Suatu hari nanti, anganmu akan menjadi nyata, mimpimu akan terwujud, dan do’amu akan terkabul.
Liliana Pramesti, seorang gadis yatim piatu yang hidup dalam sebuah kemiskinan, menjadi tulang punggung bagi adik semata wayangnya yang menderita penyakit down syndrom, tentu saja adalah hal sulit baginya.
Namun, kerasnya hidup, tidak lantas menyurutkan keyakinan dan perjuangannya untuk tetap bertahan.
Hingga ... suatu hari, dia terpaksa harus menikah dengan cinta pertamanya sedari kecil, semenjak itu, dunianya berubah, jungkir balik, kedamaiannya terenggut begitu saja.
“Bang Ilham itu, seperti batu, dan aku seperti air, batu dan air bisa hidup berdampingan, meski batu memang memiliki karakter yang keras, dan air memiliki karakter yang lembut, namun tidak tersentuh. Tapi suatu hari nanti ... air mampu menghancurkan batu”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Neng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran Lihat Aku!
Yaasiin ... Wal-quranilhakiim ... “
Sayup terdengar suara warga melantunkan ayat-ayat suci al-quran. Jenazah Ibu di tutupi oleh kain lusuh yang kami miliki.
“Ibu!!” Kak Maman datang tergesa,
“Ibu kenapa??” Kak Maman bersimpuh memeluk jasad Ibu.
“Lia, Ibu kenapa Lia??” Kak Maman memelukku erat.
“Ibu sudah tidak ada Kak“ jawabku di iringi isak tangis yang sudah tak terbendung lagi.
“A apa??” Kak Maman terbelalak, seketika tubuhnya melemah tak berdaya.
“Kita harus sabar Lia“ Kak Maman memelukku erat, aku tahu, Kak Maman juga sebenarnya tidak kuat menghadapi kenyataan ini, tapi Kak Maman terus berusaha menguatkan aku dan Irfan, kami bertiga berpelukan.
“Kakak sekarang kita sudah tidak punya Bapak dan Ibu lagi“ ratapku, Kak Maman semakin erat memelukku.
“Lia ... !!“ seru suara seorang perempuan yang sudah kukenal, membuat aku menoleh pada sumber suara.
“Bu Fatimah!!” Aku berdiri kemudian memeluknya.
“Yang sabar ya Lia“ Bu Fatimah memelukku erat, sekelebat aku melihat Bang Ilham tengah menatapku pilu.
“Kalau ada apa-apa, Lia bisa minta tolong Ibu“ pinta Bu Fatimah berbisik di telingaku, aku mengangguk.
“Iya Bu terimakasih“ jawabku sambil menyeka air mata yang tak berhenti luruh di pipiku.
Bu Fatimah duduk di hadapan jenazah Ibu, “Bu Asih, yang tenang di sana ya, saya janji, saya akan menjaga Lia“ bisik Bu Fatimah di telinga Ibu.
Tangisku kian pecah, kala melihat jenazah Ibu di gotong warga dengan menggunakan keranda, sebagai kendaraan terakhir Ibu.
“Ibuuuu!!“ Aku memanggil nama Ibu lagi, tapi sia-sia, mereka tetap membawa jenazah Ibu, menuju peristirahatan terakhirnya.
“Sudah Lia“ Bu Fatimah memelukku lagi.
Tiba di pemakaman aku melihat jasad Ibu di kebumikan, untuk terakhir kalinya aku menatap jasad Ibu, Ibu yang telah melahirkan aku, Ibu yang telah merawatku, membesarkan aku, dan mendidikku dengan segenap cintanya. Di tengah keadaan ekonomi keluarga yang memilukan.
Aku kembali terisak, kala mengingat setiap kenangan indah bersama Ibu, setiap pagi Ibu bangun menyiapkan segala kebutuhan kami, setelah selesai Ibu pergi kerumah Ibu Fatimah untuk menjadi buruh cuci gosok, uangnya Ibu gunakan untuk menunjang kehidupan kami. Ibu adalah malaikat tak bersayap yang di kirim Allah untuk kami.
“Ibu, Ibu yang tenang ya, Lia janji, Lia akan jadi anak yang baik, Lia akan jaga Irfan juga seperti yang sering Ibu bilang“ aku menangis terisak di hadapan kuburan Ibu.
“Lia sudah, ayo pulang“ Bu Fatimah merengkuh tubuhku.
“Tidak, Lia ingin bersama Ibu“ Aku terduduk di tanah.
“Lia, hidup dan mati itu sudah di tentukan Allah, Lia tidak bisa begini, kalau Lia begini terus, nanti Bu Asih pasti sedih“ Bu Fatimah menasihatiku, sambil tetap mengelus pundakku dengan lembut.
“Lia, kamu tenang ya, kamu masih punya Kakak“ Kak Maman merengkuh tubuhku, dengan Irfan dalam gendongannya.
“Lia ... “ pangeranku menjulurkan tangannya, dia menatapku dengan tatapan iba.
