NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. PESAN TERAKHIR

Keesokan paginya, Arka berjalan menuju rumah di sebelah perkebunannya.

Sejak kejadian 2 hari yang lalu, suasana di sekitar rumah tersebut terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Tidak ada suara Pak Braun yang biasa terdengar dari halaman. Yang ada hanya para pekerja merawat domba nya.

Arka berhenti di depan pagar.

Ia menatap rumah itu beberapa saat.

Arka mengingat perkataan Pak Thom saat menuju kemari.

Sara ternyata sempat datang beberapa hari sebelum kematian ayahnya, lalu balik lagi ke luar kota.

Dan sekarang, Arka ingin menanyakan sesuatu dari gadis masa kecil itu, tentang apa yang terjadi saat satu hari sebelum kematian ayahnya.

Arka membuka pagar perlahan.

Kreeek...

Ia berjalan menuju pintu depan dan mengetuk.

Tok! Tok! Tok!

Tidak ada jawaban.

Arka mengetuk sekali lagi.

Tok! Tok!

"Permisi apa ada orang?"

Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam.

Kreek.

Pintu terbuka.

Seorang perempuan berdiri di balik pintu.

Rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya terlihat lelah. Matanya tampak sembap, seolah baru saja menangis.

Arka langsung mengenalinya dari beberapa foto yang pernah Pak Braun perlihatkan padanya.

"Sara, lama tidak bertemu."

Gadis itu terdiam.

Kemudian matanya membesar ketika melihat Arka.

"Kamu... Arka?"

Arka mengangguk.

"I-iya, lama...tidak bertemu."

Sara menatapnya beberapa detik sebelum membuka pintu sedikit lebih lebar.

"Ada apa?"

"Sungguh kebetulan kamu datang kesini Arka."

"Dan aku ingin menanyakan sesuatu tentang kematian ayahku."

Arka menundukkan kepala nya.

"Tentu, aku akan jelaskan."

Sara membukakan pintu, untuk menyuruh Arka masuk ke dalam.

"Kalau begitu, masuklah dulu."

Arka melangkah masuk.

Dan melihat sekeliling, rumah tamu rumah itu masih terlihat seperti biasanya. Namun ada sesuatu yang berbeda.

Di atas meja terdapat beberapa foto keluarga.

Salah satunya adalah foto Sara bersama ayahnya.

Arka tak sengaja memandang foto tersebut.

Dan Sara menyadari nya.

"Itu foto saat aku pulang bulan lalu, dan ayah janji akan menemani ku saat wisuda."

"Tapi, sekarang sudah terlambat."

"Maaf, aku tidak bermaksud-"

"Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah selesai wisuda dan sekarang aku akan tinggal disini."

Sara duduk ke sofa.

Arka ikut duduk di sebelahnya.

Beberapa saat mereka hanya terdiam.

Akhirnya Sara bertanya.

"Kamu kan yang menemukan ayahku?"

Arka mengangguk perlahan.

"Iya, dan kau pasti sudah tau kalau aku yang menjadi tersangka, kan?"

Sara menatap ke lantai.

"Ti-tidak seperti itu."

"Aku yakin, tidak mungkin kamu, Arka."

"Saat pulang dari pemakaman ayah, aku sadar saat polisi bilang kepada ku."

"Polisi? mereka bilang apa?"

"Mereka bilang, saat tubuh ayah sedang di otopsi, mereka menemukan di kepala ayah ada luka seperti di pukul oleh sesuatu yang keras."

Arka berpikir sejenak saat mendengar cerita dari Sara.

"Dan ngomong-ngomong, aku ingin kau menjelaskan kejadian kepada ku." tanya Sara sambil menatap Arka.

Arka menarik napas panjang.

"Sebenarnya, malam itu aku ke kantor pemasaran di depan kebun ku untuk mengecek apakah ada yang tertinggal, karena saat itu aku ingin mengantar barang ke luar kota. Dan saat berjalan melewati kebun... Dan kemudian..."

