NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Bab 5: Konfrontasi di Kelas 12A

​BRAK!

​Pintu kelas 12A terhempas kasar hingga membentur dinding, menghasilkan suara bantingan yang sukses membuat jantung seisi ruangan nyaris copot. Obrolan, tawa, dan suara gesekan pulpen mendadak senyap. Atmosfer kelas yang tadinya hangat seketika berubah horor, seolah malaikat pencabut nyawa baru saja masuk untuk melakukan absensi.

​Di ambang pintu, Dereen Hilton berdiri dengan rahang mengeras. Kemeja seragamnya sengaja dikeluarkan, dua kancing teratasnya terbuka, mengekspos kaus hitam dan kilat perak dari kalung yang mengintip di balik kerahnya. Tanpa memedulikan tatapan ngeri teman-teman seangkatannya, sepasang mata elang cowok itu menyapu seisi kelas, sebelum akhirnya terkunci pada satu target di deretan tengah.

​Dengan langkah lebar yang berat dan mengancam, Dereen berjalan membelah kelas. Andrew dan Mex mengekor santai di belakangnya.

​Karin, yang duduk di sebelah Nadiva, sudah menunduk dalam-dalam sambil merapal doa keselamatan. Wajahnya sepucat kertas HVS.

​Langkah itu berhenti tepat di depan meja Nadiva. Dereen mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua telapak tangannya yang besar dan kokoh di atas meja gadis itu. Jarak mereka kini tersisa kurang dari setengah meter.

​"Lo pikir," desis Dereen, suaranya pelan namun mengandung bisa yang mematikan, "lo bisa hidup tenang habis ngasih gue kopi rasa aspal kemarin sore, Cewek Aneh?"

​Alih-alih gemetar atau pipis di celana seperti yang diharapkan Dereen, Nadiva malah mengerjapkan matanya yang bulat. Gadis itu menatap wajah garang di depannya sejenak, lalu beralih melirik jam dinding di atas papan tulis.

​"Masih jam tujuh pagi lho, Kak," balas Nadiva polos. "Setan aja kayaknya belum selesai briefing pagi, masa Kakak udah marah-marah duluan? Nanti cepat tua."

​Beberapa siswa di kelas tak sengaja menahan napas terlalu keras, menghasilkan bunyi dengusan tertahan. Andrew di belakang buru-buru memalingkan wajah, pura-pura batuk untuk menutupi tawanya.

​Urat di pelipis Dereen berkedut marah. Egonya kembali tertohok. "Gue nggak butuh bacotan lo," potongnya tajam. Ia memajukan wajahnya satu inci lebih dekat, mencoba mengirimkan aura intimidasi maksimal. "Berdiri. Bawain tas gue ke kelas gue sekarang. Mulai hari ini, lo resmi jadi pesuruh gue."

​Bukannya berdiri, Nadiva malah bersandar santai ke punggung kursi. Ia menatap Dereen dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan raut menilai, lalu menggeleng pelan.

​"Nggak mau, ah. Tangan aku lagi dipakai buat nyatet masa depan, bukan buat bawain tas cowok gede yang tenaganya ngalahin kuli bangunan," tolak Nadiva mentah-mentah. "Lagian, otot lengan Kakak yang sering dipamerin ke mana-mana itu fungsinya buat apa, sih? Pajangan doang? Bawa tas sendiri aja lemes."

​Skakmat.

​Karin di sebelah Nadiva nyaris pingsan mendengar keberanian temannya itu.

​Wajah Dereen memerah, kombinasi antara amarah yang meletup dan rasa gengsi yang diinjak-injak untuk ketiga kalinya. Tak ada satu pun orang—apalagi cewek bertubuh mungil sebatas dadanya—yang berani melawannya sejauh ini.

​Habis kesabaran, Dereen menggebrak meja Nadiva pelan namun penuh penekanan. Ia menunduk lebih dalam, mengikis jarak hingga aroma mint dan musk dari tubuhnya menyeruak masuk ke indra penciuman Nadiva. Matanya menatap tajam, menelusuri setiap inci wajah gadis berjilbab putih di depannya.

​"Lo bener-bener nantangin gue ya, Hah? Lo sadar nggak sih lagi berurusan sama siapa sekarang?" ancam Dereen dengan suara baritonnya yang serak.

​Namun, ketegangan slow burn yang coba dibangun Dereen langsung hancur berkeping-keping di detik berikutnya.

​Bukannya terpesona atau ketakutan, Nadiva refleks memundurkan kursinya ke belakang. Tangan kanannya terangkat, membentangkan sebuah buku tulis tepat di depan wajah Dereen, seolah sedang melakukan ruqyah.

​"Stop! Munduran dikit, Kak!" seru Nadiva tegas. "Bukan mahram! Jarak segini bahaya, nanti yang ketiganya setan. Walaupun kayaknya setannya dari tadi udah standby di ubun-ubun Kakak, sih."

​Dereen tertegun. Ia mengerjapkan matanya, bingung dengan serangan balasan yang sama sekali di luar nalar bad boy-nya. Bukan mahram? Setan?!

​Belum sempat Dereen membalas perkataan konyol itu, suara ketukan sepatu hak tinggi bergema dari arah koridor. Bu Ratna, guru Matematika yang terkenal killer, melangkah masuk ke dalam kelas.

​"Ada apa ini kumpul-kumpul? Dereen, ini bukan kelas kamu! Cuma karena kamu anak pemilik yayasan, bukan berarti kamu bisa keluyuran di jam pelajaran saya!" tegur Bu Ratna tajam.

​Dereen berdecak keras. Ia menegakkan tubuhnya, memasukkan sebelah tangan ke dalam saku celana. Matanya menatap Nadiva dengan kilat dendam yang belum padam.

​"Urusan kita belum selesai, Cewek Aneh," bisik Dereen penuh penekanan. Ia berbalik pergi, dikuti oleh Andrew dan Mex yang langsung ngacir ke luar kelas.

​Sepeninggal geng itu, Nadiva hanya menghela napas panjang, lalu kembali membuka buku catatannya seolah tidak terjadi apa-apa.

​"Gila lo, Div. Bener-bener gila," bisik Karin dengan suara bergetar, masih shock melihat interaksi barusan.

​Nadiva menoleh dan tersenyum tanpa dosa. "Tenang aja, Rin. Badai pasti berlalu, walaupun kadang ninggalin sampah yang harus disapu."

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!