NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Suara Lain!

“Lagi?!”

Revan langsung tersentak.

Dia buru-buru memusatkan perhatian, berusaha menangkap suara aneh yang barusan terdengar di kepalanya. Namun, suara itu tiba-tiba menghilang begitu saja, meninggalkan keheningan.

“Hadiah?”

Revan hanya berhasil mengingat satu kata itu.

Hadiah... hadiah apa?

Begitu memikirkan kata tersebut, tiba-tiba sebuah gambar virtual muncul di dalam pikirannya.

Sebuah bola hitam kecil.

Benda itu melayang di ruang pikirannya dalam bentuk tiga dimensi, terlihat begitu nyata meskipun jelas-jelas tidak berada di depan matanya.

Revan mencoba menyentuhnya dengan pikirannya.

Seketika, suara terdengar di dalam kepalanya.

[“Perangkat penyadap tak terlihat. Sekali pakai. Setelah diaktifkan, perangkat memungkinkan pengguna melakukan penyadapan secara tersembunyi tanpa terdeteksi. Efek berlangsung selama empat puluh delapan jam.”]

“Hah?”

Revan langsung melongo.

“Apa-apaan ini?”

Karena masih penasaran, dia kembali menyentuh bola hitam itu dengan pikirannya.

Suara tadi pun terdengar lagi, mengulangi penjelasan mengenai perangkat tersebut.

“Kak Revan, saya tadi memasukkan dua sendok gula lagi ke kopi Kakak!”

Suara Nina membuat Revan tersadar.

Perempuan itu menatapnya dengan wajah bingung. Melihat ekspresi Revan yang terlihat begitu menikmati kopinya, Nina rupanya mengira pria itu sedang terlalu fokus menikmati minuman.

Revan buru-buru menarik perhatiannya kembali ke dunia nyata.

Suasana kantor Unit Reserse Kriminal di salah satu Polres Jakarta yang ramai justru membuat kepalanya semakin pusing.

Dia membutuhkan tempat yang tenang untuk memahami semua perubahan aneh yang terjadi padanya.

Tanpa memedulikan omelan Budi maupun komentar Nina, Revan langsung berdiri dan meninggalkan ruangan.

Namun baru beberapa langkah keluar, dia justru berhadapan dengan seseorang.

Pak Dedi.

Revan tidak terlalu dekat dengan atasannya itu. Dia pun langsung menundukkan kepala dan berniat melewatinya begitu saja.

Sayangnya, Pak Dedi malah menghalangi jalannya.

“Revan, bukannya tadi kamu bilang mau ambil cuti sehari? Kenapa malah berhasil menangkap pelaku?”

Nada suara Pak Dedi terdengar serius.

“Saya benar-benar tidak mengerti. Bagaimana kamu bisa tahu kalau pelakunya bakal muncul di tempat itu malam tadi?”

Revan menghela napas.

“Pak, saya benar-benar lagi nggak enak badan hari ini. Kalau boleh, saya jelaskan lain kali.”

Dia mencoba kembali berjalan.

Namun Pak Dedi tiba-tiba menepuk bahunya.

“Revan.”

Revan berhenti.

Pak Dedi tersenyum tipis.

“Bagaimanapun juga, kalau kamu berhasil menangkap pelakunya, berarti kamu memang pantas memakai seragam ini.”

Dia menepuk bahu Revan sekali lagi.

“Kerja bagus. Pertahankan.”

Revan terdiam.

Pujian itu benar-benar membuatnya terkejut.

Dalam ingatannya, Pak Dedi adalah sosok yang sangat tegas dan jarang memberikan pujian kepada anggota lain.

Kenapa hari ini tiba-tiba berbeda?

Tanpa banyak berpikir, Revan akhirnya meninggalkan tempat itu.

Pak Dedi sendiri masuk kembali ke kantor.

Begitu dia masuk, suara Budi yang sejak tadi mengomel kembali terdengar.

Revan malas ikut campur.

Dia memilih langsung menuju asrama.

Meskipun disebut asrama, tempat tinggal Revan sebenarnya lebih mirip ruangan kecil di belakang gedung utama kantor polisi Jakarta.

