NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Di tengah riuhnya tawa di ruang tengah, terdengar suara deru mesin mobil yang memasuki halaman rumah, disusul suara pintu mobil yang ditutup. Tidak lama kemudian, pintu utama terbuka dan muncullah sosok pria paruh baya berpenampilan gagah dengan kemeja batik yang rapi.

"Wah, ramai sekali ini. Sudah pada datang ternyata," sapa papa Crish sambil tersenyum lebar. Di tangan kanannya, ia menjinjing dua kantong plastik besar yang mengeluarkan aroma bakaran yang sangat menggugah selera.

"Papa pulang!" seru Bang Edward, langsung bangkit berdiri disusul oleh yang lainnya untuk menyalami tangan pria itu.

"Wah, papa bawa apa itu? Baunya enak banget," tanya Aurel dengan mata berbinar, sudah hafal kalau papa pulang pasti selalu membawa makanan enak.

papa crish terkekeh sambil menyerahkan kantong plastik itu kepada Mama Olivia yang baru saja keluar dari dapur. "Ini Papa tadi sekalian lewat, jadi beli ayam bakar madu kesukaan kalian. Kebetulan porsinya papa lebihkan karena Edward bilang hari ini teman-temannya mau belajar kelompok di sini."

"Asyik! Makasih, papa!" sorak Aurel kegirangan.

Mama Olivia menerima bungkusan itu dengan senyum hangat. "Pas banget, Papa. Makanan di meja juga baru aja siap dihidangkan. Yuk, anak-anak, kita semua langsung pindah ke meja makan selagi ayam bakarnya masih hangat."

Gino yang berdiri di sebelah Bang Edward langsung memasang mode menantu idaman. Ia dengan sigap membantu menarikkan kursi makan terdekat, lalu menatap Shirin yang berjalan di sampingnya. "Silakan duduk, Tuan Putri. Tenang aja, jarak kursinya sengaja gue atur pas satu meter, sesuai protokol keselamatan hati lo."

Shirin yang baru saja mau mengulas senyum karena melihat kedatangan papa bg Edward, seketika langsung mendelik ketus ke arah Gino. Namun, aroma ayam bakar madu yang telanjur memenuhi ruangan membuat perutnya berbunyi pelan, memaksanya untuk segera duduk dan mengabaikan godaan cowok itu demi mengisi kampung tengahnya yang sudah berdemo.

Meja makan kayu panjang di ruang makan itu kini dipenuhi dengan berbagai hidangan. Mulai dari ayam bakar madu bawaan Papa Crish, sayur asem hangat, sambal terasi, hingga lalapan segar yang disiapkan Mama Olivia. Suasana makan siang berlangsung sangat hangat, diselingi denting sendok dan garpu serta tawa yang sesekali pecah.

"Ayo, Gino, Shirin, tambahnya yang banyak. Nggak usah malu-malu, anggap saja rumah sendiri," ujar Mama Olivia ramah sambil menyodorkan piring berisi potongan ayam bakar paling besar ke arah Gino.

"Wah, terima kasih banyak, Tante. Masakan Tante kelihatan enak banget, apalagi makannya di sebelah Shirin. Rasa ayam bakarnya jadi dobel manisnya," sahut Gino dengan cengiran tanpa dosa.

Shirin yang baru saja menyuap nasi refleks tersedak pelan. Ia buru-buru meneguk air putihnya sampai setengah. "Gino, bisa nggak sehari saja lo nggak usah bawa-bawa gue ke dalam menu makanan?" desisnya sebal dengan wajah yang kembali merona.

Papa Crish yang duduk di ujung meja tertawa renyah melihat interaksi mereka. "Hahaha! Gino ini mengingatkan Papa waktu muda dulu, Ma. Persis sekali pas Papa lagi gencar-gencarnya ngejar Mama. Pantang menyerah walau sering dikacangin."

"Ih, Papa! Kok malah dibuka, sih, rahasia lamanya," sahut Mama Olivia sambil mencubit pelan lengan Papa Crish, membuat seluruh isi meja makan tertawa terbahak-bahak.

"Tuh, Rin, denger kata Om Crish. Buaya senior saja terbukti sukses meluluhkan hati pawangnya. Apalagi gue yang masih junior berprestasi gini," bisik Gino pelan di sebelah Shirin, memanfaatkan momen saat perhatian yang lain sedang teralihkan oleh cerita masa muda Papa Crish.

Shirin hanya bisa menatap Gino dengan pandangan pasrah, lalu menyodorkan sepotong mentimun mentah ke arah piring cowok itu. "Nih, makan lalapan yang banyak, biar mulut lo ada kerjaan selain ngegombal."

"Siap, Tuan Putri! Apa pun yang lo kasih, pasti gue habisin," jawab Gino riang, langsung melahap mentimun itu dengan semangat seolah itu adalah makanan paling mewah di dunia.

