Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Raka kini berdiri di depan lobi bank bersama Bima yang badannya dua kali lipat lebih besar dari Raka.
"Ayo naik mobil yang tadi, saya antar Anda ke mall besar di pusat kota," ajak Bima membukakan pintu mobil.
"Terima kasih, Bang Bima," balas Raka masuk ke dalam mobil dengan perasaan lega.
Setengah jam kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah mall mewah yang sangat besar.
Raka turun dari mobil dan berpamitan pada Bima yang langsung pergi setelah tugasnya selesai.
Tujuan pertama Raka saat masuk ke dalam mall bukanlah toko baju melainkan area restoran.
Ia melihat sebuah restoran Nasi Padang premium yang memajang lauk pauk menggiurkan di etalase kacanya.
Tanpa ragu Raka masuk ke dalam restoran itu dan memilih meja kosong di sudut ruangan.
Seorang pelayan datang membawa menu sambil melihat pakaian kumal Raka dengan pandangan ragu.
"Maaf, Mas, harga makanan di sini lumayan mahal," ucap pelayan itu mencoba memperingatkan secara halus.
Brak!
Raka meletakkan kartu ATM platinumnya di atas meja hingga menimbulkan suara keras.
"Tolong keluarkan semua menu daging dan ayam yang kalian punya ke meja ini sekarang juga," perintah Raka santai.
Mata pelayan itu terbelalak melihat kartu platinum eksklusif yang hanya dimiliki oleh nasabah super kaya.
"B-baik, Tuan! Mohon ditunggu sebentar!" seru pelayan itu buru-buru berlari ke arah dapur.
Tidak butuh waktu lama, belasan piring kecil berisi rendang, ayam pop, kikil, dan gulai otak sudah tersaji penuh di meja.
Raka langsung mengambil piring nasi hangat dan mulai menyendok lauk-pauk itu tanpa mempedulikan tatapan orang sekitar.
Nyam! Nyam! Nyam!
Raka makan dengan sangat rakus karena rasa laparnya sudah menumpuk sejak kemarin.
Bumbu rendang yang kaya rempah dan daging yang empuk benar-benar memanjakan lidahnya.
Ia menghabiskan tiga porsi nasi dan hampir semua lauk daging di meja itu dalam waktu kurang dari setengah jam.
"Ah, kenyang sekali rasanya," desah Raka sambil bersandar di kursi menepuk perutnya yang kini buncit.
Setelah membayar tagihan makan siangnya yang mencapai jutaan rupiah tanpa berkedip, Raka bergegas menuju toko pakaian.
Ia masuk ke dalam toko merek terkenal yang menjual pakaian bergaya kasual anak muda.
Seorang pramuniaga wanita menghampirinya dengan senyum ramah yang terlihat sangat dipaksakan.
"Ada yang bisa dibantu, Kak?" sapa pramuniaga itu.
"Saya mau satu setel celana jeans hitam, kaos putih polos, jaket kulit asli, dan sepasang sepatu kets putih," sebut Raka tanpa basa-basi.
"Tolong carikan ukuran yang pas untuk saya dan langsung bawakan ke ruang ganti."
Pramuniaga itu mengangguk dan segera mengambilkan semua barang yang Raka minta.
Raka masuk ke dalam bilik ruang ganti lalu mengunci pintunya rapat-rapat.
Ia melepas baju kumalnya yang bau keringat dan lumpur itu lalu membuangnya ke tong sampah di sudut bilik.
Raka memakai pakaian baru yang masih ada label harganya itu satu per satu.
Jeans hitamnya pas di pinggang, kaos putihnya terasa lembut di kulit, dan jaket kulitnya membuat badannya terlihat lebih tegap.
Ia mematut dirinya di depan cermin panjang ruang ganti dan tersenyum puas.
"Tidak terlihat seperti gembel tukang mulung lagi sekarang," puji Raka pada pantulan dirinya sendiri.
