NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 23- Berbeda

Ep. 23- Berbeda

Pada hari itu juga, saat matahari mulai bergerak melintasi puncak perbukitan.

"Mama! Lihat gambar Keisya! Krayonnya bagus banget, warnanya terang!" panggil Keisya bersemangat seraya bangkit dari karpet piknik dan berlari kecil menghampiri Kirana yang sedang memegang penggaris untuk memposisikan bingkai foto keluarga di dinding.

Kirana seketika meletakkan bingkainya. Raut wajahnya yang tadinya kaku langsung berubah penuh kehangatan dan kelembutan seorang ibu. Ia berlutut menyamakan tinggi badannya dengan Keisya, dan mengambil kertas gambar dari tangan putrinya.

"Wah... cantiknya, Sayang!" puji Kirana, seraya mengusap lembut pipi Keisya yang sedikit terkena noda krayon. "Mataharinya bersinar cerah, rumahnya juga bagus sekali. Nanti bingkai foto yang ini Mama ganti sama gambaran Keisya ya, mau?"

"Mau, Mama! Dipajang di kamar Keisya ya!" seru Keisya gembira, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kirana.

Saat Kirana merengkuh tubuh Keisya dengan penuh kasih sayang, Aura merangkak naik dari arah teras taman. Balita itu berdiri dengan kaki gempalnya, berjalan agak terhuyung-huyung sambil membawa satu krayon merah di tangannya.

Aura mengira ini adalah momen berkumpul keluarga seperti biasa.

"Ma... ma... Owa ikut! Gambar Owa... lucu!" cicit Aura ceria seraya menyodorkan krayon merahnya ke arah Kirana dan berharap mendapatkan pujian atau elusan di kepalanya seperti yang didapatkan Keisya.

Namun, begitu pandangan Kirana teralih pada Aura, binar kehangatan di matanya seketika menguap. Wajah Kirana kembali datar, kaku, dan berjarak. Ia tidak membentak, tidak pula mendorong Aura. Ia hanya diam dan menatap balita itu tanpa ekspresi emosi sedikit pun.

Kirana tidak mengulurkan tangannya untuk meraih Aura. Ia hanya berpaling dengan pelan, lalu berdiri seraya menuntun tangan Keisya.

"Keisya, ayo cuci tangan dulu di dapur. Sebentar lagi jam makan siang, Mama sudah siapkan sup ayam kesukaan Keisya," ujar Kirana yang sepenuhnya mengabaikan gurat kebingungan di wajah mungil Aura.

Kini, Aura berdiri mematung di tengah ruangan, sementara jemari kecilnya masih memegang krayon merah. Matanya yang bulat menatap punggung Kirana yang berjalan menjauh menuntun Keisya menuju pantry.

Dan, tangan kecil Aura pun perlahan-lahan terkulai ke samping tubuhnya. Balita itu belum mengerti apa artinya "diabaikan", namun rasa sepi yang dingin menembus kepolosannya.

Adapun Mbok Darmi yang sejak tadi mengamati adegan tersebut dari sudut dapur hanya bisa menghela napas. Ada rasa iba yang membuncah di hatinya saat melihat balita tak berdosa itu diperlakukan bagaikan sosok tak kasat mata oleh nyonya rumah.

Oleh karena itu, Mbok Darmi cepat-cepat melangkah menghampiri Aura, lalu berlutut di hadapannya.

"Duh, anak pinter... Krayonnya disimpan dulu ya, Sayang," bisik Mbok Darmi lembut seraya mengambil krayon dari tangan Aura dan mengusap telapak tangannya yang kotor. "Sini sama Mbok. Mbak Yem sudah siapkan bubur tim wortel enak buat Dek Aura di belakang."

Aura pun menoleh pada Mbok Darmi, matanya berkaca-kaca tipis namun ia mengangguk nurut. "Bubul... tim?"

"Iya, bubur tim kesukaan Aura. Ayo, Mbok pangku," sahut Mbok Darmi seraya mengangkat tubuh mungil Aura ke dalam gendongannya.

Siang harinya, di meja makan utama yang terbuat dari kayu mahoni beritur mengkilap, Kirana duduk berhadapan dengan Keisya.

Di atas meja terhidang semangkuk sup ayam hangat, perkedel kentang, dan jus jeruk segar yang semuanya disiapkan khusus oleh Kirana untuk putri tercintanya.

Kirana dengan telaten memotong daging ayam menjadi ukuran kecil, lalu menyuapi Keisya sambil mendengarkan celoteh sang putri tentang rencana menata kamar barunya.

Sementara itu, beberapa meter di area dapur belakang, Mbak Yem duduk di kursi plastik kecil sambil menyuapi Aura bubur tim di atas mangkuk bayi plastik.

Aura sesekali melirik ke arah meja makan utama dan memiringkan kepalanya saat melihat Keisya yang disuapi Kirana dengan tawa yang renyah.

"Aura, buka mulutnya, Nak... Aaaa..." panggil Mbak Yem, sambil mengarahkan sendok plastik ke mulut Aura.

