NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 : MALAM PERTAMA DI PENGUNGSIAN

Air terjun di mulut gua itu mengalir lembut, menciptakan deru halus yang menyelimuti segala suara di dalam. Bayu berdiri di balik tirai air bening itu, matanya menatap ke luar ke arah lembah yang perlahan ditelan gelap. Tangannya menyentuh dinding batu yang dingin dan lembap, merasakan getaran halus setiap kali air memukulnya.

"Sudah diperiksa sekelilingnya?" tanyanya tanpa menoleh.

"Sudah. Tak ada jejak orang, tak ada lubang lain selain yang kita pakai masuk," jawab Karta yang baru kembali dari berkeliling bagian dalam gua.

Ia duduk di samping batu pipih, mengusap debu dan lumut di celana panjangnya.

"Luarnya tertutup rapat, siapa pun yang lewat takkan menyangka ada tempat luas di balik air itu."

Bayu berbalik perlahan, melangkah masuk ke tengah ruangan gua yang cukup luas itu. Cahaya sisa senja masih menyelinap sedikit dari celah tebing, namun sebagian besar sudah remang-remang.

Warga duduk berkelompok rapat di bagian yang tanahnya paling kering. Tak ada yang bersuara keras. Hanya bisikan pelan, rintihan tertahan, dan suara anak-anak yang dipeluk erat agar tak menangis kencang.

Mbah Kartareja sedang duduk di tengah lingkaran itu, memegangi tangan seorang kakek tua yang kakinya bengkak terpeleset di jalan tadi. Ia melumuri daun yang sudah diremas halus ke bagian yang sakit, sambil berbicara pelan menenangkan.

"Panasnya akan hilang perlahan. Istirahatkan saja dulu, jangan dipakai menginjak tanah kasar," ucapnya lembut.

"Terima kasih, Mbah. Kalau tidak ada Bapak dan anak-anak muda ini, entah sudah jadi apa nasib saya di semak belukar sana," jawab kakek itu dengan suara serak.

Astri dan Ningsih membagikan sisa air yang dikumpulkan di daun lebar selama perjalanan. Satu teguk saja untuk tiap orang, agar cukup sampai besok pagi. Mereka bergerak hati-hati, tak ada yang berebut, semua menerima dengan apa adanya.

"Minumlah pelan-pelan, jangan sekaligus ditelan," kata Astri saat menyerahkan pada Aci Cemong yang bibirnya sudah pecah-pecah kering. Gadis kecil itu mengangguk, menatap Astri dengan mata besar yang masih menyimpan sisa ketakutan.

"Kita akan mati kelaparan di sini, ya, Kak?" tanyanya pelan sekali.

Astri segera berjongkok menyamai tingginya, lalu mengusap kepala gadis itu lembut.

"Tidak. Besok pagi kita cari akar yang bisa dimakan, ikan di sungai, apa saja yang ada di sekitar sini. Selama kita berusaha, pasti ada jalan."

Bayu menghampiri Pak Somad yang sedang memeriksa kembali sisa senjata yang dibawa. Besi-besi itu diletakkan berjejer rapi di atas batu datar, siap diambil kapan saja diperlukan.

"Masih cukup kuat semuanya?" tanya Bayu.

"Selama tangan yang memegangnya kuat, senjata ini takkan pernah patah, Nak."

"Hanya saja... kita butuh kayu tambahan untuk gagang bambu runcingnya, sebagian ada yang mulai retak," jawab Pak Somad sambil memutar-mutar bilah parang di tangannya.

"Besok duluan yang dicari. Jauh-jauh dari tepian sungai besar, takut ada patroli mereka yang berhenti minum di sana," perintah Bayu.

Di sebelah sana Bu Siti sedang merapikan selimut sisa yang robek, matanya sesekali melirik ke arah mulut gua seolah menunggu seseorang datang. Bayu menghampirinya pelan.

"Ibu mencari siapa?"

"Anak laki-lakiku, Nak. Waktu lari tadi sempat berpisah, aku kira sudah ikut di belakang," jawab Bu Siti suaranya mulai gemetar.

"Apakah benar-benar sudah semuanya masuk?"

"Sudah dihitung tiga kali, Bu. Semua yang berangkat tadi ada di sini. Dia pasti sedang duduk di pojok sana," Bayu menunjuk ke arah sudut gelap, di mana seorang anak laki-laki sedang meringkuk di samping Embek Gombloh. Bu Siti langsung berlari pelan menghampiri, memeluk anaknya erat seolah tak mau dilepas lagi.

Dul Kalong datang menghampiri sambil memegang segenggam buah hutan yang masih segar.

"Ini kutemukan tersembunyi di balik akar pohon waktu lewat tadi. Tidak banyak, tapi lumayan untuk penunda lapar anak-anak."

"Apakah aman dimakan, Dul?" tanya Wadana Raksapati memeriksanya.

"Sudah ku cium baunya, dan bentuknya sama persis seperti yang biasa dimakan waktu aku masih kecil. Tidak beracun, Pak."

Embek Gombloh berjalan mendekat, badannya sedikit membungkuk agar kepalanya tak menyentuh langit-langit gua yang agak rendah di sana. Ia membawa seikat ranting kering yang ditemukannya tersangkut di celah tebing saat turun tadi.

"Hanya sedikit ini yang aman diambil. Selebihnya semuanya masih basah kena embun sore," katanya sambil meletakkan ranting itu di lantai tanah.