Aurel yang duduk di depan mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil mengunyah makanannya. "Sumpah ya, Kak Anita, nonton drama mereka berdua ini jauh lebih seru daripada nonton serial komedi di TV."

Kak Anita mengangguk setuju seraya tersenyum manis. "Bener banget, Rel. Tapi ya, setelah makan siang ini selesai, dramanya harus di-pause dulu, ya. Kita harus langsung fokus bedah silabus tugas Pak Baskoro. Setuju?"

"Setuju, Kak!" sahut mereka serempak, menandakan bahwa setelah kehangatan makan siang ini, perjuangan akademis mereka yang sesungguhnya baru akan dimulai.

Aroma ayam bakar madu di ruang makan kini telah berganti dengan kepulan uap hangat dari teko teh yang disiapkan Mama Olivia di meja ruang tengah. Bang Edward meletakkan sebuah map jilid tebal berwarna biru tua di atas meja kaca. Di sampulnya tertera tulisan besar: Silabus & Metodologi Tugas Akhir - Pak Baskoro.

"Nah, ini dia draf sakti yang gue janjiin tadi," kata Bang Edward, menepuk map itu dengan bangga. "Pak Baskoro itu tipe dosen yang punya pola tetap. Kalau lo berdua bisa paham struktur analisis yang dia mau di bab awal ini, tugas minggu depan dijamin aman."

Seketika itu juga suasana santai langsung berubah menjadi serius. Shirin menggeser duduknya mendekat ke meja, membuka buku catatan, dan menyiapkan pulpen merah andalannya. Wajahnya yang tadinya penuh kekesalan kini memancarkan fokus penuh seorang mahasiswi teladan.

Gino yang melihat perubahan drastis itu perlahan menyingkirkan senyum jenakanya. Ia ikut mencondongkan tubuh ke depan, membuka laptopnya, dan mulai membaca lembar demi lembar draf yang dibuka oleh Bang Edward.

"Gue baru sadar, ternyata Pak Baskoro minta analisis datanya detail banget ya, Bang?" tanya Gino serius, jarinya menunjuk ke salah satu bagan rumit di halaman ketiga. "Ini kalau kita pakai metode biasa, kayaknya bakal mentok di tenggat waktu minggu depan."

Shirin menoleh, sedikit terkejut melihat sisi lain Gino yang ternyata bisa berpikir taktis saat berhadapan dengan tugas kuliah. "Gino benar, Bang. Di silabus kelas tadi, Pak Baskoro sempat menyinggung tentang perbandingan dua teori. Berarti di draf ini, bagian variabelnya harus kita rombak sedikit, kan?"

Bang Edward mengangguk puas, mengacungkan jempol ke arah mereka berdua. "Tepat! Keren, baru baca beberapa menit aja lo berdua udah langsung tanggap. Struktur dasarnya tetap pakai yang ini, tapi variabelnya kalian sesuaikan sama studi kasus yang dibagi di kelas tadi."

Kak Anita yang duduk di samping Bang Edward ikut membantu menandai bagian-bagian penting dengan stabilo kuning. "Intinya, jangan sampai ada teori yang tumpang tindih. Pak Baskoro paling benci tulisan yang berputar-putar tanpa kesimpulan yang jelas."

"Oke, biar adil, kita bagi dua tugasnya," sela Shirin, menatap Gino dengan pandangan profesional sebagai partner kerja kelompok. "Gue yang ambil bagian perumusan teori dan latar belakang, lo yang pegang bagian pengolahan bagan variabel dan metodologinya. Gimana?"

Gino menyunggingkan senyum tipis, lalu melakukan gerakan hormat dengan dua jari di pelipisnya. "Siap, Partner. Tugas negara dilaksanakan. Demi nilai aman awal semester, dan demi masa depan kita yang cerah."

Shirin hanya bisa menghela napas pasrah, tetapi kali ini ia membiarkan gombalan tipis Gino lewat begitu saja karena mereka harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan babak pertama tugas sakti ini.

Di saat Shirin dan Gino sudah tenggelam dalam laptop masing-masing, Aurel justru masih sibuk mondar-mandir di dekat sofa sambil menatap layar ponselnya dengan geregetan. Jari-jarinya bergerak supercepat di atas kibor, mengetik pesan dengan penuh penekanan.

"Aduh, ini cowok ke mana sih? Dichat dari zaman purba cuma centang satu!" gerutu Aurel frustrasi, membuat Kak Anita yang sedang mencatat sesuatu sampai mendongak.

"Kenapa, Rel? Belum dibalas juga?" tanya Kak Anita simpati.

