Si Raja Es yang merupakan Ketua Osis SMA Generasi Bangsa, dipertemukan dengan badgirl kelas mujaer yang belangsak dan petakilan. Berulang kali membuat masalah, berulang kali ngebuat Elang kesal. Benci jadi cinta? Udah biasa.
Apa jadinya kalau cinta menjadi benci,
Lalu harus dipertemukan lagi oleh semesta?
Badgirl vs Ketos started>>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6. Pembalasan
Tengkuknya dingin ketika berjalan di depan kantor, seseorang memanggilnya dari belakang.
"Elang..."
Langkahnya terhenti sesaat tiba-tiba telinganya ditarik hingga memerah.
Elang memegangi telinganya, sambil mengusap pelan tulang perawan –ralat tulang rawannya yang serasa lepas.
"Siapa yang suruh kamu pulang, hah?! Wc-nya masih kotor!!!" teriak Madam Rose murka.
"Gabriel udah pulang duluan... Gak adil lah kalau saya sendiri."
"Hoo... berani melawan guru kamu Elang!"
"Cepat kerjakan! Sekalian kantor kamu sapu!!!" tambah Madam Rose melenggang pergi meninggalkan Elang yang membeku di tempat.
"Ingin ku berkata kasar..." gumam Elang pelan.
"APAA!?!" sahut Madam Rose marah.
Tanpa banyak bacot Elang mengerjakan perintah Madam Rose karena malas kalau nanti diadukan pada Ayahnya.
Tapi sesaat ia mengingat rencana yang harusnya dia lihat saat itu.
Gabriel pasti menangis.
×××
Bugghh!!
Pukulan keras membuatnya terpelanting ke dinding kamar mandi.
Di sana tidak ada orang lain kecuali Gabriel dan sekelompok geng campuran cewek dan cowok, menatap sarkastik padanya.
Ariel memukul pipi Gabriel hingga memar dan berdarah sedangkan Angel, Sandra, dan Bunga menjambak rambutnya sampai rontok.
Namun dia hanya diam, tidak ada balasan untuk membela diri.
Gabriel ingat hari terakhirnya berkelahi dengan kakak leting di sekolah lamanya hingga ia di keluarkan.
"Paling tidak jangan buat papa malu."
Kata itu terus membayangi pikirannya. Kalau bukan karena Ayahnya sudah pasti Gabriel akan mematahkan tulang manusia di hadapannya saat ini untuk dijadikan sop. Namun dia tidak bisa melakukan hal tersebut karena sudah kesekian kalinya dia pindah sekolah. Dan kesekian kalinya pula Ayahnya harus repot-repot mendaftarkannya ke sekolah baru.
Kalau tidak Ayahnya harus membayar biaya rumah sakit lagi karena Gabriel mematahkan tulang anak orang.
Plakk!
Seorang cewek yang seragamnya sengaja dibuat sempit sambil mengisap sebatang rokok menamparnya sangat keras.
Angellia Febryana ketua geng paling famous di sekolah dan jagonya melabrak cewek yang mendekati Elang termasuk Gabriel.
Menarik kerah baju Gabriel dengan kasar, cewek itu meludah tepat di hadapan Gabriel dan sukses membuat matanya melotot.
Namun tangannya masih kaku dan tidak bisa ia gunakan.
"Kenapa? Lo takut bilang aja ga usah pake melotot segala," sahut Sandra dari belakang.
"Atau lo mau diguyur? HAHAHA!" Ariel membawa air sisa pel dalam timba membuat Gabriel mengernyit.
Bodo amat mau dipindahin, gue harus lawan balik. Pikirnya.
Namun Gabriel berubah pikiran ketika terdengar langkah kaki dari luar, bukan pelajar pastinya karena masih jam pelajaran. Mungkin ia bisa minta tolong jika itu guru.
"TOLONG DI SINI ADA YANG LAGI ISAP NARKOBA!!!" teriak Gabriel dengan nada serak.
Dan benar dugaan Gabriel, Pak Ibrahim masuk dengan paksa lalu menatap mereka satu persatu.
Maju selangkah, Pak Ibrahim menatap geng tersebut dari atas ke bawah tentu ia sudah kenal dengan mereka yang merupakan langganan masuk BK.
