❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞
Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waiting
Day 2
"Sialan! Kok aku disiram air, sih?!"
Ara terbangun dari tidurnya dan langsung bertingkah seperti ikan yang terlempar ke daratan, menggelepar ke sana kemari. Ia membuka mata sambil menyeka wajahnya yang basah karena air hampir saja masuk ke matanya.
Lain halnya dengan seseorang yang kini tengah tertawa terbahak-bahak sambil membawa ember kosong. Siapa lagi kalau bukan kakaknya, Banyu Biru.
"Jahat banget, sih! Abang sialan!"
"Heh, mulutnya!" Biru mengangkat alis. "Berani banget kamu ngomong kayak gitu sama abang, hmm?"
"Lagian ngapain juga aku disiram air kayak gini, sih, Bang?! Aku bukan tanaman yang harus abang siram pagi-pagi!"
"Soalnya kamu susah banget dibangunin. Udah abang bangunin pakai segala macam cara, juga nggak bangun-bangun. Untung abang nggak langsung ngubur kamu tadi. Kurang baik apa coba? Abang siram dulu sampai kamu bangun."
"Kalau abang bukan abangku, pasti udah aku lempar abang ke planet Mars. Ngeselin banget, sumpah!"
"Keselnya mending ditahan dulu. Abang cuma mau tanya, kamu hari ini ada kuliah jam sepuluh, nggak? Ini udah jam sembilan, loh, sayangku."
"Astaga! Lupa! Ada kuis pula!"
Ara langsung melirik ke arah jam di dinding yang telah menunjukkan pukul sembilan lewat. Ia sontak bangkit dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
Hari ini adalah hari keduanya. Ara tidak ingin membuang sedikit pun waktu berharga yang ia miliki.
Sebenarnya, ada alasan mengapa Ara sampai bangun kesiangan. Semalam, ia terlalu larut mencurahkan segala isi hati dan menuliskan semua hal tentang pertemuannya dengan Bara ke dalam buku harian.
Ara ingin menyimpan kenangan selama empat belas hari itu dalam bentuk tulisan. Ia mungkin akan memberikan buku tersebut kepada Bara sebelum dirinya kembali ke masa depan.
Ia hanya ingin Bara tahu bahwa Ara benar-benar mencintainya. Sepenuh hati.
Karena sudah hampir terlambat, Ara bahkan tidak sempat sarapan. Ia langsung berangkat ke kampus menggunakan ojek online yang sudah dipesannya.
Biasanya, ia hanya perlu berjalan kaki selama sepuluh menit untuk sampai ke kampus. Namun, karena hari ini ada kuis dadakan, Ara memilih memesan ojek online agar bisa tiba lebih cepat.
Untungnya, ia berhasil masuk ke kelas dengan napas terengah-engah.
Ara menghela napas lega. Syukurlah, kelas belum dimulai. Dosen killer mereka, Pak Adam, juga belum masuk.
Kalau sampai terlambat dan tidak mengikuti kuis dari dosen tersebut, bisa gawat. Nilainya mungkin saja langsung D.
"Ra, lo duduk di sini aja. Ini kursi udah gue siapin khusus buat lo."
Bara tersenyum manis kepada Ara yang baru saja berjalan masuk ke dalam kelas.
Ara langsung memicingkan mata. Senyuman Bara terlalu manis. Tidak biasanya lelaki itu bersikap seperti itu.
Namun, apa boleh buat. Ara akhirnya menuruti Bara dan duduk tepat di kursi yang berada di sebelahnya.
Tak lama kemudian, Pak Adam masuk ke dalam kelas.
"Baik, selamat pagi, semuanya. Sudah siap dengan kuis hari ini?"
Seketika, suasana kelas berubah tegang.
"Hari ini kuisnya secara verbal. Jadi, nanti kalian akan saya tunjuk satu per satu untuk maju menghadap saya. Saya akan memberikan beberapa pertanyaan dan kalian harus langsung menjawabnya di hadapan saya."
Kelas mendadak hening. Sora dan Yuvin terlihat komat-kamit sambil membaca catatan mereka. Sementara itu, wajah Yohan sudah pucat pasi.
Tangannya gemetaran. Tatapannya bahkan sudah tidak fokus. Sepertinya, ia sudah ketakutan bahkan sebelum kuis dimulai.
Berbeda dengan Bara. Lelaki itu justru hanya tersenyum-senyum sendiri, entah apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
Satu per satu mahasiswa mulai dipanggil untuk maju dan menjawab pertanyaan yang diberikan Pak Adam.
Hingga akhirnya, hanya tinggal Ara.
"Ara?"
Suara Pak Adam membuat Ara menegakkan tubuh.
"Kenapa lama sekali? Sini maju! Atau mau saya beri nilai D?"
"Duh, Pak. Saya nggak bisa berdiri."
"Kenapa? Tiba-tiba lumpuh kamu? Tidak perlu banyak drama. Segera maju atau nilaimu D!"
Ara menatap kursinya dengan panik.
Bara sialan! Meskipun gue berhasil kembali ke masa lalu, kenapa kejadiannya malah nggak sama seperti yang terjadi dulu? Kenapa jadi beda banget kayak gini?
"Ara Moana! Masih tidak mau maju kamu?"
"Pak... ada yang memberi lem di kursi saya. Saya tidak bisa berdiri."
"Tidak perlu banyak alasan!"
Pak Adam mendengus.
"Ya sudah, nilaimu langsung D!"
Ara seketika lemas. Sedari tadi ia sudah berusaha bangkit, bahkan sempat berpikir untuk membawa kursinya sekalian ke depan. Namun, mendengar keputusan Pak Adam, niat itu langsung ia urungkan.
