NovelToon NovelToon
Ingat! Kita Itu Mantan

Ingat! Kita Itu Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!

Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.

"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.

"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 05

Di rumahnya, kini Bianca tengah menonton televisi bersama adik dan kakaknya, bersamaan dengan itu, menaruh camilan sampingnya.

“Yak, cepat ganti!. Aku ingin menonton yang lain." Ucap Lucia kepada sang kakak.

Bianca yang terlanjur sebal karena filmnya akan terganti pun, malah menendang adiknya yang duduk di atas karpet. Lucia yang tertendang itu pun terjengkang ke depan dan marah.

“Kakak, ini sakit tahu tidak?" Lucia menunjukkan raut wajah penuh amarah, bagaimana ia tak marah. Dirinya terjungkal bak orang yang melakukan roll depan.

“Heh, apa kau benar-benar tidak ada tugas selain menggangguku menonton Tv?”

“Kakak sudah di sana sejak tadi, seharusnya gantian!”

“Ayolah, apa susahnya kita hanya menonton satu film! Aku saja hanya menuruti kalian berdua,” ucap Nando yang dengan santainya makan camilan sebari menikmati acara Tv.

“DIAM!” Ucap kedua saudari itu secara bersamaan, mereka tak hanya beradu mulut namun juga saling mengejek antara satu sama lain.

“Ekhem” suara deheman itu terdengar, keduanya pun kini berhenti dan dengan bersamaan saling menoleh ke belakang.

“Ibu” Ucap keduanya bersamaan.

“Kalian ini, benar-benar ya" Bu Mayang menunduk, kedua tangannya mengepal, hingga akhirnya ia menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang tajam.

"BIANCAAAAAA, LUCIAAAAAAAA" Teriak spontan membuat keduanya langsung berteriak meminta ampun.

“AMPUNNNNN” teriak keduanya bersamaan.

***

“Astaga benar-benar ya, bukannya membantu ibu membersihkan rumah kalian malah mengacau.” Bianca dan Naomie benar-benar hanya terdiam.

Keduanya duduk bersila dan mencoba meminta maaf kepada Bu Mayang. Mereka sadar, bahwa kelakuan mereka saat ini, benar-benar seperti anak kecil.

Bu Mayang, ibu dari tiga orang anak. Wanita paruh baya ini adalah seorang single mom, setelah ia di tinggal mati oleh suaminya beberapa tahun yang lalu.

Bu Mayang, yang melihat Nando tertawa menonton Televisi pun tak terima, ia mengambil bantal di atas kursi dan melemparkannya tepat ke muka Nando.

"Aish anak menyebalkan ini, bagaimana bisa kau hanya tertawa menonton tv saat kedua saudari mu di hukum”

“Ayo lah ibu, yang bertengkar itu adalah mereka berdua dan bukan lah aku” Bukannya sadar, pria ini malah melanjutkan makan camilan, yang lebih parahnya lagi. Ia makan sambil tiduran.

"Hahahahaha..." Tawa Nando pecah, saat ia melihat acara televisi itu yang menurutnya sangat lucu.

“Aish, benar-benar tidak punya rasa empati anak ini, sudah lah menganggur. Sekarang kau hanya enak di rumah sedangkan yang menanggung semua biaya itu Bianca dan ibu. Pantas saja mereka memecatmu, ternyata kau sebodoh ini.”

Nando yang mendengarnya pun tak terima, “Aku menganggur karena mereka memecatku ingat? Harusnya sekarang aku sudah naik jabatan, jika bukan karena mereka yang menjebak ku, aku tidak akan menganggur seperti sekarang. Lagian Bianca juga pengangguran sekarang.” Nando yang pundung itu benar-benar sangat cepu. Bianca yang semula masih tenang karena baru saja terkena amarah Bu mayang. Kini kembali meluap-luap amarahnya.

“Yak, bagaimana kau bisa mengatakannya, Padahal aku sudah menyuruhmu untuk tutup mulut bukan!”

Bianca menatap tajam ke arah Nando, ia melihat ponsel di sebelah Lucia dan melemparkannya kepada Nando. Ponsel itu kini meluncur, tepat mengenai wajah Nando. Benar-benar tepat sasaran.

"Aaarrrggghhhhh, ini menyakitkan..."

