COOL BOY GUS FASHAN
🌸SEASON DUA DARI USTADZ MUDA ITU SUAMIKU🌸
Seorang pria gagah, tampan, pemalu dan dingin. Sangat menyayangi keluarganya. Seorang pria berumur 25 tahun, Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi. Si sulung dari 4 bersaudara.
Kisah cintanya tak berlangsung mulus, apalagi saat dia dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun, walaupun begitu. Dia adalah pria yang taat agama dan Sholeh. Menginginkan pasangan terbaik, bahkan keislamannya pun sangat berharga untuk nya. Gus Fashan adalah seorang pebisnis muda, guru dan pengurus pesantren keluarganya Al Bidayah. Karena kejadian malam itu, setelah yakin dengan sholat istikharah. Dia menikahi seorang gadis yang memiliki sifat tidak jauh-jauh darinya, dingin, cuek, galak dsn ketus. Gus Fashan berusaha menjadi sosok yang baik untuk istrinya tercinta Raihanah Sufu Embrace, 22 tahun, santriwati baru di pesantren. Gus Fashan berusaha menjadi pencair suasana, jika dia masih bersikukuh dengan sikap cueknya, entah bagaimana rumah tangga nya dengan Raihanah. Gus Fashan akan terus berusaha mendapatkan penerimaan yang ikhlas dari istrinya, walaupun sulit dan memerlukan waktu. Akankah si ketus Raihanah luluh? kita simak kisahnya..
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Santriwati baru
Faiza terus menangis sesenggukan, Gus Fashan dan Fara pulang. Keduanya bingung melihat Faiza menangis.
”Kenapa neng?” tanya Gus Fashan santai.
”Aa, dompet aku hilang hiks....” Adu Faiza dan terus menangis. Fara mendekat dan mengusap bahu kakaknya itu.
”Teteh kecopetan?” tanya Fara dan Faiza mengangguk. Gus Fashan mendekat dan duduk, Faiza langsung memeluk kakaknya itu erat dan menangis di dada besar Gus Fashan.
”Yang penting kamu gak apa-apa, jangan nangis. Berisik” ujar Gus Fashan dan tangisan Faiza semakin menjadi-jadi.
”Abang ih, orang lagi sedih juga” protes Fara dan Gus Fashan menaikkan kedua alisnya.
”Ktp, surat-surat penting kan di dompet semua. Uang nya 300rb disana hiks....” Faiza sangat sedih. Gus Fashan terus memeluknya erat.
”Cup cup anak jelek” ucap Gus Fashan dan Faiza memukul dadanya.
”Jahat” maki Faiza dan Gus Fashan tersenyum.” Aku bilangin sama abi” ancamnya tidak main-main dan Gus Fashan tidak perduli. Setelah Faiza tenang, Gus Fashan memintanya untuk beristirahat dan Fara menemaninya. Gus Fashan pergi menuju ke kantor pusat pesantren, sesampainya di sana dia langsung memperhatikan seorang wanita paruh baya dan seorang gadis.
”Jadi namanya Raihanah, gak ada yang terlambat untuk belajar. Kami akan membantu, saya guru disini. Semua orang memanggil saya Ustadzah Syifa. Silahkan di isi formulirnya dulu” tutur Syifa, nenek Riska tersenyum ramah dan Raihanah tidak mau.
”Nenek aku mau pulang” rengek Raihanah. Syifa diam memperhatikan, Gus Fashan memilih keluar sebelum Raihanah sadar jika itu dirinya.
”Rai, ini untuk kebaikan kamu neng" ujar nenek dan Raihanah hampir menangis.
”Nenek” suara Raihanah meninggi.
Kedua mata nenek Riska melotot, dia tekan lengan cucunya itu." Raihanah” tegas nenek.
Syifa menunduk melihat suasana tersebut.
”Nurut sekali saja sama nenek, orang tua kamu gak ada yang ngurus. Cuma nenek yang peduli sama kamu, menurut sedikit” tutur nek Riska dan Raihanah diam. Kedua matanya berair, dengan terpaksa dia mengisi formulir pendaftaran. Universitas jauh lebih dekat dari pesantren Al Bidayah, nek Riska juga mau cucunya itu belajar menjadi pribadi yang lebih baik di pesantren tersebut. Raihanah yang belum biasa memakai pakaian panjang dan kerudung, terlihat tidak nyaman. Setelah itu Syifa mengajaknya untuk pergi ke asrama putri, nek Riska juga ikut.
Raihanah memperhatikan sepasang suami istri yang sedang melangkah bersama, mereka ustadz Farhan dan istrinya Nailah.
