Atas dorongan nenek Ari menikah lagi dengan Dilla wanita pilihan nenek. Namira rela dimadu karena belum bisa memberikan keturunan untuk Ari. Bahkan, pernikahan itu berlangsung di depan matanya.
Kehadiran Dilla merubah rumah tangga mereka, sejak hari itu Namira berbagi cinta dengan madunya, meskipun Ari berusaha berlaku adil namun tetap saja menyisahkan luka di hati kedua istrinya.
Bukan hanya cinta Ari yang berusaha dipertahankan, gelar seorang ibu dari bayi yang lucupun menjadi rebutan.
Sampai kapan Namira dan Dilla tinggal di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
"Dimadu?" Mata Dewi membola sempurna, kabar ini lebih menakutkan dari kebangkrutan yang pernah mereka alami dulu. "Jangan bercanda, Mir!"
Dewi tidak percaya sebab, selama ini rumah tangga sahabatnya terlihat baik-baik saja.
"Aku serius. Mas Ari sudah menikahi wanita pilihan nenek yang kemungkinan bisa secepatnya melahirkan anak mas Ari. Aku bisa apa?" Namira masih menangis.
Air mata Namira membuat Dewi percaya padanya. "Kenapa kamu mau dimadu? Kenapa nggak pisah, aja? Jangan jadikan cinta sebagai alasannya, itu terlalu bodoh!" Dewi semakin emosi saja.
"Banyak alasannya, Wi. Kesehatan nenek, orang tuaku, cintaku. Semuanya!"
"Tapi bukan berarti kamu mengabaikan persaanmu sendiri."
"Mungkin ini sudah jalannya, Wi. Aku pasti bisa melaluinya." Namira menghapus air matanya. "Maaf, udah buat kamu kepikiran."
"Namira ... terbuat dari apa hatimu?" Dewi menjadi luluh, memeluk dan berusaha menguatkan Namira. "Bersabarlah, semua akan indah pada waktunya."
Jika itu Dewi, ia akan memilih untuk berpisah daripada harus berbagi suami dengan wanita lain.
Hari itu Namira membatalkan jadwalnya ke luar kota, ia ingin menenangkan diri di butik miliknya.
***
Ari terlihat fokus memimpin rapat, raut wajahnya tetap dingin dan tidak terbaca. Kehadirannya di ruang meeting membuat suasana terasa semakin mencekam. Bagaimana, tidak? Ari tidak pernah main-main bahkan hampir tidak pernah tersenyum dalam bekerja. Para karyawan hanya bisa diam menjalankan perintah tanpa ada yang berani membantah aturan Ari. Meskipun begitu, banyak yang diam-diam mengagumi ketampanan dan wibawa Ari selama di kantor.
Usai memimpin rapat, Ari kembali ke ruang kerja. Dilihatnya jam yang melingkar di tangan sudah menunjukkan waktu makan siang. Ari teringat Namira dan mencoba menghubungi istrinya namun, ponsel Namira berada di luar jangkauan. Ari kesal dan memilih menyandarkan punggung di sandaran kursi lalu memejamkan mata. Tiba-tiba wajah Dilla terlintas dan berhasil mengusik pikirannya.
Sontak Ari membuka mata, ditatapnya langit-langit ruangan itu dalam diam dan wajah Dilla seperti sedang menari-nari di matanya. Ari menegakkan punggung dan mengusap wajah menggunakan berusaha menghapus bayangan Dilla di sana.
"Kenapa wajah wanita itu seperti sengaja mengganggu, aku?" Ari bermonolog sendiri.
Memikirkan ini semakin membuatnya pusing, ia memilih mengunjungi nenek di rumah sakit.
***
Dilla merasa lebih nyaman berada di luar rumah. Bebas melakukan apapun tanpa ada tatapan yang mengintimidasinya. Saat ini Dilla tengah menikmati makan siang seorang diri. Tiba-tiba manager Restoran menghampiri Dilla.
"Aku temenin, ya!" Satya menarik kursi dan duduk di depan Namira. "Sudah ada jawaban?" Satya mengangkat sebelah alisnya, rasanya ia sudah terlalu lama menunggu jawaban Dilla.
"Jangan mulai lagi, Pak!" Ntah alasan apa lagi yang akan ia berikan untuk menolak Satya.
"Ayolah, sampai kapan aku harus nunggu kamu menerima cintaku. Kamu nggak perlu ragu Dil. Aku tidak punya niat buruk sama kamu. Bahkan, kalau kamu mau hari ini juga aku siap melamar dan menikahimu." Satya meraih tangan Dilla. "Aku cinta sama kamu."
Dilla tertegun mendengarnya, memang selama ini ia sudah terlalu lama menggantungkan perasaan Satya. Semua ia lakukan karena belum siap menjalin hubungan serius dengan pria manapun. Dilla hanya mau fokus mencari uang untuk pengobatan ayahnya. Tapi, semua tidak berjalan sesuai keinginan.
