Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan Main
Pintu SUV ditutup dari luar dengan dentuman berat.
Seketika, hiruk-pikuk suara angin malam tepi pantai, bisik-bisik tamu VIP, dan lampu kilat media terputus total oleh kaca kedap udara serta lapisan anti-peluru kendaraan taktis tersebut.
Ayyana duduk bersandar di kursi kulit berwarna hitam.
Gaun pengantinnya yang mekar dan sarat dengan payet mewah terasa amat kontras dan menyesakkan di dalam kabin mobil yang serba dingin dan fungsional ini.
Tak ada aroma bunga mawar seperti di venue pernikahan; yang ada hanya aroma kulit kendaraan, minyak pembersih senjata yang tipis, dan wangi musky khas Chester.
Pintu kemudi terbuka. Chester melangkah masuk, membuang jas formalnya yang berat ke kursi samping pengemudi, meninggalkan kemeja putih yang kini lengan kemejanya dilipat hingga melingkari lengan bawahnya yang berurat dan tegap.
Pria itu menyalakan mesin. SUV hitam itu bergerak mulus meninggalkan pelataran gedung menuju jalan raya yang mulai sepi.
Di dalam mobil, keheningan mencekam menyelimuti mereka berdua.
Chester menatap lurus ke depan, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan stabil, sementara matanya sesekali melirik ke kaca spion tengah—bukan untuk menatap Ayyana, melainkan menyapu kendaraan di belakang untuk memastikan tidak ada ekor atau wartawan yang membuntut.
"Kamu bisa melepaskan tiara itu kalau mengganggu," ujar Chester tiba-tiba. Suaranya rendah dan datar, memecah kesunyian tanpa sedikit pun menoleh. "Perjalanan menuju kediaman pribadi saya memakan waktu empat puluh menit."
Ayyana menyipitkan mata, menatap belakang kepala pria itu lewat kaca spion. "Kediaman pribadimu? Bukan kediaman keluarga Sinclair?"
"Kamu pikir saya akan membawamu ke rumah Jenderal Jacob setelah apa yang terjadi hari ini?" Chester tersenyum tipis, sebuah tawa dingin tanpa rasa humor. "Di sana cuma ada jebakan dan dinding berpintu banyak. Kamu butuh tempat aman, dan begitu juga saya."
Ayyana mengepalkan tangannya di atas pangkuan, merasakan berat tiara yang mulai membuat kepalanya pening.
Dengan jemari bergetar, ia melepas perhiasan berlian itu dan meletakkannya begitu saja di samping tempat duduk.
"Tempat aman?" lontar Ayyana dengan nada sarat sarkasme. "Tempat aman dari siapa, Kapten? Dari wartawan, dari Laksamana Muda Harris, atau dari keluargamu sendiri yang baru saja menumbalkanmu?"
Chester menghentikan laju mobilnya sejenak di lampu merah. Pria itu menyandarkan punggungnya, lalu memutar kepalanya sedikit ke belakang, mengunci pandangan Ayyana lewat cermin.
"Dari semuanya, Ayyana," jawab Chester dingin. "Termasuk dari dirimu sendiri kalau kamu tidak bisa menahan lidahmu seperti tadi."
Ayyana terkekeh sinis, melemparkan pandangannya ke luar jendela yang terlapisi kaca gelap. "Menahan lidahku? Kamu pikir aku wanita yang bakal menangis histeris di depan umum dan menghancurkan namaku sendiri? Tidak, Kapten. Aku tahu persis bagaimana cara menjaga martabat di depan para pemangsa."
"Bagus," sahut Chester dingin sembari menginjak pedal gas saat lampu hijau menyala. Mobil melaju mulus membelah kegelapan malam. "Karena musuh kita bukan cuma wartawan berkamera. Harris sudah mulai mencium bau manipulasi berkas ini. Satu celah kecil saja dari caramu bersikap di depannya tadi, dan seluruh skenario ini akan runtuh."
"Lalu kenapa kamu tidak membiarkannya runtuh saja?!" Ayyana mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya meninggi menahan emosi yang akhirnya pecah. "Kenapa kamu harus menurut pada perintah gila ayahmu?! Kamu bisa menolak! Kamu punya pasukan, kamu punya pengaruh, tapi kamu malah memilih menyeretku ke dalam neraka ini!"
SUV hitam itu mendadak meliuk tajam dan berhenti mendadak di bahu jalan yang sepi, tertutup pepohonan rindang.
Sebelum Ayyana sempat bereaksi, Chester sudah melepas sabuk pengamannya, memutar tubuhnya sepenuhnya ke belakang, dan menatap Ayyana dengan mata yang menyala berbahaya.
"Kamu pikir saya punya pilihan, Ayyana?!" bisik Chester, suaranya begitu rendah namun sarat ancaman yang sanggup menghentikan detak jantung. "Kalau saya menolak, malam ini bukan cuma nama Sanders Corp yang hancur. Jacob akan membumihanguskan karier dan hidup Haikal, begitu juga saya dan bisnis ayahmu akan dihantam skandal pengkhianatan militer yang dibuat seolah-olah Sanders Corp yang menjual dokumen rahasia."
Ayyana membatu. Matanya melebar saat kebenaran pahit itu menghantamnya.