*****
Malam hari tiba, Faiza dan Zaenab mengaji bersama seperti biasa. Faiza menceritakan apa yang terjadi padanya tadi siang. Zaenab merasa bersalah karena memilih pulang lebih dulu.
”Harusnya aku nemenin teh Faiza tadi” suara Zaenab terdengar serak.
”Ih jangan bilang begitu, ini musibah. Aku ikhlas semuanya hilang, kamu jangan merasa gak enak hati ya” tutur Faiza seraya merangkul bahu Zaenab, Zaenab tersenyum lebar dan keduanya terus melangkah bersama. Zaenab meminjam buku dari Faiza, untuk tugas kuliahnya. Ada beberapa peraturan untuk para santriwati dan santri yang kuliah, mereka tidak bisa seenaknya keluar masuk dan diharapkan menjaga nama baik pesantren.
”Masuk aja ayo" ajak Faiza.
”Enggak teh, aku tunggu disini aja" ucap Zaenab. Dia memilih menunggu di luar. Faiza mengangguk dan dia masuk, walaupun keduanya dekat. Zaenab tak bisa bebas keluar masuk rumah pak kyai. Zaenab diam menunggu, Gus Fashan keluar dan tatapan keduanya bertemu. Keduanya langsung menunduk bersamaan.
”Nungguin Faiza neng?" Ujar Gus Fashan bertanya tanpa menatap.
”Iya Gus” singkat Zaenab dan menggigit bibir bawahnya kelu.
”Masuk aja, Faiza suka lama” titah Gus Fashan dan Zaenab menggeleng kepala.
”Saya disini saja Gus, terima kasih”
”Oh iya” singkat Gus Fashan. Keduanya diam dan Gus Fashan bingung. Zaenab juga bingung karena Gus Fashan seperti akan pergi, tapi tak kunjung melangkah.” Neng, punten ini mah ya. Itu sandal saya” tunjuk Gus Fashan akhirnya memberanikan diri.
Zaenab menunduk dan tidak sadar menginjak sandal gus Fashan. Zaenab langsung mundur dan gus Fashan meraih sandalnya dengan cepat.
Punten\=Permisi/maaf.
”Assalamu'alaikum” Gus Fashan berpamitan.
”Wa'alaikumus Salaam”
Zaenab menampar dahinya sendiri.” Asstaghfirullah, bisa-bisanya aku kira Gus Fashan diem karena dia lihatin aku, ternyata sendalnya aku injak. Pikiran apa ini, amit-amit kamu Zaenab” gumam Zaenab memaki dirinya sendiri.
Tidak lama Faiza datang membawa buku yang diminta Zaenab, setelah itu Zaenab pergi ke asrama putri.
Raihanah diam membisu, menatap foto dirinya kecil. Digendong oleh ayahnya dan ibunya merangkul pinggang ayahnya, begitu terlihat harmonis tidak seperti sekarang.
”Kenapa gak masuk?" seru seorang gadis dan Raihanah kaget, dia menoleh dan menatap gadis itu. Fahira datang untuk memeriksa semua santriwati, ternyata ada satu santriwati yang masih diam di balkon sendirian, di bawah jemuran. Raihanah bangkit dan..
Bruk...
”Auw..." Raihanah meringis saat kepalanya membentur jemuran. Fahira mendekat dan membantunya berdiri.
”Sakit ya” ujar Fahira dan Raihanah menggeleng kepala. Raihanah memperhatikan wajah cantik Fahira yang terlihat tidak asing, tapi dia tidak pernah bertemu sebelumnya.
”Kamu terlihat sudah dewasa, santriwati baru?” tanya Fahira dan Raihanah mengangguk.” Ini yang mahasiswi itu ya?"
”Iya” singkat Raihanah.
”Ayo masuk ke kamar, kamu harus mulai terbiasa dengan peraturan di pesantren" titah Fahira dan Raihanah diam, Fahira melangkah pergi dan Raihanah mengikuti.
”Tunggu” panggil Raihanah, langkah Fahira terhenti dan menoleh saling bertatapan dengan Raihanah.
”Iya kenapa?" Fahira bingung.
”Ehmm, enggak. Aku cuma merasa pernah melihat wajah kamu hehe” senyuman Raihanah begitu canggung, Fahira tersenyum lebar.
”Mungkin sebelumnya kamu melihat Gus Fashan, dia mirip dengan saya” tutur Fahira dan Raihanah diam, Gus Fashan? Dia ingat nama ini, nama pria yang menolongnya. Raihan juga terus memanggil pria itu Fashan.