Ruang tamunya sempit dan digunakan bersama oleh tiga orang. Bahkan kamar mandi pribadi pun tidak tersedia.

Dua teman sekamar Revan adalah anggota polisi dari bagian patroli.

Teman sekamar yang masih muda tidak terlalu bermasalah.

Tapi yang satu lagi...

Pria itu punya satu masalah besar.

Dengkuran.

Bukan dengkuran biasa.

Setiap malam suaranya bisa terdengar seperti mesin diesel tua yang dipaksa bekerja semalaman.

Untungnya, malam ini pria itu sedang mendapat jadwal piket malam.

Kalau tidak, Revan yakin dirinya tidak akan bisa tidur sama sekali.

Saat Revan kembali ke asrama, waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.

Langit bahkan sebentar lagi mulai terang.

Revan terlalu lelah untuk mandi.

Begitu melepas sepatu, dia langsung naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuh.

Namun ternyata rasa lelah tidak cukup untuk membuatnya tertidur.

Malam ini terlalu banyak hal aneh terjadi.

Pertama, dia dieksekusi dengan suntikan mematikan.

Kemudian entah bagaimana dia berpindah ke dunia lain.

Identitasnya berubah total.

Lalu muncul sebuah Sistem misterius yang bahkan sampai sekarang belum bisa dia pahami.

Dan sekarang dia mendapatkan hadiah berupa perangkat aneh yang bisa melakukan penyadapan tanpa terdeteksi.

Semua kejadian itu terus berputar di kepalanya.

Terutama soal Sistem Keajaiban.

Revan punya firasat kuat bahwa keberuntungannya malam ini bukan kebetulan.

Menangkap pelaku kasus pemerkosaan menggunakan taser mungkin memang sudah diatur oleh Sistem Keajaiban.

Mungkinkah sejak Sistem itu aktif, sesuatu telah berubah?

Mungkin Sistem sengaja menciptakan kesempatan.

Dan dia hanya perlu memanfaatkan kesempatan tersebut.

Setelah kasus selesai, Sistem bahkan memberitahunya bahwa tingkat penyelesaiannya mencapai lebih dari tujuh puluh persen.

Kalau begitu, angka tersebut mungkin merupakan tingkat penyelesaian misi.

Revan kembali mengingat kejadian di bar.

Saat itu dia memilih mengejar pria yang mengenakan jaket windbreaker.

Bagaimana kalau waktu itu dia memilih diam?

Mungkin tingkat penyelesaiannya akan jauh lebih rendah.

Kalau begitu...

Artinya Sistem Keajaiban memang bisa memberinya berbagai kesempatan, tetapi keputusan terakhir tetap berada di tangannya.

Dia sendiri yang harus memilih apakah akan mengambil kesempatan tersebut atau tidak.

Semakin dipikirkan, Revan justru semakin bersemangat.

Kalau Sistem ini benar-benar bisa terus membantunya...

Lalu bagaimana jika suatu hari dia kembali menghadapi kasus besar?

Apakah dia bisa menyelesaikannya dengan cara yang sama?

“Wah...”

Revan tersenyum kecil.

“Kalau memang begini terus, bukankah gue bisa jadi detektif hebat?”

Dia membayangkan berbagai kemungkinan.

Hadiah-hadiah aneh.

Kemampuan misterius.

Kasus-kasus besar.

Dan dirinya yang menyelesaikan semuanya.

“Hadiah dari sistem juga kelihatannya nggak main-main.”

Baru saja memikirkan hal itu, rasa kantuk akhirnya menyerang.

Tak lama kemudian, Revan pun tertidur.

Menjadi polisi memang bukan pekerjaan mudah.

Meski sebagian besar anggota Unit Reserse Kriminal harus bekerja hampir semalaman untuk menyelesaikan kasus kemarin, sebagian besar dari mereka tetap datang bekerja seperti biasa hari ini.

Tidak ada yang bisa seenaknya mengambil libur.

Bagaimanapun, kasus baru bisa muncul kapan saja.

Dan sebagai polisi, mereka harus selalu siap.

Tentu saja, aturan itu tidak berlaku untuk Revan.

Keesokan harinya, Revan bahkan baru membuka mata sekitar pukul setengah sebelas siang.