Memang biasanya mereka masuk ruang BK karena membully dan itu menjadi makanan mereka setiap hari. Kali ini berbeda, bahkan dari gerak-gerik mereka sudah diketahui ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
Angel melempar sesuatu dari saku roknya ke tong sampah, dan dengan jelas Gabriel melihat plastik berisi serbuk tersebut.
"Aik dugaan gue bener, mereka make obat kuat ralat obat-obatan," batin Gabriel, menurutnya dewi fortuna sedang senang padanya biasanya ia tidak pernah seberuntung ini. Makan kuaci aja sering keselek.
Ariel mundur ketika Pak Ibrahim mendekatinya dan dengan cepat mengambil dompet di dalam sakunya.
"Ini apa?" kata Pak Ibrahim tajam memegang plastik berisi serbuk. Mereka menunduk takut, antara takut dimakan atau takut kena muncratan ludah Pak Ibrahim.
"Kalian semua ikut saya!!!" lanjutnya begitu lantang dan Gabriel mengekor dari belakang.
"Kamu ngapain?!!" bentak pak Ibrahim.
"Lah tadi suruh ngikut?"
"Balik sana."
"Ke rumah pak?!" tanya Gabriel lagi.
"KE KELAS!!" dengan nada tinggi ia berteriak membuat Gabriel tersentak.
"Sangar sangad... " gumam Gabriel elus dada.
"Apa!?!" sahut Ibrahim.
"Ampun pak," sela Gabriel mundur teratur lalu berlari menuju kelas.
'Gue pengen pulang...' batinnya sesak.
Kini dia menjadi pusat perhatian dengan muka yang lebam dan berdarah, belum lagi seragam robek dan kusam membuat ia terlihat seperti 'gembel SMA Generasi Bangsa'.
"Waw... ada preman baru di sekolah kita!" kata seseorang yang sedang duduk di depan kelas XI Ips 1.
Zean Adriansyah Nafta seniornya para badboy di angkatannya. Baju panjang sebelah, rambut acak-acakan, memiliki wajah tampan sekaligus dingin.
Banyak yang menyukainya tapi tidak berani mendekati apalagi menyatakan perasaan pada Zean. Karena hal itu sama aja kayak mendekam di kulkas rumah hantu.
Dingin sekaligus horor!
Zean adalah orang yang paling ditakuti adik kelas maupun senior karena kalau berkelahi dengannya nyawapun bisa hilang atau paling tidak dirawat di rumah sakit selama 2 bulan.
Gabriel berusaha menghiraukan omongan tak penting dari Zean. Namun cowok itu berjalan mengikuti langkah kaki Gabriel yang terlihat memburu, sambil sedikit menyunggingkan senyum mungkin gadis di sampingnya itu sudah kenal duluan siapa dirinya hingga terlihat menghindar begitu.
Dan Zean udah ge-er duluan.
"Gak usah takut, gue gak makan orang... Gak selera gue badan kurang gizi macam lo," sahutnya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"...."
Tak ada niat sedikitpun membalas ucapan Zean hingga ia berbelok memasuki kelas.
Dan Zean terdiam beribu tanya dalam benaknya.
"Pernah sakit... Tapi tak pernah sesakit ini... Wkwkwkwwkk," sahut segerombolan temannya mengejek.
Karena marah Zean langsung mengebiri kelima cecunguk itu.
×××
Tap...tap..tap
Gabriel memasuki ruangan putih yang terisi oleh murid-murid teladan XI Ipa 1.
Semua mata menatap tajam karena penampilannya sama sekali tidak mencerminkan kriteria anak Ipa 1 yang terpelajar dan bermoral.
"Astagfirullah..." Bu Shifa guru Agama mereka yang memakai hijab itu tersentak melihat keadaan Gabriel yang begitu parah.
Dan Gabriel segera dibawa ke UKS bersama Bu Shifa dan Andri yang ikutan panik melihat Gabriel. Namun sebelum meninggalkan kelas ia melihat tatapan puas dari si pemilik mata elang, sama dengan namanya.
Elang Geraldy Rifaldo.
***
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️❤️
moga kedepannya Thor lebih teliti 👌🏻👍🏻💪
ceritanya bagus banget🤩