”Apa?" Raihanah bingung.
”Kamu mengenal adik saya? Gus Fashan adik saya, kami saudara kembar" tutur Fahira dan Raihanah tersentak.
”Pantas mirip banget” Gumam Raihanah.
Raihanah tersenyum lebar.” Cuma pernah lihat, tapi gak kenal hehe"
Fahira mengangguk dan tersenyum lalu dia pergi, Raihanah juga pergi ke kamarnya.
******
Keesokan paginya, Raihanah mengantri untuk mandi. Dia tidak sholat subuh dan terus menimbulkan pertanyaan, Zaenab diam-diam memperhatikan santriwati baru tersebut, sudah dewasa dan terlihat dari penampilannya, mungkin dari kota. Mata coklat kebiruan Raihanah mengundang banyak rasa penasaran, pesantren Al Bidayah memiliki santriwati bule. Begitulah yang dibicarakan orang-orang.
Di rumah umi Nailah, semuanya sudah sibuk menyiapkan sarapan. Gus Fashan pulang bersama abinya dari masjid. Dan duduk bersama di ruang tamu.
”Abi” suara Faiza berat, dia mendekati abinya dan memeluk abinya erat.
”Jangan sedih terus” ujar Abi Farhan.
”Terus gimana?” tanya Faiza.
”Nanti di urus aja semuanya, untuk KTP sama yang lain. Minta antar sama Fahira” tutur abi Farhan dan Faiza mengangguk.
”Kamu ketemu sama Doni kemarin?” tanya Gus Fashan tiba-tiba.
Deg...
Faiza diam dan takut abinya mengintrogasi nya.
”Pacaran kamu?” nada Gus Fashan begitu ketus.
”Enggak, orang gak sengaja ketemu a Doni. Dia ngasih uang sama bayarin belanjaan aku, kalau gak ada a Doni aku gak bisa pulang kemarin bang” Faiza menjelaskan, abi Farhan diam dan Gus Fashan mendelik sebal.
”Shan, temui Doni nanti” titah abi Farhan dan gus Fashan mengangguk, Gus Fashan akan membayar semuanya yang telah dikeluarkan Doni untuk adiknya, mereka sangat berterimakasih. Tapi tidak mau merepotkan.
Setelah sarapan siap, semuanya pergi ke dapur. Umi Nailah dan Abi Farhan makan sepiring berdua, anak-anaknya juga cuek dan sudah biasa dengan pemandangan tersebut.
”Abi, tempe nya mau lagi? Hira yang masak loh” ucap Fahira dan abi Farhan mengangguk, Fahira tersenyum dan merasa senang.
Abi Farhan memperhatikan semua anak-anaknya, jika semuanya menikah dan dia memiliki cucu. Apa dia masih ada? Abi Farhan mau melihat anak-anaknya bahagia, dan tidak melupakannya dan umi Nailah.
”Minum” titah umi Nailah, memberikan segelas air dan Abi Farhan menerimanya. Meminumnya dalam tiga kali tegukan.
”Belajar yang rajin, abi udah mau pensiun. Di rumah aja sama umi kalian, males ngurusin restoran dan yang lainnya. Kalian urus lah sama-sama, jangan sering berdebat. Sebagai laki-laki satu-satunya, jaga keempat perempuan ini Gus" tutur Abi Farhan dan semuanya diam, mendengarkan dengan baik apalagi Gus Fashan yang disebut. Ia mengangguk mengiyakan.
****
Raihanah diam di tepi jalan, menunggu angkutan umum. Zaenab dan Faiza diam memperhatikannya.
”Dia satu universitas sama kita” ujar Faiza dan Zaenab melirik Raihanah.
”Aku baru tahu teh, dia bandel. Tadi dia di hukum karena enggak ke mushola, baru juga masuk kemarin” ketus Zaenab dan Faiza diam.
”Mungkin dia belum terbiasa, kita gak tahu dia seperti apa. Dan gak harus juga menghakimi nya” tutur Faiza, sontak Zaenab mengusap dadanya.
”Asstaghfirullah hal adzim” imbuhnya pelan.
Faiza mengajak Zaenab mendekati Raihanah, Raihanah orang baru. Mungkin saja dia belum tahu jalan.
”Assalamu'alaikum” ucap Faiza.
”Walikum salam” jawab Raihanah.
Zaenab melongo mendengarnya.
”Yang benar itu 'Wa'alaikumus Salaam' teh” ucap Faiza mengingatkan dengan lembut.