Itu pun bukan karena dia sudah cukup tidur.

Dia terbangun gara-gara suara dengkuran yang mengguncang ruangan.

Teman sekamarnya yang mendapat jadwal piket malam ternyata sudah pulang.

Dan sekarang pria itu sedang tidur pulas sambil mendengkur sekeras-kerasnya.

Revan menatapnya dengan tatapan membunuh.

“Gila...”

Kalau bukan karena masih berada di lingkungan kantor polisi, mungkin dia sudah melempar bantal ke wajah pria itu.

Revan mengacak rambutnya yang berantakan lalu melihat sekeliling.

Ruangan itu berantakan.

Bau keringat dan asap rokok bercampur menjadi satu.

Jelas bukan tempat yang nyaman untuk tinggal.

Tiba-tiba sebuah pikiran muncul di kepala Revan.

“Kenapa gue masih tinggal di sini?”

Hidup seperti ini terlalu menyedihkan.

Kenapa tidak menyewa tempat sendiri saja mulai hari ini?

Selama tinggal di asrama polisi, Revan juga sering mendapatkan pekerjaan tambahan dari para penyidik senior.

Kalau dia pindah, setidaknya dia bisa menghindari sebagian masalah tersebut.

Lagipula, Revan masih belum sepenuhnya terbiasa dengan identitas barunya.

Datang bekerja saja sudah cukup canggung.

Kalau sampai harus tinggal satu gedung dengan semua orang di kantor polisi...

Rasanya malah semakin aneh.

Setelah mandi dan mencuci muka seadanya, Revan tidak terlalu berniat merapikan diri.

Dia hanya menyisir rambutnya yang berantakan, lalu langsung berangkat menuju kantor polisi.

Hari ini dia bukan berniat bekerja.

Dia hanya ingin menggunakan komputer kantor untuk mencari rumah kontrakan atau kamar kos yang layak.

Saat menaiki tangga, Revan berpapasan dengan beberapa anggota polisi yang sedang merokok.

Aroma asap rokok langsung menusuk hidungnya.

Entah kenapa, aroma itu membangkitkan kebiasaan lama yang terasa begitu familiar.

Revan berhenti di sudut tangga.

Dia mengeluarkan sebatang rokok yang sebelumnya disita dari seorang sopir taksi.

Rokok itu dia selipkan ke bibir sebelum menyalakannya.

Namun hasilnya sesuai dugaan.

Baru satu tarikan napas...

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”

Revan langsung batuk hebat.

“Gila...”

Dia menepuk-nepuk dadanya.

Rokok ini jelas bukan untuknya.

Namun di tengah batuknya, suara yang sangat familiar kembali terdengar di dalam kepala.

[“Sistem Keajaiban aktif. Sedang melakukan pengacakan...”]

Revan langsung membeku.

Kali ini dia sudah jauh lebih siap.

Begitu suara itu muncul, dia segera memusatkan seluruh pikirannya.

Dia berusaha keras mengingat setiap kata yang terdengar.

[“Angin bertiup di atas danau, menciptakan riak-riak kecil. Pelayaran akan berlangsung lancar, apa pun pilihan yang diambil.”]

Suara itu berhenti.

Revan mengerutkan kening.

Dia sudah berusaha mengingatnya sebaik mungkin.

Namun tetap saja, sebagian besar kalimat tadi menghilang begitu cepat dari ingatannya.

Yang berhasil dia ingat hanya dua hal.

Angin.

Dan...

Pelayaran yang lancar.

Kata terakhir itu membuat suasana hati Revan sedikit membaik.

Sepertinya sistem undian misterius ini sedang berpihak kepadanya.

Meskipun dia sama sekali tidak memahami arti heksagram tersebut, setidaknya hasilnya terdengar cukup bagus.

Revan mengembuskan napas panjang.

“Jangan-jangan Sistem Keajaiban ini bekerja seperti roda keberuntungan?”

Kalau memang begitu, dia harus mempelajarinya baik-baik.

Bagaimanapun, keberuntungan tidak mungkin selalu berada di pihaknya.

Suatu hari nanti, hasil undiannya pasti bisa buruk.

Dan ketika saat itu tiba...

Revan harus sudah siap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!