NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FOTO LAMA

Perubahan ekspresi pria itu begitu halus, nyaris tidak terlihat. Namun, Elma menangkap sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya. Untuk pertama kalinya, Maxime tidak terlihat seperti seorang pengusaha yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ia tampak seperti seseorang yang sedang mengenang sesuatu yang telah lama hilang.

Elma tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan.

"Kalau begitu, suatu hari nanti, buatkan masakan dari resep ibumu."

Maxime menatapnya. "Suatu hari nanti?"

"Iya. Bukankah kau bilang kau pandai memasak?"

Keheningan menyelimuti mereka sejenak sebelum Maxime mengalihkan pandangannya.

"Baiklah."Jawabannya singkat, tetapi kali ini tidak terdengar dingin.

Menjelang malam, mereka tiba di kamar utama.

Elma memasuki ruangan itu lebih dahulu, lalu berhenti di ambang pintu. Kamar tersebut jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan. Tempat tidur berukuran besar berada tepat di tengah ruangan, dengan seprai putih dan selimut berwarna cokelat tua. Di sebelahnya terdapat meja nakas, sementara pintu kaca di sisi kanan mengarah ke balkon pribadi. Namun, perhatian Elma justru tertuju pada sebuah meja rias di sudut ruangan. Di atasnya terdapat vas bunga berisi mawar putih, sebuah bingkai foto, dan kotak kayu kecil.

Elma mendekat. Awalnya, ia mengira foto di dalam bingkai itu adalah foto keluarga Maxime. Namun, ketika melihatnya lebih dekat, langkahnya terhenti. Itu adalah fotonya. Foto Elma ketika menghadiri sebuah acara amal sekitar tiga tahun lalu. Dalam foto tersebut, ia mengenakan gaun biru tua dan sedang berbicara dengan seorang perempuan. Ia bahkan ingat bahwa foto itu tidak pernah diunggahnya ke media sosial.

Elma mengernyit. Bagaimana mungkin foto itu berada di kamar utama rumah mereka? Ia mengangkat bingkai tersebut, memperhatikan bagian belakangnya. Tidak ada tulisan atau keterangan apa pun.

"Maxime?"

Pria itu baru saja masuk ketika mendengar namanya dipanggil.

"Apa?"

Elma mengangkat bingkai foto tersebut. "Kenapa ada fotoku di sini?"

Maxime berhenti melangkah. Hanya sesaat, namun jeda kecil itu cukup untuk membuat Elma menyadari bahwa pria tersebut tidak menyangka ia akan menemukan benda itu.

"Itu foto lama," jawab Maxime akhirnya.

"Aku tahu ini foto lama. Aku bertanya kenapa kau menyimpannya."

Maxime memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Karena aku menyukainya."

Elma menatapnya tidak percaya. "Kau menyukai fotoku?"

"Apa ada yang salah dengan itu?"

"Tidak. Hanya saja, aku tidak ingat pernah memberikan foto ini kepadamu."

"Kau tidak perlu memberikannya kepadaku."

Jawaban itu justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.

Elma kembali memandangi foto tersebut, foto yang diambil beberapa bulan sebelum ia menikah. Pernikahannya terjadi karena kesepakatan kedua keluarga, bukan karena hubungan cinta yang tumbuh di antara mereka. Setidaknya, itulah yang selama ini ia yakini. Maxime tidak pernah menunjukkan ketertarikan khusus kepadanya sebelum pernikahan mereka, bahkan keduanya tidak saling mengenal.

Pria itu selalu bersikap formal, bahkan ketika kedua keluarga membicarakan rencana pernikahan tersebut. Lantas, mengapa ia memiliki foto Elma yang diambil jauh sebelum mereka menikah? Dan mengapa foto itu diletakkan di kamar utama rumah yang baru saja mereka renovasi?

Elma menurunkan bingkai itu perlahan.

"Maxime, sejak kapan kau memiliki foto ini?"

Pria itu tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih kepada bingkai yang masih berada di tangan Elma, kemudian kembali menatap wajah istrinya.

"Sudah cukup lama." Jawabnya.

"Seberapa lama?" Elma ingin tahu.

"Elma."

"Aku serius."

"Aku juga." Balas Maxime.

Elma menghela napas, ia mulai kehilangan kesabaran.

"Kau selalu seperti ini. Ketika aku menanyakan sesuatu, kau menjawab dengan kalimat yang justru membuatku semakin bingung."

Maxime tidak membantah. Ia berjalan mendekati meja rias, mengambil bingkai foto itu dari tangan Elma, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati. Gerakannya begitu tenang, seolah-olah benda itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Namun, bagi Elma, justru sikap tenang itulah yang membuatnya gelisah.

"Apakah kau mengenalku sebelum keluarga kita membicarakan pernikahan ini?" tanyanya akhirnya.

Maxime menatapnya. Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Untuk beberapa saat, pria tersebut tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian, ia menjawab, "Ya."

Elma merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

"Sejak kapan?"

"Sebelum kau mengenalku." Jawaban itu membuat Elma terpaku.

Ia mencoba mengingat kembali semua pertemuan mereka sebelum pernikahan. Seingatnya, mereka hanya pernah bertemu beberapa kali dalam acara keluarga. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada pertemuan pribadi, apalagi hubungan yang bisa menjelaskan mengapa Maxime menyimpan fotonya.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak pernah mengatakan apa pun?"

Maxime mengalihkan pandangannya ke jendela.

"Karena tidak ada alasan untuk membicarakannya."

"Tidak ada alasan?" Elma mengulang dengan nada tidak percaya.

"Kau menyimpan fotoku selama bertahun-tahun, lalu menikahiku tanpa pernah mengatakan bahwa kau mengenalku sebelumnya. Menurutmu, itu bukan sesuatu yang perlu dijelaskan?"

"Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak mengenalmu."

"Tapi kau juga tidak pernah mengatakan bahwa kau mengenalku!" Kali ini, suara Elma terdengar lebih tinggi.

Maxime kembali menatapnya. "Apa yang sebenarnya ingin kau ketahui?"

Elma terdiam sesaat. Ia ingin mengatakan bahwa ia hanya penasaran. Bahwa ia sekadar ingin mengetahui alasan foto itu berada di sana.

Namun, jauh di dalam hatinya, ada pertanyaan lain yang sejak awal pernikahan mereka selalu ia hindari. Pertanyaan yang selama ini tidak berani ia ajukan karena takut pada jawaban yang mungkin diterimanya.

☆

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!