"Jangan dinyalakan apinya dulu. Asapnya bisa naik sampai ke atas bukit," larang Wadana Raksapati yang sedang berjaga di sisi lain mulut gua.

"Biarkan saja dingin. Kita saling merapat saja untuk hangat."

"Bagaimana kalau malam ini turun hujan lebat? Bagian tengah gua ini apa bocor?" tanya seorang bapak petani tua sambil menyentuh dinding batu di atas kepalanya.

"Mbah Kartareja sudah memeriksanya semuanya. Air akan mengalir turun ke sisi kiri dan kanan, tidak akan menggenang di tempat kita duduk," jawab Bayu tenang.

Malam semakin pekat. Di luar sana langit bertabur bintang terang sekali, seolah tak tahu bahwa di bawahnya sedang terjadi kehancuran dan penderitaan luar biasa. Dari kejauhan sekali-sekali masih terdengar suara dentuman samar, atau cahaya merah samar yang memantul di balik bukit-bukit.

Karta duduk kembali di sebelah Bayu, keduanya memeluk lutut menatap ke arah gelap di sudut gua.

"Kau pikarkan apa, Yu?" tanya Karta pelan.

"Memikirkan apakah di makam mereka sudah cukup tertutup rapat. Takutnya ada binatang liar yang mengganggu," jawab Bayu lirih.

"Aku juga sempat terbayang. Tapi Mbah bilang, tempat yang kita pilih itu tanahnya padat dan dihormati makhluk lain. Kita percaya saja pada itu."

Bayu mengangguk pelan. Ia meraba saku bajunya, mengambil sebutir benih padi yang sempat diambilnya dari ladang kemarin. Diperhatikannya butiran itu lama sekali, terasa berat dan berharga di jari-jarinya.

"Ini sisa satu-satunya dari panen yang kita harapkan itu," ucapnya.

"Semoga suatu hari nanti bisa kembali ditanam di tanah yang sama."

"Tentu saja bisa. Hanya waktu yang belum tahu berapa lama," sahut Karta.

"Bayu..." panggil Demang Maulana Surya perlahan menghampiri mereka berdua.

"Kau yakin mau memikul tanggung jawab sebesar ini? Masih sangat muda, seharusnya masih banyak waktu untuk bermimpi."

"Justru karena mimpi itu dirusak orang, saya harus menjaga sisa-sisanya, Demang. Bapak, Ibu, semuanya sudah percaya. Saya tak boleh mengecewakan kepercayaan itu," jawab Bayu mantap.

Suara Demang Maulana Surya terdengar lembut namun menyelimuti seluruh ruangan gua. Ia berdiri perlahan, menatap semua orang yang ada di hadapannya satu per satu.

"Malam ini adalah malam pertama kita jauh dari rumah. Tak ada kasur, tak ada makanan enak, tak ada atap yang kita kenal sejak lahir. Tapi lihatlah orang di sebelah kananmu, di sebelah kirimu. Semuanya masih bernapas, semuanya masih bersama. Itu jauh lebih berharga daripada apa pun yang ditinggalkan."

Ia berhenti sejenak, menelan ludah agar suaranya tak bergetar.

"Jangan biarkan putus asa masuk ke hati. Musuh bisa merobohkan bangunan, bisa merusak ladang, tapi tak ada satu pun yang sanggup merobohkan persaudaraan kita selama kita tak melepaskannya sendiri. Besok kita bangun lagi apa yang hilang, mulai dari yang paling kecil."

Tak ada yang bersorak. Namun perlahan satu demi satu kepala diangkat kembali. Tatapan mata yang tadinya kosong perlahan kembali berisi tekad. Mereka saling merapatkan duduknya, bahu menyentuh bahu, punggung saling bersandar. Rasa dingin perlahan terasa berkurang berganti hangatnya kebersamaan.

Bayu membagi tugas jaga malam secara bergilir: dua orang tiap giliran, tak ada yang tidur sekaligus. Dul Kalong dan Jaka Kelitik giliran pertama, karena keduanya paling peka terhadap suara dan gerak halus.

"Kalau ada apa pun, sekecil apa pun, segera bangunkan aku atau Karta," pesan Bayu pada mereka.

"Siap. Tak akan ada yang lolos dari pengamatan kami," jawab Dul Kalong mantap.

Perlahan hening menyelimuti gua itu. Hanya suara air yang mengalir di luar, napas panjang orang-orang yang mulai lelap, dan doa-doa yang dibisikkan sendirian di dalam hati.

Bayu belum bisa memejamkan mata. Ia berjalan kembali ke mulut gua, berdiri diam memandangi gelapnya lembah. Tangannya memegang erat kampak kayu besi milik ayahnya. Banyak hal yang belum jelas ke depannya, banyak bahaya yang pasti masih menanti. Tapi satu hal yang kini ia tahu sepenuhnya: ia tak berjalan sendirian. Semua beban ini kini dipikul bersama-sama oleh puluhan jiwa yang sama-sama terluka namun sama-sama ingin tetap hidup dan kembali.

Kemukus mungkin sudah hancur, tapi semangat Rancagaok belum mati. Malam ini hanya permulaan dari perjalanan panjang yang sulit. Namun di tengah dingin dan gelap itu, masih ada nyala harapan yang kecil tapi tak akan pernah padam.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!