Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Tin!
Tin!
Tin!
Alya yang baru saja keluar dari lobi gedung kantor langsung terlonjak kaget. Suara klakson yang nyaring membuatnya mundur satu langkah secara refleks. Di hadapannya, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di tepi jalan. Mesinnya masih menyala, lampu sein berkedip pelan.
Perlahan, kaca jendela sisi pengemudi turun. Arya terlihat duduk di bangku kemudi dengan satu tangan masih memegang setir. Ia menatap Alya dengan ekspresi tenang, seolah kedatangannya sudah direncanakan.
“Masuklah. Ikut aku menjemput Keysa,” pintanya singkat, suaranya rendah tapi jelas.
Alya terdiam. Mulutnya terbuka, ingin menolak. “Tapi……”
Belum sempat kalimatnya selesai, Arya sudah memotong. “Masuk saja.” Nadanya tegas, tidak memberi ruang untuk debat.
Alya mengatupkan bibirnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada karyawan atau orang yang dikenal sedang melihat dirinya dan Arya. Jantungnya berdetak kencang. Masih terasa malu dengan kejadian di ruang CEO tadi pagi, dan sekarang pria itu datang memintanya menjemput sang putri.
Setelah memastikan area cukup sepi, Alya akhirnya menghela napas pelan. Ia membuka pintu sisi penumpang dan masuk ke dalam mobil dengan gerakan cepat. Bau parfum khas Arya langsung memenuhi indera penciumannya begitu pintu tertutup.
Arya tidak banyak bicara. Ia langsung menjalankan mobil, keluar dari area parkir kantor, dan melaju menuju jalan raya. Suasana di dalam kabin kembali hening. Hanya terdengar suara mesin yang stabil dan deru lalu lintas di luar.
Alya duduk tegak, tangan diletakkan di pangkuan, menatap ke luar jendela. Pikirannya kacau. Antara rasa malu yang belum hilang, kelegaan karena tidak perlu naik transportasi umum, dan sesuatu yang lebih hangat karena Arya datang menjemputnya untuk bersama-sama menjemput Keysa.
Arya sesekali melirik ke arahnya dari sudut mata, tapi tidak mengatakan apa-apa. Mobil terus meluncur stabil menuju rumah sakit tempat Keysa dirawat, membawa dua orang dewasa yang masih dibalut canggung dan perasaan yang belum sempat mereka ungkapkan.
Suasana di dalam mobil kembali hening setelah beberapa menit perjalanan. Lampu jalan yang berlalu-lalang menerangi wajah keduanya secara bergantian. Arya yang sejak tadi hanya fokus menyetir akhirnya membuka suara, nadanya santai tapi ada nada menggoda di baliknya.
“Kamu masih saja malu-malu,” ucap Arya sambil sesekali melirik ke arah Alya.
Alya mendengus kesal. Ia menatap ke luar jendela, berusaha terlihat biasa saja. Siapa yang tidak malu berada di satu mobil yang sama dengan pemilik perusahaan, Siapapun pasti akan merasa canggung seperti dirinya.
“Aku tidak malu. Aku lagi irit bicara,” balas Alya sekenanya, suaranya datar tapi pipinya sedikit memanas.
Arya hanya terkekeh pelan, tidak membalas. Ia seolah sudah hafal cara Alya menyembunyikan rasa malunya.
Drttt……
Drttt……
Belum sempat Arya membuka suara lagi, ponsel Alya tiba-tiba berdering kencang. Suara nada deringnya memekakkan telinga di dalam kabin mobil yang relatif sunyi.
Alya langsung kaget. Ia buru-buru merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel dengan gerakan sedikit pelan.
Layar ponsel menyala terang. Nama yang tertera di situ membuat Alya terpaku. Jari-jarinya yang hendak menggeser tombol angkat tiba-tiba berhenti di udara. Wajahnya yang tadinya hanya sedikit merah kini memucat. Matanya membelalak menatap nama itu, seolah tidak percaya.
Arya yang memperhatikan dari samping mengerutkan kening. “Kenapa tidak diangkat?” tanyanya, nada suaranya berubah lebih serius. Ia bisa melihat jelas ekspresi Alya yang tiba-tiba tegang.