"Belum, Kak! Mana nomornya baru dikasih sekretaris kelas tadi siang lagi. Kalau sampai nilai gue merah gara-gara nih anak menghilang, gue ulek dia jadi sambal terasi!" ancam Aurel berapi-api.

Tepat setelah kalimat itu terucap, ponsel Aurel bergetar nyaring. Sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Aurel langsung menggeser tombol hijau dengan cepat dan menyalakan mode pengeras suara tanpa ba-bi-bu lagi.

"Halo! Lo ke mana aja, sih?! Jam segini baru ngebonding? Kita tuh satu kelompok tugas Pak Baskoro, buruan ke rumah Bang Edward sekarang!" semprot Aurel bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan orang di seberang telepon untuk bernapas.

Suasana ruang tengah mendadak hening. Shirin dan Gino bahkan berhenti mengetik demi menyimak amukan Aurel.

Setelah jeda beberapa detik yang menegangkan, akhirnya terdengar suara berat dan serak khas orang baru bangun tidur dari peleras suara ponsel Aurel. "Halo... sori, tadi gue ketiduran habis matkul pertama. Ini siapa, ya?"

Aurel langsung menepuk jidatnya dengan keras. "Gue Aurel! Partner kelompok lo yang bakal terancam dihukum Bang Edward kalau nilai kita merah! Buruan ke sini, alamatnya udah gue kirim lewat WhatsApp!"

"Oh, Aurel... sori, sori. Gue basuh muka dulu terus langsung jalan," sahut suara di seberang sana, terdengar agak panik karena baru saja disemprot macan betina. "Tapi... rumah Bang Edward yang mana, ya? Gue kan belum tahu alamatnya, lo baru nge-ping doang dari tadi, belum kirim lokasi."

Aurel refleks melihat layar obrolannya. Benar saja, karena telanjur emosi, ia hanya mengirim rentetan huruf "P P P P" tanpa menyisipkan alamat rumah Bang Edward sama sekali.

Gino yang melihat hal itu langsung meledak dalam tawa sampai memegangi perutnya. "Hahaha! Pantesan centang satu, Rel! Lo belum kirim alamatnya tapi udah mau ngulek anak orang!"

Shirin juga tidak bisa menahan senyum gelinya melihat wajah Aurel yang mendadak berubah menjadi merah padam karena malu. "Makanya, Rel, emosi dulu sih diduluin. Kasihan itu teman kelompok lo baru bangun tidur udah kena mental."

"Aduh, diam lo berdua!" seru Aurel salah tingkah, buru-buru mematikan sambungan telepon dan dengan cepat mengirimkan titik lokasi rumah Bang Edward kepada teman kelompoknya yang malang tersebut.

Sekitar dua puluh menit setelah insiden telepon yang memalukan itu, terdengar suara deru mesin motor matik besar berhenti di depan pagar rumah. Aurel yang sejak tadi duduk tidak tenang langsung menegakkan punggungnya.

"Nah, kayaknya singa tidur lo udah sampai, Rel," goda Gino tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.

"Diem lo, Gin," gerutu Aurel, buru-buru bangkit berdiri untuk membukakan pintu utama.

Namun, belum sempat Aurel melangkah sampai ke teras, Bang Edward yang kebetulan baru kembali dari toilet sudah membukakan pintu terlebih dahulu. Begitu sosok tamu itu melangkah masuk melewati ambang pintu sambil melepas helm fullface hitamnya, suasana ruang tengah mendadak senyap seketika.

Gino yang tadinya asyik mengetik langsung menghentikan jarinya di atas kibor. Shirin melongo dengan pulpen merah yang menggantung di udara, sementara Kak Anita menutup mulutnya tidak percaya

"Lah? Reyhan?!" pekik Bang Edward, matanya membelalak menatap cowok jangkung berjaket denim yang berdiri di depannya.

Cowok bernama Reyhan itu menyengir kuda, menatap Bang Edward dengan santai lalu beralih menyalami tangan seniornya itu. "Halo, Bang. Ternyata beneran rumah Abang, ya? Tadi pas lihat share loc, gue agak ragu karena jalurnya mirip jalan ke rumah anak tingkat akhir."

"Bentar, bentar..." Aurel maju beberapa langkah dengan wajah linglung, menunjuk Reyhan dan Bang Edward bergantian. "Lo... lo berdua saling kenal?"

"Ya kenal lah, Rel! Dia ini Reyhan, adik sepupu kandungnya Anita!" seru Bang Edward, sukses membuat Aurel dan Shirin makin syok.

Kak Anita langsung bangkit dari sofa dan menghampiri adiknya dengan gemas. "Rey! Kamu itu ya, kebiasaan banget tidurnya kayak simulasi mati! Tahu nggak, dari tadi si Aurel udah mau ngulek kamu jadi sambal terasi karena nomor kamu nggak bisa dihubungi?"

