Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Rumah Kecil dan Prinsip yang Tak Tergoyahkan
Enam bulan berlalu sejak lembar baru itu terbuka. Perusahaan keluarga perlahan bangkit dari keterpurukan—nilai saham naik kembali, kontrak-kontrak baru mulai masuk, dan nama baik keluarga yang ternoda perlahan pulih berkat kerja keras tanpa lelah. Namun perubahan terbesar bukan terjadi di gedung perkantoran yang megas itu, melainkan di sebuah rumah papan atas berukuran sederhana di perumahan asri, sepuluh menit dari kantor: rumah kecil pertama milik Agung dan Larasati.
Pagi itu, jam baru menunjukkan pukul lima lewat seperempat, tapi dapur rumah itu sudah berbau harum nasi goreng bawang dan kopi tubruk. Agung berdiri di depan kompor dengan celemek dapur yang terlalu besar untuk badannya, wajahnya berkerut serius sedang membolak-balikkan telur mata sapi, sementara Larasati duduk di meja makan kecil, memakai kemeja kerja yang belum dikancing rapi, sambil membolak-balik laporan penjualan sambil sesekali tertawa melihat tingkah suaminya.
“Jangan gosongkan telurnya, Pak Direktur,” goda Larasati, menyeduh kopi untuk mereka berdua. “Kemarin saja kamu sampai menghitamkan roti bakar sampai asap memenuhi ruangan.”
Agung mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat. “Itu kecelakaan kecil. Lagipula, kan kamu yang bilang suami yang bisa masak itu poin tambah nilai.”
“Iya, poin tambah kalau hasilnya bisa dimakan, bukan jadi arang.” Larasati bangkit, berjalan mendekat lalu memeluk pinggang Agung dari belakang, menyandarkan pipinya di punggung pria itu. Suaranya melembut, hilang sama sekali ketegasan Direktur Operasional yang biasa ditunjukkannya di kantor. “Terima kasih, ya. Bangun pagi-pagi cuma buat masakin aku.”
Agung mematikan kompor, lalu berbalik membalas pelukan istrinya, mengecup keningnya pelan. “Apa lagi yang harus kulakukan? Kamu kemarin tidur jam dua malam karena mempersiapkan presentasi klien. Istriku kerja lebih keras dari siapa pun. Tugas suamiku sedikit-sedikit meringankan bebanmu, kan?”
Ini adalah wajah cinta mereka yang tidak pernah dilihat orang lain: bukan lagi pasangan muda yang sering bertengkar kecil karena gengsi, tapi dua orang dewasa yang memilih saling menjaga satu sama lain setiap hari, dengan hal-hal sederhana yang tidak tertulis di kontrak pernikahan mana pun. Di rumah kecil ini, tidak ada jabatan Direktur Utama atau Direktur Operasional. Yang ada cuma Agung dan Larasati: suami dan istri yang saling mengingatkan makan, saling memijat pundak yang kaku setelah seharian bekerja, dan saling mendengarkan keluh kesah tanpa perlu menghakimi.
Namun kebahagiaan sederhana itu tidak berlangsung lama. Saat mereka tiba di kantor pagi itu, wajah Aditya yang sudah menunggu di ruang rapat terlihat sangat serius. Paman mereka yang baru kembali itu kini menjabat sebagai penasihat senior perusahaan—pengalaman 25 tahun berkelana bekerja di berbagai perusahaan besar membuatnya menjadi aset paling berharga yang tidak pernah disangka keluarga miliki.
“Ada kabar buruk,” kata Aditya segera setelah mereka duduk. “Tiga klien terbesar kita yang baru saja kita perbaiki hubungannya tadi malam mengirim surat pemutusan kontrak sepihak. Semuanya pindah ke PT Nusantara Abadi.”
Agung mengernyit dalam. “Nusantara Abadi? Perusahaan lama saingan ayah dan Bu Wulan puluhan tahun lalu? Bukankah mereka hampir bangkrut lima tahun lalu?”