Alya mengatupkan bibir. Ia menelan ludah, lalu dengan cepat menekan tombol tolak dan mematikan ponselnya. “Orang salah sambung,” jawabnya singkat, suaranya sedikit bergetar.
Tanpa menunggu pertanyaan lanjutan, ia memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas dan mengunci resletingnya rapat-rapat.
Arya tidak langsung percaya. Ia menatap Alya beberapa detik lebih lama, tapi tidak memaksa. Suasana di dalam mobil yang tadinya mulai cair kini kembali tegang. Arya bisa menebak jika itu bukan orang salah sambung.
"Aku tahu kamu bohong" kekeh Arya sambil mengacak rambut Alya.
Alya menoleh ke luar jendela, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba jedag jedug.
Mobil terus melaju menuju rumah sakit, tapi keheningan di antara mereka kini terasa lebih berat dari sebelumnya.
*
*
Mobil yang dikemudikan Arya berhenti tepat di depan lobi rumah sakit. Mesin dimatikan, lampu sein masih berkedip pelan di bawah cahaya lampu taman yang kuning lembut.
Arya membuka pintu sisi pengemudi lebih dulu, keluar dengan gerakan tenang, lalu berjalan mengitari mobil untuk membuka pintu sisi penumpang.
Alya turun pelan. Udara sore yang sejuk langsung menyapa wajahnya. Ia sempat menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri setelah suasana canggung di dalam mobil barusan. Belum sempat ia melangkah sendiri, Arya sudah mengulurkan tangan dan menggandeng lengan Alya dengan sangat lembut.
Alya terkejut sebentar. Jantungnya langsung berdetak lebih kencang. Ia ingin menarik lengannya, tapi Arya sudah mulai melangkah masuk ke dalam lobi rumah sakit, membawa Alya ikut di sampingnya.
Banyak pasang mata langsung menoleh. Perawat yang sedang bertugas di meja resepsionis, pengunjung yang duduk di kursi tunggu, bahkan beberapa dokter yang kebetulan lewat, semuanya memperhatikan mereka berdua.
Arya dengan penampilan rapi dan aura berwibawa, sementara Alya di sampingnya terlihat anggun meski wajahnya sedikit tegang. Mereka terlihat sangat serasi, seolah sudah terbiasa datang bersama.
Alya merasakan tatapan-tatapan itu. Pipinya memanas. Ia menunduk sedikit, mencoba fokus ke depan, tapi genggaman Arya di lengannya terasa sangat jelas. Hangat, kuat, dan membuatnya semakin gelisah.
“Orang ini tidak banyak bicara, tapi selalu saja membuat jantungku tidak aman,” gumam Alya dalam hati, sambil menelan ludah. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang semakin tidak beraturan setiap kali lengan mereka saling bersentuhan.
Arya seolah tidak peduli dengan perhatian orang-orang di sekitar. Ia terus melangkah mantap menuju lift, masih menggandeng lengan Alya. Suasana di lobi yang tadinya ramai dengan bisikan pelan kini terasa lebih hening saat mereka lewat.
Di dalam hati Alya, rasa malu, canggung, dan sesuatu yang lebih hangat bercampur aduk. Ia tidak tahu apakah Arya sengaja melakukan ini untuk menggoda, atau memang hanya ingin memastikan ia tidak berjalan sendiri. Yang jelas, kehadiran pria itu di sampingnya selalu berhasil membuat hatinya tidak tenang.
Lift terbuka. Arya mempersilakan Alya masuk lebih dulu, masih tanpa banyak kata. Alya masuk dengan langkah sedikit kaku, diikuti Arya di belakangnya. Pintu lift menutup, menyisakan mereka berdua di dalam ruang kecil yang tiba-tiba terasa sangat intim.
Ting
Pintu lift terbuka. Alya dan Arya melangkahkan kakinya keluar dari dalm lift, menuju ke ruang rawat Keysa.
Ceklek....
"AUNTY...."
jangan zelia sudah biasa dengan banyak lelaki... 🤦♀️🤦🏻♀️🤦♀️🤦🏻♀️😡😡😡😡
semoga Keysa baik- baik saja... 😥😥😥