wajah yang menunjukkan keseriusan.

Ratna menghela napas, tidak bisa berdebat dengan kaum muda. "Baiklah, kalau begitu." Ia mengalah. "Tapi sebelum kalian pergi, sarapan dulu. Nara, ambilkan untuk Nak Saga. Kamu juga, tadi belum sempat sarapan kan?" ingatnya.

Nara mengangguk tanpa protes. "Mau lauk apa?" tanyanya pada Sagara.

Sagara melihat banyak pilihan menu di etalase, tangannya terulur secara refleks memilih menu kesukaannya. "Ayam goreng, sayur sop, sambalnya sambal bawang, sama bakwannya satu aja."

Nara berdehem, mengambil satu-persatu menu yang diminta pria itu.

"Sambalnya bisa tambah lagi satu sendok?" pintanya, greget melihat Nara yang memasukkan sedikit ke piringnya.

"Heh, cabe sama bawang lagi mahal. Kamu bayar lebih ya," kata Nara yang langsung mendapatkan teguran lagi dari ibunya.

"Iya, kalau begitu tambah lagi dua sendok."

Nara mendelik. "Ngelunjak," gumamnya dengan suara lirih, tanpa didengar oleh siapapun.

***

Sagara memeriksa motornya, memastikan semuanya baik-baik sebelum ia berangkat ke rumah Pak RT lalu ke rumah Pak Bagja bersama dengan Nara.

Nara sendiri menunggu di warung ibunya, gadis itu tidak beranjak sama sekali selesai ia makan.

"Kamu ndak ganti baju dulu, Nak?" tegur ibunya melihat anaknya yang mengenakan baju kaos dan celana training longgar.

"Malas, Bu. Lagi pula hanya di sekitar sini aja 'kan?" jawabnya.

Ibunya menghela napas seraya menggeleng. Soal penampilan, anaknya ini memang cuek, tidak peduli. Padahal, tren pakaian kekinian nan modis tengah digandrungi kalangan gadis desa.

Tidak lama kemudian Sagara datang dengan motornya, mengajak gadis itu untuk naik.

"Nggak pake helm?" tanya Nara ketika pria itu datang tampa membawa helm untuknya maupun dirinya.

"Nggak usah, nggak ada razia 'kan?" katanya enteng. Nara mengangguk setuju akan kesesatan itu.

"Kita pergi dulu ya, Bu," pamit keduanya hampir bersamaan.

Ratna mengangguk, keningnya sedikit mengernyit melihat outfit keduanya yang hampir satu tema. Sama-sama serampangan. Nara dengan kaos dan celana trainingnya, Sagara pun demikian. Rambut keduanya juga dicepol asal dengan karet gelang. Hanya saja yang menjadi pembeda, Sagara mengenakan jaket.

Motor hitam klasik dengan sentuhan modern milik Sagara melaju menyusuri gang, meninggalkan halaman rumah Nara.

"Ini gimana konsepnya, nggak ada besi buat pegangan di bagian belakang? Keliatannya aja yang keren ni motor, aslinya lebih nyaman motorku. Kenapa kita tidak pakai motor ku saja?" oceh Nara yang tangannya luntang-lantung bingung ingin berpegang pada apa untuk menjaga keseimbangannya. Mana jalanan desa yang berbatu, membuat ia takut jatuh dan terjungkal ke semak-semak belukar pinggir jalan.

"Enak saja, lebih nyaman motor ku, lah. Kamu tidak rasain jok nya yang empuk, nyaman, jalannya juga tenang walau di jalan berbatu?" Sagara tentu tidak terima motor harga ratusan jutanya di samakan dengan motor matic puluhan juta.

"Tapi ini nggak ada pegangannya? Kalau aku jatuh gimana? Terus lecet! Kamu mau tanggu jawab?!" keluh Nara tepat di samping telinga Sagara yang membuat telinga pria itu seketika berdenging.

"Ini ni, definisi menyusahkan hidup sendiri dan orang lain ikut terseret. Perkara pegangan saja harus diributkan!" Sagara menghentikan motonya sejenak, lalu dengan tangkas menarik kedua tangan Nara untuk memeluk pinggangnya.

Mata Nara seketika terbuka lebar. Sebelum ia sempat bereaksi, Sagara sudah mengunci kedua tangannya dengan salah satu tangan besar pria itu, sedang satu tangannya yang lain mulai menjalankan motor kembali. Menunjukkan bakat terpendamnya akan kelihaiannya dalam mengendarai motor.

"Kan beres?!"

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!