Dilla melirik tangan mereka yang menyatu di atas meja, rasa bersalah bersarang di dalam hatinya. Bagaimana kalau Satya mengetahui statusnya yang sudah menjadi istri dari cucu pemilik Restoran ini?
Dilla lantas menarik tangannya. "Maafkan aku, Pak. Jangan menungguku!" Dilla beranjak. "Aku harus kembali bekerja," ucap Dilla.
Satya menghela napas berat. "Sampai kapanpun, aku akan tetap menunggu kamu, Dil!"
Dilla tidak menjawab lagi, ia kembali bekerja seperti biasa.
***
Kedatangan Ari ke rumah sakit membuat nenek semakin tidak sabar ingin cepat-cepat keluar dari ruangan yang sudah mengurungnya. Nenek merengek dan memaksa pulang hari ini juga.
Beruntung, kondisi nenek semakin membaik hingga dokter memberikan ijin meninggalkan rumah sakit. Siang itu juga Ari membawa nenek pulang ke rumahnya.
"Kok sepi? Kedua istrimu kompak tidak menyambut kedatangan nenek." Nek Rusmi yang masih duduk di kursi roda memerhatikan ruangan sekitar yang tampak sunyi.
Ari mendengus kesal mendengar ucapan nenek. Dua istri sungguh menggelikan telinganya.
"Namira ke luar kota," jawab Ari sembari melepas dasi yang melilit di kerah kemejanya.
"Namira selalu saja sibuk. Tapi, nenek senang karena dia masih sempat mengunjungi Nenek di rumah sakit."
"Namira ke rumah sakit?" Ari duduk di sofa.
"Iya, tadi mungkin mampir!" seru Nenek.
"Perhtian dan pengertian Namira yang buat aku semakin cinta," gumam Ari membayangkan Namira yang tidak pernah berubah selalu perduli pada orang-orang disekitarnya.
"Cinta saja nggak cukup," gumam nek Rusmi. "Terus Dilla kemana?"
Sebenarnya Ari sangat malas membahas tentang wanita itu. Tapi, nenek tidak akan diam sebelum mendengar jawabannya.
"Dia ada di Restoran!"
"Ngapain?"
"Kerja, Nek!"
"Untuk apa Dilla kerja di Restoran lagi? Apa kamu nggak mau memenuhi semua kebutuhannya?" Wajah keriput nenek semakin mengusut.
"Wanita itu yang mau kerja lagi, Nek!"
"Jemput istrimu dan bawa dia ke rumah ini!" Nenek semakin marah.
"Kalau Ari jemput Namira di luar kota, siapa yang jaga nenek di rumah? ART sudah pulang, Nek," jawab Ari.
"Bukan Namira! Tapi, Dilla! Jemput dia sekarang!"
Ari tercengang mendengar perintah nenek, bicara dengan Dilla saja ia enggan apalagi duduk di dalam satu mobil yang sama dengannya?
"Tujuan nenek menikahkan kamu dengan Dilla supaya ada yang mengurusmu di rumah. Lihat, Namira selalu sibuk di luar rumah, kalau seperti ini kapan kalian bisa fokus punya anak? Kalau Dilla di rumah bisa melayani kebutuhanmu, berduaan denganmu dan bisa hamil secepatnya."
Kepala Ari semakin pusing, ia tidak mau mendebat nenek. Lebih baik mengalah daripada membuat nenek emosi dan kambuh lagi. Akhirnya Ari meminta nenek istrahat dan menunggu di kamar sementara ia menjemput Dilla.
***
"Nenek menyuruhmu pulang, cepatlah kutunggu di depan swalayan."
Dilla mengabaikan pesan dari nomor asing yang tidak tahu dari siapa. Kurang dari dua menit nomor asing itu menghubunginya.
"Ha-
"Jangan lamban. Aku bukan supir yang sedang menunggu nyonya rumah!"
"Jangan lamban. Aku bukan supir yang sedang menunggu nyonya rumah."
Dilla menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Dilihatnya layar ponsel yang sudah tidak terhubung dengan panggilan manapun.
"Siapa, sih?" Dilla menerka-nerka, jari telunjuknya bermain di dagu.
"Tunggu, nenek dan suara itu jangan-jangan!" Dilla teringat Ari dan nenek, hingga ia tidak mau membuat masalah dan tidak mau Ari marah karena menunggu lama, Dilla lantas meraih tas dan meminta ijin pulang lebih cepat dari biasa.
Satya pikir Dilla masih tinggal di kosan yang ditempati Dilla selama ini, hingga ia menawarkan diri mengantar Dilla pulang tapi, Dilla menolaknya.
***
Masih menebak-nebak seperti apa hubungan mereka? Jangan lupa jempolin. Makasih
makasih kak thor dalam penulisan nya 😘😘