“Mereka bangkit di bawah pimpinan generasi ketiga: Rama Darmawan. Seumuranmu, Agung. Lulusan bisnis terbaik dari luar negeri, cerdas, kejam, dan dendam turun-temurun terhadap keluarga kita. Kakeknya dulu kalah telak dari kakekmu dalam memperebutkan izin perkebunan kopi besar di Sumatera. Dia bilang itu aib keluarga yang harus ditebus.” Aditya berhenti sejenak, lalu menatap Larasati dengan pandangan yang tidak enak. “Dan… dia minta bertemu kalian berdua siang ini. Sendirian.”
Saat pertemuan itu berlangsung di ruang tamu kantor, Agung langsung mengerti mengapa Aditya terlihat gelisah. Rama Darmawan adalah pria berpakaian rapi dengan senyum yang terlalu manis untuk bisa dipercaya, tatapannya tajam seperti pisau yang selalu siap menusuk dari belakang. Tapi yang membuat Agung sedikit terkejut adalah cara Rama menatap Larasati—bukan tatapan rekan bisnis biasa.
“Larasati,” sapa Rama lembut, bahkan tidak mempedulikan Agung yang duduk di samping istrinya. “Sudah lama ya. Sejak hari kelulusan kuliah kita di Bandung, kan? Kamu masih sama cantiknya seperti dulu. Bahkan lebih dewasa, lebih menarik.”
Larasati mengangguk dingin, tidak membalas senyum pria itu. “Rama. Apa tujuanmu memutus kontrak klien-klien kita? Kita tidak pernah mengganggu bisnis keluargamu.”
Rama tertawa pelan, bersandar di kursinya. “Tujuan? Sederhana. Aku ingin menghancurkan perusahaan keluargamu sampai tidak ada yang tersisa. Tapi… aku berubah pikiran kemarin malam saat tahu kamu yang memimpin operasional di sini.” Ia condong ke depan, tatapannya sekarang lebih intens. “Aku tawarkan perdamaian. Aku akan mengembalikan semua klien itu, bahkan menambahkan tiga klien ekspor besar yang aku pegang. Keuntungan perusahaan kalian bisa naik 70% hanya dalam setahun. Cukup untuk membuat kalian melampaui masa jaya Bu Wulan sekalipun.”
Agung merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Tawaran itu terlalu bagus untuk jadi kenyataan. “Apa syaratnya?”
Senyum Rama melebar, semakin tidak bisa dipercaya. “Sederhana. Putuskan kontrak kalian dengan dua belas pemasok petani kopi kecil di daerah Temanggung yang sudah bekerja sama dengan keluarga kalian selama tiga generasi. Aku punya pemasok besar di Brasil yang bisa menjual biji kopi dengan harga 40% lebih murah. Kualitasnya hampir sama, tapi keuntungannya… luar biasa.”
Ruang tamu itu seketika hening. Dua belas pemasok kecil itu bukan sekadar nama di daftar kontrak. Mereka adalah keluarga-keluarga yang sudah berteman dengan leluhur perusahaan, yang bertahan bersama keluarga Saraswati bahkan saat krisis moneter melanda, yang anak-anaknya bahkan ada yang disekolahkan oleh Bu Wulan sampai lulus kuliah. Memutus kontrak mereka sama saja dengan melempar keluarga-keluarga itu ke jurang kemiskinan dalam semalam.
“Dan syarat pribadiku,” tambah Rama pelan, matanya hanya tertuju pada Larasati. “Kamu tinggalkan dia. Tinggalkan Agung yang tidak tahu apa-apa ini, datang bekerja bersamaku di Nusantara Abadi. Aku bisa memberimu jabatan lebih tinggi, kekayaan lebih banyak, kehidupan yang tidak akan pernah kamu dapatkan di sini selagi memegang prinsip kuno keluarga kalian.”
Agung langsung bangkit dari kursinya, emosinya hampir meledak. Tapi sebelum ia sempat berkata apa-apa, Larasati justru lebih dulu berdiri, wajahnya dingin seperti es, tidak ada sedikit pun goyangan di matanya.
