NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:220.8k
Nilai: 5
Nama Author: cilamici

Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.

Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.

Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.

So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Emosi Pagi

Cita menatap lemari pakaiannya. Dadanya kini terasa begitu penuh. Darah muda yang mengalir dalam dirinya menggelegak.

Apa aku harus pergi saja dari rumah ini? Batin Cita.

Ia menyambar seragam sekolahnya yang digantung rapih okeh Bi Lastri di lemari pakaiannya.

Seragam abu-abu putih yang dulu begitu ia impikan memakainya karena tak sabar ingin menikmati usia tujuh belas tahun yang kata orang adalah usia paling menyenangkan nyatanya kini sama sekali tidak untuk Cita.

Cita kemudian mengganti baju yang ia pakai dengan seragam sekolah, memasukkan buku sembarangan saja tanpa melihat jadwal hari ini.

Ia keluar kamar, mengabaikan tatapan Bibi nya yang seperti ingin menyerangnya dengan berbagai macam pertanyaan yang pastinya akan semakin mengganggu.

Ayah muncul dari kamar dengan setelan jas rapi untuk pergi ke kantor.

"Mulai hari ini berangkat dengan mobil Cita! Pak Soleh yang akan mengantarmu berangkat dan menjemput saat pulang."

Kata Ayah.

Cita malas menyahut, ia berjalan saja keluar rumah.

"Cita!"

Bentak Ayah.

Wajah Ayah memerah menahan amarah yang memuncak.

"Lihat dia Bang, setiap hari begitu jika dinasehati, bukannya dengar dan menurut, selalu saja bermuka masam lalu membanting pintu."

Kata Bibi.

"Apa maunya sebetulnya! Aku sudah capek nyari uang masih saja harus mengurus anak bandel begini!"

Keluh Ayah emosi.

Cita masih bisa mendengar suara Ayah mengeluh begitu, membuat Cita jadi menangis.

Kenapa Ayah sama sekali seperti tidak mengerti jika Cita butuh didengar, butuh dianggap ada, kehilangan Ibu sudah cukup membuat hidupnya sepi, kenapa Ayah semakin hari juga semakin jauh?

Cita menatap nanar jalanan komplek, ia ingin lari sejauh mungkin sekarang jika bisa.

Pak Soleh tampak membuka gerbang, lalu masuk ke salah satu mobil yang baru saja ia panaskan dan kemudian membawanya keluar dari pelataran.

Cita berjalan malas ke arah mobil, lalu naik ke sana.

"Kata Ayah mulai hari ini Ayah bawa mobil sendiri dan Pak Soleh bertugas antar jemput Neng Cita."

Kata Pak Soleh.

Cita tak mau menyahut.

Ia diam saja.

"Mau berangkat sekarang Neng?"

Tanya Pak Soleh.

Cita mengangguk saja dengan malas.

Pak Soleh menghela nafas.

Sejak Ibunya meninggal, Nonanya itu memang jauh lebih pendiam, bahkan sama sekali tak pernah lagi mengajak Pak Soleh bercanda seperti dulu.

Seperti langit yang kehilangan matahari, seolah semuanya pada diri Cita kini terlihat begitu gelap.

Cita menyandarkan diri di kursi mobil, malas ia menatap jalanan.

Jika Cita sebagai anak bukan lagi karunia untuk Ayahnya, lalu buat apa Cita tetap di rumah? Sementara suara Cita pun kini tak ada yang mau dengar. Jika Cita mengeluh akan dianggap cengeng dan manja. Jika bersikap biasa saja, mereka yang mengintimidasi tak menyadari jika sikap mereka sangat membuat Cita tertekan.

Cita menghela nafas.

Ia ingin pergi yang jauh sekarang. Pergi, tapi Cita tak tahu harus ke mana. Usianya yang baru tujuh belas tahun dan tak memiliki banyak pengalaman ke mana-mana selain pergi dengan orangtuanya, membuat Cita jelas tak memiliki banyak pandangan jika ia harus nekat pergi keluar dari rumah.