“Yak, apa-apaan kau hah. Ini sakit Bianca, kau mau buat aku gagar otak masuk rumah sakit? Kau mau bayar biaya pengobatanku?" Ucap Nando yang histeris, dan Bianca kini hanya menatapnya datar lantaran sudah sangat muak dengan pria itu.

Lucia pun mengambil ponselnya, dengan raut wajah sedih ia pun menangis saat ponsel itu sudah mati.

"Hp ku, malangnya nasibmu..." Lucia memeluk ponselnya, dengan tangisan yang parau. Kini ia melihat pertengkaran Bianca dan Nando.

Gadis itu kini berdiri tepat di belakang Bianca.

“DASAR KAU SIALAN, HP KU SEKARANG BENAR-BENAR MATI KARENAMU. KEMARI KAU KAK BIBI, YAKKKKKKKKK!!!!!!” Bianca dengan secepat kilat, langsung melarikan diri dari rumahnya.

Namun ternyata, Lucia benar-benar mengejarnya dan enggan melepaskannya begitu saja.

“MAAF LUCIA." Teriak Bianca, gadis itu kini berlari keluar rumah, menghindari kejaran Lucia yang tengah mengejarnya.

“Kemari kau kak, kau pikir enak jadi aku. Semua tugas kampus ku ada di sini, sialan kau kak.” Lucia benar-benar murka pada kakaknya.

Kedua gadis itu berlarian sepanjang kampung, Sudah 2-3 kali mereka berputar di tempat yang sama. Namun Lucia masih belum bisa juga menangkap kakaknya.

Hingga akhirnya, Bianca semakin pelan berlari, ia terlihat sangat lelah, dan inilah saat yang tepat baginya untuk menangkap Bianca.

Lucia kini semakin cepat berlari, saat hanya tinggal beberapa meter jarak mereka. Lucia pun melompat, ia menindih bandan Bianca dan menjambak rambutnya.

“Ini sakit, kau sudah gila ya” Tak mau mengalah pada sang adik, Bianca kini juga balik menjambak rambut Lucia.

Kini mereka benar-benar saling menjambak satu sama lain.

“Tin, tinnnnnnnnn” sebuah mobil pick up berhenti tepat di depan mereka.

“Nona tolong minggir! Aku harus pergi ke sana,” ucap supir pick up itu.

“DIAM!” teriak keduanya secara bersamaan. Supir itu pun langsung bergumam saat itu juga.

“Aish, dasar para gadis gila ini” Supir itu terus mengomel, namun kedua saudari itu malah lanjut bertengkar.

Di belakang mobil pick up itu juga ada sebuah mobil sedan hitam, pemilik mobil yang merasa supir pick up itu terlalu lama akhirnya pun turun dari mobil.

“Pak, kenapa masih belum jalan?" Ujar pengemudi mobil itu, menghampirinya.

“Tidak bisa mas, ada orang sedang bertengkar di depan. Saya tegur malah di marahin.” Orang berbadan tinggi dan tegap itu pun menghembuskan napasnya kasar.

“Biar aku yang turun tangan,” Pria itu kini harus turun tangan.

“LUCIA KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN.” Bianca semakin menjambak rambut Lucia, dan Lucia pun sebaliknya begitu.

“AAAAAA SAKIT,” teriak Lucia saat rambutnya di jambak oleh Bianca.

Pria itu menghampiri dua bersaudara itu, dan mencoba mererai mereka.

“Nona bisakah kalian tolong berhenti bertengkar!" Tampak siluet seseorang yang terlihat sangat gagah, terkena pancaran sorot lampu jalan. Seketika Bianca, bahkan juga Lucia tak bisa berhenti menatapnya.

Pria itu mengulurkan tangannya, mencoba membantu mereka, agar lebih mudah berdiri. "Biar saya bantu kalian berdiri."

“Siapa itu, mengapa terlihat tampan?" Batin Bianca.

“Bisakah kalian berhenti untuk bertengkar?" Ucapnya sekali lagi, karena keduanya hanya terdiam mematung di sana, terutama Bianca.

“Biar aku bantu” Sambungnya lagi, namun tetap saja, tak ada respon dari mereka.

"Nona,"

"Nona," Pria itu mencoba memanggil mereka beberapa kali, namun tetap, masih tak ada respon dari keduanya.

"Tampan sekali, namun, mengapa aku seperti pernah melihatnya?" Ucap Lucia kepada dirinya sendiri.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!