NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Sabtu berikutnya, Surya tidak langsung mengajak Zain ke bengkel. Sebaliknya, ia mengajak Zain ke ruang rapat kecil.

Di dalam ruangan sudah ada Ardi dan dua peneliti lain. Suasananya jauh lebih serius dari biasanya—di atas meja hanya ada sebuah map hitam.

"Ada apa?" tanya Zain sambil duduk.

Profesor membuka map itu. "Aku ingin menjelaskan batas-batas proyek ini."

"Batas?"

"Iya."

Profesor mengeluarkan selembar kertas berisi daftar. "Lihat."

Zain membacanya perlahan.

》Kendaraan tidak boleh digunakan di jalan umum saat pengujian.

》Tidak boleh membawa penumpang.

》Tidak boleh mengaktifkan sistem tanpa izin.

》Semua pengujian harus direkam.

》Pengujian dihentikan jika ada satu saja data yang menyimpang.

Zain mengangguk pelan. "Ketat juga."

"Memang harus," Profesor menatap semua orang di ruangan. "Aku tidak mau mengulang kesalahan masa lalu."

Ardi hanya mengangguk. Tak ada yang membantah.

...

Setelah rapat selesai, mereka menuju bengkel. Hari ini pekerjaannya hanya satu: memasang modul sinkronisasi yang minggu lalu sudah selesai dirakit.

Modul itu dipasang tepat di bawah jok. Bentuknya kecil, hampir sebesar *power bank*, namun puluhan kabel terhubung ke sana.

Zain membantu merapikan jalur kabel menggunakan pengikat kecil. "Kalau dilihat orang, mereka bakal mengira ini alarm motor."

Profesor tersenyum. "Lebih baik begitu. Semakin biasa terlihat, semakin aman."

Menjelang siang, semua pemasangan selesai. Profesor mengambil sebuah laptop lalu menyambungkan kabel ke motor. Layar komputer langsung dipenuhi grafik dan angka-angka yang terus bergerak.

"Ini baru pengecekan," jelasnya. "Belum ada energi yang dialirkan."

Beberapa menit berlalu. Tidak ada suara aneh, tidak ada percikan, tidak pula ada asap.

Ardi memperhatikan layar. "Semua normal."

Profesor mengembuskan napas lega. "Bagus."

Saat hendak makan siang, Zain memperhatikan motor itu dari kejauhan. Aneh—dari luar, kendaraan itu tetaplah motor yang sama.

Masih ada goresan kecil di bodi kiri akibat tersenggol tiang parkir beberapa bulan lalu, serta gantungan kunci lusuh pemberian kakeknya. Tak ada yang berubah.

Namun Zain tahu, di balik bodinya, perlahan-lahan sedang tumbuh sesuatu yang luar biasa.

Ia menoleh kepada Profesor. "Kalau semua selesai... apa benar motor ini bisa membawa saya ke masa lalu?"

Profesor terdiam beberapa saat, lalu tersenyum tipis. "Aku belum tahu."

"Lho?"

"Itulah gunanya penelitian."

Jawaban itu membuat Zain tertawa kecil. Profesor memang tidak pernah menjanjikan keajaiban—ia hanya berusaha membuktikan apakah sesuatu yang selama ini dianggap mustahil itu benar-benar mustahil, atau hanya belum pernah berhasil dilakukan.

Pekerjaan di bengkel mulai memasuki tahap yang berbeda. Kalau sebelumnya mereka hanya memasang komponen, hari ini mereka akan melihat apakah semuanya bisa saling berinteraksi.

Motor Zain kembali dinaikkan ke meja hidrolik. Bodi sampingnya masih terbuka, memperlihatkan puluhan kabel berwarna hitam yang tersusun rapi mengikuti bentuk rangka.

Profesor Surya memeriksa daftar di tangannya. "Cincin Resonansi?"

"Aktif."

"Modul sinkronisasi?"

"Siap."

"Catu daya cadangan?"

"Siap."

Ardi mengangguk dari depan komputer. "Semua terbaca."

Zain hanya memperhatikan. Ia mulai terbiasa mendengar istilah-istilah yang tidak dimengertinya, namun kali ini ia melihat sesuatu yang baru. Di samping motor terdapat sebuah kotak logam sebesar koper yang dihubungkan ke motor melalui beberapa kabel tebal.

"Itu aki?"

"Bukan," jawab Ardi. "Itu sumber daya sementara. Motor belum sanggup menyuplai energi sebesar yang kami butuhkan."

"Oh..."

Jadi untuk sementara, motor itu masih dipinjamkan tenaga dari luar.

Profesor berdiri di depan motor. "Mulai pengujian."

Ardi menekan beberapa tombol, dan layar monitor langsung dipenuhi angka.

Beberapa detik berlalu tanpa terjadi apa-apa. Lalu...

*Bzzzz...*

Suara dengungan halus terdengar dari dalam rangka motor. Pelan sekali, hampir menyerupai suara pengisi daya ponsel.

"Itu normal?" tanya Zain.

"Normal," Profesor tetap memperhatikan monitor.

Dengungan perlahan meningkat, namun tidak sampai mengganggu telinga. Lampu indikator kecil di bawah jok menyala biru.

Ardi tersenyum. "Modul sinkronisasi merespons."

"Bagus."

Lima menit berlalu dan semua berjalan stabil. Profesor akhirnya berkata, "Naikkan ke lima persen."

Ardi mengangguk. Angka di layar berubah dan dengungan sedikit meningkat.

Tiba-tiba, lampu bengkel berkedip sekali. Semua orang refleks menoleh, namun situasi itu hanya berlangsung sesaat sebelum generator cadangan langsung mengambil alih.

"Stabil," lapor salah satu teknisi.

Profesor mengangguk. "Lanjut."

Zain memperhatikan motornya. Entah kenapa, bulu kuduknya sedikit meremang. Ia mendekat beberapa langkah.

"Jangan terlalu dekat," ucap Profesor tanpa menoleh.

Zain langsung mundur. "Kenapa?"

"Medan di sekitar alat mulai terbentuk. Belum berbahaya, tapi tetap jaga jarak."

Zain mengangguk. Ia memilih berdiri di belakang garis kuning yang terlukis di lantai. Baru sekarang ia sadar bahwa garis itu ternyata bukan sekadar penanda biasa.

Beberapa menit kemudian, Ardi kembali melapor. "Sepuluh persen tercapai. Semua sistem stabil."

Profesor tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak proyek dimulai, tidak ada kesalahan, tidak ada alarm, dan tidak ada percikan listrik.

Ia menekan tombol merah di panel. Dengungan perlahan menghilang, lampu biru padam, dan ruangan kembali sunyi.

"Selamat," kata Ardi sambil mengembuskan napas lega. "Uji integrasi pertama berhasil."

Profesor menatap motor Zain cukup lama. "Lumayan."

Hanya satu kata, namun semua orang tahu itu adalah pujian besar darinya.

Zain ikut tersenyum. "Berarti tinggal dites jalan?"

Profesor menggeleng. "Belum. Kita bahkan belum menyentuh bagian tersulit."

"Apa itu?"

Profesor memandang silinder hitam yang tersimpan di dalam lemari besi—Inti Resonansi.

"Itulah jantung seluruh sistem. Dan sampai hari ini, belum pernah dipasang pada kendaraan mana pun."

Ruangan kembali hening. Semua mata tertuju ke arah lemari besi itu. Mereka tahu, setelah langkah tersebut dimulai, proyek ini tidak akan bisa kembali menjadi sekadar penelitian biasa.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!