Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RACUN DENDAM
# PELET LAKNAT 2
## Bab 5: Racun Dendam
Langkah kaki Jaka dan Kiki menyeret lunak di atas tanah basah. Napas mereka tersengal-sengal membelah kesunyian malam, diselingi rintihan pelan Jaka yang terus memegangi punggungnya yang ngilu seraya menyeka hidungnya yang masih terus meneteskan darah segar.
Kekalahan fisik tadi—meski pada akhirnya Dodi berhasil mereka tumbangkan lewat hantaman kayu dari belakang—sama sekali tak menyisakan rasa lega di dada Jaka. Justru rasa cemburu yang membakar dan bayangan wajah Dea yang menatapnya penuh jijik makin gila menggerogoti kepalanya.
"Ki... bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini?" pinta Jaka dengan suara parau bergetar, pandangannya makin sayu menahan nyeri. "Aku nggak mungkin pulang ke rumah dengan kondisi begini... yang ada orang rumah malah marah-marah."
"Ide bagus, Jak! Kamu obatin dulu lukamu di rumahku. Ayo, kita ke rumahku sekarang," ajak Kiki seraya memapah tubuh Jaka yang kala itu sudah kelihatan sangat lemas.
Malam kian larut saat Kiki menuntun langkah Jaka yang terhuyung-huyung membelah kegelapan gang kampung. Rasa nyeri di punggung Jaka berdenyut makin hebat, seiring dengan cairan amis hangat yang perlahan merembes dari hidungnya.
Sesampainya di rumah Kiki, Kiki segera membawa Jaka menyusuri jalan samping menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah untuk bersih-bersih sebelum mereka melangkah masuk.
"Sekarang kita bersih-bersih dulu, Jak! Biar nggak ketahuan sama orang tuaku kalau kita habis berantem," bisik Kiki pelan seraya menyalakan keran air.
"Siap, Ki. Makasih ya..." sahut Jaka dengan suara parau, mengangguk lemah seraya membasuh darah kering yang mengeras di wajahnya.
Setelah selesai membersihkan diri dan membasuh sisa-sisa darah yang menyengat, mereka pun menyusup masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Langkah kaki mereka sengaja dibuat sehalus mungkin; jari-jari kaki berjinjit pelan menahan napas, berusaha keras agar tak memicu derit papan atau suara sekecil apa pun yang sanggup membangunkan orang rumah yang sudah terlelap.
Dengan gerakan serba cepat dan dada berdebar kencang, mereka berhasil lolos lalu meluncur masuk ke dalam kamar Kiki.
"Sudah... aman kita, Jak!" seru Kiki dengan napas terengah penuh lega. Ia bergegas mengunci pintu kamar rapat-rapat, memutar slot kunci hingga berbunyi klik, lalu melempar tubuhnya yang pegal ke tepian ranjang.
Jaka merosot duduk di kursi kayu dekat meja belajar. Bahunya terkulai layu, menyandarkan kepalanya yang terasa seberat bongkahan batu ke tembok dingin. Kedua tangannya memegangi lutut yang masih gemetaran.
"Ki... menurutmu, tindakan kita tadi nggak keterlaluan sama si Dodi?" tanya Jaka dengan suara bisik-bisik parau. Jemarinya mencengkeram celananya sendiri rapat-rapat, menyingkap rasa cemas dan ketakutan yang mendadak menyeruak—takut kalau-kalau aksi nekat mereka bakal memicu petaka yang lebih besar.
Mendengar keraguan itu, Kiki justru menyandarkan punggungnya ke dinding lalu terkekeh pelan, menatap Jaka dengan raut meremehkan.
"Sudahlah, Jak! Buat apa kamu pusing-pusing mikirin si cunguk itu?" sahut Kiki santai seraya mengayunkan tangan, lalu menepuk-nepuk bahu Jaka cukup keras sampai sahabatnya itu tersentak. "Yang penting sekarang, mentalnya udah jatuh! Dia nggak bakal berani lagi tebar pesona atau mendekat ke si Dea!"
Jaka sempat tertegun sejenak. Sorot matanya bergetar, bayangan polisi atau amukan keluarga Dodi melintas kilat membayangi pikirannya. Hatinya menciut. "Tapi, Ki—"
Belum sempat kata-kata itu tuntas meluncur, Kiki menyela cepat dengan dagu terangkat.
"Sudah, nggak usah banyak tapi! Muka garang tapi nyali ciut, kayak bukan cowok aja kamu!" ejek Kiki sambil menyeringai tipis, matanya menyipit penuh intrik. "Gini aja! Untuk beberapa hari ke depan, kita tiarap dulu. Nggak usah main ke kampung sebelah atau keluyuran nggak jelas di sekitaran sini. Pasti si cunguk Dodi itu bakal balas dendam. Dia pasti nggak terima dan bakal ngumpulin teman-temannya buat ganti mengeroyok kita berdua."