Raka teringat pada layar biru notifikasi dari sistem yang muncul di dalam mobil Sasa tadi pagi.
Ia ingin mencoba fitur baru yang diberikan oleh Dewa Naga tersebut sekarang juga.
"Buka penyimpanan sistem," bisik Raka pelan.
Sring!
Sebuah layar biru transparan muncul di depan matanya menampilkan ruang kosong berbentuk kotak berukuran besar.
[Kapasitas Penyimpanan: 10 Meter Kubik. Status: Kosong]
Raka mengambil sepatu kets lamanya yang dekil dari lantai ruang ganti.
"Simpan," ucap Raka memberi perintah pada sistem di kepalanya.
Wush!
Sepatu dekil di tangannya menghilang seketika tanpa jejak dan muncul sebagai ikon kecil di dalam layar biru.
"Gila, ini benar-benar sihir ruang!" seru Raka tertahan karena kegirangan.
"Keluarkan sepatu."
Wush!
Sepatu dekil itu kembali muncul di telapak tangannya dalam sekejap mata.
Fitur penyimpanan ini sangat luar biasa karena ia tidak perlu repot menenteng barang saat berpindah dunia nanti.
Ia bisa menyimpan barang modern ke dalam sistem lalu membawanya ke dunia kuno tanpa ketahuan siapa pun.
"Dengan ini, rencana bisnis antar duniaku akan berjalan sangat lancar," seringai Raka puas.
Ia memasukkan kembali sepatu dekilnya ke tong sampah karena tidak niat menyimpannya lagi.
Raka keluar dari ruang ganti dengan penampilan yang seratus delapan puluh derajat berbeda.
Pramuniaga tadi sampai melongo melihat ketampanan Raka yang tersembunyi di balik kotoran selama ini.
Raka membayar semua belanjaannya dengan menggesek kartu platinumnya lalu berjalan santai keluar dari mall.
Sementara itu di lantai tertinggi gedung Grup Farmasi Bintang, Sasa berdiri menghadap jendela kaca besar ruang kerjanya.
Wanita cantik itu menatap pemandangan kota Jakarta di bawahnya sambil menyesap secangkir kopi hitam.
Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni, tiga batang ginseng liar seribu tahun diletakkan dalam kotak kaca khusus.
Ceklek.
Pintu ruang kerja terbuka dan Bima si bodyguard masuk dengan langkah tegap.
"Saya sudah mengantar pemuda itu ke mall sesuai perintah Anda, Nona Sasa," lapor Bima menundukkan kepala.
"Kerja bagus, Bima," balas Sasa tanpa menoleh ke belakang.
Sasa meletakkan cangkir kopinya di atas meja lalu membalikkan badannya menatap Bima.
"Kerahkan dua orang informan bayaran kita untuk membuntuti Raka Mahesa secara diam-diam."
"Anda curiga pada pemuda kumal itu, Nona?" tanya Bima mengerutkan dahi.
"Tentu saja aku curiga," jawab Sasa tersenyum dingin.
"Seorang gembel jalanan tidak mungkin bisa mendapatkan Ginseng Berdarah Murni berusia seribu tahun kecuali dia merampok makam rahasia."
Sasa berjalan mendekati meja kerjanya dan mengetuk kotak kaca pelindung ginseng itu perlahan.
"Cari tahu di mana dia tinggal, dengan siapa dia bergaul, dan dari mana dia mendapatkan pasokan herbal langka ini."
"Jangan sampai ketahuan olehnya, aku ingin tahu semua rahasianya dalam waktu kurang dari seminggu."
"Baik, Nona Sasa, saya akan segera mengerahkan tim terbaik kita," jawab Bima sigap lalu pamit keluar ruangan.
Sasa menatap pintu yang tertutup itu lalu kembali menatap ginseng miliknya.
"Raka Mahesa, kau adalah ladang emas yang misterius."
"Dan aku adalah orang yang akan memonopoli semua hartamu itu," gumam Sasa dengan ambisi yang menyala di matanya.