Aku menatapnya “Bang Ilham“
“Hmh ... ayo bangun, kita pulang“ Bang Ilham menjulurkan tangannya padaku, aku menerima juluran tangan pangeranku, aku begitu terharu, ternyata dia begitu peduli padaku.
“Lia!!!” Sisil datang terengah-engah, Bang Ilham menghempaskan tanganku seketika.
“Lia, maaf aku baru datang“ Sisil memelukku erat, menunjukkan rasa simpatiknya padaku.
“Iya, gak apa-apa Sisil“ jawabku, sambil kembali mengusap air mataku.
“Yang sabar ya Lia, tenang Lia masih punya aku“ Sisil mengusap dadanya, aku tersenyum, kemudian kami berjalan beriringan menuju rumah.
***
“Kakak, sekarang kita hanya tinggal bertiga, Lia tidak punya siapa-siapa lagi, selain Kakak dan Irfan“ ucapku dalam sebuah isakan.
“Lia, tenang ya, Kakak janji, Kakak akan jadi Kakak sekaligus Ayah yang baik buat Lia dan Irfan“ tegas Kak Maman.
“Makasih Kakak, Lia janji, Lia akan jadi adik yang baik buat Kakak“ Aku memeluk Kakakku erat, kini hanya Kakak yang bisa ku andalkan, hanya Kakak tempatku berlindung dan berkeluh kesah.
Malam hari tiba, aku sungguh tak bisa memejamkan mataku, segala bayangan tentang Ibu dan Bapak bermunculan, aku sungguh merindukan mereka. Ku peluk foto keluarga kami, hingga aku terlelap dengan sendirinya.
Subuh, aku terbangun, segera aku bergegas wudhu, lalu menunaikan shalat dua rakaat, setelahnya aku kembali menunaikan aktifitas ibu rumah tangga. Memasak, mencuci pakaian, mencuci piring, memandikan Irfan. Setelah selesai aku baru berangkat sekolah.
“Kak, Lia berangkat sekolah dulu ya“ pamitku pada Kak Maman.
“Iya Lia, hati hati di jalan ya, oh iya, Lia kenapa sepatumu??” tanya kak Maman sambil menatap kakiku penuh rasa iba.
“Eemmhhh“ Aku tak menjawabnya, aku tak ingin membebani Kakak dengan masalah yang lainnya. Sejauh ini keluarga kami sudah terlalu banyak dirundung duka. Tak mungkin jika aku masih harus menambahkannya.
“Gak apa-apa, nanti Kakak belikan sepatu baru buat Lia yah“ Kak Maman tersenyum padaku.
“Iya Kak, makasih, aku pergi dulu ya Kak“ Aku mencium tangan kak Maman, lalu berjalan melewati jalan setapak untuk menuju ke Sekolah, yah ... aku terpaksa harus berjalan dengan memotong jalan, melewati jalanan setapak. Aku tidak ingin ada banyak orang yang melihat sepatuku yang jebol.
Tiba di gerbang sekolah, lagi-lagi aku hampir saja kesiangan, lima menit lagi waktu masuk kelas tiba, aku berlari terengah-engah, tanpa sadar sepatuku sudah hampir putus semua.
Tttiiidddiiidddd ...
“Aduh!!” Aku tercekat kaget, kala menyadari sepeda motor yang baru memasuki tempat parkir baru saja tiba.
“Hay Lia“ Sisil turun dari motor bang Ilham.
“Hay ... “ jawabku melambaikan tangan, lesu melihat mereka datang bersama.
“Yuk masuk kelas,“ Sisil menggandeng tanganku.
“Iya,“ jawabku mengikuti langkah Sisil, sementara wajahku masih melihat kearah belakang, aku ingin melihat pangeranku pagi ini. Terlihat Bang Ilham tengah memarkirkan motornya.
“Hay pangeran lihat aku!!” teriakku dalam hati. Tapi Bang Ilham masih tak bergeming, dia masih fokus pada motornya.
“Lia cepetan, kita kesiangan!” teriak Sisil masih menarik tanganku tergesa-gesa.
“Ah, iya“ Aku terus mengikuti langkah Sisil hingga kami tiba di depan kelas, dan masuk kedalamnya.
Bersambung ...............
next???
Selamat tanggal 1 Januari 2022
semoga lebih baik lagi.
Terimakasih untuk dukunganny ya kakak readers 😘😘😘
Sayang readers banyak-banyak 😘😘😘
jujur saya lbh suka cerita yg real life drpd yg haluu....
semua cerita teteh bagus2 kok. semangat terus ya teh....🥰🥰🥰🥰
Sehat terus tetehku, terus lah berkarya. Love you 🤗🤗🤗
semangat berkarya Teteh, ttp sehat & bahagia, maafin para readers yg suka komplen ky netizen😌
tapi percayalah, aku menikmati cerita Lia yg bnyk bgt beri pelajaran bt kita. makasih Teteh🤗
...