Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Hayden menatap vaksin di tangannya. Dia akan menyalurkan vaksin itu tapi entah di mana. Hayden membuka laptop taktis milik Marcus yang tergeletak di samping jasadnya. Jemarinya yang berdarah menari lincah di atas papan ketik, meretas sistem keamanan Aegis Corporation menggunakan kode enkripsi dari flashdisk titanium kakeknya.
Layar monitor yang tadinya terkunci mendadak menampilkan sebuah peta topografi rahasia. Satu titik hijau berkedip di wilayah pesisir yang terisolasi: Fasilitas Oase.
Itu adalah laboratorium independen milik para ilmuwan pembelot Aegis yang selama ini beroperasi secara rahasia untuk memproduksi massal penawar wabah. Mereka memiliki infrastruktur penyebaran udara, tetapi kekurangan satu hal paling krusial—sampel murni vaksin 'Genesis' yang kini ada di genggaman Hayden.
Tanpa membuang waktu, Hayden mengunduh seluruh koordinat dan rute aman menuju Oase ke dalam sistem navigasi Armored Rover miliknya. Ia membebat lukanya dengan cepat, mengemas sisa amunisi, lalu melangkah menuju garasi.
Mobil bajanya meraung hidup, siap menerjang kegelapan malam. Kiamat mungkin telah menghancurkan dunia, tetapi untuk pertama kalinya sejak bencana ini dimulai, Hayden tahu persis ke mana ia harus melangkah.
Di tengah-tengah perjalanan zombie menghalangi jalannya membuat Hayden harus mengeluarkan beberapa tembakan untuk menghancurkan para sekumpulan zombie. Zombie semakin banyak membuat jalan semakin tertutup Hayden menginjak rem dalam-dalam saat **Armored Rover** miliknya tertahan di tengah jembatan beton yang sempit. Ratusan zombie berdesakan, membentuk barikade hidup yang tak membiarkan celah sedikit pun untuk melintas. Roda kendaraan bajanya mulai tersendat oleh tumpukan mayat hidup yang tergilas.
Tanpa ragu, Hayden menekan tombol kontrol panel di konsol tengah. Dua senapan mesin otomatis di atap mobil menyalak nyaring, menyemburkan ratusan peluru kaliber besar yang memotong barisan depan zombie menjadi serpihan. Bau sangit bubuk mesiu dan amis darah memenuhi udara malam.
Namun, jumlah mereka seolah tak terbatas. Merekai terus berdatangan dari kegelapan hutan di samping jalan, tertarik oleh suara tembakan yang bising. Zombie-zombie itu mulai menumpuk di depan bumper baja, bahkan beberapa di antaranya mencoba memanjat kap mesin.
Melihat jalan yang makin tertutup rapat, Hayden beralih ke senjata berat. Ia membuka pelindung tombol pemicu sekunder di dasbor.
"Sistem pendorong termo-flame aktif," suara komputer mobil memberi peringatan.
*WUSHHH!*
Dua pelontar api bertekanan tinggi di bagian depan mobil menyemburkan lidah api raksasa sejauh dua puluh meter. Gelombang panas membakar puluhan zombie di depannya menjadi abu dalam hitungan detik, membuka celah di barikade hidup tersebut.
Dengan pandangan yang kembali terbuka, Hayden menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Armored Rover meraung keras, menerobos kobaran api dan melindas sisa-sisa zombie yang tersisa, terus melaju kencang meninggalkan jembatan maut itu menuju Fasilitas Oase.
"Sebaiknya aku teruskan besok karena saat malam hari, para zombie lebih agresif lagi."
Hayden mematikan sistem pelontar api dan menarik tuas transmisi ke posisi parkir di balik rimbunnya pepohonan yang tersembunyi dari jalan utama. Di depannya, lereng menuju Fasilitas Oase masih membentang sejauh lima puluh kilometer, terlalu berisiko untuk diterobos saat kegelapan makin pekat.
Kegelapan malam selalu membuat para zombie bergerak lebih cepat, lebih pekat akan bau darah, dan jauh lebih agresif.
Ia mengunci seluruh sistem keamanan *Armored Rover*, mengaktifkan mode *Silent Camouflage*, dan menurunkan tirai pelindung baja pada seluruh kaca jendela. Suara erangan dari kejauhan perlahan samar, tertutup oleh dinding peredam suara mobilnya yang kokoh.
Hayden merebahkan tubuhnya yang bruised di kursi kemudi, mendekap tas taktis berisi tiga tabung vaksin 'Genesis' erat-erat di dadanya. Dengung halus generator cadangan menjadi satu-satunya suara yang menemaninya di tengah malam yang mati.
Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak untuk mengumpulkan sisa tenaga. Besok, saat fajar menyingsing dan kegelapan sirnah, perjalanan terakhirnya demi masa depan manusia baru saja akan dimulai.
Di tengah-tengah tidurnya, suara ledakan dahsyat berhasil membangunkan Hayden. Pria yang baru saja menutup mata itu mengatupkan rahangnya, memaksa rasa kantuknya sirna seketika. Dengan napas tertahan, ia mengintip lewat celah kecil jendela antipeluru.
Di luar sana, di antara asap pekat dan pijar api, Hayden melihat pasukan yang tadi menyerang vilanya ternyata masih hidup dan terus mengejarnya. Di barisan paling depan, berdiri pria berlinggis yang di awal menyandera anak kecil sebagai umpan—Marcus.
Luka bakar di wajah Marcus dan pakaian taktisnya yang terkoyak menjadi bukti bahwa ia baru saja selamat dari ledakan *flashbang* dan sabetan pisau Hayden di vila. Pria itu tidak datang sendirian; ia mengomandoi sisa prajurit Aegis Corporation yang dendam dan makin beringas.
"Cari mobilnya! Dia nggak bakal lari jauh membawa vaksin itu!" bentak Marcus dengan suara serak, menyapu kegelapan hutan menggunakan senter taktis di ujung senapannya.
Hayden menggertakkan gigi. Pria yang di awal berpura-pura menjadi penyintas malang demi menembus gerbang Hilltop itu kini menunjukkan wujud aslinya sebagai agen pembunuh berdarah dingin. Rencana licik Marcus untuk merebut tiga tabung 'Genesis' belum berakhir, dan malam ini, di tengah riuhnya erangan zombie dari kejauhan, pertempuran antara mereka berdua harus diselesaikan sampai tuntas.
"Aku harus kembali ke vila dan mengatur strategi selanjutnya," bisik Hayden mantap pada dirinya sendiri.
Berhadapan Langsung di area terbuka dalam kondisi lelah adalah tindakan bunuh diri. Vila Hilltop—meski gerbang utamanya sempat diledakkan—masih memiliki jaringan jebakan rahasia, lorong sempit, dan sistem pertahanan otomatis yang bisa ia kendalikan penuh untuk menjebak Marcus beserta pasukannya.
Dengan gerakan secepat kilat, Hayden menginjak pedal gas dalam-dalam. Mesin V8 **Armored Rover** meraung keras, memecah heningnya malam. Lampu sorot berkekuatan ribuan lumen menyala seketika, menembus kegelapan dan membutakan pandangan Marcus serta pasukan Aegis yang berada tepat di depannya.
"Dia di sana! Tembak!" teriak Marcus histeris sambil memegang matanya yang kesakitan.
Rentetan peluru kaliber berat memantul tak berdaya di lapisan baja dan kaca antipeluru mobil Hayden. Tanpa memberi waktu bagi mereka untuk menyiapkan peluncur roket, Hayden memutar kemudi secara drastis, membanting mobilnya menerobos rimbunnya pepohonan, lalu melesat kencang kembali ke jalur pegunungan menuju vila.
Marcus yang murka menyapu darah dari wajahnya, melompat ke dalam truk taktis bersama sisa prajuritnya, lalu memburu lampu belakang kendaraan Hayden yang makin menjauh.
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Hayden untuk mencapai pelataran Vila Hilltop. Ia menerobos masuk melewati gerbang yang rusak, memarkirkan mobilnya tepat di tengah halaman dalam, lalu melompat keluar dengan tas taktis berisi vaksin 'Genesis' terikat kuat di dadanya.
Ia berlari cepat menuju ruang kontrol utama di lantai atas. Jemarinya menari lincah di atas papan ketik, mengunci seluruh pintu sektor internal dan mengaktifkan **Protokol Benteng Terakhir**.
Di layar monitor, Hayden melihat truk Marcus berhenti tepat di halaman dalam. Marcus dan lima prajurit bersenjata lengkap turun dengan langkah percaya diri, mengira telah berhasil memojokkan Hayden di dalam sangkar tanpa jalan keluar.
Dari balik kaca tebal antipeluru ruang kontrol, Hayden menatap mereka dingin sambil menggenggam konsol pemicu manual.
"Selamat datang kembali di rumah kakekku, Marcus," gumam Hayden pelan, lalu menekan tombol merah untuk mengaktifkan seluruh *turret* dan jebakan tersembunyi di sekeliling halaman.