“Pertemuan selesai,” katanya tegas, suaranya menggelegar meski tenang. “Jawabannya tidak. Untuk kedua syaratmu.”
Rama mengangkat alis, terkejut. “Kamu tidak berpikir dulu, Larasati? Tanpa klien-klien itu, perusahaan kalian akan merugi besar dalam tiga bulan. Komisaris-komisaris tua itu tidak akan diam. Mereka akan memecat kalian berdua dan menjual perusahaan ini kepadaku dengan harga murah. Apakah prinsip itu lebih berharga daripada masa depan perusahaan? Daripada masa depan kalian?”
“Prinsip itulah yang membangun perusahaan ini,” jawab Larasati mantap, menggenggam tangan Agung yang masih gemmar menahan marah, memberinya kekuatan lewat sentuhan jari itu. “Bu Wulan pernah bilang: perusahaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain tidak akan pernah bertahan lama. Dan soal suamiku… dia bukan orang yang tidak tahu apa-apa. Dia adalah pemimpin terbaik yang pernah dimiliki perusahaan ini. Dan dia adalah satu-satunya pria yang aku cintai seumur hidup. Kamu tidak akan pernah bisa menggantikannya, Rama. Bahkan dengan seluruh kekayaanmu sekalipun.”
Mereka berjalan keluar dari ruangan itu bergandengan tangan, tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Tapi begitu pintu tertutup, Larasati langsung menoleh ke Agung, wajahnya yang tadi tegas kini penuh kekhawatiran.
“Maafkan aku. Aku harus bilang begitu. Aku tidak bisa diam mendengar dia merendahkanmu,” katanya cepat, takut suaminya marah karena ia mengambil keputusan sepihak yang bisa menghancurkan perusahaan. “Tapi kalau kamu mau mempertimbangkan tawarannya, aku—”
Agung memotong kata-katanya dengan mengecup bibir istrinya pelan di koridor kantor yang sepi, tidak peduli siapa yang mungkin melihat. Saat ia melepaskannya, matanya berbinar penuh cinta dan kekaguman.
“Jangan pernah minta maaf karena melakukan hal yang benar,” bisiknya. “Kamu benar. Aku juga akan menjawab tidak. Bahkan seribu kali tidak. Aku bangga padamu, Larasati. Sangat bangga.”
Benar seperti dugaan Rama, badai segera datang. Tiga hari kemudian, rapat dewan komisaris darurat diadakan lagi. Para komisaris tua marah besar, menuntut Agung dan Larasati mengundurkan diri karena telah menolak kesempatan emas menyelamatkan perusahaan. Mereka menuduh keduanya terlalu muda, terlalu naif, terlalu dibutakan oleh cinta sehingga tidak bisa berpikir jernih soal bisnis.
“Ini bunuh diri!” bentak salah satu komisaris paling tua, yang sudah bekerja sama dengan keluarga sejak zaman ayah Ibu Saras. “Kalian lebih memilih mempertahankan petani-petani miskin itu daripada masa depan ratusan karyawan kantor ini? Apa kalian gila?”
Di tengah teriakan itu, Agung dan Larasati duduk berdampingan, bergandengan tangan di bawah meja. Tidak ada yang saling menyalahkan. Tidak ada yang merasa bersalah. Mereka hanya saling memandang sesekali, dan setiap kali mata mereka bertemu, mereka tahu: mereka telah membuat pilihan yang benar, apa pun konsekuensinya.
Saat keadaan hampir tidak bisa diselamatkan, pintu ruang rapat terbuka lebar. Ibu Saras masuk dengan langkah tegas, di sampingnya Aditya membawa tumpukan dokumen tebal. Di belakang mereka, berdiri dua belas kepala keluarga petani dari Temanggung, wajah mereka penuh tekad.
“Maaf terlambat,” kata Ibu Saras tenang, menatap satu per satu wajah komisaris yang terkejut. “Saya baru kembali dari Temanggung. Para bapak petani ini tahu semua yang terjadi. Mereka tahu Rama Darmawan ingin memutus kontrak mereka melalui kita. Dan mereka datang membawa jawaban.”