Aura pun membuka mulutnya nurut, namun matanya tetap tertuju ke meja depan. Balita itu memegang pinggiran mejanya dan memanggil pelan, "Ma... ma..."

Mbak Yem mengusap kepala Aura dengan prihatin sambil berkata, "Ssst... jangan ganggu Ibu sama Kak Keisya ya, Nak. Makan sama Mbak Yem aja, nanti habis makan kita main balon di taman belakang."

Tuti yang sedang mencuci piring di samping wastafel dapur berbisik pelan pada Mbok Darmi yang sedang merapikan bumbu. "Mbok... kasihan ya Dek Aura. Walaupun Ibu Kirana sudah nggak marah-marah lagi kayak dulu, tapi kok rasanya beda banget ya perlakuan Ibu ke Dek Keisya sama Dek Aura? Kayak ada benteng kaca tebal di antara mereka."

Mbok Darmi menoleh sejenak ke arah ruang makan utama, lalu menatap Tuti dengan raut wajah yang serius dan penuh pengertian.

"Kamu jangan sembarangan menilai, Ti," tegur Mbok Darmi dengan setengah berbisik. "Bagi Bu Kirana, bisa menampung dan membiarkan Dek Aura tinggal di rumah ini tanpa rasa benci yang meledak-ledak saja sudah merupakan pengorbanan yang sangat besar. Mengobati luka dikhianati suami itu tidak mudah, butuh waktu bertahun-tahun. Kita sebagai ART tugasnya ya mengurus Dek Aura sebaik mungkin, memenuhi kebutuhan dan kasih sayang yang tidak bisa diberikan Bu Kirana saat ini."

Tuti pun mengangguk-angguk paham. "Iya sih, Mbok... Yang penting Dek Aura sehat, nggak kekurangan makanan dan pakaian."

Sore harinya, ketika matahari mulai tenggelam di balik perbukitan dan memancarkan rona jingga keemasan di atas langit perumahan baru, Kirana duduk di sofa ruang tengah seraya membaca sebuah buku panduan interior rumah.

Keisya yang kelelahan setelah seharian bermain dan menata kamar barunya telah tertidur lelap di kamar atas.

Suasana rumah mendadak sangat hening. Namun tiba-tiba dari arah lorong tengah, terdengar derap langkah kaki kecil yang ragu-ragu.

Kirana lantas menurunkan bukunya sedikit. Dari balik lipatan halaman, ia melihat Aura berjalan pelan sendirian. Pakaiannya sudah diganti oleh Mbak Yem dengan piyama katun bergambar kelinci, dan tubuhnya beraroma harum minyak telon dan bedak bayi.

Aura memegang sebuah boneka beruang kecil yang lusuh, boneka bekas Keisya. Balita itu lalu melangkah mendekati sofa tempat Kirana duduk. Ia tidak berani memanjat naik ke atas sofa, melainkan hanya menyandarkan dada mungilnya di tepi sofa, tepat di dekat kaki Kirana.

Aura mendongak, dan menatap Kirana dengan mata bulatnya yang jernih dan polos tanpa dosa.

"Ma... Owa... mau bubu..." cicit Aura yang terdengar mengantuk.

Kirana mematung. Jemarinya yang memegang buku kaku seketika. Tatapannya beradu langsung dengan iris mata Aura yang bening. Ia bisa melihat di dalam mata anak itu, tidak ada dendam, tidak ada kepura-puraan, hanya ada kerinduan alami seorang balita pada sosok ibu yang ada di dekatnya.

Satu detik... dua detik... tiga detik...

Ada denyut ngilu yang sangat tipis merayap di relung hati Kirana yang ter dalam. Namun, dengan cepat Kirana membentengi perasaannya. Ia menarik kakinya sedikit bergeser di atas sofa dan menjaga jarak fisik di antara mereka.

Kirana tidak menggendong Aura, tidak pula mengusap kepalanya.

"Mbok Darmi!" panggil Kirana.

Mbok Darmi yang sedang menyapu koridor belakang segera berlari kecil menghampiri ruang tengah. "Iya, Bu Kirana?"

"Aura sepertinya sudah mengantuk," ujar Kirana seraya kembali mengarahkan pandangannya pada halaman bukunya, tanpa menatap Aura lagi. "Tolong bawa dia ke kamarnya dan tidurkan."

"Baik, Bu," sahut Mbok Darmi cekatan. Mbok Darmi membungkuk dan merengkuh tubuh mungil Aura ke dalam dekapannya. "Ayo Dek Aura, sama Mbok Darmi ya... Kita bobo di kamar."

Aura disergap rasa kecewa yang tak sanggup diucapkannya. Kepalanya terkulai di bahu Mbok Darmi saat wanita tua itu menggendongnya menjauh menuju lorong kamar belakang. Namun, mata bulat Aura tetap menatap ke arah Kirana hingga bayangan wanita itu menghilang di balik lekukan dinding.

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!