Mendengar racikan analisa Kiki, ketakutan di dada Jaka perlahan luntur. Rasa terancam justru memantik kembali bara di dadanya. Jemari tangannya yang tadinya gemetar kini mengepal kaku, memutih di persendian.
"Kamu benar, Ki. Kita nggak boleh kelihatan dulu," sahut Jaka dengan nada suara menajam sinis, matanya melotot dingin menatap lantai kusam. "Si cunguk itu pasti nggak bakal tinggal diam."
Perbincangan bertensi tinggi itu akhirnya terhenti oleh pekatnya malam. Denyut nyeri di sekujur tubuh serta rasa lelah yang teramat sangat usai berlaga akhirnya merenggut sisa kesadaran mereka. Jaka dan Kiki tumbang, terlempar ke dalam tidur lelap yang sangat pulas hingga pagi menjelang.
Sementara itu, jauh di atas Bukit Cemara yang membisu, Dodi yang ditinggalkan sendirian harus bertaruh nyawa membelah malam.
Dengan tubuh terhuyung-huyung bagai pohon mau tumbang, kedua tangannya mencengkeram erat ulu hati dan bahunya yang remuk dihantam kayu. Rasa sakit menusuk-nusuk hingga ke sumsum tulang, membuat setiap helaan napasnya terdengar tersengal.
Pandangannya perlahan menggelap dan memburam. Dahan-dahan cemara di sekelilingnya tampak berputar, manik matanya berkunang-kunang hebat—hingga persendian kakinya lemas tak bertenaga.
BRUK!
Dodi ambruk, wajahnya menghantam tanah basah yang dingin. Bau tanah dan dedaunan busuk menyeruak masuk ke hidungnya. Namun, rasa enggan mati konyol di tempat sepi itu memaksa naluri bertahannya bangkit. Dengan sisa-sisa tenaga yang tak seberapa, Dodi mengerang pelan, merangkak menyeret siku dan lututnya di atas semak berduri, membelah kegelapan malam yang kian pekat dan mencekam.
Tiba-tiba, secercah cahaya kuning keemasan menembus pekatnya malam dari arah belakang Dodi. Suara raungan mesin sepeda motor bertahap mendekat, meraung memecah sunyinya bukit. Motor itu tengah melaju turun menuju arah kampung Dodi.
"Astagfirullah! Kang, kenapa?!" teriak si pengendara motor, kaget setengah mati melihat bayangan manusia tergeletak merangkak di tengah jalan.
Pria itu mendadak mengerem hingga ban motornya terseret di atas tanah. Ia membiarkan sorot lampu utama tetap menyala terang menusuk kegelapan, lalu melompat turun dan berlari menghampiri sosok tak berdaya itu. Namun, begitu sorot lampu menyingkap paras penuh memar dan lumuran darah di hadapannya, si pengendara melangkah mundur sekilas karena tersentak hebat.
"Lah, kamu, Dod?! Kamu kenapa bisa sampai begini, euy?! Apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Rudi—teman dekat Dodi—dengan suara bergetar panik, matanya membelalak tak percaya menyaksikan luka memar, bengkak, dan darah mengering di wajah sahabatnya.
Dodi meringis, otot-otot wajahnya menegang menahan nyeri saat berusaha menyunggingkan senyum tipis, meski sudut bibirnya yang sobek terasa amat perih dan berdarah lagi.
"Nggak apa-apa, Rud..." sahut Dodi dengan suara tercekat di tenggorokan, memilih berbohong. "Tadi... saya cuma jatuh dari atas bukit gara-gara terpeleset."
Dodi menelan ludah pahit. Ia memilih menyembunyikan kenyataan itu rapat-rapat, tak ingin urusan pengeroyokan ini memicu keributan warga kampung yang makin liar.
Tanpa membuang waktu lagi, Rudi bergegas merangkul dan memapah tubuh Dodi yang kian terkulai lemah ke atas motornya. Setelah memastikan Dodi duduk dan jemarinya mencengkeram pinggangnya dengan erat, Rudi langsung menarik tuas gas dalam-dalam. Motor itu melesat cepat membelah pekatnya malam yang kian dingin mencekam.
Singkat cerita, Dodi akhirnya tiba di rumahnya dengan selamat. Namun, kecurigaan tebal masih terus bertumpuk dan mengganjal di dada Rudi. Ia bukan orang bodoh; ia tahu betul sahabatnya itu sedang berbohong, sebab robekan di bibir dan lebam kebiruan di pipi Dodi jelas-jelas bekas hantaman tinju keras, bukan sekadar luka jatuh terpeleset.