Salah satu petani tua, Pak Darmo, yang sudah bekerja sama dengan keluarga selama 40 tahun, maju ke depan. Suaranya parau tapi tegas.
“Kami tahu perusahaan keluarga Ibu sedang susah. Kami tidak mau jadi beban. Jadi kami sepakat: selama setahun ke depan, kami bersedia menurunkan harga jual biji kopi kami sebesar 15%. Kami juga akan membantu mencari pembeli baru di kota-kota lain, lewat kenalan-kenalan kami yang berdagang di pasar tradisional. Selama ini keluarga Ibu yang menyekolahkan anak-anak kami, yang menolong kami saat gagal panen. Sekarang giliran kami menolong.”
Air mata hampir menetes di mata Larasati. Di sampingnya, Aditya meletakkan dokumen di meja. “Dan ini kabar baik lainnya. Teman lama saya yang bekerja di perusahaan importir besar di Eropa kemarin menghubungi. Mereka tahu soal pilihan kalian menolak tawaran Rama Darmawan. Mereka terkesan dengan prinsip yang kalian pegang. Mereka ingin menandatangani kontrak pembelian kopi dalam jumlah besar selama lima tahun, dengan harga yang lebih tinggi dari pasar. Nilainya… dua kali lipat kerugian akibat ditinggalkan klien lama.”
Ruang rapat kembali hening, tapi kali ini hening karena takjub. Para komisaris tua saling berpandangan, wajah mereka memerah karena malu—mereka yang meragukan keputusan muda-mudi itu, justru keputusan itulah yang menyelamatkan perusahaan dengan cara yang tidak pernah mereka duga.
Malam itu, Agung dan Larasati pulang ke rumah kecil mereka dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Mereka tidak langsung masuk ke dalam. Agung mengajak istrinya duduk di teras depan, melihat langit malam yang penuh bintang, sambil berbagi segelas teh hangat.
“Kamu tahu tidak,” kata Agung pelan, memeluk bahu Larasati sehingga wanita itu bersandar di dadanya. “Hari ini aku sadar sesuatu. Membangun perusahaan itu sama seperti membangun rumah tangga. Keduanya tidak bisa bertahan hanya dengan keuntungan atau kemewahan. Keduanya butuh kepercayaan, butuh prinsip, dan butuh keberanian untuk memilih hal yang benar, bahkan saat semua orang bilang itu bodoh.”
Larasati mengangkat wajah, menatap suaminya dengan mata yang berbinar. “Dan kita punya semuanya, kan? Satu sama lain.”
“Tepat sekali.” Agung tersenyum, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya: selembar kertas gambar arsitektur yang sederhana. “Ini juga kabar lain. Aku sudah bicara dengan Ibu dan Paman Aditya. Setelah perusahaan benar-benar stabil nanti, kita akan membangun rumah baru yang lebih besar. Tapi tidak jauh dari sini. Karena aku suka rumah kecil kita ini. Tempat di mana kita belajar menjadi suami istri yang sesungguhnya.”
Larasati menerima kertas itu, matanya berair saat melihat desain rumah sederhana dengan kebun bunga melati yang luas di bagian belakang—persis seperti kebun kesayangan Bu Wulan. Ia tahu, di suatu tempat, wanita tua itu pasti sedang tersenyum melihat mereka.
Belum ada yang tahu bahwa Rama Darmawan tidak akan tinggal diam begitu saja. Bahwa dendam keluarga Darmawan baru saja dimulai, dan rencana jahat yang lebih besar sedang disusun untuk menjatuhkan mereka. Tapi di teras rumah kecil itu, di bawah cahaya bulan yang lembut, hal-hal itu tidak terlalu penting untuk saat ini.
Yang penting adalah mereka bersama. Bahwa apa pun badai yang akan datang, mereka akan menghadapinya bergandengan tangan, dengan prinsip yang tidak tergoyahkan, dan dengan cinta yang tumbuh semakin dalam setiap hari—cinta dewasa yang tidak hanya berbunga-bunga, tapi juga berakar kuat, siap menopang satu sama lain sampai kapan pun.