NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Insting Seorang Pria

Malam semakin larut di kediaman Pradipta. Suara hembusan angin malam yang menerpa pepohonan di halaman luar berpadu dengan heningnya koridor lantai dua.

Vino berbaring di atas tempat tidur kamarnya yang luas. Satu tangannya bertumpu di dahi, sementara matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang temaram. Pikiran Vino benar-benar kacau. Kata-kata kasar yang ia lontarkan pada Aira di dapur tadi sore terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Ada rasa bersalah yang menusuk, namun gengsinya yang setinggi langit terus menepis perasaan itu.

Ngapain juga gue kepikiran cewek itu? batin Vino sengit, mengacak rambutnya frustrasi. Dia emang pantas dibentak gara-gara bikin ulah terus.

Namun, di tengah amarahnya, logika Vino mulai bekerja secara intuitif. Vino mengenal Darel sejak kecil. Meskipun Darel tinggal dan bersekolah di Inggris selama bertahun-tahun, Vino tahu betul bahwa sepupunya itu adalah tipe pria yang sangat rasional, dingin, dan tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan atau keuntungan pribadi.

Darel bukanlah tipe pria impulsif yang sudi merepotkan diri demi orang lain—terlebih demi seorang cewek pemalu, miskin, dan berstatus jaminan seperti Aira. Perhatian Darel yang terlalu berlebihan, sikap pahlawannya yang terlampau sempurna, dan tatapan matanya saat menatap Aira... terasa ada yang salah.

"Gak masuk akal," gumam Vino pelan pada kegelapan kamar. "Darel gak mungkin sebaik itu cuma karena kasihan."

Rasa penasaran dan insting kewaspadaannya mulai mengusik Vino. Dengan dorongan rasa curiga, Vino bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan pelan keluar kamar.

Koridor lantai dua tampak sepi dan remang-remang. Lampu utama sudah dimatikan, menyisakan lampu dinding bercahaya kuning temaram.

Vino melangkah tanpa suara menyusuri koridor, berniat menuju dapur di lantai bawah untuk mengambil air minum. Namun, saat melewati balkon bagian dalam yang menghadap ke area taman belakang, langkah kaki Vino terhenti seketika.

Di bawah sana, di atas bangku taman yang tersiram cahaya bulan, terlihat dua sosok manusia.

Aira duduk di sana dengan sebuah buku catatan di pangkuannya, sementara Darel berdiri di sampingnya. Darel tampak sedang mengajari Aira materi pelajaran sekolah dengan gestur yang sangat sabar.

Vino bersembunyi di balik pilar besar balkon, mengamati interaksi mereka dari ketinggian.

"Paham bagian rumus ini, Aira?" suara Darel terdengar samar namun lembut membawa kedamaian di malam yang dingin.

Aira mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman lega yang jujur. "Iya, Kak Darel. Penjelasan Kakak gampang dipahami. Makasih ya..."

"Sama-sama," jawab Darel manis.

Namun, tepat setelah Aira kembali menunduk untuk menulis di bukunya, pemandangan yang membuat bulu kuduk Vino berdiri terjadi.

Darel berdiri mematung di belakang Aira. Senyuman hangat di wajahnya lenyap dalam sekejap mata. Wajah Darel berubah menjadi begitu datar, dingin, dan tanpa ekspresi. Mata Darel menatap lurus ke arah tengkuk Aira yang terbuka—menatapnya dengan pandangan menilai yang sangat tajam, penuh dominasi, dan intensitas yang tidak wajar.

Darel perlahan mengangkat tangannya, mengarahkan jemarinya ke dekat leher Aira tanpa benar-benar menyentuhnya, seolah sedang mengukur atau membayangkan sesuatu yang mengerikan di dalam kepalanya. Tatapan matanya bukan tatapan seorang pria yang jatuh cinta, melainkan tatapan seorang pemangsa yang sedang mengamati mangsanya yang terperangkap.

Aira yang tidak menyadari hal itu tetap sibuk menulis dengan tenang.

Dari balik pilar balkon, napas Vino tertahan. Jantungnya berdegup kencang secara refleks. Sebagai seorang pria, insting dasar Vino langsung membunyikan alarm bahaya yang sangat nyaring.

Itu... bukan tatapan orang kasihan, batin Vino membeku, matanya membelalak tak percaya. Sialan... si Darel sebenarnya mau apa dari Aira?!

Belum sempat Vino mencerna keterkejutannya, Darel mendadak menghentikan tangannya di udara. Tanpa peringatan, Darel mendongakkan kepalanya perlahan—menatap lurus ke atas, tepat ke arah pilar tempat Vino bersembunyi.

Mata mereka beradu di kegelapan malam.

Darel menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin ke arah Vino—sebuah senyuman penuh ancaman terselubung yang seolah berkata: Gue tahu lu ada di sana.

Vino tersentak, mundur satu langkah ke belakang pilar dengan napas yang memburu. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vino Pradipta merasakan rasa takut yang murni—bukan takut untuk dirinya sendiri, melainkan rasa takut akan bahaya tersembunyi yang sedang mengintai Aira secara perlahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!