Cita masih sibuk memikirkan banyak hal, ketika mobil berhenti di depan sekolah Cita.

Tampak sekolah sudah ramai karena hari memang sudah cukup siang.

Cita turun tanpa mengatakan apa-apa, ia juga berjalan menggendong ranselnya masuk ke sekolahan tanpa menyapa siapapun yang ia lewati.

**----------**

Di lapangan basket Adi tampak mendribel bola dengan lincah, lalu ia tampak dengan gerakan gesit melewati tiga orang lawan yang menghadang dan syuuuut...

Bola ditembakkan ke ring dan masuk. Adi berlari sambil tos dengan teman satu timnya.

Banyak anak perempuan baik yang sekelas, maupun kakak dan adik kelas menonton latihan Adi dan kawan-kawannya yang memang akan mengikuti lomba basket mewakili sekolah mereka.

"Kak Adiiiii... Kak Adiiii..."

Sekelompok adik kelas perempuan meneriakkan nama Adi tepat saat Cita melewati lapangan basket di mana Adi sedang latihan.

"Citaaaa..."

Adi yang namanya diteriaki begitu banyak perempuan malah memanggil Cita yang acuh melewatinya.

Cita menoleh, terlihat Adi melambai, ia senang Cita berangkat sekolah, sejak pulang dari rumahnya dan tak bisa dihubungi Adi cukup khawatir dengan Cita.

Cita hanya tersenyum ala kadarnya pada Adi, lalu tetap berjalan menuju kelas.

Adi menatap Cita yang menjauh, Vino teman Adi merangkul Adi.

"Hei Bro, ayo lanjut, lihatin Cita mulu."

Kata Vino.

Adi mengangguk.

Lalu kembali berlari ke tengah lapangan.

Cita masuk ke kelas, duduk di bangkunya dan merebahkan kepalanya di atas meja dengan malas.

Jam masuk masih lima belas menit lagi, Cita duduk saja di sana, ranselnya ia letakkan asal saja.

"Hai Ta."

Desi muncul di kelas selang dua menit setelah Cita masuk.

Desi yang duduk di bangku depan bangku Cita mengetuk meja Cita.

Cita mengangkat wajahnya.

"Kamu Des, kenapa?"

Tanya Cita malas.

"Kamu sudah sampein apa yang aku omongin ke kamu kan sama Adi?"

Tanya Desi.

Cita merebahkan kepalanya lagi.

"Lupain saja Adi dan cari yang lain."

Kata Cita.

"Yaaah tega banget kamu ngomong gitu Ta."

Keluh Desi.

"Adi itu kalau sudah bilang enggal ya enggak Des, buat apa dipaksain."

Cita akhirnya mengganti posisinya, duduk bersandar menatap Desi yang menghadap Cita yang duduk di belakangnya.

"Aku masih sayang sama dia."

Lirih Desi.

"Kamu sayang dia tapi kamu bikin salah sama dia, kamu tuh aneh."

Kesal Cita.

"Aku kan ngga ada hubungan apa-apa sama Panji."

Desi membela diri.

"Yah terserah sajalah, yang jelas aku ngga bisa bantu lagi Des."

Kata Cita.

Desi menatap kecewa Cita.

"Apa benar kata temen-temen kalau kalian aslinya pacaran di belakangku?"

Desi malah menuduh.

Cita mengerutkan kening.

"Apaan sih, enggak jelas banget.'

Cita jadi kesal.

Otak Cita sedang mampet memikirkan masalahnya di rumah malah sekarang ditambah pula oleh Desi, mana masalahnya tidak penting.

"Kalian aslinya pacaran kan di belakangku?"

Tuduh Desi lagi, matanya berkaca-kaca.

Cita mendengus kesal.

"Aku sama Adi kenal udah dari kecil, jauh sebelum dia kenal kamu dan pacarin kamu, kalau kami mau pacaran ngga usah diam-diam di belakangmu, otakmu enggak dipake?"

Tanya Cita kasar.

"Kok kamu kasar sih Ta!"