Reyhan menoleh ke arah Aurel, menatap gadis itu dengan pandangan geli sekaligus bersalah. "Oh, jadi lo yang namanya Aurel? Sori ya, Rel. Semalam gue habis begadang ngerjain projek komplotan maba, jadi siangnya teler banget. Salam kenal, ya. Gue Reyhan."

Aurel yang biasanya paling berisik dan hobi menjadi kompor, mendadak mati kutu. Wajahnya seketika merona merah, bukan lagi karena emosi, melainkan karena malu yang luar biasa. Cowok yang baru saja ia semprot habis-habisan di telepon ternyata adalah adik sepupu dari Kak Anita—senior kesayangan mereka—dan parah kalinya lagi, paras Reyhan ternyata sangat tampan dengan senyum tipis yang mendadak membuat jantung Aurel berdegup tidak karuan.

Gino yang melihat sahabatnya mendadak mogok bicara langsung terbahak-bahak. "Hahaha! Senjata makan tuan lo, Rel! Tadi di telepon galaknya kayak macan lepas kagak dikasih makan, sekarang ketemu aslinya langsung berubah jadi anak kucing penurut!"

Shirin ikut terkekeh pelan sambil menyenggol lengan Aurel yang masih mematung. "Sukses ya, Rel, kena mental gelombang kedua."

Setelah ketegangan mereda, mereka semua akhirnya duduk melingkar di ruang tengah. Reyhan sudah melepas jaket denimnya, kini hanya mengenakan kaus hitam polos yang entah mengapa terlihat sangat pas di tubuh tegapnya. Ia duduk tepat di sebelah Aurel, membuat gadis itu mendadak kaku dan terus-menerus merapikan ujung kemejanya yang sama sekali tidak berantakan.

"Oke, Rel. Jadi bagian mana yang belum lo paham?" tanya Reyhan santai, memotong jarak di antara mereka saat condong menatap layar laptop Aurel. Aroma maskulin bercampur wangi sabun yang segar menguar dari tubuh Reyhan, sukses membuat fokus Aurel buyar seketika.

"Eh? Ah... itu, yang bagian variabel perbandingan teori Pak Baskoro," jawab Aurel terbata-bata. Jari telunjuknya gemetar saat menyentuh layar, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya meledak-ledak.

Reyhan mengangguk-angguk kecil. Jemari tangannya yang panjang dan bersih mulai menari di atas kibor laptop Aurel dengan cekatan. "Oh, kalau bagian ini sebenarnya simpel. Lo nggak usah pakai rumus matriks ganda yang rumit kayak punyanya Shirin dan Gino. Pakai metode analisis kualitatif komparatif aja. Lebih efisien dan datanya langsung mengerucut."

Dalam waktu kurang dari lima menit, Reyhan berhasil merombak struktur tugas mereka yang sempat berantakan menjadi sebuah bagan yang sangat rapi dan mudah dipahami. Cara bicaranya saat menjelaskan teori terdengar begitu tenang, cerdas, dan penuh percaya diri.

Shirin yang sejak tadi mencuri pandang langsung menyenggol lengan Gino. "Gin, lihat deh. Teman kelompok Aurel ternyata spek dewa. Sekali jelasin langsung kelar."

Gino melirik Reyhan dengan tatapan menilai, lalu berbisik defensif pada Shirin. "Masih menangan gue, Rin. Dia cuma menang di rumus, kalau gue kan menang di hati lo."

Shirin hanya mendengus pasrah, memilih kembali fokus pada drafnya sendiri.

Sementara itu, Aurel masih setia mematung di tempatnya. Ketika Reyhan mendadak menoleh ke arahnya dan melemparkan senyum tipis, jantung Aurel rasanya seperti mau melompat keluar. "Gimana, Rel? Aman, kan? Atau penjelasan gue kecepatan?"

"A-aman banget, Rey! Sumpah, lo pinter bener," sahut Aurel dengan nada suara yang naik satu oktav karena gugup. Ia buru-buru meraih cangkir teh hangat di depannya untuk menutupi salah tingkahnya yang sudah sangat kentara.

Melihat sahabatnya menjelma menjadi gadis pemalu nan anggun, Gino tidak bisa tinggal diam. Dari seberang meja, ia sengaja berdehem keras. "Uhuk! Rel, lo sehat, kan? Biasanya jam segini suara melengking lo udah meruntuhkan plafon rumah orang, kok sekarang mendadak jadi selembut sutra?"

"Gino, diem atau lo gue lempar pakai asbak!" ancam Aurel ketus dengan wajah yang sudah memerah sempurna sampai ke telinga, memicu tawa renyah dari Bang Edward dan Kak Anita yang sejak tadi asyik menonton romansa maba di depan mereka.

Tiba-tiba

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!