Belum sempat Arka menjelaskan lagi, Arka memegang kepala nya dan menggertakan giginya dengan wajah ketakutan.

Sara mengepalkan tangannya.

"Sudah, tidak perlu dilanjutkan."

Arka tidak menjawab.

Sara mengusap rambut Arka untuk menenangkan nya.

"Aku sebenarnya sudah merasa ada sesuatu yang aneh sejak saat beberapa hari lalu."

Arka langsung memperhatikan wajahnya.

"Apa maksud mu?"

Sara menatap Arka.

"Ayah sering kali keluar rumah pada malam hari."

"Kemana?"

"Aku tidak tau, tapi yang ku ingat ayah sering ke belakang rumah."

"Apa Pak Braun pernah mengatakan sesuatu."

Sara terdiam cukup lama.

Kemudian ia menjawab pelan.

"Dia pernah mengatakan padaku agar tidak cepat-cepat pulang kerumah."

"Kenapa Paman mengatakan itu."

"Ayah bilang, disini banyak sekali orang-orang hilang, terutama wanita."

"Jadi... Ayah khawatir dan menyuruhku untuk diluar kota sedikit lebih lama."

"Lalu, apakah Paman ada bilang sesuatu lagi padamu?"

Sara menggelengkan kepala.

"Tidak ada, setiap aku bertanya, ayah selalu saja menghindar."

Arka semakin serius.

"Tunggu, bukan kah kamu ada datang ke rumah utama beberapa hari sebelum Paman meninggal?"

Sara menatap Arka.

"Ya, aku ada datang ke rumah utama saat beberapa hari sebelum ayah meninggal, lalu aku kembali lagi ke kota."

"Lalu, untuk apa kamu datang ke rumah utama? Apakah kamu bertemu seseorang dirumah?"

"Saat aku datang, dirumah terlihat tidak ada orang."

Arka terdiam sejenak.

"Kamu mencariku, sebenarnya ada apa?"

Sara menatap pintu rumahnya.

Seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengarnya.

Kemudian Sara berkata pelan.

"Ayah pernah mengatakan sesuatu padaku, sebelum aku kembali ke luar kota."

Arka mencondongkan tubuhnya.

"Sesuatu apa?"

Sara kembali menatap Arka.

"Ayah bilang kepada ku, bahwa berhati-hati lah kepada orang yang bernama Thom."

Arka langsung membeku.

"Pak Thom."

"Kamu kenal dengan orang itu?" tanya Sara.

Arka mengangguk.

"Hmm... Dia adalah kepala gudang di kantor pemasaran milikku."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Arka masih tak percaya apa yang baru ia dengar. Dan Arka teringat sesuatu saat Pak Thom meminta maaf kepada nya saat itu.

"Jadi... Itu maksudnya." Arka berbicara di dalam hati.

Karena Sara melihat Arka terdiam, ia menggoyangkan pundak Arka.

"Hey, kamu tak apa, Arka?"

"Hmm, aku baik-baik saja."

"Syukur lah."

"Kenapa Paman menyebut nama Pak Thom?" tanya Arka mendadak.

"Aku, tidak tau."

Sara menundukkan kepala.

"Tapi saat ayah mengantar ku kembali ke kota waktu itu, ayah mengatakan sesuatu padaku."

"Apa?"

Sara menatap Arka dengan mata berkaca-kaca.

"Ayah bilang, kalau sesuatu terjadi padanya...jangan percaya siapa pun dari keluarga Khontacron, kecuali kamu, Arka."

"Itu sebabnya, aku mencari mu waktu itu."

Arka terdiam.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

Kemudian terdengar suara kendaraan di depan rumah.

Sara langsung menoleh ke arah jendela.

Arka ikut berdiri.

"Ada apa?"

Sara berbisik,

"Jangan sampai mereka tau, aku menceritakan ini kepada mu."

Arka menatapnya bingung.

Sementara terdengar rumah terdengar suara langkah kaki mendekati pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!