Kalau sudah begini, ia harus mengulang mata kuliah tersebut pada semester berikutnya. Dan semua ini gara-gara Bara.
Seusai kuis dan selama perkuliahan berlangsung, Ara hanya diam dengan wajah masam. Bahkan ketika kelas Pak Adam selesai pun, ia masih memasang wajah kesal.
Bara sudah berkali-kali meminta maaf karena keterlaluan mengerjainya. Lelaki itu bahkan membantu Ara melepaskan lem yang menempel di kursinya.
Namun, Ara tetap tidak bergeming. Ia benar-benar kesal kepada Bara.
Mungkin bisa dibilang membencinya. Sayangnya, ia tidak bisa benar-benar membenci lelaki itu. Karena rasa cintanya jauh lebih besar daripada rasa kesalnya.
"Ara, gue minta maaf. Maaf kalau gue kelewatan banget ngerjain lo kali ini."
Bara berdiri di hadapan Ara.
"Gue ikutan ngulang semester depan deh bareng lo."
"Semester depan?" Ara langsung menoleh. "Emang lo masih ada di sini?"
Bara mengernyitkan kening.
"Maksud lo?"
Ara langsung terdiam. Ia baru menyadari ucapannya. Hampir saja ia keceplosan. Hampir saja ia mengatakan bahwa umur Bara tidak akan lama. Namun, Ara segera membuang muka.
"Intinya, lo udah benar-benar keterlaluan kali ini, Bara!"
Ara kembali menoleh ke arah Bara dan hendak memarahinya. Namun, kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya langsung terhenti. Darah tiba-tiba menetes dari hidung Bara.
"Bara!"
Ara terkejut.
"Lo mimisan!"
"Oh, ini..." Bara buru-buru mengusap hidungnya. "Karena gue semalam belajar buat kuis, jadi gue kecapekan. Tenang aja. Ini udah biasa terjadi."
Bara kemudian berlari keluar kelas sambil menenteng tasnya. Darah masih terlihat menetes dari hidungnya.
Ara hendak menyusul. Namun, kakinya mendadak terasa kaku. Seolah-olah ada sesuatu yang menahannya agar tetap berdiri di tempat.
Ia tidak bisa bergerak. Napas Ara mulai memburu. Dadanya terasa sesak.
Sora yang menyadari keadaan Ara langsung mendekatinya.
"Ra, tarik napas dulu. Tenangin diri lo. Baru nanti kita ngejar Bara."
"Sora..."
Suara Ara bergetar.
"Gue harus ngejar Bara."
"Ra, tenang dulu."
"Gue harus ngejar dia!"
Ara berusaha sekuat tenaga menggerakkan kakinya.
Sekali.
Dua kali.
Hingga akhirnya, kakinya kembali menurut.
Ara langsung berlari keluar kelas untuk mencari Bara yang seharusnya belum pergi terlalu jauh.
Selama ini, pada masa lalu yang ia ingat, Ara tidak pernah sekalipun melihat Bara mimisan karena penyakitnya.
Ia tidak pernah tahu seperti apa kondisi Bara ketika penyakit itu mulai menyerang tubuhnya.
Namun, kali ini berbeda. Ara melihatnya secara langsung. Melihat darah yang keluar dari hidung Bara. Melihat bagaimana lelaki itu tetap tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
Dan entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa begitu menyakitkan.
...---...
Bagaimana bisa aku jatuh cinta padamu?
Mengapa semua ini terasa begitu menyakitkan?
Aku tak pernah berharap bertemu dengan seseorang sejahat dirimu.
Bisakah aku menyentuhmu jika ribuan kali kukatakan bahwa aku mencintaimu?
Tahukah kau bagaimana perasaanku? Bahwa semua yang kulakukan ini sia-sia, bahkan ketika aku memohon dan menangis?
Haruskah aku mencoba membenci namamu ribuan kali?
Haruskah kuhitung sebanyak apa luka yang kudapatkan karenamu?
Cinta ini sudah terlalu besar.
Karena kau bukan aku, kau tentu tidak merasakan apa yang kurasakan, bukan?
Ya.
Inilah aku yang begitu menyukaimu.
Meskipun hatiku terluka berkali-kali, tak apa.
Asalkan aku masih bisa tersenyum, meski hanya sekali.
Sebab bersamamulah kebahagiaanku berada.
Bahkan jika keberadaanku membuatmu merasa tidak nyaman, aku tidak akan membiarkannya begitu saja.
Akan kulakukan apa pun yang kau minta.
Apa pun itu.
Tak apa jika aku harus menunggu ribuan tahun, asalkan aku masih bisa melihatmu.
Sehari.
Sebulan.
Bahkan setahun.
Meskipun aku tahu kau mungkin tidak akan pernah datang, aku akan tetap bertahan.
Aku akan terus menunggumu.
Hingga akhirnya aku tertidur lelap karena terlalu lama menantimu.
Kapan aku bisa melihatmu tanpa rasa takut?
Kapan aku bisa menyingkirkan keserakahan ini?
Aku ingin tahu segalanya tentangmu.
Sejak kapan kau tinggal dan bersembunyi di dalam hatiku?
Hingga akhirnya kau berubah menjadi duri yang menancap begitu dalam dan tak bisa kucabut.
Aku ingin memilikimu.
Aku tak rela melepaskanmu.
Bagiku, di sini hanya ada kau.
Karena jika bukan kauu, aku lebih baik sendiri.
Sama seperti kemarin.
Sama seperti saat aku belum mengenalmu.
Dan di tempat ini, inilah aku yang akan terus menantimu.