Desi jengkel.

"Lho, kamu duluan yang main tuduh sembarangan, kamu pikir aku apaan, mikirin pacaran aja boro-boro, ngeselin banget."

Cita emosi.

"Aku kan nanya baik-baik, jawab aja yang bener kan bisa. Kalau enggak ya udah bilang aja enggak, apa susahnya. Lagian sekalipun kalian nyanggah juga susah buat kita pada percaya kamu sama Adi ngga ada hubungan apa-apa, mana ada cewek sama cowok sahabatan tanpa perasaan apa-apa."

Cita yang kepalanya sudah benar-benar pusing dengan semua masalahnya dengan keluarga di rumah, tentu saja tak bisa menahan emosinya mendapat serangan dari Desi yang menurut Cita sama sekali tidak penting itu.

Cita berdiri dan menggebrak mejanya.

Brak!!

"Kamu bisa diem ngga!!"

Bentak Cita.

Semua anak yang sudah ada di kelas dan baru akan masuk kelas dan juga yang sedang ada di luar kelas begitu mendengar suara gebrakan meja Cita langsung memandang ke arah Cita yang mendelik ke arah Desi.

Desi anak ketua yayasan sekolahnya itu wajahnya tampak memerah.

"Bodo amat kamu mau cinta mati sama Adi aku ngga peduli, kamu pikir aku punya waktu ngurusin ginian, buang waktu!"

Sinis Cita.

Desi berdiri.

Ia merasa begitu dipermalukan Cita.

Tanpa berkata apa-apa lagi pada Cita, tampak Desi beranjak pergi keluar kelas.

Cita menghela nafas.

Ia kembali duduk dan mengurut keningnya.

Haish...

Sial! Pasti ia akan dipanggil Guru lagi.

**-------**

1
falea sezi
harusnya mami Asti ma bapaknya cita baru pas
falea sezi
q kira damar ma cita
Victor Gz038
bisa di lanjut ga sih kisahnya angga,cita,damar,dan esti pasti bakal lebih seru lagi/Smirk/
Victor Gz038
apa cuma saya cowo yang baca novel ini
Aira Ramadhani
Luar biasa
Aira Ramadhani
Lumayan
novita setya
cita 17thn beban mslh udh kek berumah tangga puluhan thn. ada mslh apa sebenernya antara cita & kak cila..sentimen amaat😄😄😄😄
novita setya
pak yandik bikin neraka kesekian buat cita..hadeeeh peka dikit paak dikiiiit aja
novita setya
Luar biasa
novita setya
Lumayan
novita setya
mertua ipar mantan pacar..cobaan yg ga ada hbsnya. adaaaaa ajaaa perkaranya
novita setya
poor cita
novita setya
menghadapi & mengatasi mslh remaja beranjak dewasa hrs sabar & hati2. omongan dijawab katanya ga sopan. omongan didengar doang katanya mengabaikan..jadi gmn
novita setya
duh duh q jd tercila cila sm kak mici😄ubeerrr teroos novel kakak. kelar satu samperin yg lain
🎎 Lestari Handayani 🌹
😭😭😭😭😭😭😭
Cila Mici: wkwkwk suka menangis malah
total 3 replies
🎎 Lestari Handayani 🌹
kayanya Dunia itu sempit banget ya. bentar" ketemu ini, bentar" ketemu itu
🎎 Lestari Handayani 🌹
kayanya ini keluarga g ada yg punya rasa pengertian ya. greget aku
🎎 Lestari Handayani 🌹: hahaha gigit aja. habis bikin cerita yg bikin nangis aja
total 2 replies
🎎 Lestari Handayani 🌹
aku tuh ya udah cengeng. knp bikin novel yg bikin nangis sih say...😫😫😫😫
🎎 Lestari Handayani 🌹: sedih laaaahhhh....😭😭😭
total 2 replies
🎎 Lestari Handayani 🌹
mampir aaahhhh....
Teh lia
Akhir nya tamat juga...di tunggu ya thor kisah pandawa sama aunti maria 😊😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!