”Sama aja” ketus Raihanah.
Faiza tersenyum." Jika pengucapannya salah, artinya juga salah. Teteh mau kuliah kan? Kita satu universitas, mau berangkat sama-sama?” ajak Faiza.
Raihanah terdiam sejenak, dia saling melemparkan tatapan sinis dengan Zaenab." Kamu siapa?” tanya Raihanah.
”Saya Faiza, putrinya pak kyai. Sudah kewajiban semua orang untuk saling membantu, apalagi teteh kan santri baru” tutur Faiza dan Raihanah memperhatikannya dengan seksama.
”Akhirnya saya punya teman satu universitas, anak pak kyai juga. Saya bingung harus naik angkot yang mana, saya Raihanah. Biasa di panggil Rai atau Raihanah juga boleh" tutur Raihanah, dia mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Faiza, lalu dengan Zaenab.
Akhirnya ketiganya berangkat bersama, Raihanah bersyukur bisa mengenal Faiza.
****
Di sekolah, Nida hanya diam membisu. Tidak fokus belajar dan guru lain mengadukannya kepada Gus Fashan, selaku wali kelas Nida. Nida akhirnya dipanggil ke kantor, gadis itu datang walaupun tahu akan diceramahi.
”Masih sakit?" Tanya Gus Fashan dan Nida menggeleng kepala.” Belajarlah dengan baik, apa yang sedang kamu pikirkan sekarang?. Mau mencoba kabur lagi?” Gus Fashan berbisik.
”Enggak, aku hanya males ngomong” jawab Nida dan Gus Fashan menggeleng kepala.
”Perlu saya telepon ayah kamu?” tegas Gus Fashan dan Nida panik.
”Jangan pak" rengek Nida. Semua guru menoleh, memperhatikan Nida yang sama sekali tidak sopan kepada Gus Fashan.
Gus Fashan menghela nafas panjang, dia lempar kasar buku absen ke atas meja. Nida sering bolos, padahal sudah kelas 12. Nida diam dan memperhatikan berapa banyak hari dimana dia bolos dan kabur dari sekolah.
”Saya kasih kesempatan satu kali saja, kalau kamu begini lagi. Ayah kamu akan datang" tegas Gus Fashan dan Nida mengangguk.
”Aku janji gak bakal bolos lagi" imbuh Nida, suaranya serak, dia terus menunduk dan Gus Fashan menggeleng kepala. Setelah itu, Gus Fashan mengizinkannya pergi. Fara yang melihat Nida akhirnya keluar dari ruangan guru, lekas mendekat.
”Abang marah?" Fara bertanya, berbisik dan Nida mengangguk.” Jangan macam-macam, kita sudah kelas 12. Jangan sampai abang telepon ayah kamu” tutur Faiza dan Nida diam.
”Ayo pergi" ajak Nida, keduanya berlari bersama untuk membeli bakso.
Di tempat lain, di rumah umi Nailah dan Abi Farhan. Syifa datang membawakan Ikhsan, Ikhsan yang dekat dengan Gus Fashan terus bertanya dimana pria itu.
”Gus lagi ngajar” ucap Abi Farhan dan Ikhsan diam.
”Ikhsan main di luar ya” titah Syifa dan putranya itu pergi keluar.
Ketiganya masih bungkam, belum membuka suara. Abi Farhan sedih dengan nasib keponakannya yang harus menjadi istri kedua. Tatapannya begitu sendu menatap Syifa.
”Dia baik sama kamu kan Syifa?” ujar Abi Farhan dan Syifa mengangguk seraya tersenyum.” Abi mendapatkan kabar kurang mengenakan tentang suami kamu" tambahnya dan Syifa langsung menekuk wajahnya dalam-dalam.
Umi Nailah diam memperhatikan Syifa yang selalu di asuh saat kecil, kini sudah dewasa. Dan Syifa adik iparnya.
”Aku juga mendengar kabar tersebut Abi, aku belum memiliki kesempatan untuk membicarakan ini sama a Robi” ujar Syifa dan Abi Farhan mengangguk. Syifa sangat sedih saat mendengar kabar tersebut, apa dua istri masih kurang untuk suaminya itu?. Perbedaan umur yang sangat jauh, tidak menjadi masalah untuk Syifa. Tapi kenapa suaminya harus berniat menikah lagi.
Umi Nailah yang melihat Syifa sedih langsung berdiri, dia pindah dan duduk disebelah Syifa.” Aku malu dengan apa yang aku dengar, biar nanti aku bicara sama Robi" ujar Nailah dan Syifa diam membisu.