NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Kudeta

Gu Chen tidak membawanya lewat jalan utama. Mereka menyusuri lorong-lorong belakang yang tidak pernah tersentuh lentera, melewati dinding dapur rumah makan dan gudang beras berpintu rantai, sementara bau kuah basi dan air comberan makin pekat di setiap tikungan.

Yu Tian berjalan dengan kedua tangan terlipat di lengan jubah, dan kesabarannya yang tipis mulai terkikis oleh keheningan pemuda di depannya. "Kalau kau membawaku berkeliling hanya untuk menunjukkan tempat sampah, aku lebih suka menghabiskan mi tadi."

Gu Chen tidak menoleh, dan suaranya rendah. "Jalan yang kau lewati tadi tidak akan memperlihatkan apa pun. Karena itu aku membawamu lewat sini."

Ujung lorong melebar menjadi halaman belakang sebuah rumah makan besar. Tong-tong kayu dan keranjang sisa makanan menggunung di bawah tembok, dan di antara tumpukan itu seorang anak lelaki berjongkok mengais dengan kedua tangan yang hitam sampai ke siku. Usianya mungkin delapan atau sembilan tahun, dengan tulang rusuk yang menonjol di balik baju goni compang-camping dan rambut kusut yang lengket oleh minyak. Ia menarik keluar sebatang tulang ayam setengah busuk, mengusapnya ke bajunya, lalu menggerogotinya dengan mata terpejam.

Yu Tian berhenti melangkah. 'Sepotong roti jagung dari desa itu dulu terasa berharga. Anak ini bersyukur atas tulang ayam busuk.'

Sepatu besi berderap di ujung lorong, dan cahaya lentera menyapu tembok. Seorang penjaga berzirah hitam muncul dengan tombak di bahu, langkahnya malas dan wajahnya bosan.

Anak itu membeku, dan tulang ayam terlepas dari jarinya, berdenting di atas batu.

Penjaga itu berhenti, menyeringai, dan menurunkan tombaknya tanpa tergesa. "Tikus kecil. Sudah kubilang jangan keluar lagi dari lubangmu. Jalan ini harus bersih sebelum fajar."

Anak itu mundur dengan tangan terangkat dan bibir gemetar. "Aku cuma lapar, Paman. Tolong..."

Jleb!

Ujung tombak menembus dada kecil itu, memecahkan tulang rusuk, dan keluar dari punggungnya dengan bunyi basah. Darah menyembur ke tumpukan kubis busuk, merah dan panas di bawah cahaya lentera, sementara mulut anak itu terbuka tanpa suara dan matanya menunduk menatap batang kayu yang tiba-tiba menyembul dari dadanya.

Penjaga itu menarik tombaknya dengan sentakan, dan tubuh kecil itu jatuh menyamping, kedua tangannya masih menggenggam udara kosong.

Wuuush!

Pedang putih keluar dari sarungnya sebelum Gu Chen sempat bergerak. Satu tebasan miring dari bahu kanan ke pinggang kiri membelah zirah hitam, tulang selangka, dan paru-paru, dan penjaga itu terlempar ke belakang dengan seringai yang masih menempel di wajahnya.

Darahnya memercik ke tembok dan ke pipi Yu Tian di balik topeng, hangat dan berbau besi. Lentera yang terjatuh berguling-guling di tanah dengan api yang hampir padam, dan di bawah cahaya yang bergoyang itu Yu Tian menyarungkan pedangnya dengan satu gerakan datar.

Ia berlutut di samping anak itu dan membalikkan tubuhnya perlahan. Lubang di dadanya terlalu besar untuk ditutup telapak tangan, dan tidak ada denyut di leher yang tipis itu. Mata anak itu masih terbuka, menatap kabut yang menutupi langit, dan jari-jarinya perlahan mengendur.

'Satu langkah lebih cepat saja, dan ia masih bernapas.' Yu Tian mengeluarkan syal putih dari kantong penyimpanan dan membentangkannya di atas tubuh kecil itu, menutup luka, wajah, dan rambut yang lengket.

Gu Chen berdiri di belakangnya dengan rahang mengeras. "Kaisar Babi memerintahkan para penjaga membunuh setiap gelandangan yang terlihat. Citra ibu kota harus tetap bersih di mata pedagang dan utusan sekte."

"Jadi karena itu tidak ada satu pun pengemis di jalan." Yu Tian tidak berbalik, dan suaranya nyaris tanpa nada.

Gu Chen menunjuk jeruji besi di dasar tembok. Dari kegelapan di bawahnya, dua pasang mata kecil memantulkan cahaya lentera yang sekarat, lalu cepat-cepat menghilang. Kulit tikus yang mengering tergantung di sela jeruji.

"Yang masih hidup bersembunyi di saluran air dan gudang bawah tanah. Mereka makan tikus." Ia menyeret mayat penjaga ke balik tumpukan peti dan menutupnya dengan karung. "Patroli berikutnya baru lewat menjelang fajar. Itu bukan satu-satunya dosanya."

Mereka berjalan ke mulut lorong, dan Yu Tian menyusul dengan syal putih yang tertinggal di belakang mereka. Di seberang jalan terbentang deretan rumah kayu, dan di setiap pintunya tergambar lingkaran merah dari kapur.

Seorang lelaki tua duduk di ambang salah satu pintu itu, menatap lingkaran di kayu dengan mata kering yang tidak berkedip.

"Dua tahun lalu, ia menguras seluruh kas negeri untuk istananya," lanjut Gu Chen pelan. "Lumbung kosong, harga beras melonjak, dan orang-orang mati kelaparan sebelum musim panen. Sekarang ia punya proyek baru, air pancur berbentuk naga, dan tempatnya tepat di sini, di tengah permukiman rakyat menengah ke bawah. Lingkaran merah itu tanda rumah yang akan dirobohkan. Yang menolak pindah dibunuh, dan tidak seorang pun mendapat ganti rugi. Kalau kas habis lagi, kelaparan itu akan datang lagi."

Yu Tian mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih.

'Dasar kaisar babi.' Bau darah penjaga tadi masih menempel di jubahnya, dan ia tidak berniat mengusirnya. "Aku tidak peduli pada takhtamu, Pangeran." Ia menoleh dengan tatapan dingin yang tidak lagi menyimpan ejekan. "Tapi lelaki yang membiarkan anak sekecil itu mati demi jalan yang bersih tidak pantas memakai kepalanya. Aku ikut."

Gu Chen tersenyum tipis, dan untuk pertama kalinya malam itu bahunya benar-benar turun. "Bagus. Rencana kudeta kita bicarakan setelah menara itu."

Yu Tian mengangguk sekali dan berbalik, melangkah menjauh ke dalam kabut tanpa menoleh ke belakang. 'Menara dulu. Setelah itu, kepala si babi.'

1
🌸athy🌸
semangat nulisnya author....
🌸athy🌸
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
🌸athy🌸
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!