"saya tidak sedang menyelamatkan diri saya saja," lanjut Chester, mendekatkan wajahnya hingga Ayyana bisa melihat kilat amarah yang tertahan di balik manik matanya. "saya sedang menyelamatkan keluargamu dari eksekusi finansial dan politik yang dirancang ayah saya sendiri. Jadi bersyukurlah... karena yang duduk di kemudi ini adalah saya, bukan prajurit lain yang tak akan peduli kalau kamu mati besok pagi."
Beberapa detik keduanya terdiam, saling mengunci tatapan dalam jarak yang teramat dekat.
Deru mesin mobil yang halus menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan tegang di antara mereka.
Ayyana bisa merasakan kehangatan napas Chester yang menghembus teratur, kontras dengan hawa dingin yang memancar dari mata pria itu.
Tiba-tiba, tangan tegap Chester bergerak cepat merengkuh ke arah dada Ayyana.
Ayyana tersentak. Tubuhnya merapat kaku ke sandaran kursi, matanya membelalak lebar dengan napas terengah karena terkejut. Jarinya secara refleks mencengkeram kain gaun pengantinnya sendiri, bersiap membela diri.
Namun, Chester bahkan tidak menyentuh kulitnya.
Jemari berurat milik pria itu hanya menarik tali hitam sabuk pengaman yang sejak tadi terabaikan di samping bahu Ayyana.
Dengan gerakan efisien dan tenang, Chester menariknya melewati tubuh Ayyana lalu menguncinya pada slot di samping jok.
Klik.
Bunyi pengunci sabuk pengaman yang renyah itu menghentikan ketegangan sesaat di kabin mobil.
Chester kembali menarik tubuhnya menjauh, seolah tidak baru saja membuat jantung Ayyana hampir melompat keluar dari rongga dadanya.
Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan sedikit pun emosi atau rasa bersalah.
"Gunakan sabuk pengamanmu," ujar Chester dingin, memutar kembali tubuhnya menghadap kemudi tanpa sedikit pun keraguan. "Saya tidak suka penumpang yang terlempar keluar kaca depan kalau tiba-tiba kita harus beralih ke mode evakuasi."
Ayyana menelan ludah, dadanya naik turun mengontrol rasa terkejut dan gengsi yang membakar pipinya. Pria ini benar-benar lihai memainkan mentalnya hanya dalam hitungan detik.
Chester menginjak pedal gas, membawa SUV hitam itu melaju membelah jalanan malam yang makin sunyi.
Setelah menempuh perjalanan melewati gerbang pemeriksaan berlapis dengan penjagaan ketat para prajurit bersenjata lengkap, SUV hitam itu akhirnya berhenti di pelataran sebuah rumah dinas militer berarsitektur minimalis dan kokoh.
Tidak ada kesan mewah atau hiasan megah layaknya kediaman keluarga besar Sanders maupun perkebunan Sinclair.
Rumah dua lantai bercat abu-abu gelap dan putih itu memancarkan aura dingin, disiplin, dan tertata rapi—persis seperti pemiliknya.
Chester mematikan mesin mobil. Lampu sorot di halaman depan otomatis menyala, menerangi halaman rumput yang terpangkas sempurna tanpa ada sehelai daun kering pun yang berserakan.
"Kita sampai," ujar Chester datar. Pria itu melepas kunci kontak, lalu turun terlebih dahulu dari mobil.
Ia melangkah mengitari kap mobil dan membukakan pintu untuk Ayyana.
Angin malam yang dingin menyapu gaun pengantin Ayyana yang membebaninya sejak sore.
Ayyana melangkah keluar dengan canggung, membawa tiara berlian di tangannya dan buket bunga yang kini terasa konyol di lingkungan militer yang serba kaku ini.
Ayyana mendongak, menatap bangunan di hadapannya. "Ini... rumah dinasmu?"
"Rumah dinas perwira tim khusus," jawab Chester sembari berjalan mendahului menuju pintu utama yang dilengkapi dengan keypad pemindai sidik jari dan kode digital. "Tidak ada pelayan, tidak ada koki, dan tidak ada pengawal pribadi keluarga Sanders yang bisa kamu suruh-suruh di sini. Seluruh area ini berada di bawah pengawasan sistem keamanan internal markas."
Beep. Beep. Clack.
Pintu baja berlapis kayu itu terbuka. Chester melangkah masuk, menyalakan lampu utama yang memancarkan cahaya putih terang yang menyapu seluruh ruangan.
Interior rumah itu sangat fungsional.
Perabotan yang minim, sofa kulit hitam, meja kayu tebal, dan dinding yang bersih dari foto keluarga—hanya ada beberapa piagam penghargaan militer, peta taktis bertutup kaca, dan rak berisi buku-buku strategi perang serta dokumen tebal.
Chester berbalik menghadap Ayyana yang masih berdiri ragu di ambang pintu, tampak begitu asing dengan gaun cantiknya di tengah ruangan yang serba kaku ini.
"Kamar utamamu ada di lantai dua, sebelah kiri," tunjuk Chester dengan dagunya. "Bersihkan dirimu dan ganti pakaian gila itu. Kita harus bicara soal aturan main tinggal di rumah ini sebelum besok pagi."